• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Teknis Pemilihan Rute Jalan 1 Pendahuluan

4. Pengumpulan data untuk pemilihan rute jalan 1 Sumber data

Keberhasilan pemilihan rute tergantung dari tersedianya basis data (database) informasi yang komprehensif, meliputi kondisi topografi, enjiniring, sosial dan lingkungan dalam wilayah di mana terdapat berbagai opsi. Data dikumpulkan dari sejumlah sumber dan perlu dipilih dan dipilah untuk mendapatkan basis data yang sebaik mungkin. Basis data ini mencakup:

• Peta • Foto Udara • Citra Satelit

• Hasil Survai Lapangan • Laporan-laporan Tersedia

• Sumber-sumber Pemerintah Lokal maupun Regional • Pengetahuan Lokal

• Lain-lain (lihat Tabel 41.)

KESESUAIAN LAHAN Paling Sesuai Lahan pertanian landau tidak beririgasi Perkebunan Lahan pertanian

Sawah tadah hujan

Beberapa daerah alami Daerah industri Beberapa daerah alami Beberapa daerah industri Daerah komersial Perkantoran Beberapa daerah komersial Pemukiman Peninggalan sejarah / kawasan lindung Kurang Sesuai Pada umumnya penggunaan lahan paling cocok untuk pengembangan jalan

Pada umumnya penggunaan lahan kurang cocok untuk koridor rute, opsi rute dan opsi rute terpilih

4.1.1 Peta

Peta dasar nasional dan beberapa jenis peta tematik dengan berbagai skala perlu diperoleh antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional), meliputi:

 Peta Topografi;

 Peta Tata Guna Tanah dan Peta Status Tanah;

 Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Bahaya Lingkungan;

Peta-peta tersebut di atas berskala 1 : 50.000 untuk seluruh Indonesia. Juga tersedia peta-peta digital berskala 1 : 25.000, yang diproses dari foto udara. Pada peta-peta ini interval kontur adalah sebesar 5 m, yang memadai bagi keperluan perencanaan pada Tahap Perencanaan Umum dan Tahap Prastudi kelayakan suatu proyek pengembangan jalan. Belum lama berselang telah tersedia pula hasil pemetaan dengan menggunakan citra satelit IKONOS.

Peta-peta ini akan membantu pada identifikasi keberadaan banyak kendala sosial dan lingkungan. Peta-peta ini secara umum memperlihatkan kelas-kelas tataguna tanah, roman-roman alami seperti gunung, bukit, sungai, dsb. Namun, informasi ini perlu dikombinasikan dengan sumber-sumber informasi yang lebih rinci dan dengan data hasil survai-survai lapangan. Peta-peta topografi skala 1 : 25.000 tersediia untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Peta-peta ini bersama dengan foto-foto udara akan memberikan informasi yang lebih rinci tentang kendala-kendala tataguna tanah dan lingkungan untuk keperluan pemilihan rute jalan.

Pemilihan rute final harus didasarkan atas peta-peta yang lebih rinci dan peta-peta fotogrametris, pada umumnya yang berskala 1 : 10.000, atau lebih detail dengan skala 1 : 5,000 (Foto udara

berskala 1 : 5.000 mahal harganya, namun pada skala ini lebih mudah untuk mengidentifikasi sifat-sifat individual). Peta-peta seperti ini menyajikan kondisi tataguna tanah dan lingkungan

secara lebih rinci, selain menyajikan pula detail topografi.

Peta-peta membantu menetapkan sifat topografis koridor jalan. Peta-peta juga memberi informasi tentang tataguna tanah dan rona-rona alami, seperti kondisi geologi, liputan vegetasi dan pola hidrologi. Peta-peta skala 1:25,000 memberikan informasi detail tentang bentuk kahan, elevasi, tutupan lahan, termasuk vegetasi dan hidrologu, serta informasi tentang prasarana yang ada seperti jalan, rel kereta api, jaringan listrik, dsb.

4.1.2 Foto udara

Foto udara dapat memberikan data topografi maupun data penggunaan tanah, data lingkungan dan data sosial/budaya, tetapi perlu dilengkapi dengan pemerikasaan lapangan (field check). Untuk memperoleh foto udara mutakhir diperlukan izin sekuriti (security clearnce) dari Pussurta (Pusat Survey dan Pemetaan)TNI. Izin tersebut meliputi:

Tabel 4.1 Daftar Uji Data Lingkungan

Skala Lingkungan Data Relevan Sumber Data

Regional

(Jalan penghubung) Tataguna tanah utama Kawasan perlindungan Lingkungan Kecenderungan populasi/mata pencaharian Pola pemukiman Roman lanskap Survai lapangan Rencana regional

Studi perencanaan regional Peta topografi

Foto Sistem Informasi Geografi (SIG) Kota (Opsi-opsi Segmen Jalan) Fungsi/Peran Bentuk/Struktur Jaringan hierarki jalan Jaringan rel

Sistem transpor umum Jaringan pejalan kaki Roman topografis/alami Kecenderungan populasi/mata pencaharian

Usulan pengembangan Pengembangan potensial

Ciri/pengembangan tanah yg menghadap ke jalan

Survai lapangan Rencana kota

Studi perencanaan kota Peta topografi

Foto udara format besar Konsultasi masyarakat

Jalan Utama yang ada (Opsi-opsi seksi-persilangan jalan)

Tataguna tanah yang menghadap ke jalan Lokasi penghasil (generator) pejalan kaki Lokasi penghasil (generator) kendaraan Tempat pemberhentian bis

Tempat menaikkan penumpang Penyimpanan

Tempat parkir becak Tempat parkir kendaraan Lalu-lintas pejalan kaki

Lalu-lintas kendaraan tidak-bermotor Perdagangan oleh pedagang keliling (Kaki Lima) Pasar jalanan Perbaikan jalan Pohon Vegetasi lain Jalan setapak Median Jalan layang/Terowongan Monumen Jasa

Fungsi jalan (Regional/Nasional/Lokal) Kemacetan Lalu Lintas

Bahaya Kecelakaan lalu lintas Pencemaran lokal

Survai lapangan Rencana buku besar Kimpraswil

Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

Visual Usulan pengembangan Persepsi masyarakat Lingkungan perumahan (Opsi-opsi pengadaan lahan)

Tataguna tanah (Tipe, Ukuran) Pengembangan lahan (Tipe, Ukuran, Kualitas)

Roman alami

Tataguna / Pengembangan tanah berbatasan

Usulan pengembangan Persepsi Masyarakat

Survai lapangan Foto udara format kecil Konsultasi masyarakat

• Izin P em otrtan U dara (sebelum terbang); ini m em erlukan w aktu m inim al satu bulan; • Izin P encetakan F oto U dara; dan

• Izin P enggunaan F oto U dara setalah dicetak.

Foto udara dapat dibuat menjadi mosaik baik berupa controlled maupun uncontrolled mosaic. Pada mosaik yang mengambarkan tutupan lahan yang sangat realistis ini, dapat diplot opsi-opsi rute jalan dan dapat dilihat letak opsi-opsi ini berkaitan dengan bentang topografis atau bentang alam dan dengan roman-roman lingkungan.

Walaupun pengadaan foto udara merupakan kegiatan yang mahal, foto udara merupakan satu-satunya media yang realistis untuk pemilihan rute secara cermat. Bila tidak tersedia foto udara, kegiatan penetapan rute dapat dilakukan dengan menggunakan peta yang tersedia dan peninjauan lapangan. Sayangnya, peninjauan lapangan ini tidak memungkinkan penaksiran lokasi secara luas dan mendalam, karena terbatasnya jarak pandang yang mungkin hanya mencapai beberapa ratus meter atau bahkan kurang dari pinggir jalan.

Untuk daerah-daerah berpenduduk padat atau daerah-daerah yang sedang berkembang, seperti daerah Jabotabek, di mana sering terjadi perubahan, foto udara sangat diperlukan. Karena itu, untuk keperluan pemilihan rute di daerah semacam ini hendaknya dipersiapkan foto-foto udara mutakhir, karena ini satu-satunya cara untuk memperoleh informasi setempat (on-site) tentang tataguna tanah di koridor jalan yang cukup lengkap dan akurat.

4.1.3 Citra satelit

Citra satelit skala 1 : 25.000, dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan rute Proses ini memungkinkan untuk secara umum mengidentifikasi penggunaan tanah, tutupan tanah, geologi, hidrologi dan kemiringan lereng. Walaupun resolusi yang diinformasikan kurang tinggi, namun dalam beberapa kasus memungkinkan penetapan koridor rute dan kesesuaiannya bagi pemetaan beberapa pertimbangan teknis dan lingkungan. Juga dimungkinkan untuk mempertimbangkan beberapa koridor rute satu dengan lainnya, bila diinginkan identifikasi rute yang paling disukai. Pada umumnya, dengan cara ini diidentifikasi koridor-koridor selebar 500 hingga 4.000 m.Teknik ini paling berguna, bila perlu dipertimbangkan lebih dari satu rute koridor. Namun, teknik ini tidak cocok bagi pemilihan rute secara rinci, karena dewasa ini skala citra satelit terlalu kecil.

4.1.4 Laporan-laporan yang tersedia

Mungkin terdapat laporan-laporan tentang berbagai studi yang dilaksanakan di wilayah yang studi pemilihan rute jalan. Studi-studi ini tidak perlu berkaitan langsung dengan jalan, dan mungkin berkaitan dengan sejumlah parameter pengembangan, lingkungan dan sosial. Kemungkinan besar bahwa studi-studi ini tidak meliput seluruh wilayah di mana dilakukan studi pemilihan rute jalan. Namun demikian, studi-studi ini dapat memberikan informasi latar belakang mengenai suatu wilayah secara regional atau lokal.

4.1.5 Survai lapangan

Sirvai lapangan diperlukan untuk mengecek kebenaran peta dan hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Pemeriksaan lapangan (field-check) juga akan membuktikan apakah terjadi perubahan pada kondisi koridor rute, sesudah dilakukan pemotretan udara atau pemotretan oleh satelit. Misalnya, apa yang tiga tahun sebelumnya pada foto udara adalah bentangan sawah, ternyata pada waktu pemeriksaan lapangan didapatkan bahwa bentangan sawah telah berubah menjadi lokasi permukiman atau kawasan real estat. Survai lapangan diperlukan antara lain untuk mengidentifikasi:

• H utan prim er, kem ungkinan besar terdapat di lereng bukit yang curam; • H utan yang m engalam i degradasi, di dekat atau didalam kaw asan budidaya;

• K aw asan lindung, seperti T am an N asional, daerah konservasi atau „daerah tangkapan air‟; • K aw asan budidaya, seperti saw ah, kebun sayur-mayur dan tebu;

• K aw asan perkebunan, seperti perkebunan kelapa, karet, dan pisang; dan • K aw asan pengem bangan, seperti perkam pungan dan real estat.

4.1.6 Intansi pemerintah propinsi dan lokal

Sejumlah instansi pemerintah berkepentingan dalam penentuan lokasi jalan baru. Hal ini akan bergantung pada lokasi proyek dan apakah lokasi ini akan meliputi lebih dari satu wilayah pemerintahan. Instansi-instansi ini dapat menyediakan informasi mengenai perencanaan lalu-lintas dan perencanaan sosial, untuk keperluan proses pemilihan rute. Instansi seperti Bappeda tentu mempunyai pandangannya sendiri tentang bagaimana membangun daerahnya.

Instansi lain yang berkepentingan antara lain meliputi PHPA dalam Departemen Kehutanan, yang mungkin mempunyai kepentingan dalam kawasan di mana opsi-opsi jalan akan melintas. Di dekat daerah perkotaan, instansi-instansi pemerintah tertentu dapat menyediakan informasi tentang pengembangan baru yang telah terjadi atau direncanakan bagi rute koridor. Sudah barang tentu, pengembangan yang direncanakan tidak akan tampak pada foto-foto udara yang terbarupun. Jadi, suatu langkah yang penting dalam proses pemilihan rute ialah mendapatkan informasi tentang pengembangan yang direncanakan.

4.1.7 Pengetahuan lokal

Dalam pelaksanaan survey lapangan, sebaiknya menghubungi sejumlah penduduk lokal guna membicarakan berbagai kondiisi yang mungkin mempengaruhi lokasi sebuah jalan. Hal ini diperlukan sebagai tambahan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah regional dan lokal. Misalnya, informasi dari penduduk setempat berkaitan dengan parameter-parameter yang penting dan informasi mengenai tingkat banjir. Informasi seperti ini mungkin dapat diperoleh dari

LSM-LSM setempat atau dari masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh ini perlu dicermati dengan hati-hati melalui strategi-strategi konsultasi masyarakat dan instansi terkait.

5. Data yang dikumpulkan