KANTOR DINAS PENDAPATAN KOTA MEDAN
D. PENDAFTARAN DAN PENILAIAN
2. Penilaian Atas Pemanfaatan/ Pengambilan Air Tanah
Untuk memperoleh Nilai Perolehan Air Tanah sebagai Dasar Pengenaan Pajak Air Tanah ditentukan dengan beberapa faktor antara lain sebagai berikut:
2.1. Komponen Nilai Perolehan Air
Komponen nilai perolehan air ditentukan oleh sebagian dan/ atau seluruh faktor sebagai berikut:
a. Jenis sumber air, seperti air tanah dangkal, air tanah dalam, dan mata air
b. Lokasi sumber air, seperti daerah di luar jangkauan sumber air alternative, dan daerah di dalam jangkauan sumber air alternative;
c. Tujuan pengambilan dan/ atau pemanfaatan air;
d. Volume air yang diambil dan/ atau dimanfaatkan;
e. Kualitas air, seperti kualitas baik untuk bahan baku air minum dan kualitas jelek untuk bahan baku air minum yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang; dan
f. Tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/ atau pemanfaatan air.
2.2. Komponen Kompensasi Peruntukan Dan Pengelolaan
Komponen kompensasi peruntukan dan pengelolaan air tanah terdiri dari:
a. Golongan Non Niaga seperti rumah hunian (rumah tempat tinggal), rumah khusus seperti apartemen, rumah susun, kantor-kantor Kedutaan/ Konsulat dan sebagainya
b. Golongan Niaga Kecil seperti kedai sampah, kedai kopi,/ warung nasi, salon, penjahit dengan skala kecil, doorsmeer, rumah makan, restoran, apotik, hotel melati, wisma adat, lembaga penyelenggaraan kursus, warnet, losmen, usaha fotokopi, kantor notaries, panglong, took obat, praktek dokter, gudang berskala kecil, percetakan, dan niaga kecil lainnya.
c. Golongan Niaga Besar seperti hotel berbintang, pusat perbelanjaan mall/ plaza, supermarket, rumah sakit swasta, kolam renang, bioskop, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), gudang berskala besar, tempat hiburan malam, diskotik, karaoke, tempat kebugaran dan mandi uap, panti pijat, dan niaga besar lainnya.
d. Golongan Industri Kecil seperti usaha industri kerajinan tangan, industri rumah tangga (home industry) konveksi kecil, peternakan kecil, dan usaha industri kecil lainnya.
e. Golongan Industri Besar, seperti pabrik kimia, industri makanan dan minuman, pabrik es dan/atau pendinginan hewan laut, industri farmasi, dan usaha industri besar lainnya.
2.3. Kriteria Golongan
Kriteria golongan didasarkan pada jenis sumber air dan lokasi sumber air diantaranya adalah:
a. Kriteria I (K.I) adalah golongan Non Niaga, Niaga, dan Industri yang jenis sumber air kualitas baik dan pada lokasi sumber air yang mempunyai sumber air alternatif;
b. Kriteria II (K.II) adalah golongan golongan Non Niaga, Niaga, dan Industri yang jenis sumber air kualitas baik dan pada lokasi sumber air yang tidak mempunyai sumber air alternatif;
c. Air tanah kualitas jelek.
2.4. Perhitungan Faktor Nilai Perolehan Air Tanah.
Untuk menghitung besaran faktor nilai perolehan air tanah, tiap komponen diberi bobot sebagai berikut:
a. Bobot Komponen Sumber Air Tanah.
No. Kriteria Peringkat Bobot
1.
Air Tanah kualitas baik mempunyai sumber air alternatif, Kriteria I (K.I)
3 9
2.
Air Tanah kualitas baik tidak mempunyai sumber air alternatif, Kriteria I (K.I)
2 4
3. Air tanah kualitas jelek 1 1
b. Bobot Komponen Harga Dasar Air
No Kriteria Persentase Bobot
1. Sumber Air Tanah 60 0,6
2.
Kompensasi Peruntukan dan Pengelolaan dan Pemulihan
40 0,4
c. Bobot Komponen Kompensasi
No. Golongan
2.5. Cara perhitungan Harga Air Baku untuk Air Tanah, didasarkan pada:
Cara perhitungan Harga Air Baku untuk Air Tanah, didasarkan pada:
a. Biaya investasi mulai dari standart minimal disusun secara proporsional ketingkat investasi Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);
b. Biaya operasional dan biaya investasi ditetapkan dengan perbandingan 1:
2,5 (satu berbanding 2,5);
c. Umur teknis dan umur ekonomis mesin dan instalasi ditetapkan 10 (sepuluh) tahun;
d. Volume air yang dihasilkan rata-rata setiap hari 50 m3 )lima puluh meter kubik) selama umur teknis dan ekonomis mesin dan instalasi.
2.6. Perhitungan Harga Air Baku untuk Air Tanah yaitu:
No Investasi
10.000.000,00 4.000.000,00 14.000.000,00 76,71 2. 11.000.000,00 s/d
20.000.000,00 8.000.000,00 28.000.000,00 153,42 3. 21.000.000,00 s/d
30.000.000,00 12.000.000,00 42.000.000,00 230,14 4. 31.000.000,00 s/d
40.000.000,00 16.000.000,00 56.000.000,00 306,85 5. 41.000.000,00 s/d
50.000.000,00 20.000.000,00 70.000.000,00 383,56 6. 51.000.000,00 s/d
60.000.000,00 24.000.000,00 84.000.000,00 460,27 7. 61.000.000,00 s/d
70.000.000,00 28.000.000,00 98.000.000,00 536,99 8. 71.000.000,00 s/d
80.000.000,00 32.000.000,00 112.000.000,00 613,70 9. 81.000.000,00 s/d
90.000.000,00 36.000.000,00 126.000.000,00 690,41
10. 91.000.000,00 s/d
100.000.000,00 40.000.000,00 140.000.000,00 767,12 11. 101.000.000,00 s/d
110.000.000,00 44.000.000,00 154.000.000,00 843,84 12. 111.000.000,00 s/d
120.000.000,00 48.000.000,00 168.000.000,00 920,55 13. 121.000.000,00 s/d
130.000.000,00 52.000.000,00 182.000.000,00 997,26 14. 131.000.000,00 s/d
140.000.000,00 56.000.000,00 196.000.000,00 1.073,97 15. 141.000.000,00 s/d
150.000.000,00 60.000.000,00 210.000.000,00 1.150,68 16. 151.000.000,00 s/d
160.000.000,00 64.000.000,00 224.000.000,00 1.227,40 17. 161.000.000,00 s/d
170.000.000,00 68.000.000,00 238.000.000,00 1.304,11 18. 171.000.000,00 s/d
180.000.000,00 72.000.000,00 252.000.000,00 1.380,82 19. 181.000.000,00 s/d
190.000.000,00 76.000.000,00 266.000.000,00 1.457,53 20. 191.000.000,00 s/d
200.000.000,00 80.000.000,00 280.000.000,00 1.534,25 Jumlah Investasi + Operasional 2.940.000.000,00 16.109,59
Harga rata-rata air baku/ m3 805,48
Dibulatkan menjadi 805
E. Hak-hak Wajib Pajak Air Tanah 1. Keberatan
1.1. Wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu:
a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar.
b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar tambahan.
c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar.
d. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil
1.2. Tata Cara Pengajuan Keberatan
Keberatan Atas Surat Ketetapan Pajak yang diajukan oleh wajib pajak harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Mengemukakan dengan data atau bukti bahwa jumlah pajak yang terutang yang ditetapkan tidak benar.
b. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
c. Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak.
d. Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud diatas tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan
e. Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan Surat Keberatan.
f. Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Keberatanditerima, harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan
g. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
1.3. Hasil keputusan
Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya pajak yang terutang. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
2. Banding
2.1. Tata Cara Banding
Apabila wajib pajak tidak yang bersangkutan tidak sependapat dengan Surat Keputusan yang diterbitkan oleh Kepala Daerah, maka wajib pajak dapat mengajukan permohonan banding. Tata cara permohonan banding sebagai berikut:
a. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.
b. Permohonan banding sebagaimana dimaksud diatas (2.1) diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan-alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dengan melampirkan salinan surat keputusan keberatan tersebut
c. Terhadap 1 (satu) keputusan diajukan 1 (satu) surat banding.
d. Pada surat banding dilampirkan salinan keputusan yang dibanding.
e. Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
2.2. Putusan banding oleh peradilan pajak
Putusan peradilan pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Putusan dapat berupa:
a. Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk
paling lama 24 (dua puluh empat) perbulan dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan iterbitkan SKPDLB.
b. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
3. Pembetulan
Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya, Kepala Daerah dapat membetulkan SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan hitung dan/ atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
4. Pengurangan
Atas permohonan wajib pajak, pengurangan pajak yang terutang dapat diberikan Kepala Daerah karena:
a. Kondisi tertentu wajib pajak yang ada hubungannya dengan objek pajak.
Seperti wajib pajak tidak mampu secara ekonomis yang memperoleh hak baru melalui program pemerintah dibidang pertanahan
b. Kondisi wajib pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu.
Seperti wajib pajak yang terkena krisis moneter yang berdampak luas terhadap perekonomian nasional sehingga wajib pajak harus
restrukturisasi usaha atau utang usaha sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.