• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pengumpulan, Pengeringan dan Pembuatan Serbuk Kulit

Sleman. Kulit buah petai yang telah dikumpulkan, dicuci bersih dengan air mengalir bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang mungkin bercampur dengan kulit buah petai. Kemudian, kulit buah petai diangin-anginkan untuk menghilangkan air sehingga kulit buah petai tidak membusuk dan senyawa aktif yang diinginkan tetap ada dan tidak berubah (Gambar 2). Kulit buah petai yang telah dianginkan, dikeringkan pada ruang pengering simplisia.

Gambar 2. Kulit buah petai yang digunakan dalam penelitian

Pembuatan simplisia dengan cara pengeringan dimaksudkan untuk menurunkan kandungan air dalam kulit buah petai agar tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri. Selain itu, jika kadar air dalam bahan masih tinggi, dapat mendorong enzim mengubah kandungan kimia menjadi produk lain yang tidak lagi memiliki efek farmakologi seperti senyawa aslinya (Pramono, 2005 cit Ma’mun, 2006). Beberapa enzim perusak kandungan kimia antara lain : hidrolase, oksidase dan polymerase (Ma’mun, 2006).

Selanjutnya dilakukan pembuatan serbuk. Serbuk yang diperoleh diayak dengan ayakan tepung hingga diperoleh serbuk yang halus. Penyerbukan ini bertujuan

untuk memperluas kontak antara serbuk bahan dengan pelarut, sehingga pelarut lebih mudah masuk saat dilakukan maserasi dan penarikan zat aktif oleh pelarutnya lebih maksimal.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1995), serbuk yang terlalu halus akan mempersulit penyaringan, karena butir-butir halus tadi membentuk suspensi yang sulit dipisahkan dengan hasil penyarian. Oleh karena itu, hasil penyarian tidak murni lagi, tetapi tercampur dengan partikel halus tadi. Dinding sel merupakan saringan, sehingga zat yang tidak larut masih tetap berada di dalam sel. Penyerbukkan yang terlalu halus menyebabkan dinding sel pecah, sehingga zat yang tidak diinginkan pun ikut ke dalam hasil penyarian.

Dalam penelitian ini, serbuk diayak dengan ayakan tepung karena dilihat dari kehalusan serbuk sudah cukup halus, sehingga tidak mengganggu proses ekstraksi. Kemudian serbuk disimpan dalam wadah tertutup rapat dan diletakkan di dalam lemari sehingga terlindung dari sinar matahari. Menurut Menteri Kesehatan (1994), serbuk yang telah diayak disimpan dalam wadah kering, tertutup rapat, disimpan pada suhu kamar, di tempat kering dan terlindung dari sinar matahari agar serbuk tetap baik dan tidak rusak. Jadi, penyimpanan serbuk yang dilakukan peneliti sudah sesuai dengan literatur.

C. Penetapan Susut Pengeringan Serbuk Kulit Buah Petai

Pada penelitian ini, tidak dilakukan dengan penetapan kadar air, karena belum diketahui apakah serbuk kulit buah petai hanya mengandung air dalam bentuk serapan atau tidak. Oleh karena itu, dilakukan susut pengeringan karena susut pengeringan dapat digunakan untuk penetapan jumlah semua jenis bahan yang mudah menguap dan hilang pada kondisi tertentu (pada proses pengeringan), serta kadar air yang terdapat dalam serbuk (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995).

Serbuk kulit buah petai dipanaskan menggunakan alat moisture balance pada suhu 105OC selama 15 menit, karena diasumsikan bahwa air telah menguap semua dan digunakan suhu 105OC agar air menguap (di atas titik didih air). Setelah serbuk dipanaskan, dilakukan perhitungan susut pengeringan dengan teliti. Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2009), secara umum, susut pengeringan dinyatakan sebagai nilai persen terhadap bobot awal, dengan nilai tidak melebihi 10%.

Pada penelitian ini, susut pengeringan dilakukan tiga kali replikasi dan diperoleh rata-rata susut pengeringan serbuk kulit buah petai sebesar 6,83%. Hal ini menunjukkan bahwa serbuk kulit buah petai yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan yaitu tidak lebih dari 10%.

D. Pembuatan Ekstrak Etanol Kulit Buah Petai

Pembuatan ekstrak etanol kulit buah petai menggunakan metode maserasi. Metode maserasi digunakan karena mempunyai beberapa keuntungan seperti cara yang sederhana, peralatannya sederhana dan mudah dilakukan. Selain itu, dengan

metode maserasi dapat menghindari perubahan kimia pada senyawa-senyawa tertentu karena pemanasan (Pratiwi, 2008).

Proses pembuatan ekstrak etanol kulit buah petai menggunakan etanol 70% yang bertujuan untuk menarik semua komponen kimia di dalam kulit buah petai, karena pelarut etanol merupakan pelarut universal yang dapat menarik senyawa-senyawa yang larut dalam pelarut non polar hingga polar (Padmasari, Astuti, dan Warditiani, 2013).

Selain itu, etanol digunakan karena etanol lebih selektif, tidak mudah ditumbuhi kapang dan jamur (Hargono, 1986). Hal ini dibuktikan bahwa pada ekstrak etanol kulit buah petai tidak terdapat kapang atau pun jamur selama ekstrak ini disimpan dan digunakan untuk penelitian.

Proses maserasi dilakukan dengan penggojogan menggunakan shaker, tujuannya agar seluruh serbuk dapat kontak dengan pelarut dan senyawa dapat terekstrak. Penggojoggan dengan shaker dapat mempercepat waktu ekstraksi sehingga waktu ekstraksi lebih singkat dibandingkan dengan ekstraksi yang direndam. Ekstraksi dengan penggojogan menggunakan shaker disebut sebagai ekstraksi mekanik.

Setelah dilakukan penggojogan, ekstrak yang diperoleh disaring dengan menggunakan corong buncher, kertas saring dan pompa vakum. Kemudian, hasil sarinya diremaserasi menggunakan pelarut etanol sebesar 125 mL dan didapatkan maserat II, lalu maserat I dan II dapat digabung.

Maserat yang diperoleh dapat dipekatkan menggunakan rotary vacum

evaporator dengan suhu 70oC sampai terbentuk cairan kental. Prinsip kerja rotary

vacum evaporator adalah destilasi, yaitu memisahkan cairan penyari dan zat tersari

dengan cara penurunan tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas bulat sehingga pelarut dapat menguap lebih cepat di bawah titik didih. Selanjutnya, zat tersari yang telah terpisahkan dari cairan penyari disimpan pada cawan porselin dan dilakukan pemekatan menggunakan penangas air dengan suhu antara 50-60oC sampai diperoleh ekstrak kental dengan bobot tetap (Tabel I).

Bobot tetap adalah selisih antara 2 kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah ekstrak diuapkan lagi selama 1 jam (Depkes RI, 1995).

Tabel I. Penimbangan Bobot Tetap Ekstrak Etanol Kulit Buah Petai Keterangan Bobot (g) Selisih

bobot (mg)

Penimbangan awal 13.33 - -

1 jam pemanasan 13.33 0 0

2 jam pemanasan 13.33 0 0

Ekstrak yang telah diperoleh (Gambar 3) dihitung rendemennya dengan tujuan untuk mengukur keefektifan jenis pelarut yang digunakan untuk mengekstrak senyawa kimia yang terdapat dalam kulit buah petai. Semakin besar rendemen yang diperoleh, maka semakin efekif pelarut yang digunakan untuk mengekstrak. Pada penelitian ini, rendemen yang diperoleh adalah 26,66%.

Gambar 3. Ekstrak Etanol Kulit Buah Petai

E.Identifikasi Kandungan Senyawa Kimia Kulit Buah Petai dengan Uji Tabung

Dokumen terkait