• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Ekonomi Dari Tanaman Langka yang Terdapat Di

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.2 Penilaian Ekonomi Dari Tanaman Langka yang Terdapat Di

Indonesia merupakan negara yang unggul di dunia dan dianggap sebagai salah satu pusat keanekaragaman tanaman ekonomi di dunia. Dengan adanya keanekargaman hayati yang kita miliki, tentunya banyak keuntungan yang dapat kita ambil. Beberapa keuntungan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: 1) sebagai sumber pangan, perumahan, dan kesehatan, 2) sebagai sumber pendapatan atau devisa negara, 3) sebagai sumber plasma nutfah, 4) manfaat ekologi, 5) manfaat keilmuan, dan 6) manfaat keindahan.

Dewasa ini, walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor, namun pertambahan penduduk dunia yang cenderung meningkat pesat merupakan pemicu kepunahan keanekaragaman hayati. Pertambahan penduduk dunia menyebabkan manusia meningkatkan penggunaan kekayaan alam untuk mencukupi kebutuhannya. Kegiatan manusia terkadang menimbulkan berbagai

tindakan yang mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, tindakan tersebut diantaranya: perusakan habitat, fragmentasi habitat, gangguan pada habitat, penggunaan sumberdaya secara berlebihan, masuknya jenis-jenis eksotis, dan adanya penyebaran penyakit. Faktor lain yang menjadi penyebab kepunahan spesies dan kerusakan habitat ialah berkembangnya industri dan masyarakat modern yang materialistik yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan sumberdaya alam (Widada et al, 2006).

Sumberdaya alam dikatakan langka bila suatu spesies secara keseluruhan ditemukan dalam jumlah sedikit, hanya ditemukan di suatu tempat (endemik) meskipun terdapat dalam jumlah yang banyak, dan jika spesies ditemukan di berbagai tempat, namun pada setiap tempat tersebut jumlahnya sedikit. Status kelangkaan mempunyai kaitan yang erat dengan status kerawanan suatu spesies terhadap bahaya punah. Meskipun belum benar-benar punah, namun bisa saja suatu spesies berada pada kondisi terancam punah. Status keterancaman ini dirumuskan dalam konsep kelangkaan. IUCN pada tahun 1994 mengeluarkan kriteria ancaman yang menjadi bahan rujukan secara global. Kategori keterancaman tersebut dibedakan menjadi delapan, yaitu punah (extinct), punah di alam (extinct in the wild), kritis (critically endangered), genting (endangered), rentan (vulnerable), resiko relatif rendah (lower risk), kurang data (data deficient) dan tidak dievaluasi (not evaluated).

Menyadari ancaman akan menyusutnya keanekaragaman hayati Indonesia, maka pemerintah berupaya agar laju penyusutan dapat dikurangi dengan jalan menyisihkan areal hutan alam untuk kawasan pelestarian. Upaya pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan

usaha pengendalian atau pembatasan dalam memanfaatkan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya sehingga kegiatan tersebut dapat dilakukan secara terus menerus pada masa mendatang. Untuk menjamin agar persediaan sumberdaya alam tidak habis dalam waktu singkat, maka pemanfaatan sumberdaya alam perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan secara bijaksana. Pemanfaatan yang demikianlah yang disebut dengan konservasi.

Kegiatan konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya merupakan suatu upaya yang tepat dalam mengantisipasi kemungkinan merosotnya daya dukung alam. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Bab V Pasal 22 menyebutkan bahwa Lembaga Konservasi mempunyai fungsi utama yaitu pengembangbiakan atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Disamping itu, konservasi juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, peragaan dan penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan. Lembaga konservasi dapat berbentuk Kebun Binatang, Musium Zoologi, Taman Satwa Khusus, Pusat Latihan Satwa Khusus, Kebun Botani, Herbarium dan Taman Tumbuhan Khusus.

KRB sebagai salah satu kawasan konservasi ex situ, memiliki luas lahan sekitar 87 ha dengan koleksi tanaman berjumlah 14.354 spesimen, diantaranya 3.443 jenis (species) mewakili 1.267 marga (genus) dari 219 suku (famili). KRB sebagai salah satu kawasan konservasi ex situ menyimpan banyak koleksi flora langka yang bila dijaga kelestariannya akan memberikan manfaat yang cukup besar bagi generasi saat kini maupun generasi mendatang.

Secara ekonomi penilaian tanaman di KRB khususnya tanaman (flora) langka yang memiliki harga pasar didekati melalui pendekatan biaya pengganti. Dengan menggunakan persamaan (5), yaitu dengan menjumlahkan penerimaan dari penjualan bibit tanaman, penerimaan dari kayu bulat serta penerimaan dari non-kayu berupa gubal gaharu, kemedangan, dan abu gaharu diperoleh nilai ekonomi tanaman langka sebesar Rp 217.620.080,00 (selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8).

Nilai ini sebenarnya lebih besar, karena dalam perhitungan ini tidak semua jenis tanaman dihitung. Namun, yang terpenting adalah bila keberadaan tanaman (flora) langka ini terus dipertahankan kelestariannya baik itu melalui upaya reintroduksi maupun konservasi, masyarakat maupun pemerintah tidak hanya akan mendapatkan manfaat dari segi ekonomi juga dari segi ekologis, biologis, dan sosial. Manfaat tersebut diantaranya:

• Fungsi layanan jasa lingkungan atau ekologis

Sebagai kawasan konservasi sumberdaya alam khususnya pada tanaman (flora) langka, keberadaan KRB tidak terlepas dari manfaatnya sebagai penghasil jasa lingkungan atau ekologis. Setiap tanaman langka merupakan unsur ekosistem alam yang dapat menjadi key species atau kunci bagi keseimbangan alam. Manfaat ekologis tersebut antara lain: melindungi sumber-sumber air (memelihara daur hidrologi, mengatur dan menstabilkan aliran permukaan dan menjaga air tanah), membentuk dan melindungi tanah, menyimpan dan mendaur zat-zat hara, menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar, ikut menstabilkan iklim (khususnya ditingkat mikro), memelihara berbagai ekosistem dan memulihkan kondisi akibat

bencana yang tidak terduga (seperti banjir, kebakaran, angin topan dan berbagai penyakit akibat ulah manusia).

• Fungsi biologis

Fungsi biologis yang dapat diberikan oleh keberadaan tanaman (flora) langka ialah dapat digunakan sebagai pemasok berbagai kebutuhan hidup, antara lain: sebagai sumber makanan, gudang gen (seperti untuk persediaan makanan dan obat-obatan), gudang pengendali biologis (seperti pestisida dan herbisida alami), sumber bahan bangunan dan industri (serat, penyamak, keratin, bahan perekat, minyak, enzim), sumber kayu (bangunan, pulp, kayu bakar) dan sebagai warisan bagi generasi yang akan datang.

• Fungsi sosial

Selain sebagai penyedia jasa lingkungan dan biologis, keberadaan tanaman (flora) langka tersebut memberikan manfaat lain dalam bidang sosial. Manfaat sosial tersebut antara lain: menyediakan berbagai fasilitas penelitian, pendidikan dan pemantauan (sebagai laboratorium hidup untuk studi pemanfaatan sumberdaya yang lebih baik, dan cara memelihara sumber-sumber genetis dari berbagai sumberdaya hayati yang dipanen), sebagai fasilitas rekreasi dan pariwisata serta sebagai sumber nilai budaya.

Adapun beberapa jenis tanaman langka di KRB yang keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya baik di masa kini maupun di masa mendatang, antara lain:

a. Aquilaria malaccensis

Aquilaria malaccensis merupakan jenis tanaman yang tersebar di hutan alam Sumatera dan Kalimantan. Tanaman ini terkenal sebagai penghasil gubal

gaharu yang disebut juga agarwood, eaglewood, dan aloewood, yaitu sebutan untuk hasil hutan non kayu yang berupa damar harum (aromatic resin), bernilai ekonomi tinggi, terjadi melalui fenomena patologis yang unik. Gaharu banyak digunakan sebagai bahan dasar ,minyak wangi, dupa bakaran, dan obat tradisional di Asia Timur (Yagura et al, 2005 dalam Santoso et al, 2007).

b. Alstonia scholaris

Alstonia scholaris (kayu pulai) merupakan jenis kayu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kayu pulai termasuk kelas awet V, mudah diserang jamur biru dan bubuk kayu kering. Daya tahan kayu pulai terhadap rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light termasuk kelas III. Kayu pulai dapat digunakan untuk peti, korek api, cetakan beton dan barang kerajinan seperti kelom, wayang golek, topeng dan lain-lain (Martawijaya et al, 2005).

c. Gonystylus bancanus

Gonystylus bancanus (kayu ramin) merupakan jenis kayu yang banyak terdapat di wilayah Sumatera Utara, Riau (Bengkalis), Sumatera Selatan, Jambi dan seluruh Kalimantan. Kayu ramin banyak dimanfaatkan untuk konstruksi ringan di bawah atap, rangka pintu dan jendela, mebel, kayu lapis, moulding, mainan anak-anak, barang bubutan, tangkai alat-alat yang tidak dipergunakan untuk memukul. Kayu yang mengandung gaharu bisa dipergunakan untuk wangi-wangian dan obat (Martawijaya et al, 2005).

d. Instia bijuga

Instia bijuga (kayu merbau) merupakan jenis kayu yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Kayu ini umum dipakai untuk membuat parket (flooring), furniture, decking dengan finger joints, panel,

musik instrumen dan lainnya. Kayu ini masuk kategori kayu keras dan dengan tekstur yang dimilikinya membuat Merbau menjadi sebuah simbol eklusifitas dalam interior(Martawijaya et al, 2005).

e. Shorea leprosula

Shorea leprosula (kayu meranti) merupakan jenis kayu yang banyak tersebar

di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Maluku. Kayu meranti secara umum termasuk kelas awet III V dengan daya tahan kayu terhadap rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light termasuk kelas III. Kayu meranti terutama digunakan untuk venir dan kayu lapis, di samping itu dapat juga digunakan untuk bangunan perumahan sebagai rangka, balok, galar, kaso, pintu dan jendela, dinding, lantai dan sebagainya (Martawijaya et al, 2005).

6.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Terhadap Rekreasi

Dokumen terkait