• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Pendapatan Masyarakat oleh KSU Muara Baimbai Tabel 5.13

3. Sikap Kurang Peduli Terhadap Lingkungan

5.4 Peningkatan Pendapatan Masyarakat oleh KSU Muara Baimbai Tabel 5.13

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Perbulan

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 2 3 Dibawah Rp 1.000.000 Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 Lebih dari Rp 2.000.000 11 30 16 19,29 52,63 28,07 Jumlah 57 100

Sumber : Kuesioner, Februari 2017

Data yang disajikan pada tabel 5.13 memperlihatakan pendapatan yang diperoleh oleh responden setiap bulannya. Sebagian besar responden memperoleh pendapatan perbulan berkisar 1-2 juta, yaitu sebanyak 30 orang (52,63 %). Pendapatan yang didapat tidak hanya dari pekerjaan utama yang dilakukan responden tetapi juga dari pembagian sisa hasil usaha (SHU) koperasi.

Pembagian SHU hanya dilakukan sekali dalam setahun dan pembukuan akan dilakukan sebelum hari raya idul fitri tiba. Dalam proses pembagian SHU

koperasi muara baimbai, terdapat mekanisme pembagian SHU yang telah disepakati oleh setiap anggota koperasi, yaitu sebagi berikut :

a. 25% untuk cadangan,

b. 35% untuk anggota dengan perbangingan jasa/modalnya, c. 10% untuk dana pengurus,

d. 10% untuk dana pengawas,

e. 5% untuk insentif manager dan karyawan f. 5% unutk dana pendidikan,

g. 5% untuk dana sosial, dan

h. 5% untuk pembangunan daerah kerja.

Selain itu, KSU Muara Baimbai juga menerapkan sistem absensi bagi setiap anggota koperasi. Melalui sistem ini, setiap anggota koperasi akan dibayar sesuai dengan jumlah hari kerjanya. Pendapatan yang diperoleh setiap anggota koperasi dapat diambil secara harian maupun bulanan. Biasanya seorang anggota bekerja mulai dari pagi hingga sore hari akan mendapatakan gaji sebesar Rp 30.000 perhari sedangkan pada hari libur atau hari besar, gaji yang diperoleh dapat mencapai Rp 50.000 perhari. Anggota kelompok perempuan umumnya menabungkan hasil kerjanya dan akan diambil menjelang hari lebaran.

Tabel 5.14

Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Pendapatan

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 2 3 4 Nelayan Bertani Berdagang Lain-lain 30 6 12 9 52,63 10,52 21,05 15,78 Jumlah 57 100

Sumber : Kuesioner, Februari 2017

Tergabung sebagai pengelola ekowisata mangrove Kampoeng Nipah tidak menjadikan responden hanya berpaku pada pekerjaan ini. Responden menyatakan bahwa setiap anggota KSU Muara Baimbai tetap memiliki pekerjaan lain sebagai sumber pendapatan responden. Berdasarkan tabel 5.14 dapat diketahui bahwa ada beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh responden seperti nelayan, bertani, berdagang dan lain-lain. Sebagian besar responden menjadikan profesi nelayan sebagai pekerjaan utama mereka, yaitu sebanyak 30 orang (52,63%). Meskipun setiap responden memiliki pekerjaan utama, terdapat beberapa responden yang juga memiliki pekerjaan sampingan seperti buruh tani dan penjaga malam kawasan ekowisata mangrove Kampoeng Nipah.

Tabel 5.15

Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Memenuhi atau Tidak Kebutuhan Keluarga

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 2 3 Memenuhi Kurang memenuhi Tidak memenuhi 44 11 2 77,19 19,29 3,50 Jumlah 57 100

Sumber : Kuesioner, Februari 2017

Pada tabel 5.15 menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh sebagian besar responden mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun demikian, sebanyak 2 orang (3,50%) menyatakan bahwa pendapatan yang diperoleh tidak memenuhi kebutuhan keluarga. Beberapa alasan dikemukan responden seperti semakin meningkatnya kebutuhan harian dan jumlah tanggungan anak.

Tabel 5.16

Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan Pendapatan Selain Digunakan untuk Kebutuhan Sehari-hari

No Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 2 3 4 Memperbaiki perahu Pendidikan anak Tabungan masa depan Lain-lain 8 25 19 5 14,03 43,85 33,33 8,77

Jumlah 57 100 Sumber : Kuesioner, Februari 2017

Tabel 5.16 memperlihatkan bahwa pendapatan yang diperoleh responden tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk tetapi juga untuk beberapa keperluan lainnya. Sebanyak 25 orang (43,85%) menyatakan bahwa pendapatan yang diperoleh selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari juga digunakan untuk biaya pendidikan anak. Responden juga menyatakan pendapatan yang diperoleh juga dimanfaatkan sebagai tabungan masa depan, yaitu sebanyak 19 orang (33,33%). Tabungan tersebut nantinya dapat digunakan reponden ketika ada keperluan yang mendesak. Sementara itu, pilihan lain-lain dalam tabel 5.16 mengarah pada jawaban responden dalam penggunaan pendapatan selain kebutuhan sehari-hari seperti modal usaha dagang, biaya pengobatan, serta uang saku pribadi.

Keberaan kelompok dan KSU Muara Baimbai tidak hanya dianggap penting dalam pelestarian dan pengelolaan ekowisata tetapi juga membantu mampu mambantu masyarakat dalam peningkatan taraf hidup. Sebanyak 57 orang (100%) menyatakan bahwa mereka mengalami perubahan jumlah pendapatan setelah bergabung dengan kelompok. Jika sebelumnya responsen hanya dapat mengandalkan pendapatan dari pekerjaan utama saja, setelah keberadaan KSU Muara Baimbai responden dapat menambah penghasilan dengan terlibat dalam pengelolaan ekowisata mangrove Kampoeng Nipah. Selain itu, KSU Muara Baimbai juga memberikan pinjaman bagi anggota kelompok yang sedang membutuhkan. Dalam proses pengembalian pinjaman, responden mnyatakan bahwa pendapatan yang diperoleh akan dipotong berdasarkan jumlah pinjaman.

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data pada bab V, maka dapat disimpulkan bahwa:

Kawasan ekowisata mangrove Kampoeng Nipah di desa Sei Nagalawan dapat dikatakan sebagai salah satu kawasan ekowisata yang berhasil menerapkan pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat di Indonesia. Keterlibatan masyarakat menjadi poin penting dalam pengelolaan berbasis masyarakat. Awal pembentukan kawasan ekowisata ini dilatarbelakangi oleh kondisi hutan mangrove yang sudah rusak sehingga menurunkan hasil tangkapan nelayan tradisional. Menyikapi hal tersebut, kelompok nelayan Muara Baimbai dan kelompok perempuan nelayan Muara Tanjung berupaya mengadakan pelesatarian hutan mangrove serta membentuk Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baimbai yang selanjutnya menjadi pengelola kawasan ekowisata mangrove kampoeng Nipah.

Pelestarian yang dilakukan KSU Muara Baimbai tidak hanya sebagai upaya melindungi pantai tetapi juga memberikan dampak kepada masyarakat yang tergabung dalam koperasi. Berbagai kegiatan dilakukan KSU Muara Baimbai agar keberlangsungan kawasan ekowisata dapat terjamin. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata tidak hanya dinilai secara suka rela. KSU Muara Baimbai menerapkan sistem kerja bagi setiap anggota yang terlibat dalam pengelolaan ekowisata.

Adanya sistem pembagian kerja dalam proses pengelolaan ekowisata mangrove membuat setiap anggota mampu bekerja secara baik tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya. Selain itu, setiap anggota juga merasa adil dalam proses pembagian hasil berdasarkan sistem absensi. Bagi nelayan yang tergabung dalam proses pengelolaan ekowisata, keberadaan hutan mangrove juga memberikan dampak dengan meningkatkan hasil tangkapan. Jika dilihat secara keseluruhan, pendapatan responden mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik, terlihat dari terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga sejak bergabung dengan KSU Muara baimbai.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka saran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan pada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai agar meningkatan kualitas dan Kuantitas Prasarana dan sarana ekowisata di desa Sei Nagalawan seperti akses jalan dan angkutan wisata. Jika kedua hal tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang memadai, pariwisata di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai khusunya ekowisata mangrove Kampoeng Nipah dapat semakin berkembang dan banyak dikunjungi wisatawan.

2. Masyarakat sekitar ekowisata mangrove Kampoeng Nipah serta anggota KSU Muara Baimbai memiliki tanggung jawab yang sama terhadap keberadaan hutan mangrove. Untuk itu dibutuhkan kerja sama yang baik agar keberlangsungan ekowisata mangrove Kampoeng

Nipah dapat terjaga. Selain itu, kerja sama yang baik antar masyarakat dan anggota KSU Muara Baimbai diharapkan dapat mengurangi pungutan liar yang sering terjadi di kawasan ekowisata.

Dokumen terkait