BAB II RANCANGAN PROYEK PERUBAHAN
C. TAHAPAN PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS
C.3. Tahapan Perubahan rencana Jangka Panjang
C.3.1. Peningkatan Kapasitas Laboratorium “one Health” AMR
36
37
e. Pelaksanaan monitoring efek samping obat hewan
f. Pelaksanaan pengujian dan monitoring residu obat tertentu g. Pengkajian batas maksimum residu
h. Pengujian potensi dan keamanan obat hewan yang terkandung dalam pakan
2. Sebagai laboratorium yang ditunjuk untuk melaksanakan penjaminan mutu obat hewan yang boleh beredar di Indonesia maka BBPMSOH memiliki peranan aktif dalam penanganan AMR. Selain itu, BBPMSOH juga bertanggung jawab terhadap jaminan mutu bagi obat-obat pengganti AGP ataupun yang mendukung penurunan penggunaan antibiotik pada hewan misalnya vaksin bakteri yang berkualitas, acidifier, desinfektan yang mendukung biosekuriti kandang. Hal ini merupakan salah satu tupoksi BBPMSOH yang juga mendukung AMS.
3. BBPMSOH memiliki fasilitas pengujian isolasi bakteri, uji kepekaan antimikroba (antimicrobial susceptibility test/ AST), evaluasi AMU berkenaan korelasi PK/PD dengan kejadian AMR, deteksi gen resistan pada bakteri dan sekuensing di unit uji:
a. Unit Uji Bakteriologi
b. Unit Uji Farmasetik dan Premiks c. Unit Uji Biotek
d. Unit Uji Supply Center e. Unit hewan percobaan
4. BBPMSOH memiliki personel yang terlatih dalam pengujian isolasi bakteri, pengujian AMR hingga biomolekular. Jumlah personel dokter hewan yang terlibat aktif dalam pengujian berkenaan AMU-AMR-AMS:
a. Unit Uji Farmasetik dan Premiks 6 orang (5 pendidikan S2 dan 1 S3) b. Unit Uji Bakteriologi 5 orang (pendidikan S2)
c. Unit Uji Biotek (3 pendidikan S2 orang: 2 dari Unit Uji Bakteriologi dan 1 dari unit Uji Virologi)
d. Unit hewan percobaan (2 pendidikan S2)
Tiga personel berpendidikan S2 dengan penelitian terkait AMR, 2 personel berpendidikan S2 orang dengan penelitian terkait farmakokinetik antibiotik, dan 1 personel berpendidikan S3 dengan disertasi penilaian risiko AMR-AMU.
BBPMSOH juga didukung dengan paramedis terlatih. Selain itu BBPMSOH didukung oleh paramedik professional dan berpengalaman.
5. BBPMSOH memiliki alat dan bahan pengujian berkenaan dengan AMU-AMR-AMS seperti:
a. Standar antibiotik yang digunakan di hewan (lebih dari 50 jenis antibiotik)
b. Kuman standar (quality control strain): E. coli ATCC 25922, S. aureus ATCC 29213, P. auruginosa ATCC 27853
38
c. Primer gen resistan: mcr-1, AmpC, tetA, tetB, gyrA, parC, qnrA, qnrB, qnrS, ermA, erm B, ereA
d. Inkubator, LAF, BSC
e. PCR Thermocycler, Sanger sequencing f. Deep freezer -70C
g. BBPMSOH telah diakreditasi ISO SNI 17025:2017 terkait persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi
6. BBPMSOH berperan aktif dalam ASEAN National Focal Points for Veterinary Products (ANFPVP) dan ditunjuk sebagai laboratorium referensi untuk pengujian 9 vaksin unggas.
7. BBPMSOH telah mengikuti asesmen laboratorium AMR melalui program ATLASS yang diselenggarakan FAO-Indonesia bekerja sama dengan DJPKH pada tahun 2017. Pada Februari 2021, BBPMSOH mengikuti asesmen laboratorium pengujian AMR yang diselenggarakan oleh Flemming Fund bekerja sama DJPKH. Beberapa kekuatan BBPMSOH dalam assemen tersebut adalah BBPMSOH telah terakreditasi ISO 17025 oleh KAN, tersertifikasi ISO 19001, memiliki personel yang cukup dengan kompetensi yang baik dalam uji isolasi bakteri maupun AST, dan telah melakukan praktik biosafety dengan baik.
8. Pengembangan Kapasitas Laboratorium One Health
Meskipun BBPMSOH telah memiliki fasilitas yang cukup untuk uji AMR-AMU, akan tetapi belum ada fasilitas/ ruangan/ laboratorium khusus yang didedikasikan untuk pengujian yang berkenaan dengan AMU-AMR. Sehingga diperlukan tambahan peralatan seperti BSC, refrigerator/freezer khusus laboratorium, inkubator, autoklaf dan lain sebagainya.
Pengujian fenotipik resistansi melalui uji AST sebagai bagian dari pelaksanaan salah satu tugas pokok dan fungsi BBPMSOH dalam memonitoring efek samping antimikroba yang menyebabkan AMR pada bakteri. Pelaksanaan AST oleh BBPMSOH masih dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan agar dilution dan microboth dilution. Pengujian dengan metode ini memerlukan waktu yang lama dalam penyiapannya dan presisi/akurasi sangat tergantung dari personel sehingga rentan terhadap human error. Presisi dan akurasi pengujian menjadi krusial karena pengujian fenotipik AMR bertujuan untuk mengetahui prevalensi AMR di bakteri. Selain itu, pengujian fenotipik juga digunakan sebagai penentuan konsentrasi hambat minimum isolat bakteri di Indonesia dan sebagai cara untuk melakukan screening bakteri yang akan digunakan dalam uji lanjutan mutant selection windows dalam evaluasi dosis obat. Oleh sebab itu diperlukan peralatan uji AST fenotipik yang memiliki presisi dan akurasi yang lebih tinggi dan tentunya efektif serta efisien seperti Vitek ataupun Sensititre.
Data AMR yang dihasilkan akan digunakan untuk penguatan program AMR dan regulasi pengendalian AMR di sektoe peternakan dan kesehatan hewan.
BBPMSOH memerlukan peralatan bioteknologi seperti teknologi whole genome sequencing. Hal ini diperlukan karena data informasi tentang resistansi saat ini sebaiknya tidak
39
parsial (genotipik atau sekuensing hanya pada panjang bp tertentu). Data keseluruhan genom bakteri yang diperoleh akan sangat membantu dalam mengetahui sifat resistansi dari isolat-isolat lokal. Sehingga data genom ini bisa membantu dalam ketertelusuran gen, perkembangan gen resistan, perkembangan obat dalam bidang molekular, hingga bisa dijadikan sebagai barrier teknis dalam menghadapi pasar bebas.
Peningkatan kapasitas personel dalam melakukan melakukan surveilans AMR, identifikasi dan isolasi bakteri patogen, dan uji AST dengan vitek ataupun sensititre dan nanopore.
Penguatan sistem data informasi untuk pengujian AMR di BBPMSOH secara digital sehingga mampu memberikan informasi yang lengkap dan tertelusur.
Penguatan kapasitas laboratorium memerlukan waktu dan komitmen yang cukup tinggi.
Oleh sebab itu, tahun 2022 akan dimulai dibuat laboratorium khusus untuk uji AMR, dan tahun 2023-2024 dilakukan penguatan fasilitas seperti peralatan pengujian AST yang lebih modern serta dari tahun 2023-2025 dilakukan penambahan koleksi primer gen resistan sehingga diharapkan variasi gen resistan di BBPMSOH semakin banyak.
9. Out Put Uji AMR di Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan Beberapa pengkajian BBPMSOH berkenaan dengan AMU dan AMR:
a. Isolasi, deteksi, dan multiresistansi E. coli pathogen dan Salmonella pathogen terhadap ampisilin, doksisiklin, kolistin, siprofloksasin dari peternakan layer dan broiler di Prov. Serang, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur (2017)
b. Isolasi, deteksi, dan multiresistansi E. coli pathogen dan Salmonella pathogen terhadap ampisilin, doksisiklin, kolistin, siprofloksasin dari peternakan layer dan broiler di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah (2018)
c. Monitoring kolistin sulfat dalam pakan serta pengkajian prevalensi E. coli resistan kolistin pada broiler dan lingkungan peternakan broiler (2019)
d. Pengkajian Status Keamanan Probiotik Bacillus sp di Indonesia (2021)
e. Pengkajian mutu dan evaluasi risiko resistansi pada Escherichia coli terhadap siprofloksasin berdasarkan farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD) pada ayam layer (2021)
f. Pengkajian Mutu Obat Hewan, Evaluasi Resistansi Berdasarkan Mutant Selection Windows, Serta Deteksi Gen Resistan Obat Hewan Golongan Kuinolon Terhadap Escherichia Coli Pada Ayam Layer (2022)
g. Pengkajian Status Keamanan Probiotik Lactobacillus sp di Indonesia (2022)
40
10. BBPMSOH pada tahun 2021 telah mengikuti uji Profisiensi AMR yang
diselenggarakan oleh EQASIA (sponsor Flemming Fund) meliputi uji identifikasi E. coli dan Salmonella dan uji AMR dengan 11 antibiotik (ampisilin, azitromasin, sefotaksim, kloramfenikol, siprofloksasin, kolistin, gentamisin, asam nalidiksik, sulfonamid, tetrasiklin, dan trimetoprim). Untuk uji profisiensi pengujian resistansi antibiotik yang digunakan digunakan di hewan, BBPMSOH memberikan hasil yang baik.
11. Pengkajian dan penelitian personel BBPMSOH telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional maupun internasional antara lain:
a. Ariyani N, Hidayah N, Istiyaningsih, Ambarwati, Sari RA. 2018. Doxycline and ciprofloxacin resistance in Eschericia coli isolated from layer feces. Prosiding Pertemuan AFFAVETI 2018: 6-12
b. Palupi MF, Darusman HS, Maheshwari H, Wibawan IWT, Sudarnika E. 2018. In vitro mutant prevention concentration of colistin sulfate against pathogenic Escherichia coli. HVM Bioflux 10(4):163-168.
c. Palupi MF, Maheshwari H, Darusman HS, Sudarnika E, Wibawan IWT. 2018.
Resistansi Escherichia coli terhadap Kolistin dan Deteksi Gen Mobilized Colistin Resistance-1 pada Ayam Pedaging Akibat Pemberian Kolistin Sulfat. J Veteriner 19 (2) : 196-207
d. Hayati M, Indrawati A, Mayasari NLPI, Istiyaningsih I, Atikah N. 2019. Molecular detection of extended-spectrum β-lactamase-producing Klebsiella pneumoniae isolates of chicken origin from East Java, Indonesia, Veterinary World, 12(4): 578-583.
e. Palupi MF, Wibawan IWT, Sudarnika E, Maheshwari H, Darusman HS. 2019.
Prevalence of mcr-1 Colistin Resistant Gene in Escherichia coli along broiler meat supply chain in Indoneisa. Biotropia 26 (2): 143-153
f. Andesfha E, Indrawati A, Mayasari NLPI, Rahayuningtyas I, Jusa I. 2019.
Detection of Salmonella pathogenicity island and Salmonella plasmid virulence genes in Salmonella Enteritidis originated from layer and broiler farms in Java Island. J Adv Vet Anim 6(3):384–93.
g. Palupi MF, Sudarnika E, Wibawan IWT, Darusman HS, Maheshwari H. 2019. Risk Assessment of The Use of Colistin Sulfate In Broiler Due To Escherichia coli Resistance In Broiler Flocks. Acta Veterinaria Indonesiana Special Issues: 14-23 h. Palupi MF, Wibawan IWT, Sudarnika E, Maheshwari H, Darusman, HS, Andhesfa
A, Rahayuningtyas I, Atikah N. 2019. Transfer gen mobilized colistin resistance (mcr)-1 dari Escherichia coli resistan kolistin ke Salmonella enteritidis ATCC 13076. Prosiding Ratekpil 2019: 446-445
41
i. Rahayuningtyas I, Indrawati A, Wibawan IWT, Palupi MF, Istiyaningsih I. (2020) Phylogenetic group determination and plasmid virulence gene profiles of colistin-resistant Escherichia coli originated from the broiler meat supply chain in Bogor, Indonesia, Veterinary World, 13(9): 1807-1814.
j. Palupi MF, Andesfha E, Wibawan IWT, Maheshwari H, Darusman HS, Sudarnika E. 2020. Sekuensing Gen mcr-1 dari Escherichia coli dan Salmonella Enteritidis Resistan Kolistin. J Veteriner 21(3) : 415-422
k. Andesfha E, Hayati M, Kartini D, Palupi MF, Atikah A, Istiyaningsih, Firmanta J, Rianti N, Sarji, Amijaya D, Nurhidayah, Komariah S, Arofah S. 2020. Isolasi Escherichia colidan Deteksi Gen mobilized colistin resistance (mcr)-1 pada Escherichia coli Resistan Kolistindari Sampel Usap Kloaka Broiler di Tujuh Provinsi di Indonesia. Buletin BBPMSOH tahun 2020
l. Palupi MF, Andesfha E, Hayati M, Kartini D, Nugaraha E, Atikah N. 2020. Deteksi gen resistan siprofloksasin qnrA, qnrB, dan qnrS pada Escherichia coli multiresistan kolistin dan siprofloksasin. Prosiding Ratekpil 2020: 403-412
m. Palupi, MF, Nugraha E, hayati M, Atikah N. 2021. Mutant Prevention Concentration Siprofloksasin terhadap Eschericia coli Patogen dari Usap Kloaka Broiler Secara In Vitro. Jurnal Sains Veteriner 39(1): 20-27
12. BBPMSOH juga merupakan laboratorium yang pertama kali melakukan pengujian gen penyandi resistansi bakteri terhadap kolistin, mcr-1, di sektor peternakan baik melalui penelitian yang dilakukan oleh personel BBPMSOH saat menempuh S2/S3 (2016-2019) dan juga melakukan pengkajian khusus resistansi kolistin dan gen mcr-1 di tahun 2019.
Data-data yang dihasilkan ini sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam pengendalian AMR yaitu dengan dilarangnya penggunaan kolistin pada hewan per 01 Juli 2020 yang telah ditetapkan dalam Kepmentan No. 9736/PI/500/F/09/2020 tentang perubahan atas Lampiran III Peraturan Menteri Pertanian No.
14/Permentan/PK.350/5/2017 Tentang Klasifikasi Obat Hewan.
42
Gambar K1. Rencana Penyusunan Laboratorium resistansi antimikroba atau antimicrobial resistance AMR