• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 1 Identitas Pemrakarsa …………………………………………………………… I-1

2.6. Tahap Pra Konstruksi

2.6.3. Pengurusan perizinan

Pengurusan izin klinik Aizar termasuk pula didalamnya kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi untuk mendapatkan persetujuan tetangga. Secara keseluruhan pengurusan perizinan meliputi :

 Persetujuan warga

 Surat keterangan domisili Desa  Surat rekomendasi Kecamatan  Izin Prinsip PMDN

 Izin Prinsip Kesesuaian Tata Ruang  Rekomendasi UKL-UPL

 Izin Lingkungan

 Rekomendasi Andalalin  Izin gangguan (Ho)

 Tanda daftar perusahaan (TDP)  Izin mendirikan bangunan (IMB)

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-16

 Izin usaha Klinik (IUP)  Izin PPLH

Adapun izin yang telah dimiliki antara lain :

Tabel 2.11. Perizinan yang dimiliki

No. Jenis surat Nomor Instansi

1 Izin tetangga - - 2 Akat yayasan 02/2011 Notaris Dudi

Salahudin, S.E., S.H., M.Kn. 3 Pengesahan yayasan AHU-4395 AH.01.04.Tahun 2011 KemenKumHam 4 AJB 398/2008 Notaris PPATK 5 SPPT 32.04. 140. 006.

024-0075.0

Dispenda 6 Domisili klinik 470/162/DS/VI/2016 Kades Bojongkembar 7 Rekomendasi

Kecamatan

503/46/VI/2016 Kecamatan Cikembar 8 Domisili Yayasan 145/04/DS/VI/2016 Kades Bojongkembar 9 Surat keterangan klinik 440/75/PKM CKB/06/2016 Pukesmas Cikembar 10 IMB 503.3/645.3/ 8910 /PMB-BPPT/2010 BPPT 11 SK-IKR Distarkimsih

Sumber : Klinik Aizar

2.7. Tahap Konstruksi

2.7.1. Mobilisasi Tanaga Kerja

Untuk menyelesaikan pembangunan pengembangan klinik Aizar sesuai dengan rencana teknis, maka dibutuhkan tenaga kerja konstruksi sebanyak 25 orang. Tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai dengan keahliannya dan di prioritaskan warga sekitar lokasi :

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-17

Tabel 2.12. Tenaga Kerja Konstruksi

No Tenaga Kerja Jumlah (org) Pendidikan Asal

1 Kepala proyek 1 Sarjana Sukabumi 2 Tim teknis 3 Sarjana Sukabumi 2 Mandor 1 SMA Warga sekitar 3 Tukang 5 - Warga sekitar 4 Asisten tukang 12 - Warga sekitar 5 Security 3 - Warga sekitar

Jumlah 25

Sumber : Klinik E-Medical Centre

Jam kerja proyek mulai dari pukul 08.00 – 16.00 WIB setiap hari kerja senin – sabtu dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

2.7.2. Pematangan Lahan

Lahan yang digunakan untuk pembangunan pengembangan Klinik Aizar merupakan sebagian lahan yang telah terbangun dan lahan kosong. Agar pembangunan klinik sesuai dengan rencana teknis, maka dilakukan pembersihan, perataan, penggalian pondasi pada lahan kosong. Sedangkan pemanfaatan bangunan yang telah ada dilakukan rehab sesuai dengan perencaan teknis pembangunan pengembangan klinik. Selanjutnya dilakukan kajian sondir untuk menguji ketahanan kepadatan tanah agar dapat menentukan titik-titik pemasangan pondasi tiang.

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-18

2.7.3. Mobilisasi Alat dan Material Bangunan

Alat yang digunakan untuk melaksanakan rencana kegiatan pembangunan klinik beserta sarana dan prasarana dasar maupun pekerjaan finishing sesuai rencana teknis adalah :

Tabel 2.13. Peralatan yang digunakan

No. Jenis Peralatan Jumlah Fungsi

1 Cangkul 1 Menggali, memuat, menghancurkan 2 Vibrator 1 Memadatkan

3 Molen 1 Pengecoran beton

4 Balincong 1 Menggali, menghancurkan 5 Alat bangunan sederhana lainnya

Sedangkan material yang digunakan untuk pengerjaan pada tahap konstruksi adalah :

Tabel 2.14. Material yang digunkan

No. Jenis Material Fungsi

1 Pasir Campuran beton 2 Semen Campuran beton 3 Krikil Campuran beton 4 Baja ringan Rangka atap 5 Batu belah Pondasi

6 Besi kolom Campuran pondasi dan tiang 7 Bahan bangunan lainnya

Sumber : Pemrakarsa

2.7.4. Pembangunan Sarana dan Prasarana

Dalam menunjang kegiatan Klinik Aizar, maka dibangun sarana dan prasarana klinik sesuai dengan rencana teknis.

a. Bangunan Klinik

Bangunan klinik dibangun dengan 2 lantai memilik luasan yang sama yaitu 460 m2 per lantai. Bangunan akan dipetakan sesuai fungsi masing-masing ruangan. Untuk pelayanan poli akan dipusatkan di areal depan klinik pada lantai dasar dan skin care pada lantai 2. Sedangkan, bagian belakang untuk pelayanan rawat inap, radiologi, persalinan, fartus, laboratorium, dan lain-lain. Khusus

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-19

untuk bangunan ruang radiologi di lantai dasar harus lebih diperhatikan karena akan adanya bahaya radiasi. Dinding ruang dengan tebal 30 cm yang dilapisi timbal (Pb) setebal 2 mm terpasang dari lantai sampai plafond, termasuk pintu dilapisi Pb dan jendela dengan kaca timah agar bahaya radiasi tidak menyebar ke luar ruangan.

b. Areal Parkir

Areal parkir berupa jalan beton yang dibangun stabil dan kuat sehingga tidak terjadi penurunan badan permukaan/amblas ketika kendaraan berada di atasnya. Pemadatan sub grade dilakukan untuk menjamin kepadatan maksimal sesuai dengan peruntukannya. Untuk mencegah kerusakan maka dibuatkan saluran drainase dan lindi-lindi di setiap sisi areal parkir dan permukaan beton, untuk menyalurkan limpasan air hujan dari badan permukaan ke saluran. Permukaan harus memiliki kemiringan 2 drajat untuk memperlancar air hujan menuju saluran drainase.

0,5 m 0,5 m

0,5 cm

Gambar 2.6. Desain Drainase

c. Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Ruang terbuka hijau (RTH) harus sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan. Proporsi RTH pada wilayah kota sebesar 30 % dari luas wilayah kota. Seluas 20 % diperuntukan RTH publik dan sebesar + 10 % untuk RTH privat. Yang termasuk RTH publik diantaranya taman kota, taman pemakaman umum, jalur hijau, dan lainnya. Sedangkan RTH privat antara lain kebun atau halaman rumah milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Oleh karena itu, RTH untuk rencana kegiatan ini lebih dari 35 %

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-20

dari luas lahan sehingga sudah melebihi batas minimal Pemerintah sebesar 10 %. Ruang Terbuka Hijau (RTH) haruslah berfungsi sebagaimana mestinya dapat menyimpan air tanah, menjaga kualitas udara, peredam kebisingan, dan penyeimbang estetika lingkungan hidup. Konsep RTH berdasarkan fungsi dan luasan lebih condong pada RTH mikro dengan fungsi RTH :

 Ameliorasi iklim, artinya dapat mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro. Ruang terbuka hijau menghasilkan O2 dan uap air (H2O) yang menurunkan, serta menyerap CO2 yang bersifat gas rumah kaca sehingga dapat menaikkan suhu udara dan berpengaruh pada iklim mikro setempat

 Memberikan perlindungan terhadap terpaan angin kencang dan peredam suara. Tanaman berfungsi sebagai pematah angin (windbreak) dan peredam suara (soundbreak)

 Memberikan perlindungan terhadap terik sinar matahari. Kehadiran tanaman dalam ruang terbuka hijau akan mengintersepsi dan memantulkan radiasi matahari untuk fotosintesis dan transpirasi sehingga di bawah tajuk akan terasa lebih sejuk

 Memberikan perlindungan terhadap asap dan gas beracun, serta penyaring udara kotor dan debu

 Mencegah erosi. Arsitektur tanaman (pilotaxi) berupa pohon akan mempengaruhi sifat aliran batang (steam flow) air hujan yang tertampung oleh tajuk, sehingga dapat mempengaruhi tata air dan erosi lahan

 Membantu peresapan air hujan sehingga memperkecil erosi dan banjir serta membantu penanggulangan intrusi air laut. Tanaman dalam ruang terbuka hijau yang diperuntukkan untuk mencegah intrusi air laut adalah jenis tanaman yang berkemampuan dalam menyerap, menyimpan, dan memasok air, dll.

Oleh karena itu, direkomendasikan menanam pohon rindang di sekeliling areal kegiatan/pagar pembatas. Dibawah ini merupakan pohon yang dapat di

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-21

gunakan untuk RTH yang dapat di pilah dan di pilih sesuai keadaan di lokasi kegiatan.

Tabel 2.15. Jenis Tanaman penyerap polusi udara

No. Nama Tanaman Dimensi Fungsi

1 Trembesi Tinggi 5 meter  Penyerap CO2 28 ton/thn  Pohon peneduh

2 Bambu Tinggi 5 meter  Penyerap CO2 12 ton/thn  Pohon peneduh

3 Cassia Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 5.295,47 Kg/thn

4 Kenanga Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 756,59 Kg/thn 5 Pingku Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 720,49 Kg/thn 6 Beringin Tinggi 5 meter  Penyerap CO2 535,9 Kg/thn

 Pohon peneduh

7 Krey payung Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 404,83 Kg/thn  Pohon peneduh

8 Matoa Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 329,72 Kg/thn 9 Mahoni Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 295,73 Kg/thn

 Pohon peneduh

10 Saga Tinggi 5 m  Penyerap CO2 221,18 Kg/thn  Pohon peneduh

11 Bungur Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 160,14 Kg/thn 12 Jati Tinggi 5 m  Penyerap CO2 135,27 Kg/thn 13 Nangka Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 126,51 Kg/thn 14 Johar Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 116,25 Kg/thn 15 Sirsak Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 75,29 Kg/thn 16 Puspa Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 63,31 Kg/thn 17 Akasia Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 48,68 Kg/thn 18 Flamboyan Tinggi 5 m  Penyerap CO2 42,2 Kg/thn

 Pohon peneduh

19 Sawo kecik Tinggi 5 m  Penyerap CO2 36,19 Kg/thn  Pohon peneduh

20 Tanjung Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 34,29 Kg/thn  Pohon peneduh

21 Bunga merak Tinggi min 3 m  Penyerap CO2 30,95 Kg/thn 22 Puring Tinggi 0,5 m  Penyerap CO2 20-30 gr/hari

 Penyerap timbal dan polutan 23 Lidah mertua 4/5 helai  Penyerap formaldehid,

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-22

nitrogen oksida dan polutan lainnya

24 Spider plan Panjang daun 20 cm

 Penyerap formalin, xylene, CO

25 Bunga lily -  Mengurangi racun dalam ruangan yang menyebabkan kanker

26 Sri rezeki -  Menyerap trikloroetilen, benzen

27 Hanjuang Tinggi min 1 m  Menyerap polutan bensin 28 Pinus Tinggi 3 m  Peredam bising

29 Cemara Tinggi 3 m  Peredam bising 30 Palem Tinggi 5 m  Peredam bising

Sumber : Penelitian Endes N. Dahlan IPB Publishing, 2008

d. Pembangunan Sumber Air dan Jaringan Plumbing

Sistem plumbing dimanfaatkan untuk penyediaan atau pengeluaran air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa ada ganguan atau pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air, yakni melalui kran, kloset, wastafel, shower dan lain-lain. Untuk bahan plumbing digunakan pipa besi tulang (galvanize), pipa PVC, dan pipa tembaga untuk air panas.

System plumbing menggunakan sistem vertikal dan horizontal melalui sumber air bersih dari sumur bor dengan kedalaman 17 m, untuk bangunan berlantai disediakan bak reservoir. Untuk itu, disediakan bak penampung sebanyak 2 buah untuk menampung air bersih sebelum di distribusikan ke setiap ruangan yang dikhendaki.

Saluran pembuangan air bekas dan air kotor berasal dari westafel, pencucian alat, dapur dan lain-lain dialirkan menuju IPAL (waste water

treatment). IPAL ini dirancang untuk pengelolaan limbah cair domestic dengan

proses pemisahan, koagulasi, pengikatan, pengendapan dan filterisasi sebelum di buang ke badan air penerima (lingkungan). Sedangkan, pembuangan tinja berasal dari kloset dialirkan menuju septic tank biofilter.

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-23 Pipa Primer Pipa Primer Pipa Sekunder Toilet/MCK Keran Cuci Waste Water treatment Septic Tank Badan Air Penerima Pompa

Gambar 2.7. Skema Penggunaan Air Bersih

Gambar 2.8. Desain IPAL (Waste Water Treatment)

Bak penampung berfungsi untuk menampung air limbah cair (inlet). Mesin IPAL akan mengolah air limbah yang ditampung dalam bak penampung selama 1 jam. Kemudian air limbah dialirkan secara gravitasi ke bak lumpur atau bak pengendapan lumpur. Setelah itu, air limbah di bak lumpur dialirkan melalui sistem filterasi sehingga menghasilkan air bersih dalam bak hasil (outlet) yang kadar pencemarnya sudah di bawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

e. Pembangunan Sumur Resapan dan Biopori

Sumur resapan akan dibuat dengan ukuran 2 m3 sesuai dengan SNI. Sumur resapan yang akan dibuat sebanyak 2 unit yang akan dibangun pada titik-titik limpasan air hujan di areal bangunan kedap air khususnya di areal parkir.

Bak penampung Reservoir

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-24

Gambar 2.9. Model Sumur Resapan

Disamping sumur resapan dibuat juga lubang biopori dengan diameter 10 cm dan tinggi/kedalaman 100 cm, sehingga volume biopori ¼ x ∏d2 x t sebesar 7.850 cm3 setara 0,008 m3. Lubang bipori rencananya akan dibuat sebanyak 51 unit di areal RTH, dan di tempat jatuhnya air dari saluran talang air hujan. Adapun desain lunbang biopori digambarkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.10. Desain Lubang Biopori

f. Pembangunan Sarana Persampahan

Pembangunan sarana persampahan yang dibuat secara semi permanen dan non-permanen. Tong sampah yang tidak permanen akan disiapkan pada masing-masing ruangan dengan terpilah tong sampah organik dan anorganik. Unit tong sampah yang disediakan sebanyak 30 unit tong sampah terpilah dan 10 unit tong

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-25

sampah medis. Sedangkan tong sampah semi permanen di simpan diluar ruangan sebanyak 4 unit.

g. Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 (TPS B3)

Tempat penyimpanan sementara limbah B3 atau lebih dikenal dengan nama TPS B3 dibangun dengan ukuran 4 x 4 m. Dengan luas 16 m2 TPS B3 dapat menampung limbah B3 baik cair dan padatan baik medis maupun non medis di simpan secara terpisah yang dihasilkan dari kegiatan klinik. TPS B3 disesuaikan dengan ketentuan perundangan yang berlaku dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya.

h. Pembangunan Septic Tank

Septic tank dibuat sesuai standar yang disyaratkan agar tidak menyebabkan bau dan tidak mengalami kebocoran yang menyebabkan penurunan kualitas air tanah. Septic tank yang dibuat merupakan bioseptic yang memiliki sifat secara biologi. Septic tank ini dirancang dapat menampung semua limbah buangan tinja yang dihasilkan dari pasien, pengunjung dan karyawan.

Gambar 2.11. Rencana Pemasangan Septictank

i. Pemasangan Alat Pemadam Kebakaran

Penyediaan dan pemasangan alat pemadam kebakaran digunakan APAR. Pemasangan APAR berkapasitas 7 Kg sebanyak 15 unit diletakkan di tempat startegis di seluruh bagian ruangan. Selain itu, dibuatkan jalur darurat evakuasi bencana dan alarm peringatan bahaya.

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-26

j. Pemasangan Sumber Arus Listrik

Sumber listrik memanfaakan pelayanan PT. PLN Sukabumi sebagai sumber listrik utama sebesar 20 KVA. Disamping itu, disediakan pula genset Krisbow KW 20-549, 15 KVA 15.000 W sebanyak 1 unit sebagai sumber listrik cadangan yang digunakan pada saat mati listrik dari PT. PLN.

2.8. Tahap Operasi

2.8.1. Mobilisasi Tenaga Kerja

Tenaga yang dibutuhkan untuk kegiatan klinik sebanyak 50 orang. Rekrutmen tenaga kerja memprioritaskan warga sekitar lokasi yang terkena dampak langsung dengan lokasi kegiatan. Namun, beberapa tenaga kerja profesi yang membutuhkan keahlian khusus merekrut dari wilayah Sukabumi atau luar Sukabumi. Adapun posisi tenaga kerja yang dibutuhkan terdiri dari :

Tabel 2.16. Tenaga Kerja Operasi

No Keterangan Jenis Kelamin Jumlah Pendidikan

L P

1 Dokter spesialis 1 2 3 Sarjana 2 dokter umum 1 1 2 Sarjana 3 Bidan - 10 10 Diploma 4 Perawat - 5 5 Diploma 5 Apoteker 1 - 1 Sarjana 6 Administrasi 1 4 5 SMA 7 Rontgent 2 1 3 SMA 8 Supervisor 1 1 2 SMA/SMK 9 Umum 2 - 2 SMA 10 Skin care - 5 5 Diploma 11 OB 5 - 5 - 12 Keamanan 7 - 7 -

Jumlah 21 29 50

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-27

2.8.2. Aktivitas Operasional Klinik Aizar

Kegiatan operasional Klinik Aizar antara lain memberikan pelayanan dokter spesialis kulit, kandungan, dan anak, USG, laboratorium, rawat jalan, rawat inap, perinatology anak, skin care, radiologi, apotek dan lain-lain. Dari kegiatan klinik Aizar ini diperkirakan menimbulkan dampak pencemaran terhadap lingkungan hidup diantaranya :

1. Penggunaan Air Bersih

Air bersih untuk memenuhi seluruh kebutuhan kegiatan klinik bersumber dari sumur bor kedalaman 17 m sebagai sumber air bersih. Air dari sumur akan di tampung dalam bak penampung reservoir bervolume 10 m3, kemudian dialirkan ke segala penjuru sesuai dengan keperluan melalui pipa distribusi. Penggunaan air bersih dihitung jika dengan 1 orang karyawan dan pasien poli klinik sebanyak menghabiskan 0,01 m3/org/hari maka limbah yang dihasilkan sebanyak 1,5 m3/hari. Sedangkan kebutuhan air bersih untuk pasien rawat inap diperkirakan mencapai 150 l/bed/hari dan kebutuhan air bersih untuk perawatan kulit sebanyak 100 l/org/hari. Sehingga dapat diperkirakan kebutuhan air bersih untuk kegiatan klinik antara lain :

Penggunaan air bersih karyawan = karyawan x 0,01 m3/hari = 50 x 0,01 m3/hari

= 0,5 m3/hari

Penggunaan air bersih pasien poli = pasien x 0,01 m3/hari = 100 x 0,01 m3/hari = 1 m3/hari

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-28

Tabel 2.17. Kebutuhan Air Bersih

No. Keterangan Jumlah (org) Kebutuhan

(m3/org/hari)

Jumlah Total (m3/Hari)

1 Karyawan 50 0,01 0,5 2 Pasien poli 100 0,01 1 3 Rawat inap 21 bed 0,15 3,15 4 Perawatan kulit - - 0,1 5 Lain-lain - - 3

Jumlah 7,75

Sumber : Kliik Aizar

Gambar 2.12. Neraca Air

2. Timbulan Limbah Cair Domestik

Limbah cair yang dihasilkan berasal dari aktivitas MCK, pencucian, penyiraman, dan fasilitas umum lainnya. Dapat diperkirakan timbulan limbah cair domestik adalah 80 % dari jumlah total kebutuhan air sebesar 7,75 m3/hari dan jika dihitung sebagaimana berikut :

Limah cair domestik = 7,75 x 80 % = 6,2 m3/hari

Tabel 2.18. Timbulan Limbah Cair Domestik

No. Total air (m3/hari) Faktor pengali Jumlah (m3/hari)

1 7,75 80 % 6,2

Untuk pengelolaan limbah cair diharapkan membuat Instaasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) baik secara fisika-kimia dan biologi. Sedangkan, limbah cair medis, laboratorium, dan sterilisasi peralatan medis di tampung dalam jerigen

PDAM dan

sumur bor Reservoir (10 m3)

MCK/toilet/dll (4,75 m3) Lain-lain (3 m3) Air tanah Badan air Septictank IPAL

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-29

untuk pengelolaanyan dikerjasamakan dengan pihak ketiga lembaga berizin pengolah dan pemusnah limbah B3 medis.

3. Timbulan Limbah Padat/Sampah

Timbulan sampah klinik Aizar diperkirakan jika setiap orang baik karyawan dan pasien poli menghabiskan 0,54 Kg/org/hari, maka limbah padat yang ditimbulkan dari 50 orang karyawan dan 100 orang pasien poli adalah 81 Kg/hari. Sedangkan limbah padat dari kegiatan rawat inap menurut Damanhuri, 2004 volume sampah yang hasilkan dari kegiatan klinik/rumah sakit sebesar 7,86 lt/bed/hari setara 7,86 Kg/bed/hari. Maka limbah padat dari kegiatan rawat inap sebesar 165,06 Kg/hari. Sampah tersebut ditampung dalam tong sampah terpilah organik dan anorganik sebanyak 30 unit yang tersebar di setiap ruangan dan luar ruangan.

Tabel 2.19. Timbulan Limbah Padat/Sampah

No. Keterangan Jumlah (org) Timbulan

(org/Kg/hari)

Jumlah total (Kg/hari)

1 Karyawan 50 0,54 27 2 Pasien poli 100 0,54 54 3 Rawat inap 21 bed 7,86 165,06

Jumlah total 246,06

Sumber : perhitungan

Sedangkan limbah padat/sampah B3 termasuk limbah padat medis di kelola bekerjasama dengan RSUD Sekarwangi dalam pengelolaan pemusnahan limbah B3 tersebut.

4. Timbulan Limbah B3

Timbulan limbah B3 sebagian besar berasal dari aktivitas laboratorium, perawatan kulit dan pelayanan persalinan dengan penggunaan bahan kimia, darah nifas, obat-obatan dan lain-lain baik padatan maupun cairan serta sisa oli bekas dari genset. Timbulan limbah B3 padat seperti pecahan kaca, pial, botol bekas, bekas kemasan, alat suntikan, jarum suntik, alumunium foil, obat-obatan

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-30

kadaluarsa, dan lain-lain diperkirakan mencapai 20 Kg/bulan. Sedangkan limbah B3 cair seperti oli bekas dan sisa bahan kimia diperkirakan sebesar 15 L/bulan.

Tabel 2.20. Volume Timbulan Limbah B3

No Jenis Limbah Volume Periode

1 Padatan 20 Kg Bulanan 2 Cairan 15 Liter Bulanan

Timbulan limbah B3 harus dikelola secara khusus dan penampungannya ditempatkan pada TPS B3 sebagai tempat penyimpanan sementara limbah B3. Adapun untuk pengelolaan limbah B3 ini harus dikerjasamakan dengan pihak ketiga lembaga berizin pengolah dan pemusnah limbah B3. Sedangkan, untuk limbah medis penanganannya di kerjasamakan dengan RSUD Sekarwangi untuk dimusnahkan.

5. Penangan Bahaya Radiasi

Bahaya radiasi sinar-X dapat di timbulkan dari kegiatan pelayanan radiologi. Oleh karena itu, bahaya radiasi yang ditimbulkan harus ditangani dengan baik mengacu pada peraturan pemerintah yang berlaku, yaitu Kepmenkes RI Nomor 1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan. Dari struktur bangunan dinding ruangan menggunakan bata merah di tembok dan di plester dengan tebal minimal 30 cm dilapisi timbal (Pb) setebal 2 mm dari mulai lantai sampai platfond, termasuk pintu dilapisi Pb dan jendela dengan kaca timah agar bahaya radiasi tidak menyebar ke luar ruangan.

6. Penggunaan Sumber Energi

Sumber energy sangat penting dalam penerangan dan penggunaan prangkat alat dan perkantoran. Penggunaan sumber energy listrik berasal dari PT. PLN Sukabumi dengan daya sebesar 15 KVA dan sumber energy listrik cadangan menggunakan genset type sillient kapsitas 15 KVA. Untuk mengoperasikan genset

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-31

tersebut dibutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) berjenis solar sebanyak 50 l/bulan. Solar ditampung dalam jerigen dan terpakai habis.

7. Potensi Kebakaran

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di Klinik telah di sediakan APAR kapasitas 3 Kg sebanyak 10 unit yang dipasang di setiap ruangan. Selain itu, dipasangnya CCTV sebanyak 10 unit sebagai pengontrol keamanan dini untuk memudahkan melakukan pengawasan di seluruh ruang areal klinik. Disamping itu, jugan dibuatkan jalur evakuasi dan alarm peringatan sebagai upaya penyelamatan pertama ketika terjadi bencana.

8. Aspek Transportasi

Aspek transportasi akan melibatkan semua pihak baik karyawan maupun pasien klinik. Rata-rata diperkirakan penggunaan alat transportasi yang digunakan berjenis kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2. Mobilisasi transportasi baik karyawan dan pasien klinik akan meningkatkan bangkitan lalu lintas di jalan Pelabuan II, yang merupakan jalan Provinsi yang padat dan sering terjadi kemacetan pada jam tertentu karena adanya aktivitas pergantian shift karyawan Industri Garmen yang tidak jauh dari lokasi kegiatan sekitar 500 m. Untuk itu, pihak managemen klinik akan mengelola parkir dengan adanya petugas parkir untuk mengatur keluar masuk kendaraan ke lokasi kegiatan.

9. Tutupan Bangunan (run Off)

Adanya lahan terbangun seluas 498,4 m2 yang beralih fungsi menjadi bangunan klinik dan sarana pendukungnya akan menyebabkan peningkatan limpasan air hujan di areal lokasi. Besarnya debet aliran limpasan air hujan dapat di hitung dengan menggunakan rumus rasional, antara lain :

Q = 0,00278 C.A.I Dimana:

Q = Total Debit Limpasan C = Koefisien air limpasan

A = Rencana luas lahan terbangun I = Intensitas hujan

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-32

Koefisien limpasan dapat dilihat pada tabel :

Tabel .2.21. Koefisien Limpasan

Tipe Area Koefisien Run off

Pegunungan yang curam 0,75 - 0,90 Tanah yang bergelombang dan hutan 0,50 - 0,75 Atap yang tidak tembus air 0,75 - 0,90 perkerasan aspal, beton 0,80 - 0,90 Tanah padat sulit diresapi 0,40 - 0,55 Tanah agak mudah diresapi 0,05 - 0,35 Taman / lapangan terbuka 0,05 - 0,25 Kebun 0,05 - 0,20 Perumahan tidak begitu rapat (20 rumah/Ha) 0,25 - 0,40 Perumahan kerapatan sedang (21-60 rumah/Ha) 0,40 - 0,70 Perumahan rapat (60-160 rumah/Ha) 0,70 - 0,80 Daerah rekreasi 0,20 - 0,30 Daerah Industri 0,80 - 0,90 Daerah perniagaan 0,90 - 0,95

Sumber : Buku Drainase PerKabupatenan, H.A. Halim Asma

Jika diketahui :

- Luas lanah kegiatan adalah 498,4 m2 atau 0,05 Ha

- Intensitas hujan berdasarkan data dalam satu tahun di wilayah studi adalah 4.000 mm/tahun atau 0,46 mm/jam untuk wilayah Kabupaten Sukabumi (BPSDA Propinsi Jawa Barat),

Maka :

Perkiraan debet limpasan air hujan areal atap yang tidak tembus air dan beton adalah: Q = 0,00278 C . A . I = 0,00278 x 0,75 x 0,05 x 0,46 = 0,00005 m3/s = 4,32 m3/hari Q = 0,00278 C . A . I = 0,00278 x 0,9 x 0,05 x 0,46 = 0,00006 m3/s = 5,2 m3/hari

Dokumen UKL-UPL Klinik Aizar II-33

Dengan demikian dapat disimpulkan debit limpasan air hujan berkisar antara 4,32 - 5,2 m3/hari. Oleh karena itu, saluran drainase harus mampu menampung dan mengalirkan dengan baik limpasan air hujan tersebut. Kemudian dibuatkan sumur resapan sesuai SNI dan peraturan pemerintah

Dokumen terkait