KELURAHAN SEMAMPIR
VIII. ESTIMASI MANFAAT DAN DAMPAK NEGATIF PENAMBANGAN PASIR ILLEGAL DI SUNGAI BRANTAS
8.2 Penilaian Dampak Negatif Penambangan Pasir
Tabel 13. Pendapatan Preman/ keamanan Penambangan Pasir Illegal di Kelurahan Semampir Tahun 2009-2011
No. Uraian Total Pendapatan Preman/
keamanan (Rp) 1 Pendapatan preman/ keamanan tahun 2009 3 270 000 000 2 Pendapatan preman/ keamanan tahun 2010 3 825 000 000 3 Pendapatan preman/ keamanan tahun 2011 1 800 000 000
Total 8 895 000 000
Sumber: Data primer (diolah), 2012
Pada Tabel 13, total pendapatan truk/ keamanan penambangan pasir illegal
di Kelurahan Semampir tahun 2009-2011 yakni sebesar Rp 8 895 000 000. Jumlah truk pasir pada tahun 2009-2011 yakni sebanyak 177 900 truk. Jumlah truk tersebut merupakan jumlah total truk pasir selama 3 tahun yakni tahun 2009, 2010 dan 2011 seperti telah dijelaskan sebelumnya.
8.2 Penilaian Dampak Negatif Penambangan Pasir
Kegiatan ekonomi merupakan segala kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi manusia guna memenuhi kebutuhan mereka. Selain memberikan manfaat bagi manusia, kegiatan ekonomi tersebut juga menimbulkan dampak negatif. Penilaian dampak positif atau negatif suatu kegiatan ekonomi merupakan salah satu upaya untuk memperkirakan nilai kuantitatif dari dampak positif ataupun negatif yang ditimbulkan oleh suatu aktivitas ekonomi. Penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah aktivitas ekonomi tersebut lebih banyak memberikan manfaat kepada manusia ataupun sebaliknya.
Penilaian dampak positif dan negatif kegiatan penambang pasir illegal di
Kelurahan Semampir Kota Kediri dilakukan untuk mengetahui berapa besar manfaat yang diterima oleh pemerintah/ masyarakat dan berapa kerugian atau
81 dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya aktitivas tersebut. Kegiatan penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir Kota Kediri selain memiliki
nilai manfaat juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif yang terjadi diantaranya: lapisan pasir yang hilang, kerusakan jalan, pendapatan pemerintah yang hilang dan kerusakan fasilitas-fasilitas umum seperti jembatan dan tebing sungai. Nilai total dampak negatif/ kerugian akibat penambangan pasir di Kelurahan Semampir sebesar Rp 84 488 162 200 dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Total Dampak Negatif/ kerugian Akibat Penambangan Pasir Illegal di Kelurahan Semampir Tahun 2009-2011
Uraian Total Kerugian
Lapisan Pasir yang Hilang 81 887 464 000
Perbaikan Jalan yang Rusak 1 149 570 000
Pendapatan Pemerintah yang Hilang 1 245 300 000
Perbaikan Tebing Sungai 215 828 200
Pemasangan Groundsil Jembatan 1 500 000 000
Total 84 488 162 200
Sumber: Data primer (diolah), 2012
8.2.1 Lapisan Pasir yang Hilang
Penambangan menggunakan mesin rata-rata mampu menghasilkan pasir sebanyak 8 truk per hari. Penambang pasir menggunakan perahu rata-rata mampu menghasilkan pasir sebanyak 3 truk sehari. Satu truk pasir setara dengan 6 m³ pasir, sedangkan harga pasir tiap m³ sebesar Rp 60 000 untuk tahun 2009. Tiap 1 mesin, penambang mampu menghasilkan sekitar 48 m³ pasir atau setara dengan Rp 2 800 000/hari. Penambangan menggunakan perahu, penambang mampu menghasilkan untuk setiap 1 perahunya sebesar 18 m³ atau setara dengan Rp 1 080 000/tahun. Perhitungan lapisan pasir yang hilang akibat penambangan pasir
82
Tabel 15. Perhitungan Lapisan Pasir yang Hilang Akibat Penambangan Pasir Illegal di Kelurahan Semampir Tahun 2009-2011
Tahun Jumlah pasir (m³) Harga Pasir (Rp/ m³) Total Nilai Pasir yang Hilang (Rp)
2009 392 400 60 000 23 544 000 000
2010 612 000 63 662 38 961 144 000
2011 288 000 67 265 19 372 320 000
Total 1 292 400 81 877 464 000
Sumber: Data primer (diolah), 2012
Berdasarkan Tabel 15, dampak negatif/ kerugian lapisan pasir yang hilang akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir selama tahun
2009-2011 sebanyak Rp 81 877 464 000. Penggunaan konsep future value digunakan
untuk mengetahui harga pasir/ m³ di tahun 2010 dan 2011.
8.2.2 Kerusakan Jalan Sekitar Area Tambang
Berdasarkan hasil survey lapang dan wawancara pada petinggi desa dan dinas terkait yang telah dilakukan. Panjang jalan yang rusak akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir yakni sebesar 1,5 Ha. Menurut dinas
Pekerjaan Umum (PU) Kota Kediri biaya perbaikan jalan lataston/ hotmix sebesar Rp 99 787/m² dan untuk lapen/ non hotmix sebesar Rp 76 638/m². Biaya perbaikan jalan akibat adanya penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir
Rp 1 149 570 000.
Lataston adalah campuran aspal padat dengan gradasi tidak menerus untuk jalan yang lalulintas ringan, diletakkan sebagai lapis permukaan di atas dasar yang dipersiapkan dari permukaan perkerasan yang direkonstruksi. Lapen merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal. Umumnya untuk jalan desa
83 digunakan jenis lapen/ non hotmix. Hal tersebut dilakukan karena beban yang dilalui jalan desa tidak berat.
8.2.3 Pendapatan Pemerintah Kota Kediri yang Hilang
Aktivitas penambangan yang terjadi di Kelurahan Semampir merupakan aktivitas penambangan yang illegal. Keberadaan penambangan tersebut tidak
diakui oleh pemerintah. Segala aktivitas penambangan umunya dapat menyumbang untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) suatu daerah. Pendapatan tersebut diperoleh dari retribusi yang diabayarkan oleh penambang. Penambangan yang bersifat illegal menyebabkan pendapatan daerah atas retribusi hilang.
Menurut Disperindagtamben biaya retribusi yang dikenakan untuk setiap truk penambangan pasir di Kelurahan Semampir sebesar Rp 7 000. Biaya tersebut dikenakan untuk setiap truk pasir yang melintas. Jumlah truk yang dihasilkan penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir selama 3 tahun (2009-2011)
sebanyak 177 900 truk. Total dampak negatif/ kerugian hilangnya PAD akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir sebesar Rp 1 245 300 000.
8.2.4 Kerusakan Tebing Sungai
Salah satu dampak negatif akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan Semampir adalah penurunan DAS. Penurunana DAS menyebabkan kedalaman sungai bertambah. Hal tersebut berdampak pada kecepatan aliran arus sungai yang melewatinya. Aliran arus sungai yang kencang dapat menyebabkan kerusakan tebing sungai akibat tergerus dan terbawa aliran air sungai. Salah satu kerusakan yang terjadi di Kelurahan Semampir yakni rusaknya lindungan tebing sungai.
Apabila kerusakan terus bertambanh akan berdampak pada kestabilan sungai dan kerugian juga dirasakan oleh pihak jasa tirta I sebagai lembaga
84 pengolahan DAS Brantas. Kerusakan pada struktur sungai dapat merusak infrastruktur-infrastruktur yang ada seperti saluran irigasi, waduk dan sebagainya. Perum Jasa Tirta dinilai perlu melakukan upaya perbaikan lindungan-lindungan tebing yang ada untuk menghindari dampak yang lebih besar khususnya di Kelurahan Semampir.
Menurut data yang diperoleh dari Perum Jasa Tirta I perbaikan untuk lindungan tebing darurat di sekitar Kelurahan Semampir Kota Kediri pada 14 september 2010 yakni perbaikan lindungan tebing KB.136 L sebesar Rp 115 000 000 dan Rp 100 828 200. Perbaikan tersebut belum termasuk perbaikan keseluruhan, karena perbaikan tersebut berupa perbaikan lindung darurat. Total biaya perbaikan tebing sungai akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan
Semampir 3 tahun (2009-2011) sebesar Rp 215.828.200,-.
8.2.5 Kerusakan Jembatan
Jembatan Semampir merupakan jembatan yang terletak di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota Kota Kediri. Jembatan tersebut tergolong baru yang dibangun atas Sungai Brantas dan diresmikan pada tahun 1997. Jembatan semampir dibangun dengan anggraan Rp 16 000 000 000, menggunakan dana
sharing antara pemerintah pusat dan pemerintah kota Kediri. Pemerintah kota
Kediri menyiapkan dana pendamping sebesar Rp 4 000 000 000 untuk pembebasan lahan di sekitar jembatan. Sisanya merupakan biaya yang dikeluarkan pemerintah pusat dan pembangunan jembatan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun.
Kerusakan jembatan semampir mulai terdeteksi pada tahun 2009, dimana konstruksi atas jembatan yang tersambung dengan bandan jembatan mulai
85 renggang. Perenggangan tersebut sebesar 14 cm, sedangkan ambang batas maksimal kerenggangan yakni 15 cm. Hal tersebut di sebabkan oleh kerusakan pada fondasi jembatan yang bertumpu pada pasir mengalami pergesera. Pergeseran tersebut dikarenakan pasir yang ada didasar sungai semakin berkurang akibat penambangan pasir. Kerusakan pada jembatan tersebut menyebabkan perlu dilakukan perbaikan terhadap fondasi jembatan. Perbaikan tersebut dilakukan dengan pemasangan tiang-tiang raksasa penahan pasir di sisi utara jembatan/ pemasangan groundsil.
Groundsil sendiri hanya bersifat untuk membantu agar pasir yang ada
disekitar jembatan dapat memperkuat fondasi jembatan, bukan memperbaiki secar keseluruhan. Menurut Dinas Jasa Marga Kota Kediri, pemasangan groundsil
tersebut telah dilakukan pada bulan februari 2011 yang menghabiskan dana
sebesar Rp 1.500.000.000,-. Tidak hanya jembatan semampir, jembatan brawijaya yang kini masih dalam proses pengerjaan juga terancam keberadaannya. Jembatan brawijaya merupakan jembatan alternatif lintas selatan, dan jembatan tersebut juga nantinya akan menjadi jembatan nasional yang letaknya tidak jauh dari Kelurahan Semampir.
Jembatan Brawijaya menghabiskaan dana sebesar Rp 70 000 000 000 dengan target penyelesaian tahun 2013. Penambangan yang berada di sekitar Sungai Brantas, khususnya yang berada di Kelurahan Semampir sangat membahayakan kondisi jembatan-jembatan berada disekitarnya. Faktor lain seperti banyaknya kendaraan yang melalui jembatan juga mempengaruhi kekuatan jembatan. Hal tersebut dikarenakan pasir yang ada semakin berkurang, dan pasir tersebut tidak dapat diperbarui, kecuali jika Gunung Kelud kembali meletus.
86 Pada dasarnya pasir yang berada di sekitar DAS Brantas khususnya daerah Kediri dan sekitarnya merupakan pasir yang berasal dari letusan Gunung Kelud. Total kerugian pada jembatan akibat penambangan pasir illegal di Kelurahan
Semampir sebesar Rp 1 500 000 000.
8.2.6 Polusi Suara dan Polusi Udara
Kerugian lain yang dirasakan oleh masyarakat sekitar area tambang yakni masalah polusi udara dan polusi suara. Mobilisasi truk pengangkut pada saat pengangkutan material pasir pada saat pengangkutan bahan galian pada tahap operasi merupakan sumber kegiatan yang dominan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas udara akibat debu dan emisi gas dari truk pengangkut serta terjadinya peningkatan kebisingan.
Debu yang berterbangan setiap kali truk pasir lewat menyebabkan masyarakat sekitar yang sedang beraktivitas berhenti sementara waktu untuk menghindari debu yang beterbangan yang menyebakan waktu mereka terbuang, bersin ataupun batuk. Asap dari kendaraan yang sering keluar masuk area tambang juga menyumbang terjadinya polusi udara. Asap dari kendaraan bermotor seperti truk, mengeluarkan gas karbondioksida (CO2) yang tidak baik untuk kesehatan. Debu yang sebagian terhirup dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan penyakit tertentu seperti asma dan ISPA.
Kerugian tersebut dapat merugikan masyarakat, namun hingga saat ini masyarakat belum mengalami masalah serius yang berdampak pada kesehatan mereka. Masyarakat hanya mengeluhkan adanya asap, ataupun debu yang ditimbulkan oleh truk-truk yang sering keluar masuk area tambang. Masyarakat Kelurahan Semampir belum merasakan dampak serius yang mengganggu
87 kesehatan mereka. Perlu dilakukan penghitungan atas kerugian yang menyebabkan kesehatan terganggu atau cost of illness. Perhitungan tersebut
tergolong sulit dilakukan untuk memperkirakan kerugian yang dirasakan masyarakat dalam bentuk rupiah di Kelurahan Semampir.
8.3 Nilai Total Manfaat dan Dampak Negatif Akibat Penambangan Pasir