LANDASAN TEORI
B. KERANGKA KONSEP TEORITIS AKUNTANSI SYARIAH 1.Syariah Islam 1.Syariah Islam
5. Pengungkapan Nilai-nilai Islam (Islamic Values) Menurut Para Ahli a.Baydoun and Wallet a.Baydoun and Wallet
Akuntansi syariah menurut Baydoun dan Wallet (1994) mempunyai dua prinsip esensial yaitu full disclosure dan social accountability yang diturunkan dari pertanggungjawaban menurut syariah setiap muslim kepada masyarakat secara umum. Oleh karena itu Baydoun dan Willet (1994, 2000) mengusulkan Format Islamic Corporate Report dengan pengungkapan yang lebih luas dibandingkan dengan akuntansi konvensional. Selain neraca (historical cost), laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas, dan laporan keuangan yang menunjukkan karakteristik perusahaan yang islami seperti: laporan perubahan dana investasi terikat, dan laporan sumber dan penggunaan dana zakat dan qard, mereka juga mengusulkan neraca (current value) dan laporan nilai tambah (Value Added Statement). Tambahan laporan keuangan tersebut di anggap sesuai dengan karakteristik akuntansi syariah yang menunjukkan perhatian entitas terhadap kepentingan sosial (indirect stakeholders) dan lingkungan alam.
Tabel 2.2
Value Added Statement versi Baydoun dan Willet (1994; 2000) Sources:
Revenues Bought in items Revaluations
Distributions:
Beneficiaries (eg. Zakat, Khumus) Government (eg. Taxes)
Employees (eg. Wages) Owners (eg. Dividens)
X (X) X X X X X X
Menurut Baydoun dan Willet (2000) dalam Harahap (2001: 215), bentuk laporan keuangan perusahaan yang lebih cocok dengan akuntansi islam adalah Value Added Reporting bukan laporan laba rugi konvensional. Menurut beliau laporan Value Added Reporting cenderung kepada prinsip-prinsip pertanggung jawaban sosial. Dalam value added reporting informasi yang disajikan meliputi laba bersih yang diperoleh perusahaan sebagai nilai tambah yang kemudian di distribusikan secara adil kepada kelompok yang terlibat dengan perusahaan dalam menghasilkan nilai tambah. Selain value added reporting, Baydoun dan Willet (2000) merekomendasikan laporan keuangan islam dalam bentuk current value balance sheet. Filosofi yang mendasari lahirnya kedua bentuk laporan keuangan tersebut sebagai bagian dari Islamic corporate report adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3
Perbedaan Karakteristik Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syariah Karakteristik Sistem Akuntansi Konvensional System Akuntansi Syariah System Akuntansi Syariah Ekonomi yang rasionalism Ketauhidan (Unity of God)
Prinsip Sekuler
Individualis Memaksimalkan Keuntungan
Survival of the fittest Ditekankan pada proses (mechine mechanism)
Syariah
Kepentingan Ummat Keuntungan yang wajar Persamaan
Rahmatan lil „alamin
Kriteria Berdasarkan pada hukum
perdagangan masyarakat kapitalis modern dari pada etika. Penyajian informasi yang sangat terbatas.
Informasi yang ditujukan atau bertanggung jawab kepada pemilik.
Berdasarkan pada etika yang bersumber pada hukum Al-Quran dan Al-Hadist.
Full disclosure untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang sesuai dengan syariah dan memenuhi kebutuhan Islamic Finance Report User.
Pertanggung jawaban kepada ummat/ masyarakat luas
(khususnya dalam
memanfaatkan sumber daya) Sumber : Harahap (2001)
b. Gambling dan Karim
Gambling dan Karim (1991) menyebutkan bahwa persoalan penilaian aset dibangun dengan baik oleh prinsip syariah berhubungan dengan zakat. Akuntansi mempunyai sebuah aturan yang signifikan dalam menyediakan informasi yang memungkinkan organisasi bisnis untuk menentukan jumlah yang dapat dikenakan zakat. Ini adalah salah satu tujuan menentukan laporan keuangn dalam organisasi islam.
Berkaitan dengan pengukuran zakat, Gambling dan Karim (1991) dalam Muhammad (2002) menyatakan bahwa untuk kepentingan zakat pengukuran yang lebih relevan digunakan adalah current cost accounting (CoCoA) yang dikemukakan Chambers (1966), dan tidak menggunakan historical cost accounting. Dengan demikian, apabila historical cost accounting ditinggalkan maka konsekuensinya adalah penilaian persediaan dengan metode cost or market whichever is lower (COMWIL) tidak relevan lagi.
Sehubungan dengan masalah pengklasifikasian aktiva, Gambling dan karim (1991: 93) menyatakan bahwa pengklasifikasian aktiva menjadi aktiva lancar (currents assets) dan aktiva tidak lancer (non-current assets) mempunyai pandangan yang berbeda dalam syariat islam. Dari kaca mata syariah tentunya pengklasifikasian aktiva tersebut digunakan untuk mengidentifikasi aktiva yang terkena zakat (zakatable assets).
Gambling dan Karim (1991: 93) juga menyatakan, bahwa zakat dikenakan terhadap aktiva yang diperoleh untuk diperdagangkan, yaitu modal kerja bersih (net working capital) termasuk kas, dan bukan pada aktiva yang dibeli untuk digunakan dalam operasi, yaitu aktiva tetap (fixed assets). Dari pernyataan ini jelas bahwa konsep pengakuan dan penilaian aktiva didasarkan pada harga pasar (market value), sebab dalam perhitungan zakat nilai yang dianggap memenuhi persyaratan syariah adalah harga pasar. c. Hameed
Berdasarkan tujuan tersebut, maka akuntansi syariah harus holistic dalam pelaporannya dengan ukuran financial dan non financial dengan mempertimbangkan peristiwa dan transaksi ekonomi, sosial, lingkuangan dan religious yang harus diukur dan dilaporkan/diungkapkan.
Berkaitan dengan tujuan dan sifat akuntansi syariah, informasi yang perlu diungkapkan dalam laporan keuangan menurut Hameed (2001) dalam Harahap (2001: 211) yaitu informasi tentang:
1. Memelihara dan meningkatkan nilai perusahaan
2. Perlindungan terhadap hak-hak semua pihak yang terlibat dalam bisnis 3. Perlindungan hak-hak masyarakat, dan tanggung jawab sosial
4. Informasi tentang system pencegahan dini terhadap berbagai bentuk dosa dan kerugian
5. Informasi yang dibutuhkan lembaga lain seperti bank, pemerintah, pasar modal.
6. Informasi likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas. 7. Informasi tentang pegawai, SDM, dan sebagainya.
8. Peranan perusahaan/ lembaga dalam mendorong pelaksanaan syariah atau dakwah.
d. Haniffa and Hudaib
Dalam makalahnya yang berjudul “Disclosure Practices of Islamic Financial Institution: An Exploratory Study”, Haniffa dan Hudaib (2004) merumuskan informasi-informasi yang penting diungkapkan dalam laporan keuangan, yaitu:
1. Informasi mengenai konsep amanah (perwalian) harus di ungkapkan dalam pernyataan Misi dan tujuan perusahaan, termasuk di dalamnya komitmen lembaga keuangan islam dalam operasi dan penyajian pengembalian ke para pemegang saham dan deposan dalam prinsip syariat islam; saat ini dan masa depan dalam melayani kebutuhan umat islam dan masyarakat umum; menarik dalam aktivitas investasi yang halal dan menunjukkan komitmen untuk memenuhi uqud (kontrak) melalui surat perjanjian yang ditujukan kepada semua pihak.
2. Informasi mengenai anggota tim managemen
3. Informasi mengenai produk dan jasa yang bebas riba (bebas bunga) dan halal (sah) yang ditawarkan, dan juga aktivitas serta produk yang masuk
dalam kategori madub (meragukan) juga harus sepenuhnya diungkapkan dalam laporan keuangan.
4. Bagaimana keuntungan dari setiap kegiatan yang memiliki unsure haram termasuk transaksi riba dan meragukan yang berada di luar kendali dan bagaimana cara menanganinya harus benar-benar diungkapkan.
5. Setiap penawaran produk baru harus mendapatkan persetujuan dari DPS dan dasar persetujuan tersebut berdasarkan konsep syariah yang harus secara jelas diterangkan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. 6. Pengungkapan sumber dan jumlah zakat dan kepada siapa zakat
dibayarkan
7. Informasi mengenai upah, pekerjaan (misalnya jam kerja, libu dan cuti, kesehatan dan kesejahteraan, dan lain-lain), dan pemberian kesempatan yang sama dalam pengembangan dan pelatihan karyawan.
8. Informasi mengenai jumlah dan penerima manfaat dari amal serta bentuk kontribusi kepada masyarakat seperti keterampilan, waktu atau usaha. Demikian pula sponsor dari kegiatan dan masyarakat serta keterlibatan dalam kampanye sosial pemerintahan harus juga diungkapkan.
e. Harahap
Harahap (2008) dalam kerangka teori akuntansi syariah yang dirumuskannya menyebutkan bahwa dalam pelaporan keuangan, harga harus menggambarkan nilai riil yang berlaku saat periode pelaporan. Ini bebarti metode penilaian yang disarankan Harahap adalah Realizable/ market value/ fair value.
Harahap (2002) juga mengatakan bahwa kemunculan employee Reporting, value added accounting, socio-economic accounting, dan environmental accounting untuk hanya beberapa nama, merupakan bukti dari kekurangan system akuntansi capital dalam menciptakan prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran diantara para stakeholder perusahaan.
3. Laporan arus kas
4. Socio economic atau laporan pertanggung jawaban sosial 5. Catatan penyelesaian laporan keuangan yang bias berisi laporan:
a. Mengungkapkan lebih luas tentang laporan keuangan yang disajikan b. Laporan tentang berbagai nilai dan kegiatan yang tidak sesuai dengan
syariat islam. Misalnya dengan juga menyajikan pernyataan dari Dewan Pengawas Syariah
c. Menyajikan informasi tentang efisiensi, good governance dan laporan produktifitas.
Beberapa item yang dapat di ungkapkan melalui laporan keuangan: 1. Informasi tentang karyawan:
a. Cuti hamil yang diberikan perusahaan b. Bonus/THR
c. Rasio pendapatan pegawai tertinggi dan terendah d. Jam kerja biasa dan sewaktu ramadhan
e. Perbedaan jam kerja, ruangan wanita dan laki-laki 2. Aspek lingkungan:
a. Tingkat polusi yang ditimbulkan perusahaan b. Complain masyarakat/ tetangga
c. Penyediaan sarana ibadah
d. Perlindungan karyawan, keamanan kerja, pekerja malam e. Pemeliharaan lingkungan yang nyaman
3. Aspek sosial:
a. Zakat yang dibayarkan b. Infaq dan shadaqah
c. Pemeliharaan dan bantuan orang miskin dan anak yatim
d. Bantuan pembangunan masjid, sarana pendidikan dan sarana sosial lainnya
e. Bantuan keamanan lingkungan f. Bantuan untuk kegiatan masyarakat. f. Khan
Khan (1994) menyatakan bahwa tujuan informasi akuntansi untuk bank syariah berbeda dengan bank konvensional karena dua alas an yaitu:
1. Bank syariah berhubungan dengan kerangka syariah sehingga konsep transaksinya berbeda dengan bank konvensional.
2. Penggunaan infomasi yang dihassilkan bank syariah mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan penggunan informasi bank konvensional. Pengguna infomasi bank syariah menurut Khan (1994) tidak hanya direct stakeholders saja seperti shareholders, investor, dewan pengawas syariah, bank sentral, pemerintah, namun juga indirect stakeholders seperti general public, non-muslim observers, peneliti, dan karyawan. Oleh karena itu informasi yang diungkapkan tidak hanya untuk direct stakeholders seperti informasi yang membantu mengevaluasi kemampuan menjaga aset, memelihara likuiditas, penggunaan sumber daya yang profitable dan kepatuhan terhadap syariah namun juga informasi pertanggungjawaban kepada karyawan, customers, masyarakat dan lingkungan.
g. Taheri
Mohammad R. Taheri dalam artikelnya yang berjudul The Basic Principles of Islamic Economy and Their Effects on accounting Standars Setting (2000) berpendapat bahwa kebijakan akuntansi untuk akuntansi model islami akan lebih berorientasi nilai (value-oriented). Hal ini didasarkan adanya tiga komponen dasar dalam ekonomi islam yaitu prinsip multi kepemilikan dalam islam, prinsip kebebasan ekonomi dengan batasan yang ditentukan, dan prinsip keadilan sosial. Berkaitan dengan prinsip-prinsip tersebut, maka laporan keuangan harus ditujukan untuk memenuhi kepentingan Negara, manajemen dan masyarakat.
Dalam artikelnya Taheri (2000) memberikan pendapat mengenai konsep teoritis akuntansi:
“in the Islamic accounting model, primary focus is on the balance sheet. The impact of exchange between a firm and its social environment is
meliputi elemen-elemen ekonomi islam yang paling penting yaitu keadilan sosial melalui pengaplikasian larangan riba, zakat, dan etika islam. Faktor-faktor lain seperti lingkunan dan elemen-elemen luar yang mempengaruhi masyarakat muslim, penerapannya mungkin berdasarkan ijtihad melalui penerapan “waktu” dan “tempat”.
Persamaan dan perbedaan elemen-elemen akuntansi dalam perumusan standar untuk Islamic accounting model versus British-American model dirangkum dalam tabel berikut.
Tabel 2.4
Persamaan dan perbedaan elemen-elemen akuntansi dalam perumusan standar untuk Islamic accounting model versus British-America model Elements British-America Model An Islamic Model
Economic Approach Micro Macro
Primary Users Investors and Creditors State, Management, People
Accounting Policy Goal Oriented Value Oriented Asset Valuation Historical Cost Price Current Exit Price Income Determination Revenue-Expenses Approach Asset-Liability Approach
Time Value Money Yes No
Time Period Yes Yes
Primary Focus Income Statement Balance Sheet Theoritical Concept Entity Theory Proprietary Theory Going Concern Postulate Based on Income Based on Islamic Law
Fixed Interest Yes No
Legalistic Orientation Common Law Religious Law
Accounting Rules Technical Ethical
Accounting Ethics Professional Ethics Religious Ethics
Stock Exchage Market Yes Yes
Bonds Yes Yes with request
condition Accounting Approach Value Approach Event Approach Dichotomy of Business
and Private Morality
Yes No
h. Triyuwono
Triyuwono (2002) memformulasikan tujuan dasar laporan keuangan akuntansi syariah yang bersifat “materi” adalah pemberian informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi sedangkan yang bersifat “spirit” adalah akuntabilitas. Kedua tujuan ini bersifat mutually inclusive yaitu tujuan yang satu tidak dapat meniadakan yang lain dan berada dalam satu kesatuan. Ia berargumen bahwa akuntansi syariah merupakan instrument akuntabilitas yang digunakan oleh manajemen kepada Tuhan (akuntabilitas vertical), stakeholders dan alam (akuntabilitas horizontal). Mengenai informasi yang harus diberikan/ diungkapkan oleh akuntabilitas syariah, Triyuwono (2002a. 214) berpendapat:
“ perlu diketahui bahwa dalam pemikiran ini, pemberian informasi tidak terbata pada pemberian informasi kuantitatif, sebagaimana pada akuntansi modern. Tetapi juga melingkupi infomasi kualitatif, baik yang bersifat ekonomi maupun yang bersifat social, spiritual, dan politik bisnis.”
Triyuwono dan As’udi (2001) dalam Suwiknyo (2007) memberikan kesimpulan dalam penellitian mereka yaitu:
“konsep laba business income lebih relevan dengan akuntabilitas syariah, dibandingkan dengan konsep laba historical cost. Konsep business income sesuai dengan mekanisme zakat dan system tanpa bunga yang berlaku dalam ajaran islam. Konsep business income adalah nilai saat ini (current value) yang dikembangkan menjadi dua bentuk nilai yaitu nilai masukan dan nilai keluaran. Nilai masukan menghasilkan laba yang disebut business profit, sedangkan nilai keluaran menghasilkan laba yang disebut realizable profit.”
Triyuwono (2006) dalam syariah enterprise theory menyajikan value added statement (laporan nilai tambah) sebagai salah satu laporan keuangannya. Adapun pihak yang berhak menerima pendistribusian nilai tambah ini diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu:
infaq, dan shadaqah) dan lingkungan alam (misalnya untuk pelestarian alam).
i. Yaya
Yaya (2001) berpandangan bahwa diperlukan perubahan yang besar (extensive overhaul) akuntansi konvensional untuk menjadi akuntansi syariah. Ia berpandangan bahwa akuntansi konvensional gagal mencapai tujuan sosial ekonomi dalam islam. Tujuan sosial ekonomi dalam islam menjadi landasan dalam setiap fikih/aturan islam yang berkaitan dengan isu ekonomi karena permasalahan ekonomi saat ini sangat rumit sementara beberapa contoh permasalahan pasar modal tidak di atur secara langsung oleh prinsip syariah tetapi substansi masalahnya dapat diputuskan oleh prinsip syariah yang berlandaskan tujuan sosial ekonomi dalam islam. Contoh lain adalah masalahzakat penghasilan. Meskipun zakat penghasilan tidak diatur secara langsung dalam prinsip syariah, tetapi karena sesuai dengan tujuan sosial ekonomi dalam islam, hamper semua pemikir dapat menerimnya dan bahkan telah dilaksanakan dalam beberapa masyarakat islam.
Yaya (2002) berargumen bahwa perkembangan pelaporan akuntansi barat dapat dipertimbangkan sebagai sarana pelaporan akuntansi islami masa depan. Hal ini disebabkan perkembangan tersebut sejalan dengan pemikiran akuntansi islami yang memandang organisasi tidak hanya terlibat dalam peristiwa ekonomi namun juga peristiwa sosial dan lingkungan seperti penggunaan sumber daya alam dan tenaga kerja yang disediakan oleh masyarakat dan lingkungan.
j. Rahman
Pemikiran Rahman (2000) dalam artikelnya yang berjudul Islamic Accounting Standars difokuskan pada pencapaian tujuan zakat, bagaimana system zakat, dan bagaimana system penilaian aset untuk tujuan zakat. Menurutnya, penilaian aset berdasarkan pada harga jual (selling price) yang berlaku pada saat zakat jatuh tempo. Sehingga pengukuran zakat parallel dengan konsep Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) Chambers, atau Current Cash Equipment.
Gagasan tentang nilai tukar (value-in-exchage) telah dimasukkan dalam metode penilaian. Hal ini mengacu pada kemampuan suatu objek tukar untuk memperoleh kuantitas lain. Ini simultan antara harga jual suatu aset
dengan harga pembelian barang lain. Penilaian juga merupakan item yang spesifik. Ini artinya seseorang yang membayar zakat harus mempertimbangkan umur, manfaat dan kekurangannya aset ketika dalam penilaian.