BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Posyandu Lansia
2.2.6. Penilaian Keberhasilan Upaya Pembinaan Melalui
Menurut Henniwati (2008), penilaian keberhasilan pembinaan lansia melalui kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu, dilakukan dengan menggunakan data
pencatatan, pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari :
a. Meningkatnya sosialisasi masyarakat lansia dengan berkembangnya jumlah orang masyarakat lansia dengan berbagai aktivitas pengembangannya
b. Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah atau swasta yang memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia
c. Berkembangnya jenis pelayanan konseling pada lembaga d. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi lansia
e. Penurunan daya kesakitan dan kematian akibat penyakit pada lansia
2.3. Kendala Pemanfaatan Posyandu Lansia 2.3.1. Pengetahuan Lansia
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka.
Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia.
Hasil penelitian Mismar (2010), menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara bermakna dengan tingkat kunjungan lansia ke posyandu adalah pengetahuan lansia (p = 0,000), sikap (p = 0,023), dukungan petugas (p = 0,029),
dukungan keluarga (p = 0,000), jarak (p = 0,007), dan sarana (p = 0,000). Demikian juga dengan Khotimah (2011), memperoleh hasil bahwa variabel yang berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan posyandu lansia yaitu pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,001), dukungan sosial (p=0,010) dan peran kader (p=0,009). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan pemanfaatan posyandu lansia yaitu umur, jenis kelamin, status tinggal, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.
2.3.2. Sikap Lansia
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.
Dukungan Sosial
Sarafino (1998), mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain, dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak, tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial.
Dukungan sosial ternyata tidak hanya memberikan efek positif dalam mempengaruhi kejadian dari efek kecemasan. Beberapa contoh efek negatif yang timbul dari dukungan sosial, antara lain (Sarafino, 1998):
1. Dukungan yang tersedia tidak dianggap sebagai sesuatu yang membantu. Hal ini dapat terjadi karena dukungan yang diberikan tidak cukup, individu merasa tidak perlu dibantu atau terlalu khawatir secara emosional sehingga tidak memperhatikan dukungan yang diberikan.
2. Dukungan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan individu.
3. Sumber dukungan memberikan contoh buruk pada individu seperti melakukan atau menyarankan perilaku tidak sehat.
4. Terlalu menjaga atau tidak mendukung individu dalam melakukan sesuatu yang diinginkannya. Keadaan ini dapat mengganggu program rehabilitasi yang seharusnya dilakukan oleh individu dan menyebabkan individu menjadi tergantung pada orang lain.
Sarason (1991), mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu :
a. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia, merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas).
b. Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima, berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas).
Dukungan sosial didefinisikan oleh Taylor (2009), sebagai transaksi interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspek-aspek yang terdiri dari perhatian emosional, bantuan instrumental, pemberian informasi, dan adanya penilaian atau penghargaan.
2.3.3.1. Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial
Sarafino (1998) dan Taylor (2009), membagi dukungan sosial dalam lima bentuk, yaitu :
a. Emosional
Aspek ini melibatkan kekuatan jasmani dan keinginan untuk percaya pada orang lain sehingga individu yang bersangkutan menjadi yakin bahwa orang lain tersebut mampu memberikan cinta dan kasih sayang kepadanya.
b.
Dukungan ini mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa nyaman, dicintai dan diperhatikan. Beberapa hal yang termasuk interaksi yang mendukung adalah mendengarkan dengan penuh perhatian, merefleksikan pernyataan subjek, menawarkan simpati dan menyakinkan kembali, membagi pengalaman pribadi dan menghindari konflik.
Instrumental
Aspek ini meliputi penyediaan sarana untuk mempermudah atau menolong orang lain sebagai contohnya adalah peralatan, perlengkapan, dan sarana pendukung
lain dan termasuk didalamnya memberikan peluang waktu untuk memberikan bantuan langsung.
c.
Dukungan ini dikenal juga dengan istilah dukungan pertolongan, dukungan nyata atau dukungan material.
Informatif
Aspek ini berupa pemberian informasi untuk mengatasi masalah. Aspek informatif ini terdiri dari pemberian nasehat, pengarahan, dan keterangan lain yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan,
d.
sehingga individu dapat mengatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya.
Penilaian / Penghargaan
Aspek ini terdiri atas dukungan peran sosial yang meliputi umpan balik, perbandingan sosial, dan afirmasi (persetujuan).
e. Kelompok Sosial
Pemberian dukungan ini membantu individu untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam dirinya dibandingkan dengan keadaan orang lain yang berfungsi untuk menambah penghargaan diri, membentuk kepercayaan diri dan kemampuan serta merasa dihargai dan berguna saat individu mengalami tekanan. Dukungan sosial dalam bentuk penilaian yang positif dapat membantu individu dalam mengembangkan kepribadian dan meningkatkan identitas diri.
Bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktifitas sosial dengannya.
Dengan begitu individu akan merasa memiliki teman senasib.
2.3.3.2. Sumber-Sumber Dukungan Sosial
Dalam kaitannya dengan peran sebagai pemberi dukungan, Ife dalam Adi (2008), melihat bahwa salah satu peran dari pemberdaya masyarakat adalah untuk menyediakan dan mengembangkan dukungan terhadap warga yang mau terlibat dalam struktur dan aktivitas komunitas tersebut. Dukungan itu sendiri tidak selalu bersifat ekstrinsik ataupun materil, tetapi dapat juga bersifat instrinsik seperti pujian, penghargaan dalam bentuk kata-kata, ataupun sikap dan perilaku yang menunjukkan dukungan dari pelaku perubahan terhadap apa yang dilakukan oleh masyarakat.
Seperti menyediakan waktu bagi wanita usia subur bila mereka ingin berbicara dengannya guna membahas permasalahan yang mereka hadapi.
2.3.4. Dukungan Keluarga
Dukungan sosial dapat dipenuhi dari teman atau persahabatan, keluarga, dokter (petugas kesehatan), psikolog, psikiater (Sarafino,1998). Hal senada juga diungkapkan oleh Taylor (2009), bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan berarti bagi individu seperti keluarga, teman dekat, pasangan hidup, rekan kerja, tetangga, dan saudara.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Aspek- aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk, dan pemberian informasi.
2.3.5. Dukungan Kader
Fungsi pelayanan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan tidak dapat lagi seluruhnya ditangani oleh para dokter saja. Apalagi kegiatan itu mencakup kelompok masyarakat luas. Para dokter memerlukan bantuan tenaga para medis, sanitasi gizi, ahli ilmu sosial dan juga anggota masyarakat (tokoh masyarakat, kader) untuk melaksanakan program kesehatan, tugas tim kesehatan ini dapat dibedakan menurut tahap/jenis program kesehatan yang dijalankan, yaitu promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi (Depkes RI, 2005).
Peran anggota masyarakat (kader) adalah sebagai motivator atau penyuluh kesehatan yang membantu para petugas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya hidup sehat dan memotivasi mereka untuk melakukan tindakan pencegahan penyakit dengan menggunakan sarana kesehatan yang ada. Disamping kader kesehatan, masyrakat memiliki pula kelompok yang berpotensi untuk membantu menyehatkan penduduk yaitu para pengobatan tradisional (Sarwono, 2004).
Pujiyono (2009), dengan hasil penelitiannya menunjukan bahwa mayoritas responden berumur 60-69 tahun, berjenis kelamin perempuan sedangkan pendapatan, pengetahuan, sikap, praktik, peranan petugas kesehatan dan peranan keluarga termasuk kategori kurang. Variabel yang berhubungan secara signifikan dengan pemanfaatan posyandu lansia yaitu umur, pendapatan, pengetahuan, sikap, peran petugas kesehatan dan peran keluarga. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan
dengan pemanfaatan posyandu lansia yaitu jenis kelamin. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan praktik pemanfaatan posyandu lansia adalah peranan petugas kesehatan.
2.3.6. Jarak Posyandu Lansia
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.
Menurut Depkes RI., (2005), bahwa kelompok usia lanjut sendiri kurang dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, antara lain disebabkan oleh jarak puskesmas atau posyandu yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sihombing (2000), mengatakan bahwa kondisi geografi dan transportasi yang sulit, perlu kiranya dipertimbangkan tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai atau strategis.
Untari (2007), juga mengatakan bahwa waktu perjalanan merupakan faktor terpenting dari akses geografi sehingga berkaitan dengan jarak tempat tinggal ke pelayanan
kesehatan. Jarak, alat transportasi dan waktu tempuh memiliki dampak yang signifikan dengan pemanfaatan kesehatan.
2.4. Landasan Teori
Green dalam Notoatmodjo (2007), juga menyatakan bahwa faktor yang mempunyai potensi dalam memengaruhi perilaku kesehatan adalah faktor predisposisi (predisposing factor), faktor pemungkin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factor), yang termasuk kedalam faktor predisposisi diantaranya : pengetahuan, sikap, dan faktor sosio demografis (umur, pendidikan, dan jenis pekerjaan). Sementara yang termasuk kedalam faktor penguat adalah faktor sikap dan dukungan keluarga, tokoh masyarakat serta dukungan para petugas kesehatan.
2.5. Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang masalah, maka kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian Pengetahuan Lansia
Sikap Lansia
Dukungan Keluarga
Dukungan Kader
Pemanfaatan Pelayanan Posyandu
Jarak ke Posyandu Lansia
Dukungan Kepala Desa
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi
Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Banar Dolok Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah persentase kunjungan lansia di wilayah kerja Puskesmas Bandar Dolok Kecamatan Merbau merupakan persentase terendah di Kabupaten Deli Serdang, yaitu hanya mencapai 44,2% pada tahun 2010, pada tahun 2009 dan 2011 masing-masing sebesar 41,8% dan 44,0%.
3.2.2. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2012 sampai dengan bulan Januari 2013.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bandar Dolok Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebanyak 5.082.
3.3.2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus (Riduwan, 2008) :
1
Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel (n) sebagai berikut :
= presesi yang ditetapkan (d = 5%)
Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 371 orang. Sampel diambil disetiap desa dengan mengggunakan proportional sampling. Berikut ini pengambilan sampel secara proportional sampling.
Tabel 3.1. Jumlah Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok dan Jumlah Sampel yang Diambil
Desa Jumlah
Populasi Perhitungan Jumlah Sampel
Jatirejo 362 362/5.082 x 371 26
Sidodadi 295 295/5.082 x 371 22
Suka Mulia 171 171/5.082 x 371 12
Purwodadi 548 548/5.082 x 371 40
Tanjung Mulia 610 610/5.082 x 371 45
Tanjung Garbus (Kampung) 248 248/5.082 x 371 18
Tanjung Garbus (Kebon) 77 77/5.082 x 371 6
Perbarakan 195 195/5.082 x 371 14
Pasar Miring 474 474/5.082 x 371 35
Pagar Merbau I 318 318/5.082 x 371 23
Pagar Merbau II 293 293/5.082 x 371 21
Sumberjo 539 539/5.082 x 371 39
Suka Mandi Hilir 346 346/5.082 x 371 25
Suka Mandi Hulu 154 154/5.082 x 371 11
Jati Baru 288 288/5.082 x 371 21
Bandar Dolok 164 164/5.082 x 371 12
Jumlah 5.082 371
Teknik sampling dari masing-masing desa dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling).
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer yang meliputi: pengetahuan lansia, sikap lansia, dukungan keluarga, dukungan kader, dukungan kepala desa, jarak ke posyandu lansia, dan pemanfaatan posyandu lansia dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari kantor Camat Kecamatan Pagar Merbau, yaitu data gambaran Geografi dan Demografi Kecamatan Pagar Merbau.
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan pada 30 orang lansia yang tidak termasuk sampel penelitian. Pengujian validitas menggunakan koefisien korelasi pearson (Pearson’s Product Moment Coefficient of Correlation). Dasar keputusan uji validitas dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan p-value kurang dari alpha 0,05 maka item pernyataan dikatakan valid, sebaliknya jika p-value lebih besar dari alpha 0,05 maka item pernyataan tidak valid. Dasar pengambilan keputusan uji validitas juga dilakukan dengan membandingkan koefisien korelasi dengan angka kritis (r-tabel=0,361). Jika koefisien korelasi lebih besar dari r-tabel maka item pernyataan valid, sebaliknya jika koefisien korelasi kurang dari r-tabel maka item pernyataan tidak valid.
Uji reliabilitas diukur dengan menggunakan Alpha Cronbach untuk mengetahui konsistensi internal antar variabel dalam instrumen. Dengan kata lain, uji reliabilitas akan mengindikasikan apakah instrumen-instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini layak dan berkaitan atau tidak. Dalam metode Alpha Cronbach telah ditentukan bahwa jika nilai Alpha Cronbach mendekati 1, maka hal ini menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan sudah sangat baik (reliable) atau jawaban responden akan cenderung sama walaupun diberikan kepada responden
tersebut dalam bentuk pertanyaan yang berbeda (konsisten), sedangkan jika berada di atas 0.8 adalah baik, tetapi bila berada di bawah nilai 0.6 tidak baik atau tidak reliabel (Riduwan, 2008).
3.5 Variabel dan Definisi Operasional
a. Pengetahuan lansia adalah segala sesuatu yang diketahui lansia tentang posyandu lansia, seperti: pengertian dan manfaat dari posyandu lansia, jenis kegiatan yang ada di posyandu lansia, tujuan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, dan tujuan pemberian makanan tambahan di posyandu lansia.
b. Sikap adalah persepsi lansia terhadap posyandu lansia, yang meliputi: sikap untuk menghadiri posyandu lansia dan sikap terhadap kegiatan-kegiatan yang ada di posyandu lansia (penyuluhan, penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan).
c. Dukungan keluarga adalah kepedulian atau perhatian yang diberikan oleh keluarga lansia (suami/istri, anak, menantu, dan cucu) yang berupa perhatian terhadap kesehatan dengan membawa lansia ke posyandu lansia, memberikan informasi yang berhubungan dengan kegiatan posyandu lansia, pengarahan, dan dukungan terhadap kegiatan-kegaiatan yang ada di posyandu lansia.
d. Dukungan Kader adalah penilaian atau pandangan lansia terhadap dukungan-dukungan yang diberikan kader agar bersedia memanfaatkan pelayanan posyandu
lansia, seperti: mengajak untuk datang ke posyandu, menjelaskan manfaat posyandu lansia, memberi tahu jadwal pelaksanaan posyandu, memberitahu tempat pelaksanaan posyandu, dan menanyakan kondisi kesehatan.
e. Dukungan kepala desa adalah dukungan untuk mendorong lansia selalu aktif dalam
f. Jarak adalah jauhnya perjalanan yang ditempuh oleh lansia untuk mencapai ke fasilitas pelayanan posyandu lansia.
memanfaatkan keberadaan posyandu lansia
g. Pemanfaatan posyandu lansia adalah keikutsertaan dan keaktifan lansia dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di posyandu lansia, seperti mengikuti kegiatan berupa penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, kegiatan olah raga ringan, dan kegiatan penyuluhan kesehatan
3.6. Aspek Pengukuran 1. Pengetahuan
Pengetahuan responden diukur melalui 11 pertanyaan. Bila responden dapat menjawab dengan benar (pilihan jawaban a) diberi nilai 1, tetapi jika salah atau jawaban tidak tahu (pilihan jawaban b dan c) diberi nilai 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009):
− Baik : Jika skor total jawaban > 65 %, atau dalam interval 8-11
− Sedang : Jika skor total jawaban 45-65 %, atau dalam interval 5-7
− Kurang : Jika skor total jawaban <45 %, atau dalam interval 0-4
2. Sikap
Sikap responden diukur melalui 10 pertanyaan dengan menggunakan skala Likert. Responden yang menjawab sangat setuju diberi nilai 4, setuju 3, kurang setuju 2, tidak setuju 1, dan sangat tidak setuju 0. Sehingga diperoleh nilai tertinggi 40 dan terendah 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada, sehingga sikap dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009):
− Baik : Jika skor total jawaban > 65 %, atau dalam interval 27-40
− Sedang : Jika skor total jawaban 45-65 %, atau dalam interval 18-26
− Kurang : Jika skor total jawaban <45 %, atau dalam interval 0-17 3. Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga diukur melalui 10 pertanyaan. Bila responden menjawab
”Ya” diberi nilai 1, tetapi jika menjawab ”Tidak” diberi nilai 0. Sehingga nilai tertinggi yang dapat diperoleh sebesar 10, dan terendah 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada, maka dukungan keluarga dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009):
− Baik : Jika skor total jawaban > 65 %, atau dalam interval 8-10
− Sedang : Jika skor total jawaban 45-65 %, atau dalam interval 5-7
− Kurang : Jika skor total jawaban <45 %, atau dalam interval 0-4
4. Dukungan Kader
Dukungan kader diukur melalui 16 pertanyaan. Bila responden menjawab
”Ya” diberi nilai 1, tetapi jika menjawab ”Tidak” diberi nilai 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009):
− Baik : Jika skor total jawaban > 65 %, atau dalam interval 12-16
− Sedang : Jika skor total jawaban 45-65 %, atau dalam interval 7-11
− Kurang : Jika skor total jawaban <45 %, atau dalam interval 0-6 5. Dukungan Kepala Desa
Dukungan kepala desa diukur melalui 9 pertanyaan. Bila responden menjawab
”Ya” diberi nilai 1, tetapi jika menjawab ”Tidak” diberi nilai 0. Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009):
− Baik : Jika skor total jawaban > 65 %, atau dalam interval 7-9
− Sedang : Jika skor total jawaban 45-65 %, atau dalam interval 4-6
− Kurang : Jika skor total jawaban <45 %, atau dalam interval 0-3 6. Jarak ke Posyandu Lansia
Variabel jarak ke posyandu lansia diukur melalui 5 pertanyaan. Bila responden menjawab ”Ya” diberi nilai 1, tetapi jika menjawab ”Tidak” diberi nilai 0.
Berdasarkan jumlah nilai yang ada dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2009) :
− Terjangkau, apabila skor yang diperoleh responden dalam interval 4-5
− Kurang terjangkau, apabila skor yang diperoleh responden dalam interval 2-3
− Tidak terjangkau, apabila skor yang diperoleh responden dalam interval 0-1
7. Pemanfaatan Posyandu
Untuk variabel pemanfaatan posyandu dibedakan atas 2 kategori, yaitu:
1. Memanfaatkan, apabila lansia rutin melakukan kunjungan ke posyandu lansia dalam 3 bulan terakhir.
2. Tidak memanfaatkan, apabila lansia tidak melakukan kunjungan ke posyandu lansia dalam 3 bulan terakhir, atau melakukan kunjungan lansia tetapi tidak rutin.
Variabel penelitian, alat ukur penelitian, jumlah indikator, hasil ukur, dan skala ukur untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.1. berikut ini.
Tabel 3.1 Variabel, Alat Ukur, Jumlah Indikator, Hasil dan Skala Ukur Variabel Alat ukur Jumlah
Indikator Hasil Ukur Skala Ukur
Dukungan keluarga Kuesioner 10 0. Kurang 1. Sedang
2. Kurang terjangkau 3. Terjangkau 1. Memanfaatkan
Ordinal
3.7. Metode Analisis Data
a. Analisis Univariat : Tujuan analisis ini untuk menjelaskan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel independen dan variabel dependen.
b. Analisis Bivariat : Tujuan analisis ini untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen yang diduga kuat mempunyai hubungan bermakna dengan variabel dependen, dengan menggunakan uji Chi-Square. Uji chi-square dapat digunakan untuk mengestimasi atau mengevaluasi frekuensi yang diselidiki atau hasil observasi untuk dianalisis apakah terdapat hubungan atau perbedaan yang signifikan atau tidak, yang menggunakan data nominal (Riduwan, 2008).
c. Analisis Multivariat : Tujuan analisis ini untuk melihat faktor mana yang paling dominan pada variabel independen dalam memengaruhi variabel dependen, dengan menggunakan uji regresi logistik (regresi logistic).
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Kecamatan Pagar Merbau 4.1.1. Geografi
Kecamatan Pagar Merbau adalah sebuah kecamatan yang terletak di sebelah Utara Ibu Kota Kabupaten Deli Serdang (Lubuk Pakam) yang terdiri dari 16 desa.
Kecamatan Pagar Merbau merupakan daerah tropis dan mayoritas penduduknya adalah petani.
Kecamatan Pagar Merbau memiliki luas wilayah ± 62,89 Km2. Adapun batas wilayah Kecamatan Pagar Merbau sebagai berikut : sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Pakam, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Morawa, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Galang.
4.1.2. Demografi
Gambaran data demografi setiap desa /kelurahan di Kecamatan Pagar Merbau dapat dilihat pada Tabel 4.1. dan 4.2.
Tabel 4.1. Luas, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Per Km2 di Kecamatan Pagar Merbau Tahun 2010
Desa /Kelurahan Luas (Km2) Jumlah
Tanjung Garbus (Kampung) 3,10 1.480 477
Tanjung Mulia 1,85 5.143 3.212
Purwodadi 0,82 2.619 3.194
Suka Mulia 0,49 1.876 3.829
Sidodadi Batu Delapan 0,28 1.398 4.993
Jatirejo 0,49 1.730 3.531
Sidoarjo Satu Jatibaru 2,10 1.639 780
Sidoarjo Pasar Miring 4,19 4.169 1.090
Pagar Merbau I 1,00 1.122 1.122
Kecamatan Pagar Merbau dalam Angka, 2011
Jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Pagar Merbau ada di Desa Tanjung Mulia, yaitu sebanyak 5.143 jiwa.
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Pagar Merbau Tahun 2010
No. Kelompok Umum
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-Laki Perempuan
n % n % n %
Tabel 4.2. (Lanjutan)
No. Kelompok Umum
Jenis Kelamin
Jumlah Laki-Laki Perempuan
n % n % n %
9. 40-44 tahun 1.068 48,7 1.123 51.2 2.194 100,0 10. 45-49 tahun 717 48,3 767 51.7 1.484 100,0 11. 50-54 tahun 638 48,5 677 51.5 1.315 100,0 12. 55-59 tahun 424 44,5 528 55.5 952 100,0 13. 60 + tahun 606 45,5 725 54.5 1.331 100,0 Total 17.328 49.2 17.554 50.8 34.884 100,0 Sumber : BPS Kab. Deli Serdang
Kecamatan Pagar Merbau dalam Angka, 2011
Berdasarkan Tabel 4.2. diketahui bahwa kelompok umur lansia terbanyak adalah pada umur 45-49 tahun, yaitu sebanyak 1.484 jiwa (717 laki-laki dan 767 perempuan).
4.2. Pengetahuan Lansia
Pengetahuan yang diukur berkenaan dengan segala sesuatu yang diketahui oleh responden mengenai posyandu lansia, seperti: pengertian dan manfaat dari posyandu lansia, jenis kegiatan yang ada di posyandu lansia, dan lain-lain.
Pengkategorikan pengetahuan responden dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Posyandu Lansia
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Baik 87 23,5
Sedang 113 30,5
Kurang 171 46,0
Total 371 100,0
Berdasarkan Tabel 4.3. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden
Berdasarkan Tabel 4.3. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden