BAB II KAJIAN TEOR
3. Penilaian Keterampilan Membaca
Penilaian adalah suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan (Nurgiyantoro, 2010: 6-7). Kegiatan menilai adalah suatu kegiatan untuk mengetahui apakah input, proses, dan luaran sudah sesuai dengan tujuan atau criteria yang ditentukan. Kegiatan menilai digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui seberapa besar tujuan sudah tercapai.
Adapun tujuan penilaian menurut Nurgiyantoro (2010: 30-32) adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.
b. Untuk memberikan objektivitas pengamatan kita terhadap tingkah laku hasil belajar peserta didik.
c. Untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam bidang-bidang atau topik-topik tertentu.
d. Untuk menentukan layak atau tidaknya peserta didik dinaikkan ke tingkat atasnya atau lulus dari tingkat pendidikan yang ditempuh. e. Memberikan umpan balik dari kegiatan belajar mengajar yang telah
ditentukan dengan tes sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penilaian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan membaca. Menurut Iskandarwassid dan Sunedar (2009: 246) tes kemampuan membaca adalah sebuah tes keterampilan berbahasa yang bisa dilakukan dalam pengajaran bahasa, baik dalam pengajaran bahasa pertama maupun bahasa kedua atau bahasa asing. Tes kemampuan membaca itu bisa dilakukan baik untuk bahasa pertama maupun bahasa kedua dalam hal ini bahasa Prancis. Kemampuan membaca dapat diartikan sebagai sarana untuk memahami suatu bacaan. Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan membaca teks
diperlukan suatu tes untuk mengukur kemampuan membaca. Secara umum wacana yang layak diambil sebagai bahan tes kemampuan membaca berbeda halnya dengan kompetensi kebahasaan lain. Pemilihan teks bacaan hendaknya dipertimbangkan dari segi tingkat kesulitan, panjang pendek isi dan jenis bacaan atau bentuk bacaan. Nurgiyantoro menyatakan wacana yang dapat dipergunakan sebagai bahan untuk tes kompetensi membaca dapat yang berjenis prosa nonfiksi, dialog, teks kesustraan, tabel, diagram, iklan, dan lai- lain (Nurgiyantoro, 2010: 371-373).
Nurgiyantoro (2010: 254-267) membagi enam tingkatan penilaian keterampilan membaca, antara lain: 1) Tingkat ingatan, yaitu menghendaki peserta didik untuk menyebutkan kembali fakta, definisi, atau konsep yang terdapat di dalam wacana yang diujikan, 2) Tingkat pemahaman, yaitu menuntut peserta didik untuk memahami wacana yang dibacanya, 3) Tingkat penerapan, yaitu menghendaki peserta didik untuk mampu menerapkan pemahamanya dalam wacana yang dibacanya pada situasi atau hal yang lain yang ada kaitannya, 4) Tingkat analisis, yaitu menuntut peserta didik untuk menganalisis informasi tertentu dalam wacana, mengenali, mengidentifikasi, atau membedakan pesan dan atau informasi, dan sebagainya yang sejenisnya, 5) Tingkat sintesis, yaitu menuntut peserta didik untuk mampu menghubungkan dan atau menggeneralisasikan antara hal-hal, konsep, masalah, atau pendapat yang terdapat di dalam wacana, 6) Tingkat evaluasi, yaitu menuntut peserta didik untuk mampu memberikan penlaian yang
19 berkaitan dengan wacana yang dibacanya, baik yang menyangkut isi atau permasalahan yang dikemukakan maupun cara penuturan wacana itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah kegiatan untuk mengukur proses dan hasil belajar yang telah dicapai peserrta didik dalam menguasai sebuah materi pembelajaran untutk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Penilaian keterampilan membaca merupakan suatu proses kegiatan yang dilaksanakan untuk mengukur atau menguji suatu keterampilan berbahasa yang bertujaun untuk memahami tingkat pemahaman peserta didik terhadap suatu bacaan.
Menurut Iskandarwassid dan Sunedar (2009: 247) bentuk-bentuk tes yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan membaca antara lain tes bentuk benar-salah, melengkapi kalimat, pilihan ganda, pembuatan ringkasan atau rangkuman, cloze test, C-test, dan lain-lain. Adanya berbagai macam tes pada keterampilan membaca maka perlu adanya pemulihan yang disesuaikan dengan kemampuan yang diukur. Teknik yang paling umum yang dilakukan adalah format bentuk tes pilihan ganda. Penilaian keterampilan membaca bahasa prancis dapat ditempuh dengan menggunakan lebih dari satu teknik, yaitu memilih pernyataan benar-salah. Penskoran pada tes keterampilan membaca bahasa Prancis dalam penelitian ini, apabila jawaban benar memperoleh skor 1, sementara apabila jawaban salah memperoleh skor 0.
4. Hakekat Media pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran.
Kata “media” merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Arti jamak disini merupakan macam-macam perantara yang mengantarkan informasi kepada penerima informasi, hal ini sejalan dengan pendapat Heinich, dkk. (via Arsyad, 2007 : 4) mengemukakan bahwa, “istilah medium ini adalah perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima, dapat berupa foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dll”. Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guruan (Association for Education and Communication technology/AECT) mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional (Asnawir dan Usman, 2002: 11).
Gerlach & Ely (via Arsyad, 2007: 3), mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
21 Gagne dan Brings (via Arsyad, 2007 : 4) menyatakan bahwa, media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut maka media adalah berbagai jenis komponen yang mengandung materi intruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar, karena media dalam penelitian ini mengandung konsep pembelajaran, maka media disini adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
b. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran sebagai alat bantu untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran dan juga dapat memberikan variasi dalam proses belajar mengajar sehingga pengajar maupun pembelajar akan lebih mudah dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Berikut ini fungsi-fungsi dari penggunaan media pembelajaran menurut Asnawir dan Usman (2002:24):
1) Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan membantu memudahkan mengajar bagi guru.
2) Memberikan pengalaman lebih nyata (yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit),
3) Menarik perhatian siswa lebih besar (kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih menyenangkan dan tidak membosankan).
4) Semua indra siswa dapat diaktifkan.
5) Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar
Sudjana dan Rivai (2010: 3) mengemukakan beberapa manfaat penggunakan media pembelajaran dalam proses belajar peserta didik diantaranya sebagai berikut,
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik, 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya,
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi,
4) Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar.
Dari beberapa pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran mempunyai fungsi dan manfaat yang penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran juga dapat menyampaikan materi pembelajaran yang ingin disampaikan oleh pengajar di setiap mata pelajaran dengan mudah dan jelas. Pengajar juga dapat mengembangkan variasi metode mengajar yang kreatif dan inovatfi sehingga peserta didik akan lebih antusias dalam melakukan kegiatan belajar.
c. Klasifikasi dan Karakteristik Media Pembelajaran.
Media pembelajaran memiliki klasifikasi dan karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, pengajar harus mengetahui klasifikasi media pembelajaran sehingga pengajar dapat memilih media akan digunakan dalam pembelajaran. Brezt (via Sadiman, dkk.: 2009) mengklasifikasikan media atas
23 karakteristik utamanya, yaitu audio (suara), visual (gambar, garis, simbol), dan gerak.
Media pembelajaran menurut Sanjaya (2011: 213-218) dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 1) Media grafis atau visual diam, 2) Media proyeksi, 3) Media audio, dan 4) Media computer. Karakteristik dari masing-masing media grafis (visual diam) adalah media visual berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi atau pesan kepada pembaca. Media proyeksi adalah media yang dapat digunakan dengan bantuan proyektor. Media audio adalah media yang memanfaatkan suara dalam menyampaikan informasi. Media ini dapat menggunakan bantuan alat elektronik seperti DVD/VCD, tape, speaker untuk menyampaikan pesan, informasi, dan materi pelajaran. Media komputer merupakan jenis media yang dapat menampilkan dan merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi sebuah media yang interaktif dan menarik atau sering disebut media interaktif.
Pengklasifikasian media ini berfungsi untuk mempermudah guru dalam memilih media pembelajaran sesuai kebutuhan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Pemilihan media yang sesuai menjadikan peserta didik mengikuti pelajaran dengan antusias. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran memerlukan media pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai.
Menurut Indriana (2011: 53) ciri-ciri umum media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Sesuatu yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dinikmati oleh indra. Komponen utama indra yang dimaksud adalah indra penglihatan dan pendengaran,
2) media pembelajaran merupakan bentuk komunikasi antara guru dan murid,
3) media pembelajaran menjadi alat bantu utama dalam mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas,
4) media pembelajaran memiliki kaitan dengan metode mengajar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri atau karakteristik media pembelajaran merupakan alat bantu yang secara fisik dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara guru dan murid untuk menyampaikan pesan atau materi pembelajran dalam kegiatan pembelajaran.
d. Kriteria pemilihan media pembelajaran.
Media pembelajaran sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Maka dari itu, media pembelajaran yang akan digunakan oleh pengajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dengan kriteria-kriteria tertentu. Sudjana dan Rivai (2010: 4) mengemukakan kriteria- kriteria pemilihan media pembelajaran yaitu:
1) Ketepatan dengan tujuan pengajaran, 2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, 3) Kemudahan memperoleh media,
4) Keterampilan guru dalam menggunkannya, 5) Tersedia waktu untuk menggunakannya, 6) Sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Dari beberapa kriteria yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengajaran dengan menggunakan bantuan media pembelajaran diharuska memilih media yang sesuai dengan ketentuan kritertia pemilihan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai
25