B. Pembahasan
2. Peningkatan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa
dibandingkan dengan peningkatan kemampuan berpikir matematis siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa kelas III Sekolah Dasar. Simpulan tersebut dapat pula digeneralisasi untuk populasi yang memiliki karakteristik seperti siswa kelas IIIA di SD Negeri Girimukti II Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut tahun pelajaran 2014-2015.
B. Rekomendasi
Berdasarkan temuan-temuan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis menyampaikan beberapa saran yang mungkin dapat berguna bagi pembaca, di antaranya adalah tentang penggunaan pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional yang sesuai dengan daerah masing-masing. Penggunaan pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dapat dijadikan
sebagai salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa Sekolah Dasar terutama siswa kelas III.
Dalam pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional berbagai kebutuhan siswa yang sesuai dengan tahapan perkembangnya dapat terpenuhi dengan baik. Aspek kognitif, afeksi serta psikomotor menjadi tujuan yang terwujudkan dalam pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional. Selain hal tersebut suasana yang menyenangkan dalam permainan tradisional memudahkan siswa memahami materi pelajaran matematika dan dapat tersimpan dengan baik dalam benak siswa karena proses pemerolehan konsep matematika tersebut dialami siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga pencapaian belajar bermakna yang memberikan pengetahuan yang dapat diingat sepanjang hayat dapat membekali siswa untuk kehidupan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Oleh karena itu, para guru Sekolah Dasar dapat menggunakan pembelajaran bermakna dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dalam menyampaikan materi ajar matematika ataupun materi ajar pelajaran lainnya. Permainan tradisional dapat disesuaikan dengan daerah masing- masing.
Selain meningkatkan kemampuan berpikir siswa Sekolah Dasar kelas III, pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dapat melestarikan budaya daerah sendiri, sehingga siswa dapat berperan dalam dunia internasional tanpa kehilangan identitas bangsa dan daerah. Pemilihan permainan tradisional yang edukatif patut diperhatikan supaya materi ajar yang menjadi tujuan pembelajaran dapat diperoleh dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dapat berjalan dengan optimal, apabila guru merencanakan pembelajaran sebaik mungkin sesuai dengan tahapan-tahapan atau langkah-langkah pembelajaran matematika realistik.
Akan tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional untuk mengukur kemampuan berpikir matematis siswa, ada beberapa hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan, di antaranya:
1. Pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional perlu perencanaan yang matang dan sikap yang tegas dalam pelaksanaannya, karena jika tidak ada sikap yang tegas dan arahan yang tepat, pembelajaran matematika realistik berbasis permainan tradisional dapat berlangsung tanpa arah. Ketika siswa bermain, tujuan pembelajaran yang telah ditentukan mungkin saja tidak tercapai karena asyiknya siswa bermain. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penelitian ini, guru selalu mengingatkan waktu yang digunakan setiap tahapan.
2. Permainan tradisional yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas atau di luar kelas tidak harus dari jenis permainan edukatif, kompetitif atau rekreatif tetapi permainan yang bisa dengan tepat menyampaikan tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan. Seperti halnya pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan dua permainan yang berbeda kategori. Permainan oray-orayan termasuk permainan rekreatif yang hanya bertujuan untuk mengisi waktu luang. Namun permainan ini dapat mengajak siswa untuk memahami apa yang dimaksud dengan keliling sebuah bangun datar serta bagaimana mencari keliling persegi dan persegi panjang yang dimulai dalam konteks kehidupan nyata dengan aktifitas yang secara langsung dijalani siswa yaitu bermain sambil bernyanyi oray-orayan sehingga dapat membawa konteks tersebut ke dalam sebuah kalimat matematika dan dapat menerapkan pemahaman tentang keliling persegi dan persegi panjang dalam penyelesaian soal. Permainan kedua, ketiga dan keempat yang menjadi basis permainan tradisional dalam penelitian ini adalah permainan galahasin dan pecle/engkle. Permainan ini termasuk kategori permainan kompetitif yang bertujuan berkompetisi untuk sebuah kemenangan, selain itu melalui permainan ini materi luas persegi dan persegi panjang sebagai tujuan pembelajaran dapat terpenuhi.
3. Penggunaan bahasa dalam soal yang memuat indikator-indikator untuk mengukur kemampuan berpikir matematis siswa haruslah bahasa yang mudah
dicerna atau mudah dimengerti siswa, sehingga kesalahan penafsiran soal dapat terhindarkan dan hasil yang diharapkan dapat tercapai maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Andriani, M. (2011). Hakikat Pembelajaran Matematika. Diakses dari:
http://repository.upi.edu
Alif, M., Z. (2010). Makna di Balik Permainan Rakyat. Diakses dari:
http://bali.forumotion.net/t2880- makna-di-balik-permainan-rakyat
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2013). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Armanto, D. (2002). Teaching Multiplication and Division Realistically in Indonesia Primary School, a Prototype oj Ixtcal Instructional Theory. Tesis University of Twente. Enschede: Print Partner Ipskamp.
Asih, K. (2012). Kaulinan Barudak. Diakses dari:
http://www.mekarasih.org/sd/berita/berita-mekar-asih/193-kaulinan- barudak- f2 Agustus 2012
Bell, G. (1991). Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Rajawali.
BSNP. (2006). Panduan Pengembangan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jakarta: Depdiknas.
Gravemeijer, K. (1994). Developing Realistic Mathematics education. Utrecht: Freudental Institute.
Hadi, S., & Fauzan, A. (2003). Mengapa PMRP Buletin PMRJ (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Bandung: IP-PMR1ITB.
Hamalik, O. (2007). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hariyanto. (2010). Macam-macam Teori Belajar. Diakses dari:
http://belajarpsikologi.cora/macam-macam-teori-belajar/
. (2010). Faktor Penyebab Anak Berprilaku Agresif. Diakses dari:
http://belajarpsikologi.com/fakto-penyebab-anak-berprilaku-agresif//
Herman, T. (2007). Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama dalam Educationost. Vol 1 (1), 10 halaman. Bandung.
Juntika, A. (2011). Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Refika Aditama.
Kresno. (2012). Desain Pembelajaran Pengurangan Bilangan Bulat Melalui Permainan Tradisional Congklak Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Semarang: FMIPA UNNES.
Kusumawati, N. (2010). Peningkatan Kemampuan Pemahaman Pemecahan masalah dan Disposisi matematis siswa SMP melalui Pendidikan Matematika Realistik. Desertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Lange, J., D. (1996). International Handbook of Mathematics Education. Part One: Using and Applying Mathematics in Education. Netherlands. Kluwer Academic Publishers.
Mahmudi, A. (2010). Pengaruh Pembelajaran dengan Strategi MHM Berbasis Masalah terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematika serta Persepsi terhadap Kreativitas. Desertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Marisa, R. (2011). Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Realistik untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematis Siswa. Tesis Magister pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Marpaung, Y. (2001). Implementasi Matematika Realistik di Indonesia. Makalah Seminar Nasional Sehari: Depag Medan.
Maryanti, W. (2010). Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik Dalam Peningkatan Kemampuan Pemahaman Dan Komunikasi Matematika Pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kota Cimahi. Tesis Magister pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Musthafa, B. (2008). Dari Literasi Dini ke Literasi Teknologi. Jakarta: PT. Cahaya Insan Sejahtera.
Nisbah, F. (2013) Komponen Matematisasi dalam Pembelajaran Matematika. Diakses dari: http://faizalnisbah.blogsporLcom/2013/05/komponen- matematisasi- dalam.html
Noyes, A. (2007). Rethinking School Mathematics, Diakses dari:
http://www.ebooks.google.com
Nurjannah, W. (2013). Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah (Aspek Metakognitij) dan Kemampuan
Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Dasar. Tesis Magister pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Nurihsan, A. J., & Agustin. M. (2011). Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Aditama.
Panhuizen, M. (1985). Assesment and Realistic Mathematics Education. Freudenthal Institute: Untrecht University.
Romli. (2013). Penerapan Permainan Tradisional Gatrik dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar Guna Memperkokoh Pendidikan Karakter (Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar). Bandung: Prodi Pendas SPs UPI.
Saadah, A. (2012). Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Peningkatan Kemampuan Pemahaman matematis dan Berpikir Kritis matematis Siswa. Tesis Magister pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Sabri. (2009). Berpikir Matematis untuk Pemahaman pada Tingkat Kesadaran. Diakses dari: http://digilib.unm.ac.id
Sanjaya, W. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Schoenfeld, A. H. (1992). Learning to Think Mathematically: Problem Solving, Metacognition and Sense of mathematics., dalam Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning (pp. 334-370). D. A. Grouws (Ed). New York: Macmillan.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E. (2003). Strategi Pembelajaran matematika Kontemporer. Bandung: JICA UPI.
Suherman. E., & Sukjaya. (1990). Petunjuk Evaluasi untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijayakusumah.
Suherman. E., Turmudi, Suryadi. D., Herman. T., Prabawanto, S., Nurjanah., Rohayati, A. (2003). Strategi Pembelajaran Metematika Kontemporer. Edisi Revisi. Bandung: UPI Press.
__________________________________________________________________ ___________. (2001). Strategi Pembelajaran Metematika Kontemporer. Bandung: UPI Press.
Bandung: UPI Press.
Suparno, P. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Suryadi, D. (2012). Membangun Budaya Baru dalam Berpikir Matematika. Bandung: Rizqi Press.
Universitas Pendidikan Indonesia. (2014). Pedoman Penulisan Karya llmiah. Bandung: UPI Press.
Wahyudin. (2012). Filsafat dan Model-Model Pembelajaran Matematika. Bandung: Mandiri.
Wijaya, A. (2012). Pendidikan Matematika Realistik, Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha llmu.
Yuwono, I. (2001). Pembelajaran Matematika Secara Membumi. Malang: Balai Pustaka.