BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori dan Konsep
2. Penilaian Autentik
Penilain autentik merupakan proses pengumpulan, pelaporan tentang hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui pengukuran dan dilakukan dengan berbagai cara seperti portofolio, penugasan, kinerja, dan tes tertulis. Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Istilah assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah authentic merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Ketika melakukan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru melakukan
kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, serta nilai prestasi peserta didik di luar sekolah (Gantini dan Dodo, 2017:61).
Mueller (dalam, Bundu, 2017:1) berpendapat bahwa penilaian autentik adalah suatu metode evaluasi dimana siswa menampilkan tugas-tugas nyata untuk mendemonstrasikan kesesuai antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, dengan kata lain penilaian autentik menilai secara langsung keberhasilan siswa pada pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Menurut American Librabry Association penilaian autentik adalah suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran terhadap kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran.
Menurut Newton Public Shools penilaian autentik merupakan asesmen terhadap produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman kehiduupan nyata peserta didik (dalam, Bundu, 2017:2)
Penilaian autentik melibatkan siswa ke dalam tugas yang bermanfaat, bermakna, bersifat terbuka dan memungkinkan siswa menunjukkan kompetensi mereka dalam berbagai cara. Dengan penilaian autentik guru dapat memantau dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik, memperbaiki metode, pendekatan dan sumber
belajar yang digunakan, serta dapat memberikan informasi tentang kemampuan peserta didik yang belum dikuasai (Uno dan Satria, 2013:35).
Berbagai uraian definisi penilaian autentik (Assessmen Authentic) di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian autentik merupakan suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran yang berupa produk dan kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, pencapaian, prestasi, motivasi, dan sikap. Proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai.
b. Prinsip Penilaian Autentik
Sesuai Permendikbud No.23 tahun 2016 tentang standar penilaian, prinsip penilaian autentik dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut
1) Sahih, berarti penilaian dilakukan berdasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2) Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4) Terpadu, penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secra berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
c. Teknik Penilaian Autentik
Berdasarkan Perpendikbud No.23 tahun 2016, kurikulum 2013 teknik penilaian autentik untuk menilai kemampuan belajar peserta didik meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
1) Penilaian Sikap
Penilaian sikap yang dimaksud sebagai penilaian terhadap perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran yang meliputi sikap spiritual dan
sosial. Penilaian sikap memiliki karakteristik yang berbeda dari penilaian pengetahuan dan keterampilan sehingga teknik penilaian yang digunakan juga berbeda. Dalam hal ini, penilaian sikap lebih ditujukan untuk membina perilaku dalam rangka pembentukan karakter peserta didik.
a) Sikap Spiritual
Kompetensi sikap spiritual (KI-1) yang akan diamati adalah menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
b) Sikap Sosial
Kompetensi sikap sosial (KI-2) yang akan diamati mencakup perilaku antara lain: jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, tetangga, dan Negara.
Penilaian sikap terdiri atas penilaian utama dan penilaian penunjang. Penilaian utama diperoleh dari hasil observasi harian yang ditulis di dalam jurnal harian. Penilaian penunjang diperoleh dari penilaian diri dan penilaian antarteman, hasilnya dapat dijadikan sebagai alat konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.
Pelaksanaan penilaian sikap, pendidik dapat merencanakan indikator sikap yang akan diamati sesuai dengan karakteristik proses pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya perilaku kerjasama dalam diskusi kelompok dan kerapihan dalam praktikum.
Selain itu, penilaian sikap dapat dilakukan tanpa perencanaan, misalnya perilaku yang muncul tidak terduga selama proses
pembelajaran dan di luar proses pembelajaran. Hasil pengamatan perilaku tersebut dicatat dalam jurnal. Penilaian sikap dilakukan oleh guru kelas, guru mata pelajaran agama dan budi pekerti, guru PJOK, dan pembina ekstrakurikuler. Guru kelas mengumpulkan data hasil penilaian sikap yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lainnya, kemudian merangkum menjadi deskripsi (angka atau skala). Peserta didik yang berperilaku menonjol sangat baik diberi penghargaan, sedangkan peserta didik yang berperilaku kurang baik diberi pembinaan. Penilaian sikap spiritual dan sosial dilaporkan kepada orang tua dan pemangku kepentingan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu semester. Hasil akhir penilaian sikap diolah menjadi deskripsi sikap yang dituliskan di dalam rapor peserta didik. Dilaporkan juga pada saat ditemukan ada sikap spiritual atau sikap sosial yang menonjol perlu diberi pembinaan.
Gambar 3.1 Skema Penilaian Sikap
2) Penilaian pengetahuan
Penilaian pengetahuan (KD dari KI-3) dilakukan dengan cara mengukur penguasan peserta didik yang mencakup dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognisi dalam berbagai tingkatan proses berpikir.
Prosedur penilaian pengetahuan dimulai dari penyususnan perencanaan, pengembangan instrument penilaian, pelaksanaan penilaian, pengolahan, dan pelaporan, serta pemanfaatan hasil penilaian. Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dilaporkan dalam bentuk angka, predikat, dan deskripsi. Angka menggunakan rentang nilai 0 sampao dengan 100. Predikat disajikan dalam huruf A, B, C, D. rentang predikat ini ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kriteria ketuntasan minimal. Deskripsi dibuat dengan menggunakan kalimat yang bersifat memotivasi dengan pilihan kata yang bernada positif.
Teknik penilaian pengetahuan menggunakan tes tertulis, lisan, dan penugasan.
a) Tes tertulis
Tes tertulis adalah tes yang soal dan jawabannya secara tertulis, berupa pihan ganda, isian, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrument tes tertulis dikembangkan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
(1) Melakukan analisis KD
(2) Menyusun kisi-kisi soal sesuai dengan KD
(3) Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan soal
(4) Menyusun pedoman penskoran
(5) Melakukan penskoran berdasarkan pedoman penskoran.
b) Tes Lisan
Tes lisan berupa pertanyaan-pertanyaan, perintah, kuis yang diberikan pendidik secara lisan dan peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara lisan. Tes lisan bertujuan ujntuk menumbuhkan sikap berani berpendapat, percaya diri, dan kemampuan berkomunikasi secara efektif. Langkah-langkah pelaksanaan tes lisan sebagai berikut.
(1) Melakukan analisis KD
(2) Menyususn kisi-kisi soal sesuai dengan KD (3) Membuat pertanyaan atau perintah
(4) Menyususn pedoman penilaian
(5) Memberikan tindak lanjut hasil tes lisan.
c) Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan. Tugas dapat
dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai karakteristik tugas. Tugas tersebut dapat dilakukan di sekolah, di rumah, atau di luar sekolah.
Gambar 2.2 Skema Penilaian Pengetahuaan
3) Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan (KD dari KI-4) dilakukan dengan teknik penilaian kinerja, penilaian proyek, dan portopolio. Penilaian keterampilan menggunakan angka dengan rentang skor 0 sampai dengan 100, predikat, dan deskripsi.
a) Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemontrasikan dan mengaplikasikan
Penugasan
pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Pada penilaian kinerja, penekanannya dapat dilakukan pada proses atau produk. Penilaian kinerja yang menekankan pada produk disebut penilaian produk, misal poster, puisi, dan kerajinan. Penilaian kinerja yang menekankan pada proses disebut penilaian praktik, misalnya bermain sepak bola, memainkan alat music, menyanyi, melakukan pengamatan menggunkan mikroskop, manari, bermain peran, dan membaca puisi.
b) Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode waktu tertentu.
Tugas tersebut berupa rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, dan pelaporan.
c) Peneilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (relative-integratif) dalam kurung waktu tertentu. Pada akhir periode portofolio tersebut dinilai oleh pendidik bersama-sama dengan peserta didik dan selanjutnya diserahkan kepada pendidik pada kelas berikutnya dan dilaporkan kepada orangtua sebagai bukti autentik perkeembangan peserta didik.
Gambar 2.3 Skema Penilaian Keterampilan
d. Ciri-ciri Penilaian Autentik
Menurut Kunandar (2015:38) ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut:
1) Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (ferformance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Dalam melakukan penilaian kinerja dan produk pastikan bahwa kinerja dan produk tersebut merupakan cerminan kompetensi dari peserta didik tersebut secara nyata dan objektif.
2) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta dididk, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan
atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3) Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai infomasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
4) Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
5) Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat mencerminkan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
6) Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas). Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur kedalam terhadap penguasaan kompetensi tertentu secara objektif.
e. Karakteristik Penilaian Autentik
Adapun karakteristik penilaian autentik menurut Kunandar (2015:39) adalah sebagai berikut:
1) Bisa digunakan untuk formatif (pencapaian satu atau beberapa kompetensi dasar) maupun sumatif (pencapaian terhadap kompetensi inti dalam satu semester).
2) Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta yakni mengukur pencapaian kompetensi yang menekankan aspek keterampilan dan kinerja.
3) Berkesinambungan dan terintegrasi, yakni penilaian secara terus menerus dan merupakan satu kesatuan secara utuh sebagai alat untuk mengumpulkan informasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik.
4) Dapat digunakan sebagai feed back, yakni dapat digunakan sebagai umpan balik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik secara komprehensif.
f. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Autentik
Menurut Bundu (2015:25) penilaian autentik selain memiliki keunggulan juga memiliki beberapa kelemahan. Secara lebih rinci dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 2.1 keunggulan dan kelemahan penilaian autentik
Keunggulan Kelemahan
Fokus pada keterampilan menganalisis dan pengintegrasian pengetahuan
Intensitas waktu untuk mengelola, memonitor dan kordinasi
Mengembangkan kreativitas Sulit dihubungkan dengan standar yang sudah dibakukan
Merefleksikan keterampilan dunia nyata dengan pengetahuan
Agak sukar menyiapkan pola pengskoran yang konsisten
Mendorong kerja secara kolaboratif Bisa pada pemberian skor yang subyektif
Mengembangkan keterampilan menulis dan presentase lisan
Secara alam yang unik mungkin tidak terbiasa bagi siswa
Asesmen secara langsung, kegiatan pembelajaran, dan tujuan belajar
Kemungkinan kurang praktis untuk peserta tes yang sangat banyak
g. Jenis Penilaian
Rasyidin dan Mansur (2009:237) menyatakan penilaian autentik melibatkan siswa dengan tugas-tugas yang bermanfaat, penting dan bermakna dengan berbagai jenis penilaian sebaagai berikut:
1) Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap hasil kerja/karya siswa yang berupa produk. Produk bisa berupa gambar, alat, peraga atau prakarya yang berupa seni dan teknologi sederhana.
2) Observasi atau Pertanyaan
Observasi atau pertanyaan merupakan penilaian yang digunakan untuk menilai sikap siswa baik sikap spiritual maupun sikap sosial. Alat yang digunakan dalam penilaian berupa lembar pengamatan/ceklis.
3) Presentasi atau Diskusi
Presentasi atau diskusi digunakan dalam penilaian pengetahuan dan keterampilan, yakni pengetahuan sebagai esensi dari materi presentasi dan keterampilan berbahasa sebagai aspek keterampilan.
4) Proyek
Proyek merupakan penilaian yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu, contoh penilaian proyek adalah pembuatan kliping.
5) Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian melalui sekumpulan hasil kaarya peserta didik yang tersusun secara sistematis
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian autentik menurut Rasyidin dan Mansur (2009: 238) sebagai berikut:
1) Kasus, digunakan untuk mengembangkan dan mengakses kemampuan guru sebagai pengambil keputusan.
2) Portofolio, digunakan untuk merefleksi guru.
3) Penelitian tindakan, berupa penelitian dan inquiri mengembangkan guru sebagai saintis social dan analis.
4) Proyek, merupakan perubahan yang mengarahkan guru sebagai agen perubahan moral.
Apabila alat tersebut dapat digunakan secara maksimal dan kontinu, maka besar harapan terciptanya guru-guru profesional dan peserta didik yang mampu belajar mandiri, independen dan bertanggung jawab.