• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian perusahaan berdasarkan perspektif manajer perusahaan

2.1.3. Nilai Perusahaan

2.1.3.2. Penilaian Perusahaan

2.1.3.2.1. Penilaian perusahaan berdasarkan perspektif manajer perusahaan

Menurut Prasetyo (2011) penilaian (valuation) perusahaan dikenal dengan istilah corporate valuation, yaitu metode penilaian kondisi perusahaan saat ini dan estimasi beberapa tahun kedepan. Masih menurut Prasetyo, bagi para manajer perusahaan dapat melakukan valuasi dengan tepat, ada beberapa falsafah dasar yang perlu dipahami : 1. Keakuratan data keuangan historis. Keakuratan data dalam laporan

keuangan mutlak diperlukan agar nilai yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.

2. Dimensi nilai waktu dari uang. Jika valuasi dilakukan untuk beberapa tahun ke depan, maka seorang penilai perlu mempertimbangkan penggunaan konsep nilai waktu dari uang.

3. Transparansi dan obyektivitas. Valuasi sangat memerlukan transparansi dan obyektivitas dari penilai. Banyaknya asumsi yang harus dibangun terkadang membuat hasil valuasi kehilangan obyektivitasnya. Tanpa adanya kedua unsur tersebut maka nilai yang dihasilkan tidak akan merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya.

4. Refleksi hasil kuantitatif. Pada fase ini tak jarang penilai memiliki refleksi yang berbeda atas hasil perhitungan yang sama, sehingga untuk meminimalisisr hal tersebut para penilai perlu memahami seluk beluk setiap rumus yang digunakan.

5. Dimensi waktu dari hasil valuasi. Dewasa ini perlu dilakukan perhitungan nilai perusahaan secara periodik, karena nilai perusahaan dapat berubah secara signifikan akibat dinamika faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhinya.

Menurut Prasetyo (2011) dengan mengetahui nilai perusahaan yang sesungguhnya dapat memberikan keuntungan sebagai berikut ; (1) dapat memperjelas langkah manajemen, (2) manajemen dapat memahami kinerja yang telah dicapai, (3) dapat memperhitungkan potensi di masa yang akan datang, (4) untuk mengukur efektivitas setiap kebijakan manajemen, (5) dapat dijadikan bahan perbandingan dengan tahun sebelumnya, sehingga manajemen dapat memberikan keputusan yang lebih baik bagi perusahaan, (6) dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk keperluan investasi dan pendanaan.

Valuasi perusahaan memegang peranan penting dalam berbagai keputusan manajerial, mulai dari keputusan investasi, pendanaan, dividen, hingga stabilitas arus kas. Dengan demikian pemahamanatas model dan prosedur penilaian sangat menentukan keakuratan hasil. Melakukan valuasi perusahaan berarti mngukur tidak hanya kekayaan (aset) tetapi juga keterkaitannya dengan utang dan ekuitas (Prasetyo, 2011).

Secara Umum dikenal tiga pendekatan dalam melakukan valuasi yaitu metode discounted cash flow, metode penilaian relatif (relative valuation) dan metode contingen claim valuation.

a. Discounted cash flow.

Metode ini menekankan nilai waktu dari uang (times value of money) pada setiap variabel yang digunakan. Data yang digunakan dengan menggunakan metode ini adalah data yang berasal dari laporan keuangan, sehingga prinsip transparansi, honesty, dan going concern menjadi bahan yang harus dipertimbangkan. Discounted cash flow dapat menggunakan rumus FV (future value) atau PV (present value) dalam setiap variabelnya.

b. Metode penilaian relatif

Metode ini melakukan valuasi atas nilai perusahaan berdasarkan nilai pasarnya.

c. Contingent Claim Valuation

Metode ini umumnya digunakan untuk menilai sekuritas yang diterbitkan oleh perusahaan. Sekuritas tersebit dapat berupa saham biasa, warrant, maupun obligasi.

Menurut Prasetyo (2011) selain ada metode discounted cash flow, ada pengembangan atas metode tersebut yaitu dengan metode arus kas bersih (free cash flow). Berdasarkan pemahaman bahwa tidak semua laba bersih merupakan arus kas masuk bagi perusahaan, maka harus terdapat cara untuk menentukan berapa proporsi laba yang dapat dialokasikan sebagai arus kas masuk. Salah satu caranya adalah dengan menghitung arus kas bersih. Rumus yang digunakan dalam menilai nilai perusahaan dengan metode ini adalah :

Di mana :

 FCF (free cash flow) adalah arus kas bersih perusahaan

 Growth adalah pertumbuhan dari waktu ke waktu

 Biaya modal diproksi dengan WACC (wieght average cost

capital) adalh nilai rata-rata tertimbang dari kombinasi modal yang digunakan perusahaan.

Secara umum nilai perusahaan tersebut disusun oleh beberapa kebijakan utama dalam manajemen keuangan, yaitu:

1. Kebijakan investasi (termasuk pembelian atau akuisisi aset baik aset lancar maupun tidak).

2. Kebijakan pendanaan (yang dipicu oleh kombinasi penggunaan sumber dana internal dan eksternal dalam neraca).

3. Kebijakan dividen (untuk menentukan berapa besaran proporsi laba bersih yang dibagikan pada pemegang saham).

4. Serta beberapa kebijakan harian manajemen seperti manajemen kas, piutang, persediaan, dan utang.

Pengembangan lanjutan dari pendekatan arus kas bersih adalah dimungkinkannya untuk menghitung nilai perusahaan dan ekuitas.

Menghitung nilai perusahaan harus didukung dengan pertimbangan asumsi yang digunakan. Beberapa asumsi tersebut adalah:

1. Asumsi tanpa pertumbuhan 2. Asumsi pertumbuhan stabil 3. Asumsi pertumbuhan dividen

Asumsi tanpa pertumbuhan atau no growth digunakan saat manajemen berupaya untuk mengidentifikasi nilai perusahaan tanpa mempertimbangkan tinggi rendahnya nilai aset yang berhasil dicapai.

Di mana :

Nilai perusahaant : nilai perusahaan pada periode t

Arus kast : arus kas bersih perusahaan pada periode t WACCt : nilai biaya modal pada periode t

Asumsi pertumbuhan stabil diterapkan oleh perusahaan yang umumnya menempatkan profit sebagai salah satu hal yang ingin dicapai selama periode tertentu. Pada konteks tersebut upaya manajemen dalam mencapai target profit akan terlihat mulai dari nilai kas dan piutang sebagai hasil dari aktivitas penjualan baik secara tunai maupun kredit serta peningkatan nilai persediaan dan beberapa akundalm aktiva tetap.

Rumus menghitung nilai perusahaan dengan adanya asumsi pertumbuhan adalah sebagai berikut:

Di mana ;

Nilai perusahaant : nilai perusahaan pada periode t Arus kas bersiht : arus kas perusahaan pada periode t

Pertumbuhant : tingkat pertumbuhan perusahaan pada periode t Biaya modalt : biaya modal rata-rata tertimbang pada periode t

Berbeda dengan kedua asumsi sebelumnya, asumsi pertumbuhan dividen umumnya digunakan untuk menilai perusahaan yang menetapkan perumbuhan dividen sebagai salah satu indikator pengukuran kinerjanya. Asumsi ini digunakan oleh perusahaan yang berkomitmen untuk membagi dividen tunai kepada pemegang sahamnya dalam jumlah yang meningkat dari waktu ke waktu. Menurut Fuller dan Hsia (1984) dalam Prasetyo (2011), nilai perusahaan dapat dihitung dengan cara :

Di mana :

Pt : nilai perusahaan periode ke t

DPSt : nilai dividen per lembar saham periode t gn : tingkat pertumbuhan pada periode awal ga ; tingkat pertumbuhan pada periode akhir ke : biaya ekuitas

2.1.3.2.2. Penilaian perusahaan berdasarkan perspektif investor

Dokumen terkait