• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Keterampilan Terhadap Pengusaha Batu-Bata di Kelurahan Bontonompo

METODE PENELITIAN

B. Bentuk Pemberdayaan Masyarakat Pembuat Batu-bata di Kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten GowaBontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa

2. Peningkatan Keterampilan Terhadap Pengusaha Batu-Bata di Kelurahan Bontonompo

Keterampilan merupakan suatu nilai tambah yang dapat memberikan suatu keberhasilan dalam suatu produksi dalam suatu perusahaan termasuk pembuatan batu-bata sendiri, tanpa adanya keterampilan maka sulit untuk pengusaha dapat mengembangkan hasil produknya.

Berbicara masalah peningkatan keterampilan maka berikut wawancara dengan staf Lurah Bontonompo sebagai berikut:

“masalah keterampilan sebenarnya masyarakat disini sudah terampil karena keahlian membuat batu-bata sebenarnya sudah diperoleh sejak turun temurun dari orang tua mereka, sehingga untuk meningkatkan keterampilan membuat batu-bata tidak dibutuhkan lagi oleh masyarakat Bontonompo, yang dibutuhkan hanya bagaimana agar pengusaha batu-bata disini tetap bisa berdaya dan menghasilkan produk yang berkualitas dan diterima masyarakat (wawancara dengan AMD, 14 September 2014)”. Hasil wawancara dengan informan tersebut memberikan pernyataan bahwa program pemberdayaan dari peningkatan kapasitas tidak perlu lagi dikembangkan di Kelurahan Bontonompo. Karena, keahlian membuat batu-bata telah diperoleh secara autodidad yang diwariskan oleh para orang tua mereka, sehingga batu-bata yang dihasilkan merupakan hasil yang sudah berkualitas baik.

Keterangan dari informan tersebut memberikan pernyataan bahwa yang dibutuhkan oleh para pengusaha tersebut hanyalah media, media yang dimaksud adalah fasilitas untuk memperkenalkan sampai keluar daerah agar penjualan batu-bata ini dapat terus berkembang dimasyarakat. Jadi fungsi pemerintah hanyalah sebagai fasilitator agar bagaimana memberikan kesempatan kepada masyarakat agar dapat terus tumbuh bersama usaha batu-bata yang digelutinya sehingga ekonomi masyarakat juga dapat meningkat berkat adanya upaya yang dilakukan pemerintah tersebut.

Berikut wawancara dengan pengusaha pembuat Batu-bata mengenai upaya yang dilakukan dalam strategi meningkatkan hasil produksi yang lebih baik sebagai berikut:

“kami hanya bisa melakukan upaya dengan lebih mengedapankan kualitas agar usaha Batu-bata di Bontonompo semakin meningkat melalui bahan yang berkualitas karena tidak sembarangan tanah yang digunakan dalam pengolahan proses membuat Batu-bata ini (wawancara dengan DTA, 14 September 2014)”.

Berdasarkan dari hasil wawancara dengan informan diatas memberikan pernyataan bahwa dalam upaya meningkatan usaha produksinya langkah yang telah dilakukan oleh para pengusaha adalah megupayakan agar kualitas yang dihasilkan dapat lebih baik dan memberikan nilai lebih bagi masyarakat dan pengusaha.

Mengingat bahan yang digunakan dalam membuat bata bahannya tidak sembarang tanah. Karena jika tanah yang digunakan teksturnya tidak sesuai standar maka hasilnya akan mudah rusak, maka oleh sebab itu peningkatan kualitas harus tetap ditingkatkan. Pemberian bantuan oleh pemerintah kepada

pengusaha batu-bata sampai saat ini sangat dibutuhkan demi menumbuhkan usaha yang lebih berkembang agar tetap bisa bersaing dengan pengusaha bata dari luar.

Berbicara masalah upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, berikut wawancara dengan salah-satu staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan :

“sudah ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan keterampilan pengusaha batu-bata di Kelurahan Bontonompo diantaranya adalah peningkatan SDM para pekerja untuk menggunakan mesin pembuat batu-bata yang berupa alat canggih agar pengusaha mau beralih menggunakan alat atau mesin pembuat batu-bata untuk mengoptimalkan hasil olahan batu-bata (wawancara dengan ASG, 14 September 2014)”.

Hasil wawancara dengan informan tersebut memberikan pernyataan bahwa telah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan keterampilan pengusaha dalam mengola bahan batu-bata. Diantaranya adalah peningkatan Sumber Daya Manusia berupa pembelajaran-pembelajaran mengoperasikan mesin pengolah Batu-Bata agar masyarakat lebih tahu dan menguasai mesin pengola batu-bata yang bisa membantu mengurangi tenaga manusia dalam proses produksi pembuatan.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada pengusaha adalah bantuan alat produksi pembuatan batu-bata yang bermaksud untuk lebih mempercepat proses pembuatan agar meninggalkan cara lama dan menggunakan cara-cara yang modern agar mereka tidak ketinggalan jaman.

Menurut Usman (2012), masyarakat dengan kehidupan ekonomi kerajinan lazim dinyatakan sebagai bentuk perantara dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Para pengrajin tidak sekedar mempunyai keterampilan berdagang,

melainkan juga mulai menggunakan tenaga atau jasa pengrajin lain dalam produksi. Sistem hubungan kerja yang mereka kembangkan mulai bereferensi pada uang. Meskipun begitu, berbeda dengan masyarakat industri, sistem hubungan kerja antar-pengrajin tidak dibingkai oleh interaksi antara pemberi kerja dan pekerja. Para pengrajin pada umumnya memiliki peralatan dan tempat kerja sendiri. Mereka dapat membeli barang mentah sendiri dan kemudian menjual barang produksinya langsung pada konsumen. Dalam proses produksi, pengrajin bebas berkreasi dengan selera.

Masih mengenai peningkatan keterampilan dalam pengolahan batu-bata di Kelurahan Bontonompo berikut argumentasi dari Lurah Bontonompo sebagai berikut:

“Iya, pernah ada peningkatan cara pengolahan Batu-bata agar lebih baik dan mampu berproduksi lebih banyak dari sebelumnya, hanya saja program tersebut tidak bertahan lama karena hasil dari produksi tersebut tidak baik, pernah ada beberapa disini bantuan dari atas mesin pencetak batu-bata tetapi tidak berlangsung lama karena kurang disenangi oleh masyarakat (wawancara dengan MSP, 14 September 2014)”.

Informasi tersebut memberikan informasi bahwa pemerintah telah melakukan upaya pemberdayaan kepada pengusaha batu-bata hanya saja upaya tersebut tidak terlalu tepat. Pemberian bantuan yang dibrikan oleh pemerintah kurang memenuhi harapan masyarakat, karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat maka bantuan tersebut kemudian dikembalikan.

Masyarakat di Kelurahan Bontonompo lebih menyukai hasil kerja dengan tenaga manusia dibandingkan dengan mengguanakan alat atau mesin karena selain mereka telah terbiasa hasil dari mengolah dengan tangan dibandingkan dengan

hasil mesin sangat berbeda kualitasnya, karena jika mengguanakan mesin maka hasilnya tidak baik karena hasil campuran tanah tidak terlalu menyatu, sehingga kualitasnya tidak maksimal. Sedangkan jika menggunakan tangan adonan batu-bata yang dihasilkan lebih merata dan lebih kaut, inilah yang menjadi alasan utama pengusaha pembuat batu-bata bertahan pada cara yang lama karena ingin mempetahankan kualitas.

Berdasarkan dari hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan beberapa informan dapat disimpulkan bahwa program peningkatan keterampilan yang dilakukan oleh pemerintah belum tetap sasaran, karena masyarakat belum memiliki daya tarik untuk mengikuti pola yang telah di kembangkan pemerintah karena tidak sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan seperti: Teknologi yang ditawarkan belum sesuai dengan kebutuhan, dan masih jauh dari kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dana, dan peralatan) yang dimiliki masyarakat. Penyuluh masih belum bisa memenuhi kualifikasi yaang diharapkan, dan atau belum melaksanakan kegiatan penyuluhannya secara intensif untuk mengisi kesenjangan antara teknologi yang ditawarkan dan kemampuan masyarakat penggunanya.

3. Peningkatan sarana dan prasarana dalam tujuan pemberdayaan