PENYIAPAN RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
12.3 TINDAK LANJUT YANG DIPERLUKAN .1 Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi
12.3.5 Peningkatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan
Terkait dengan peningkatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya hutan, tindak lanjut yang perlu diupayakan adalah sebagai berikut:
(1) Penyelenggaraan RHL dan Reklamasi Hutan di DAS Prioritas, meliputi: (a) Mengurangi lahan kritis melalui rehabilitasi hutan dan lahan pada DAS Prioritas, baik didalam kawasan hutan maupun lahan kritis di luar kawasan hutan yang berfungsi lindung termasuk kawasan pantai dan mangrove, seluas 2.500.000 Ha; (b) Rehabilitasi hutan dan lahan serta pembuatan bangunan konservasi tanah di 14 DAS (Ciliwung, Citarum, Citanduy, Solo, Cisadane, Brantas, Progo, Kampar, Batanghari, Musi, Sekampung, Barito dan Saddang).
(2) Pengembangan Perhutanan Sosial meliputi: (a) Fasilitasi penetapan areal kerja pengelolaan HKm dan Hutan Desa seluas 2.500.000 Ha; (b) Dukungan dalam rangka ketahanan
12 - 46
pangan nasional di 32 Provinsi ; (c) Pengelolaan areal sumber benih seluas 4.500 ha dan pembangunan areal sumber benih seluas 6.000 Ha; (d) Pengembangan Seed For People 100 Lokasi; (e) Pembuatan dan berproduksinya Persemaian Permanen di 32 Provinsi
(3) Pengembangan Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman Rakyat, meliputi: (a) Percepatan izin areal HTR oleh Bupati; (b) Sosialisasi kepada masyarakat mengenai persyaratan dana pinjaman untuk pembangunan hutan tanaman yang diberikan oleh Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (P2H), penyempurnaan peraturan terkait dana pinjaman, penguatan kelembagaan dan koordinasi dengan para pihak.
(4) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahanuntuk mencapai Penurunan Jumlah Hotspot Kebakaran Hutan, meliputi: (a) Pencegahan, Pemadaman, Penanganan Pasca Kebakaran Hutan dan Rescue/Penyelamatan melalui pelatihan dan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), pembuatan ProyekContoh Pembukaan LahanTanpa Bakar (PLTB), kampanye dan penyuluhan, penyebaran leaflet, banner, spanduk, booklet dan kegiatan koordinasi serta bimbingan teknis di perusahaan pemegang ijin bidang kehutanan HPH, HPHTI; (b) Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Pengendalian Kebakaran Hutan dengan pemantapan organisasi brigade Manggala Agni, peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha pengurangan resiko mitigasi dan penanganan bahaya kebakaran hutan, revitalisasi sarana prasarana kebakaran di 30 DAOPS termasuk di non
-
DAOPS; (c) Penyusunan protap, juknis dan pedoman yang bersifat prioritas untuk mengarahkan dan mengintegrasikan kegiatan pengendalian kebakaran hutan mulai dari tingkat pusat hingga daerah; (d) Optimalisasi tugas pokok dan fungsi organisasi Manggala Agni sebagai pusat pengendali kebakaran hutan dan lahan didaerah.(5) Pembinaan Penyelenggaraan Pengelolaan DAS mendukung Peningkatan Pengelolaan DAS serta Pengelolaan Hutan dan
12 - 47 Lahan Gambut, meliputi: (a) Rencana pengelolaan DAS terpadu di 108 DAS Prioritas; (b) Penyediaan data dan peta lahan kritis di 36 BPDAS.
(6) Penataan Kawasan Konservasi Berbasis Resort.
Penataan kawasan konservasi berbasis resort adalah upaya untuk meletakkan pondasi yang kuat bagi efektifitas pengelolaan kawasan konservasi, sehingga pembagian resort di masing-masing kawasan konservasi menjadi prioritas untuk dilaksanakan. Pengelolaan berbasis resort pada prinsipnya adalah untuk mendorong pengelolaan yang didasarkan pada kondisi sosekbud, biofisik dan ekonomi yang spesifik di setiap resort. Diharapkan dalam 5 tahun ke depan, target yang akan dicapai adalah penetapan resort-resort pengelolaan di 51 TN Prioritas. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar setiap UPT taman nasional dapat menjalankan pengelolaan kawasannya secara efektif dan responsif terhadap berbagai persoalan yang mengancam eksistensi taman nasional. Untuk mencapai target tersebut, tindak lanjut melalui dukungan kegiatan-kegiatan operasional yang harus dilaksanakan antara lain berupa penetapan resort-resort pengelolaan, penyusunan Rencana Pengelolaan dan Zonasi, penataan batas taman nasional, penyelesaian pengukuhan kawasan konservasi hingga pengembangan sistem monitoring yang efektif dan berkelanjutan.
(7) Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi
Restorasi ekosistem didefinisikan sebagai upaya mengembalikan ekosistem kepada kondisi sebelum terjadi gangguan, berupa aktivitas yang sengaja dilakukan guna menginisiasi atau mempercepat pemulihan ekosistem terkait dengan kesehatan, integritas dan kelestariannya, Terkait dengan kegiatan restorasi ekosistem di kawasan konservasi ini, dalam 5 tahun kedepan akan dilaksanakan di 6 lokasi (dalam IKU Renstra KL hanya 4 kawasan konservasi), yaitu meliputi TN Gn Gede Pangrango; TN Gn Halimun Salak; TN. Gn Ciremai, TN Bromo Tengger Semeru, TN Sembilang dan TN Manapeu Tanadaru. Pemilihan lokasi/kawasan di dasarkan atas
12 - 48
kriteria: (1) kerusakan relatif berat sehingga pemulihan alami sangat sulit dilakukan, (2) bagian dari ekosistem unik yang memiliki nilai ekologis/fungsi yang sangat penting, (3) secara politis sangat penting bagi konservasi. Tujuan dari kegiatan restorasi ekosistem ini adalah untuk mengembalikan ekosistem agar memiliki fungsi yang mendekati atau bahkan menyamai kondisi awal alaminya; mengembalikan ekosistem agar memiliki sistem pengaturan diri yang terintegrasi secara ekologis dengan lanskap dalam ekosistem bersangkutan. Untuk mendukung tercapainya tujuan restorasi ekosistem, beberapa kegiatan operasional yang dapat di lakukan diantaranya penghutanan kembali di area-area terbuka, revegetasi di areal terganggu, re-introduksi spesies asli setempat, perbaikan habitat dan wilayah jelajah dan pemberantasan spesies dan gulma non-asli setempat yang invasif.
(8) Pembangunan Taman Nasional Sebagai Unit KPHK (Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi).
KPHK ditinjau dari aspek kawasan, tugas pokok dan fungsi, perencanaan, pendanaan dan pengelola adalah pada dasarnya diarahkan menuju pengelolaan taman nasional yang mandiri. Taman nasional sebagai unit KPHK ditunjuk/ditetapkan oleh Menteri Kehutanan berbasiskan pada daerah aliran sungai atau kesatuan ekosistem. Dalam rangka mewujudkan taman nasional yang mandiri saat ini sedang diusulkan pembentukan unit KPHK di 10 taman nasional, yaitu TN Berbak, TN Ujung Kulon, TN Halimun Salak, TN Tanjung Puting, TN Kutai, TN Meru Betiri, TN Alas Purwo, TN Bali Barat, TN Gunung Rinjani, TN Bunaken. Prakondisi yang perlu dipersiapkan dalam rangka percepatan pembentukan unit KPHK antara lain : percepatan tata batas, penyusunan Rencana Pengelolaan jangka panjang, menengah dan jangka pendek, penyusunan zonasi, penataan kawasan/pembentukan resort dan alokasi SDM hingga ke tingkat resort.
12 - 49 12.3.6 Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan
Dalam upaya peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan, maka perlu melakukan upaya untuk rehabilitasi, konservasi dan pengendalian/pengawasan sumber daya kelautan adalah sebagai berikut: (1) Pengembangan dan pengelolaan konservasi perairan melalui pengelolaan kawasan konservasi dan penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi, kerjasama konservasi nasional, regional, dan global; (2) Pengelolaan dan rehabilitasi mangrove dan terumbu karang dalam rangka menjaga ekosistem pesisir dan laut; serta (3) pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan melalui peningkatan sarana dan prasarana, kerja sama operasi dan penegakan hukum.
Selanjutnya, pendayagunaan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil, akan dilakukan melalui : (1) Penyusunan perencanaan penataan ruang laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil; (2) Pengembangan dan pengelolaan wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu, termasuk peningkatan kapasitas pengelolaan dan pengembangan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut; (3) Pendayagunaan pulau-pulau kecil, termasuk pulau-pulau kecil terdepan/terluar melalui peningkatan sarana dan prasarana dasar, identifikasi potensi dan pemetaan serta fasilitasi pengembangan investasi; serta (4) meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil riset dan informasi kelautan.
12.3.7 Peningkatan Kualitas Informasi Iklim dan Bencana Alam serta Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Tindak lanjut yang diperlukan dalam upaya peningkatan kualitas informasi iklim dan bencana alam serta kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim antara lain adalah (1) melanjutkan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta penanganan bencana dengan memperkuat inventarisasi gas rumah kaca, memperkuat infrastruktur dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terlibat; (2) memperkuat pembangunan sistem
12 - 50
informasi iklim dan cuaca; (3) memperkuat kerjasama dengan media lokal di tingkat Kabupaten/Kota untuk diseminasi dan sosialisasi informasi cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrim; (4) meningkatkan ketersediaan data dan informasi terkait dengan perubahan iklim, seperti mengembangkan peta kerentanan perubahan iklim sebagai upaya untuk memberikan informasi dini perubahan iklim kepada masyarakat serta meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat yang pada akhirnya dapat mengurangi dampak bencana yang ditimbulkan melalui tindakan nyata adaptasi di semua sektor; dan (5) peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan perubahan iklim melalui pengembangan kurikulum tentang materi perubahan iklim bagi kalangan pelajar, peningkatan pelatihan dan diklat kerjasama, serta berbagai upaya diseminasi informasi perubahan iklim.