• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategic Partnership Development = ± 200 Institutions

FOKUS PENELITIAN

C. Pengumpulan Data

Dalam setiap penelitian teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data yang akurat, maka dalam penelitian ini teknik pengumpulan data sangat penting peranannya dalam mencapai tujuan penelitian ini. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai cara, seting dan sumbernya. Berdasarkan cara pengumpulan data dapat dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Sedangkan dari sisi setting-nya data dikumpulkan pada setting alamiah, pada lingkungan dan sebagainya. Sedangkan sumber data dapat didapatkan dari sumber primer maupun sumber sekunder. Menurut Sugiyono (2005, hlm.63) dalam penelitian kualitatif pengumpulan data biasanya dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting), sumber datanya adalah data primer, dan teknik pengumpulan datanya lebih banyak menggunakan observasi peran

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(participation observation), angket, wawancara mendalam (in-depth interview) serta dokumentasi.

1. Wawancara

Dalam penelitian kualitatif alat pengumpul data yang penting adalah wawancara (interview), peneliti dapat memperoleh informasi yang mendalam (depth information).Wawancara dilakukan dengan para informan kunci yang mengetahui masalah-masalah pokok yang berkaitan dengan masalah penelitian. Melalui wawancara diharapkan diperoleh suatu gambaran umum yang berkaitan dengan penelitian sekaligus sebagai bahan untuk perbandingan hasil pengamatan dan pedoman selanjutnya dalam wawancara mendalam. Wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilaksanakan dengan cara mengajak para informan untuk berbicara bebas dan mendalam. Informan yang dimaksudkan antara lain, (1) Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pariwisata yang secara struktural keorganisasian membawahi langsung Sekolah Tinggi Pariwisata baik dalam pembinaan maupun pengembangannya; (2) para Pimpinan Sekolah Tinggi Pariwisata pada Kementerian Pariwisata, yaitu Ketua, para Pembantu Ketua, para Kepala Bagian, (3) tenaga pendidik (dosen), dan (4) pihak industri kepariwisataan selaku pengguna lulusan sekaligus dipergunakan sebagai media untuk memperoleh data yang sulit didapat pada saat wawancara bebas atau juga sebagai cara untuk kontrol silang terhadap kebenaran data yang diperoleh selama penelitian. Wawancara mendalam dengan informan, dilakukan dari tahun 2012 s.d. 2013, dengan agenda sebagai berikut:

Tabel 3.2. Jadual Pelaksanaan Wawancara

INFORMAN PELAKSANAAN

1) Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pariwisata

5 Juli 2012

2) Ketua STP Bandung 18 Maret 2013

3) Ketua STP Bali 28 Mei 2013

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5) Pembantu Ketua IV STP Bandung 4 Desember 2013

Lanjutan Tabel 3.2. Jadual Pelaksanaan Wawancara

INFORMAN PELAKSANAAN

6) Pembantu Ketua I STP Bali 28 Mei 2013

7) Kabag ADAK STP Bandung 29 November 2013

8) Kabag ADAK STP Bali 27 Mei 2013

9) Kajur Hospitality STP Bandung 26 Maret 2013

10) Kajur Pariwisata STP Bandung 28 Maret 2013

11) Kajur Perjalanan STP Bandung 25 Maret 2013

12) Dosen STP Bandung 25, 26, 28 Maret 2013

13) Dosen STP Bali 29 Mei 2013

14) HRM Casa Del Rio Hotel- Melaka Malaysia 1 Juli 2013 15) HRM Concorde-Kuala Lumpur- Malaysia 2 Juli 2013 16) HRM Concorde-Shah Alam- Malaysia 3 Juli 2013

Hasil catatan, rekaman suara, dan gambar yang mendukung atau bermanfaat bagi penelitian dijadikan acuan utama, sedangkan yang lainnya disimpan dalam dokumen atau arsip. Manfaat penggunaan teknik ini adalah untuk menggali data yang lebih mendalam sekaligus mengkonstruksi implementasi manajemen strategis pendidikan untuk meningkatkan keuntungan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis pada Sekolah Tinggi Pariwiata Bandung dan Bali. Hasil wawancara mendalam ini selanjutnya diposisikan sebagai data primer penelitian.

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Secara definitif observasi adalah tindakan atau proses pengambilan informasi melalui media pengamatan, dengan sarana utama indera penglihatan, yang diamati adalah perilaku responden di lapangan yang kemudian dicatat atau direkam sebagai data utama untuk dianalisis. Keberhasilan pengamatan sangat ditentukan oleh partisipasi menyeluruh dari pengamat itu sendiri yang meliputi kesungguhan dalam observasi, dan konsentrasi selama observasi (Blaxter and Hughes, 2010, hlm.176). Beberapa pilihan yang dapat digunakan dalam observasi yaitu peneliti sebagai partisipan ikut aktif larut dalam kelompok, partisipan sebagai pengamat, sepenuhnya sebagai pengamat atau sepenuhnya sebagai partisipan, yang kesemuanya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing (Cresswell, 2009). Peralatan yang digunakan untuk melakukan observasi adalah catatan, kamera, film, handycam. Melalui observasi peneliti dapat melihat sendiri pemahaman atau informasi yang tidak terucapkan, peneliti dapat melihat langsung dan bahkan berempati dengan informan.

Melalui observasi yang dilakukan berkali-kali dan tidak terjadwal sejak penyusunan proposal diharapkan dapat melihat keadaan objektif di lokasi penelitian guna membuka dan memperkaya wawasan sehingga data yang diperoleh dapat dikaji. Diperluas dan dicari jawabannya pada saat wawancara mendalam. Pengamatan ini dilakukan dengan mencatat dan foto. Gambar, dan foto diperoleh dengan melakukan rekaman di lapangan atau melalui dokumentasi dari pihak institusi/lembaga. Kegiatan observasi juga dilakukan perbandingan suatu keadaan fisik dan non fisik antara STP Bandung dan STP Bali untuk mengetahui persamaan atau perbedaan yang ditemukan serta penyebab-penyebab yang menjadikannya.

Observasi dilakukan untuk melihat bagaimana kegiatan pendidikan di STP Bandung dan Bali, berkenaan dengan aktivitas pembelajaran baik teori maupun praktek. Observasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana sarana dan pra sarana dan berbagai fasilitas pendukung pendidikan lainnya dapat menunjang proses pendidikan yang diselenggarakan di STP Bandung dan Bali, yang meliputi keadaan kelas teori, keadaan fasilitas praktek, laboratorium komputer,

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

perpustakaan, asrama mahasiswa, kantin, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Hasil observasi tersebut di atas sangat berguna untuk mengkonfirmasi atau sebagai data triangulasi terhadap hasil wawancara mendalam yang sudah dilakukan.

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Kaji Dokumen

Dalam sebuah penelitian dokumen memiliki peranan yang sangat penting sebagai sebuah sumber informasi, dalam penelitian biasanya dokumen bukan hanya merupakan tulisan berupa catatan atau record namun segala bentuk sumber informasi baik berupa tulisan, gambar, narasi maupun bentuk lainnya yang dapat memberikan informasi bagi peneliti dalam mengembangkan penelitiannya. Dokumen dalam penelitian kualitatif merupakan sumber informasi yang bukan manusia (non human resources), sedangkan studi dokumentasi adalah teknik pengumpul data. Secara harfiah dokumen dapat diartikan sebagai cacatan kejadian yang sudah lampau, (Moleong, 2010, hlm.82), yang mencatat segala hal ihwal yang berkaitan dengan manusia pada kehidupannya sesuai dengan kebutuhan pada saat itu.

Moleong (2010,hlm.164) mengemukakan bahwa “ dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.” Sedangkan Nasution, (2008, hlm.85), menyebutkan bahwa: “… ada pula sumber non manusia, (non human resources), diantaranya dokumen, foto, dan bahan statistik.” Dokumen dapat diartikan sebagai catatan (dapat dalam bentuk tulisan, rekaman, foto, dan bahan statistik), yang berkait dengan kehidupan manusia pada masa lampau. Dokumen dalam penelitian kualitatif memegang peranan penting sebagai sumber informasi untuk melengkapi hasil wawancara dan observasi lapangan. Hasil wawancara dan observasi akan lebih akurat lagi jika disertai dokumen yang berkait dengan hal ihwal hasil wawancara dan observasi yang dilakukan sebelumnya

Studi dokumen dilakukan dengan mengkaji berbagai dokumen yang relevan dan dibutuhkan dalam penelitian, antara lain meliputi, (1) Peraturan dan Perundang-undangan; (2) RENSTRA Kementerian Pariwisata, BPSD, STP Bandung dan Bali; (3) STATUA STP Bandung dan Bali; (4) Buku Pedoman Akademik; (5) Dokumen Kerjasama; dan (6) dokumen lainnnya baik cetak maupun elektronik.

Herlan Suherlan, 2014

Implementasi manajemen stratejik pendidikan dalam meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui aliansi strategis

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hasil pengkajian terhadap berbagai dokumen tersebut di atas sangat berguna untuk mengkonfirmasi atau sebagai data triangulasi terhadap hasil wawancara mendalam dan juga hasil observasi yang sudah dilakukan.

Dokumen terkait