Membaur (Pendekatan Reality
Check)
Pendekatan Reality Check (RCA) adalah pendekatan penelitian berbasis membaur kualitatif yang mewajibkan peneliti terlatih tinggal di rumah peserta studi dan menjalani keseharian bersama mereka selama beberapa hari. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengumpulkan wawasan melalui percakapan informal yang
berulang, observasi, dan pengalaman.
RCA didasarkan pada premis bahwa pengetahuan yang didapat dari pengalaman adalah bagian penting dari penelitian yang digunakan untuk menghasilkan temuan yang berpusat pada peserta studi. Secara khusus,
komponen RCA studi ini dimaksudkan untuk membantu menggali lebih dalam topik studi/survei dan membantu
pelaksanaan triangulasi informasi yang diperoleh dalam survei.
Kegiatan membaur dilakukan di tiga masyarakat: dua di sekitar SMP (daerah Salawati dan Aimas) dan satu di sekitar
SD (daerah Mayamuk). Pemilihan tersebut salah satunya didasarkan pada pertimbangan keamanan pascakerusuhan di Papua pada bulan September 2019.
Hubungan baik telah terjalin di tiga lokasi selama studi kuantitatif dilakukan. Guna memastikan keselamatan, tim awal melakukan kunjungan ke wilayah tersebut untuk bertemu dengan kepala sekolah dan tokoh masyarakat, serta perwakilan dari Universitas Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong. Tindakan pencegahan tambahan dilakukan untuk menjamin keamanan para peneliti saat membaur. Sesuai protokol RCA, upaya dilakukan guna memastikan masyarakat memahami pentingnya kegiatan peneliti yakni tinggal dengan keluarga peserta studi, sebagai anggota rumah tangga, dan tidak melakukan pengaturan khusus untuk kegiatan tersebut.
Inti RCA ialah kegiatan membaur selama peneliti tinggal bersama keluarga peserta studi. Untuk studi ini, kami tinggal dengan sembilan keluarga dengan anak yang bersekolah guna mengeksplorasi ragam aspek kehidupan sekolah dan lingkungan mereka.
Percakapan informal sering dilakukan
untuk mengoptimalkan peluang triangulasi. Percakapan dilakukan secara spontan dan berlangsung setiap hari saat peserta studi dan peneliti bersama-sama melakukan tugas rumah tangga dan rutinitas keseharian. Pengamatan dilakukan untuk kehidupan keseharian, khususnya pada waktu yang berbeda pada siang hari (dan malam hari) dan di ruang dan situasi yang berbeda. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati, misalnya, perbedaan antara perilaku yang dilaporkan dan
perilaku yang sebenarnya, terutama seputar rutinitas keseharian di rumah atau sekolah, kebiasaan makan, serta perilaku sehat dan sanitasi. Peneliti juga mengamati aktivitas peserta studi selama waktu luang, seperti bermain, sosialisasi, dan interaksi dengan keluarga dan teman. Pemimpin subtim juga melakukan observasi sekolah selama proses membaur untuk mendapatkan pemahaman mendalam terkait hal-hal yang terjadi di sekolah setiap hari, seperti interaksi antara siswa
dan guru serta antarsiswa secara umum. Peneliti terjun langsung di lapangan sehingga dapat menginterpretasikan percakapan dengan lebih baik. Misalnya, peneliti ‘nongkrong’ di beberapa tempat dengan siswa remaja demi mengumpulkan wawasan tentang cara mereka menghabiskan waktu luang, menggunakan transportasi lokal, dan/ atau menemani anak-anak ke sekolah, terlibat dalam rekreasi sepulang sekolah, menggunakan fasilitas WASH, dll.
Peserta studi Jumlah berdasarkan desain studi (minimum) Jumlah Aktual
Keluarga dengan anak usia sekolah
yang menampung peneliti 9 keluarga 9 keluarga
Jumlah anak perempuan usia 6-16
tahun di keluarga 9-18 13
Jumlah anak laki-laki usia 6-16 tahun
di keluarga 9-18 13
Orang tua dan pengasuh lain di
keluarga 18 21
Siswi SD lain (tetangga, teman) 18 31
Siswa SD lain 18 27
Siswi SMP lain 18 99
Siswa SMP lain (tetangga, teman) 18 93
Guru SD 9 4
Guru SMP 9 14
Staf SD lain 9 1
Staf SMP lain 9 1
Pemilik kios dan kantin 18 19
Anggota masyarakat lain (tetangga,
tokoh masyarakat, dll.) 50 74
Total 212 410
Tabel 5: Peserta yang Diajak Berinteraksi Selama Studi Metode Membaur di Tiga Masyarakat
Percakapan informal dipandu oleh ‘Area Percakapan’ yang dikembangkan secara kolaboratif sebelum kerja lapangan serta berdasarkan konsultasi dengan UNICEF (Lihat Lampiran 3).
Ada sejumlah foto yang diambil, beberapa di antaranya diambil oleh peserta studi sendiri, untuk mengilustrasikan masalah penting, menekankan poin yang dibuat dalam percakapan, dan memberikan konteks. Pengambilan foto memberikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan hal-hal favorit yang dibeli dengan uang saku, rekreasi yang disukai, serta hal-hal yang tidak disukai. Tindakan ini memberikan masukan yang berguna.
Beberapa latihan visual digunakan untuk membantu percakapan, termasuk diagram rutinitas harian, penggunaan boneka peraga, pemilahan dan pemberian peringkat untuk preferensi.
2.3 ANALISIS BERSAMA
TEMUAN KUANTITATIF
DAN KUALITATIF
Analisis dilakukan menggunakan sejumlah dokumen penelitian kuantitatif dan kualitatif demi memberikan temuan yang terintegrasi yang disertai dengan penjelasan dan interpretasi yang terperinci. Setelah pengumpulan data selesai, para peneliti lapangan, pemimpin tim, dan penasihat teknis mengadakan lokakarya sense making untuk meninjau kesesuaian dan ketidaksesuaian dalam kesimpulan, pola awal, dan hubungan dari temuan kuantitatif dan kualitatif. Kami menyatukan kerangka rencana analisis data survei dan pendekatan dengan membaur ke dalam kerangka laporan yang terintegrasi. Pemimpin tim studi menggunakan kerangka kerja gabungan untuk melakukan analisis
lebih lanjut dengan pendekatan metode campuran melalui lokakarya analisis kualitatif dan kuantitatif bersama untuk mempertanyakan dan menggabungkan kesimpulan, analisis, dan interpretasi ke dalam satu laporan penilaian dasar.
2.4 BATASAN STUDI
Meskipun penelitian metode campuran dan pengerahan peneliti yang sama untuk menjalankan elemen kuantitatif dan kualitatif penelitian dapat mengatasi sejumlah batasan umum (misalnya, perilaku yang dilaporkan vs perilaku aktual), ada beberapa batasan yang perlu ditindaklanjuti, terutama yang terkait dengan ukuran dan cakupan penelitian yang relatif kecil.
Bias dan Ketepatan Survei
Umumnya, tujuan survei adalah untuk mendapatkan sampel yang representatif sehingga memungkinkan generalisasi hasil sampel (perkiraan) ke seluruh populasi. Untuk mencapai hal ini, sampel harus dipilih secara acak atau dengan tingkat keacakan tertentu. Jika tidak memungkinkan untuk memilih sampel melalui Pengambilan Sampel Acak Sederhana (semua unit, yaitu semua siswa atau semua guru, dalam populasi yang diteliti dapat menjadi bagian dari sampel dengan probabilitas yang sama), metode lain seperti pendekatan dua tahap dapat digunakan. Pada tahap pertama, klaster (dalam kasus kami, sekolah) dipilih secara acak, dan kemudian, unit (siswa/guru) dipilih secara acak di dalam klaster terpilih. Dalam studi ini, meskipun siswa/guru dipilih secara acak di sekolah terpilih, sekolah tidak dipilih secara acak. Selain itu, memilih lebih banyak klaster (sekolah) dan lebih sedikit siswa/guru
per sekolah memberikan ketepatan perkiraan yang lebih baik daripada melakukan sebaliknya. Dalam kasus kami, sekolah yang dipilih (4 SD dan 4 SMP) sangat sedikit, dengan jumlah siswa yang besar per sekolah (56-78). Hasilnya, sampel: (i) menghasilkan perkiraan yang bias dan (ii) memiliki ketepatan yang buruk. Akibatnya, taksiran tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan nilai populasi. Namun, hal ini dapat digunakan untuk menilai kemajuan di delapan sekolah dari awal hingga akhir.
Anonimisasi
Prinsip umum dalam survei adalah bahwa tujuan akhirnya merupakan ‘gambaran keseluruhan.’ Inilah sebabnya sampel harus mewakili keseluruhan variabilitas dalam populasi. Selain itu, sesuai prinsip etika, jawaban tidak boleh mengungkap identitas responden. Setelah data terkumpul, data langsung dibuat anonim, dengan cara menghapus segala referensi dari data tersebut yang dapat mengidentifikasi responden.
Karena terbatasnya jumlah sampel sekolah, satu sekolah mewakili beberapa jenis sekolah. Artinya, beberapa kategori
pemilahan tidak dapat digunakan, karena akan mengakibatkan identifikasi sekolah dan selanjutnya, identifikasi responden.
Membaur: Terjun ke Masyarakat
Mengingat bahwa bagian membaur dari studi harus ditunda karena aksi protes yang meluas (kadang-kadang melibatkan kekerasan) di provinsi dan kota/kabupaten, tindakan pencegahan khusus diambil untuk memastikan keamanan tim peneliti. Tindakan ini mencakup pelibatan tokoh kunci pada kegiatan membaur dengan masyarakat ini, dibandingkan menerapkan pendekatan yang lebih informal yang biasanya digunakan dalam studi metode membaur. Alih-alih menjalin hubungan sendiri di desa dan dengan warga desa, kami mengandalkan Kepala Desa dan Kepala Sekolah untuk mengupayakannya. Meskipun mereka memahami tujuan kegiatan membaur dan sebenarnya tidak secara terbuka menyetujui proses seleksi, para peneliti merasa bahwa hubungan dengan otoritas memengaruhi hubungan dengan keluarga dan membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun
hubungan serta upaya konsisten agar tidak diasosiasikan dengan otoritas desa dan UNICEF guna meminimalkan bias kepatutan sosial atau bias terkait sponsor dalam percakapan.
Bahasa
Meskipun sebagian besar fasih berbahasa Indonesia, banyak peserta studi yang menggunakan bahasa daerah terutama dalam percakapan dengan peserta studi lain, yang terkadang maknanya tersirat dan obrolan sampingan tidak selalu tertangkap. Pengucapan Bahasa Indonesia cenderung mengandung aksen yang kuat dan pemotongan suku kata sehingga siswa kesulitan memahami tes bacaan EGRA karena bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Anak-anak menggunakan bahasa daerah dan berbicara dengan sangat cepat sehingga beberapa peneliti kesulitan mengikuti percakapan