F. Langkah-Langkah Pembelajaran Tematik
2) Penilaian Non Tes
Trianto (2010: 228) mengemukakan bahwa beberapa kompetensi dan kemajuan belajar siswa tidak mampu diungkap hanya dengan menggunakan tes. Untuk medapatkan hasil penilaian yang otentik (sesuai dengan kenyataan yang ada) telah banyak dikembangkan perangkat penilaian non tes. Beberapa penilaian non tes yang digunakan adalah sebagai berikut.
a) Penilaian Pengamatan
Pengamatan adalah proses penilaian dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis terhadap tingkah laku peserta didik di dalam kelas maupun di luar kelas.
53
b) Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio diartikan sebagai kumpulan fakta/bukti dan dokumen yang berupa tugas-tugas yang terorganisir secara sistematis dari seseorang secara individual dalam proses pembelajaran. Masnur Muslich (2007: 119) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan penilaian portofolio ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Siswa merasa memiliki portofolio sendiri.
(2) Tentukan bersama hasil kerja apa yang akan dikumpulkan. (3) Kumpulkan dan simpan hasil kerja siswa dalam satu tempat. (4) Beri tanggal pembuatan.
(5) Tentukan kriteria untuk menilai hasil kerja siswa.
(6) Minta siswa untuk menilai hasil kerja mereka secara berkesinambungan.
(7) Bagi yang kurang, beri kesempatan memperbaiki karyanya, tentukan jangka waktunya.
(8) Jika perlu, jadwalkan pertemuan dengan orangtua untuk menjelaskan betapa pentingnya portofolio agar orangtua dapat mengetahui perkembangan/pertumbuhan belajar anaknya.
Selanjutnya, Masnur Muslich (2007: 121) mengemukakan ada empat langkah yang perlu dilakukan dalam penyusunan portofolio, yaitu:
(1) Koleksi, yaitu mengumpulkan hasil kerja siswa yang menunjukkan pertumbuhan, kemajuan, dan hasil belajarnya.
(2) Organisasi, yaitu mengorganisasikan berbagai kerja siswa.
(3) Refleksi, yaitu merenungkan/ memikirkan kembali apa yang telah dikoleksi dan diorganisasi.
54
c) Penilaian Kinerja
Masnur Muslich (2007: 80) mengemukakan bahwa penilaian kinerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian ini biasanya digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam berpidato, pembacaan puisi, diskusi, menari, memainkan alat musik, aktivitas olahraga, menggunakan alat laboratorium, dan mengoperasikan suatu alat. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penilaian kinerja adalah sebagai berikut.
(1) Identifikasi semua aspek yang penting.
(2) Tuliskan semua kemampuan khusus yang diperlukan.
(3) Usahakan kemampuan yang akan dinilai dapat teramati dan tidak terlalu banyak.
(4) Urutkan kemampuan yang akan dinilai berdasarkan urutan yang akan diamati. (5) Apabila menggunakan rating scale perlu menyediakan kriteria untuk setiap
pilihan (misalnya: baik apabila..., cukup apabila..., kurang apabila...) Penilaian kinerja dapat menggunakan dua kemungkinan instrumen, yaitu: 1. Daftar cek (ya – tidak).
2. Skala rentang (sangat kompeten – kompeten – agak kompeten – tidak kompeten).
Masnur Muslich (2007: 98) mengemukakan bahwa dalam praktiknya, penilaian kinerja dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:
55
1. Penilaian kinerja dalam bentuk observasi informal.
Penilaian kinerja dalam bentuk observasi informal merupakan kegiatan perekaman keadaan kelas dari hari ke hari sacara berkesinambungan.
2. Penilaian kinerja dalam bentuk formal.
Penilaian kinerja dalam bentuk formal merupakan kegiatan perekaman yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan tertentu siswa. Penilaian kinerja jenis ini dilakukan dengan langkah: (1) strategi perencanaan, (2) penentuan keputusan, dan (3) pelaporan kinerja siswa.
3. Penilaian kinerja dalam bentuk keterbandingan.
Penilaian kinerja keterbandingan merupakan penilaian kinerja yang menyangkut hal-hal: (1) kesesuaiannya dengan kurikulum, (2) keadilan, (3) keumuman, (4) standar, dan (5) reliabel.
d) Penilaian Sikap (Afektif)
Penilaian afektif adalah penilaian terhadap aspek-aspek non intelektual seperti sikap, minat, motivasi, dan sebagainya. Masnur Muslich (2007: 89) mengemukakan bahwa penilaian sikap dapat dilakukan dengan cara antara lain: (1) observasi perilaku, (2) pertanyaan langsung, dan (3) laporan pribadi.
Mimin Haryati (2008: 62-63) mengemukakan bahwa secara umum aspek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran mencakup hal-hal sebagai berikut. (1) Penilaian sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu mempunyai
56
melahirkan minat belajar, kemudian mudah diberi motivasi serta lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran.
(2) Penilaian sikap terhadap guru. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru, sehingga peserta didik mudah menyerap materi yang diajarkan oleh gurunya. Siswa yang tidak memilki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan materi yang dibelajarkan oleh gurunya.
(3) Penilaian sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran, strategi, metodologi serta teknik atau model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik sehingga pencapaian hasil belajar bisa maksimal.
(4) Penilaian sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pembelajaran.
(5) Penilaian sikap yang berkaitan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.
e) Penilaian Produk
Masnur Muslich (2007: 85) menyatakan bahwa penilaian produk merupakan penilaian kepada siswa dalam mengontrol proses dan menggunakan bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktik atau kualitas estetik dari sesuatu yang mereka produksi.
Trianto (2010: 245) mengemukakan bahwa:
Penilaian produk menilai siswa dalam: (a) bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam mendesain; (b) memilih bahan-bahan yang
57
tepat; (c) menggunakan alat; (d) menunjukkan inovasi dan kreasi; dan (e) memilih bentuk dan gaya dalam karya seni.
Mimin Haryati (2008: 57) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan penilaian produk ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
(1) Tahap persiapan, tahapan ini meliputi penilaian kemampuan peserta didik dalam merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan serta mendesain produk.
(2) Tahap proses (pembuatan produk), meliputi penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, metode dan teknik. (3) Tahap penilaian produk, tahap ini meliputi penilaian produk yang dihasilkan
peserta didik sesuai kriteria yang diterapkan.
Dalam penilaian produk dapat digunakan dua cara yaitu penilaian holistik dan penilaian analitik. Adapun penjelasannya sebagai berikut.
1. Penilaian dengan cara holistik yaitu penilaian yang berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.
2. Penilaian dengan cara analitik yaitu berdasarkan aspek–aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.