KESEHATAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN
PENULARAN HIV & AIDS DARI IBU KE BAYI
Desak Putu Yuli Kurniati1), Lila Wulandari2), Ni Komang Ekawati3)
1P.S. Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Jl. P.B. Sudirman, Denpasar Telp/Fax : 0361 246657, 081290802144, E-mail: [email protected]
2P.S. Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Jl. P.B. Sudirman, Denpasar
3P.S. Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Jl. P.B. Sudirman, Denpasar
ABSTRAK
Tujuan program pendidikan kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap yang positif dari para kader kesehatan dalam melakukan pencegahan penularan HIV & AIDS dari ibu ke bayinya. Kegiatan ini berlokasi di Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali. Wilayah ini merupakan tempat wisata yang memiliki beberapa titik prostitusi. Kasus HIV & AIDS yang disumbangkan untuk Kota Denpasar cukup tinggi, namun pencegahan HIV & AIDS dari ibu ke bayi melalui VCT masih rendah (29,4%).
Sebanyak 38 kader kesehatan berpartisipasi dalam kegiatan ini, dimana 55.3% adalah ibu rumah tangga. Mereka
diambil dengan cara purposive sampling. Penilaian pendidikan kesehatan dinilai melalui kuesioner pre dan
post tes untuk melihat adanya peningkatan pengetahuan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dan perubahan kearah sikap positif (kerentanan, dan kesediaan untuk VCT
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan kader terkait pencegahan penularan ibu ke bayi, dari 64,18 (cukup) menjadi 72.76 (baik). Kerentanan diri terhadap risiko tertular HIV & AIDS juga meningkat dari 15.8% menjadi 26.3%. Kesediaan kader untuk melakukan tes VCT juga meningkat dari 44.7% menjadi 60.5%. Pendampingan diperlukan oleh para kader agar mereka bisa melakukan aksi untuk tes VCT dan menyebarkan informasi kepada ibu-ibu dilingkungan sekitarnya.
Kata kunci: Pencegahan, HIV & AIDS, ibu dan anak, kader kesehatan, pendidikan kesehatan
ABSTRACT
The objectives is to increase knowledge and positive attitude of the health cadress in the prevention mother to child HIV & AIDS transmission. This programs located in the village of Sanur Kauh, District of South Denpasar, Bali. This area is a tourist spot that has some point of prostitution. HIV and AIDS cases were donated to the city of Denpasar is quite high, but the prevention of HIV and AIDS from mother to child through VCT is still low (29.4%).
A total of 38 health cadres participated in this activity, of which 55.3% are housewives. They were taken by purposive sampling. Assessing the effectiveness of health education assessed through a questionnaire pre and post tests to see an increased knowledge of prevention of HIV transmission from mother to child and a positive attitude towards change (vulnerability and willingness to VCT)
The results show an increase in the average value of a cadre of knowledge related to prevention of mother-to-child, from 64.18 (enough) to 72.76 (good). The vulnerability tagainst the risk of contracting HIV and AIDS has also increased from 15.8% to 26.3%. Willingness cadres to carry out tests VCT has also increased from 44.7% to 60.5%. Assistance needed by the cadres so that they can take action to test VCT and disseminate information to the mothers in their environment.
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
dari segala bidang berkembang pesat, baik dari sector ekonomi dan pariwisata, termasuk bisnis hiburan seperti café, diskotik, hotel dan lainnya. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai tempat berbaurnya masyarakat lokal dan pendatang. Akulturasipun banyak terjadi dari perbauran berbagai kebudayaan tersebut, termasuk
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
gaya hidup masyarakat lokal yang mulai banyak mengikuti budaya luar. Perubahan perilaku kearah yang negatif akhirnya banyak terjadi, seperti seks bebas yang tidak aman. Kondisi tersebut makin membuat penyebaran penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV-AIDS makin meluas baik dikalangan risiko tinggi dan rendah.
Kelurahan Sanur merupakan salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Bali. Tempat ini menawarkan wisata pantai sebagai objek wisata yang utama. Hotel, penginapan, café, dan tempat hiburan banyak dijumpai di kawasan ini. Satu hal yang unik, di kawasan ini juga terdapat beberapa titik tempat lokalisasi para pekerja seksual yang sudah terkenal dari dahulu. Sebuah yayasan yang bergerak pada pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, yaitu Yayasan Kerti Praja (YKP), mencatat ada 8 lokasi prostitusi di Denpasar, mulai dari di wilayah Blanjong dan Semawang, Jl Danau Tempe, Carik (Ubung), Gatot Subroto, serta tiga lokasi di Padanggalak. Blanjong, Semawang, Danau Tempe dan Padanggalak termasuk dalam wilayah Sanur. Tempat-tempat tersebut belum termasuk bungalow, losmen, panti pijat, kafe, serta karaoke yang kadang menyediakan layanan seks terselubung.
Selama Desember 2005, di wilayah Blanjong dan Semawang,berhasil terjangkau 101 wanita pekerja seks (WPS) di 13 cluster.. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Januari 2005 yang hanya 93 WPS. Jumlah tersebut tidak seberapa bila dibandingkan dengan daerah Danau Tempe yang memiliki 28 cluster dengan 245 WPS dan menjadikannya sebagai lokasi yang paling tinggi transaksi seksnya di Bali. Tiga lokasi di Padanggalak (biasa diistilahkan Padanggalak bawah, Padanggalak atas, dan Padanggalak pasir), memiliki 192 orang WPS (Erviani, 2006). Tingginya aktifitas para WPS dan pelanggannya di wilayah- wilayah tersebut membuat kejadian PMS dan HIV-AIDS di Kelurahan Sanur ini, menjadi penyumbang terbanyak untuk wilayah Kota Denpasar. Kota Denpasar sendiri sebagai pusat kota di Bali menempati peringkat pertama untuk estimasi populasi kunci terbanyak yaitu sebesar 95.385 (Kemenkes, 2013). Denpasar juga berkontribusi terhadap 44,31% dari semua kasus HIV-AIDS yang ada di Bali (Dinas Kesehatan Propinsi Bali, 2011).
Trend penyebaran HIV-AIDS sekarang juga sudah mulai meluas dari WPS ke pelanggannya, dan dari pelanggan ini menyebarkan ke istrinya di rumah. Semua terjadi karena perilaku yang berisiko dan tidak aman. Data survei yang dilaksanakan YKP Bali menemukan perkiraan 80.000 laki-laki di Bali kontak seksual dengan PSP selama tahun 2012. 50% dari mereka yang sedang berlibur di Bali dan selebihnya yang menetap di Bali. Dari jumlah tersebut hanya 30% pelanggan yang menggunakan kondom (Wirawan, 2011). Hal ini tentunya meningkatkan risiko penularan ke ibu rumah tangga dan bayi. Kondisi ini tentu akan berdampak buruk terhadap generasi muda di kawasan ini. Sekitar 1,2 % ibu hamil juga ditemukan terinfeksi HIV, yang mengindikasikan kemungkinan ekspansi HIV sudah ke populasi umum, namun masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut (Wirawan, 2011). Ditambah pula dengan pengetahuan dan sikap warga di Kelurahan Sanur yang belum begitu bagus. Pada penelitian yang dilakukan olah Abhinaja dan Astuti tahun 2013 di Kelurahan Sanur, didapatkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu rumah tangga mengenai IMS dan HIV-AIDS masih tergolong sedang. Perilaku pencegahan merekapun belum begitu baik. Seperti contoh, ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HIV hanya 29,4% (dari 85 orang). Sebanyak 70,5% ibu- ibu yang terkena IMS, sekitar 10-13% nya masih menggunakan jamu dan membeli antibiotic sendiri untuk mengobati (Abhinaja& Astuti, 2013).
Menyikapi kondisi tersebut diatas perlu adanya upaya peningkatan pengetahuan dan penguatan sikap yang positif dari ibu-ibu di wilayah Sanur agar pencegahan penularan PMS dan HIV-AIDS bisa lebih optimal. Perubahan perilaku dapat terjadi kalau pengetahuan seseorang sudah cukup baik dan sikap mereka sudah positif untuk membentuk niat dan berperilaku (Green et all, 2005). Pemberdayaan masyarakat juga sangat penting, dan salah satunya bisa dimulai melalui kader kesehatan yang telah ada, untuk memaksimalkan proses penyebaran informasi dilapisan bawah.
Belum otimalnya tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan PMS dan HIV-AIDS pada ibu- ibu di Kelurahan Sanur memerlukan sebuah upaya pendidikan kesehatan yang berkesinambungan. Peran
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
lapisan paling bawah. Pendidikan kesehatan mengenai pencegahan PMS dan HIV-AIDS kepada para kader menjadi hal yang perlu untuk dilakukan demi keberlanjutan upaya pendidikan kesehatan di masyarakat.
2. BAHAN DAN METODE
Pendidikan kesehatan ini dilakukan kepada para kader kesehatan yang ada di Kelurahan Desa Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Bali. Metode yang digunakan untuk melihat efektifitas program ini adalah pre dan post test design. Hal yang dilihat adalah adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap sebelum dan setelah dilakukan intervensi pendidikan kesehatan terkait PMS dan HIV-AIDS. Hasil pre dan post test kemudian diolah menggunakan program SPSS 16 untuk menilai ada tidaknya perbedaan skor rerata setelah pendidikan kesehatan.
3. HASIL
Beberapa hal yang dilihat pada program pendidikan kesehatan ini berupa gambaran umum dari kader kesehatan di Desa Sanur Kauh, perbandingan pengetahuan dan sikap sebelum dan setelah kegiatan pendidikan kesehatan.
3.1 Gambaran Umum Kader Kesehatan
Para kader PKK yang hadir dalam kegiatan pengabdian berasal dari perwakilan banjar-banjar yang ada di Desa Sanur Kauh. Sebagian besar para kader PKK ini adalah ibu rumah tangga (55.3%), lainnya sebagai pegawai swasta, wirausaha dan kader jumantik (juru pemantau jentik). Tingkat pendidikan para kader PKK ini juga beragam dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, namun yang terbanyak adalah kader PKK dengan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat (65.8%). Sebagian kecil saja yaitu 15.8% dari peserta yang pendidikannya hanya pendidikan dasar 9 tahun. Rata-rata umur para kader PKK yang hadir dalam kegiatan pengabdian 37.8 tahun dengan umur termuda 26 tahun dan umur tertua 52 tahun. Mereka sudah menikah selama 2 – 28 tahun. Jumlah anak yang mereka miliki berkisar antara 0-5 orang, dan rata-rata memiliki 2 orang anak.
3.2 Gambaran Pengetahuan Kader Sebelum dan Setelah Kegiatan Pendidikan kesehatan
Berdasarkan hasil pre-test, Kader sebelumnya mengetahui informasi tentang HIV-AIDS dari petugas kesehatan (dokter/bidan/perawat/LSM) sebanyak 84,2%media elektronik (radio/televisi) sebanyak 68.4%; media cetak (surat kabar/majalah/tabloid/selebaran/poster) sebanyak 73.7%; media luar ruangan (spanduk/ baliho/billboard) sebanyak 23.7%; internet sebanyak 50%; teman sebanyak 31.6%; keluarga (orang tua/suami/istri) sebanyak 18.4%;. Dari data tersebut, tampak bahwa peran petugas kesehatan di wilayah ini cukup aktif dalam memberikan informasi kepada para kader \ terkait HIV-AIDS di wilayah mereka, sehingga cukup banyak yang menyatakan bahwa informasi mereka dapatkan dari petugas kesehatan.
Penilaian terhadap pengetahuan para kader sebelum sosialisasididapat dari pengisian kuesioner. Beberapa pertanyaan yang ditanyakan untuk mengetahui pengetahuan mereka diantaranya: pengertian mengenai HIV-AIDS; cara penularan HIV; cara mencegah HIV; tempat untuk melakukan tes HIV; manfaat kondom, cara penularan HIV dari ibu ke anak; dan cara pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Ada sebanyak 34 item poin benar yang dipakai untuk menilai pengetahuan para kader. Konversi untuk mengetahui tinggi atau rendahnya pengetahuan mereka menggunakan rentang poin sebagai berikut : A (75-100) tergolong sangat baik; B (65-74) tergolong baik, C (55-64) tergolong cukup, D (40-54) tergolong kurang; dan E (0-39) tergolong sangat kurang.
Hasil rata-rata pre-test pengetahuan para kader sebelum sosialisasi didapatkan sebesar 21.82, dimana nilai yang terendah 20.61 dan tertinggi 23.02. Nilai rata-rata ini kemudian dikonversikan, dimana nilai
21.82 setara dengan nilai 64.18 (termasuk kategori cukup). Begitu juga dengan nilai terendahnya yang masih tergolong cukup (60.62). Nilai tertinggi dari peserta saat pre-test sudah tergolong baik yaitu 67.71. Setelah pendidikan kesehatan mengenai HIV-AIDS dan pencegahannya, para kader kembali
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
21.82 menjadi 24.74. Skor rerata post-test apabila dikonversikan, tergolong dalam kategori baik (setara dengan nilai 72.76). Nilai tertinggi peserta adalah 26.14 (setara dengan nilai 76.88 yang tergolong kedalam kategori baik) dan nilai terendahnya 23.33 (setara dengan nilai 68.62 yang tergolong dalam kategori baik). Nilai terendah saat post-test tetap lebih tinggi dari nilai tertinggi saat pre-test. Nilai perbandingan skor rata- rata pre dan post tes dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Perbandingan Skor Rata-Rata Pengetahuan Kader PKK Sebelum dan Setelah Pendidikan kesehatan
Pengetahuan Skor Rata-Rata Interval (95%)
Sebelum Sesudah 21.82 24.74 20.61 – 23.02 23.33 – 26.14
Hasil perbandingan skor rerata pre dan post tes diatas menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader PKK mengenai HIV-AIDS dan PMTCT dibandingkan dengan sebelum pendidikan kesehatan. Hal ini dapat dilihat juga pada grafik berikut ini.
Pada poin cara pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, jumlah kader yang memilih jawaban benar juga meningkat dari sebelum edukasi. Kader yang menyatakan bahwa cara mencegah penularan infeksi HIV dari ibu ke anak melalui mengetahui status HIV ibu meningkat dari 47.4% menjadi 68.4%; meminum ARV (anti retro viral) kalau positif sedikit meningkat dari 42.1% menjadi 47.4%; melahirkan dengan operasi dari 18.4% menjadi 26.3%; dan dengan cara tidak memberikan air susu ibu meningkat dari 57.9% menjadi 68.4%.
Tabel 2. Proporsi Kader yang Menjawab Benar Mengenai Cara Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Cara Pencegahan Penularan HIV Sebelum % Sesudah % dari Ibu ke Anak
a) Mengetahui status HIV kita 18 47.4 26 68.4 b) Meminum ARV selama
kehamilan yang positif HIV 16 42.1 18 47.4 c) Melahirkan dengan operasi 7 18.4 10 26.3
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
3.3 Gambaran Sikap Kader Sebelum dan Setelah Kegiatan Pendidikan kesehatan
Seperti halnya pengukuran pengetahuan dari para kader terkait HIV-AIDS pada kegiatan ini, sikap mereka juga diukur baik sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan. Beberapa sikap kader yang dinilai adalah mengenai kerentanan diri terhadap infeksi HIV, kesediaan mereka untuk melakukan tes HIV jika merasa rentan serta kesediaan untuk menyebarkan informasi HIV-AIDS kepada orang lain.
Setelah pendidikan kesehatan, terjadi peningkatan rasa kerentanan diri dari para kader terhadap risiko tertular HIV sebelum dan setelah pendidikan kesehatan dari 15.8% menjadi 26.3%..
Tabel 3. Kerentanan Diri Kader Terhadap Risiko Tertular HIV
Kerentanan Diri Terhadap Risiko Sebelum % Sesudah % Tertular HIV
Ya 6 15.8 10 26.3
Tidak 20 52.6 14 36.8
Tidak Tahu 12 31.6 14 36.8
Total 38 100,0 38 100,0
Salah satu alasan terbanyak yang mendasari kerentanan terhadap risiko tertular HIV adalah perasaan bahwa pasangan hidup mereka tidak setia (23.7%). Beberapa kader juga g menyatakan bahwa dirinya rentan karena pernah menggunakan narkoba suntik sebanyak 10.5%.
Kesediaan para kader untuk melakukan screening HIV dengan melakukan tes VCT mengalami peningkatan dari 44.7% menjadi 60.5%. hal tersebut menunjukkan sudah ada perubahan sikap kearah sikap positif terhadap upaya awal pencegahan dan penanganan HIV. Dari semua peserta yang hadir, ada sebanyak 11 orang (28.9%) yang sudah pernah melakukan tes VCT sebelumnya
Tabel 4. Kesediaan Kader Melakukan Tes HIV
Kesediaan Melakukan Tes HIV Sebelum % Sesudah %
Ya 17 44.7 23 60.5
Tidak 21 55.3 15 39.5
Total 38 100,0 38 100,0
Kesediaan para kader untuk menyebarkan informasi HIV-AIDS juga meningkat dari 73.7% menjadi 94.7%. Sikap yang baik menjadi bertambah baik setelah pendidikan kesehatan kesehatan. Hanya sedikit yang tetap tidak mau menjadi agent untuk menyebarkan informasi yaitu 5.3%. Secara lebih lengkap dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 5. Kesediaan Menyebarkan Informasi HIV-AIDS baik Sebelum dan Sesudah Pendidikan kesehatan
Kesediaan Menyebarkan Informasi Sebelum % Sesudah % Pencegahan HIV
Ya 28 73.7 36 94.7
Tidak 10 26.3 2 5.3
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
4. PEMBAHASAN
Pengetahuan merupakan hasil tahu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Sebuah perilaku yang langgeng terbentuk karena adanya pengetahuan. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003). Upaya pendidikan kesehatan yang dilakukan di Desa Sanur Kauh ini merupakan sebuah upaya untuk membuat para ibu mengetahui dan memahami mengenai HIV-AIDS serta cara untuk mencegah penularan kepada bayinya.
Selain pengetahuan, factor lainnya yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah sikap. Sikap merupakan salah satu unsur kepribadian yang harus dimiliki seseorang untuk menentukan tindakannya dan bertingkah laku terhadap suatu objek disertai dengan perasaan positif dan negatif (Azwar, 2005). Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Manifestasikan sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap objek atau subjek. Sikap individu sangat erat kaitannya dengan perilaku mereka. Jika faktor sikap telah mempengaruhi ataupun menumbuhkan sikap seseorang, maka antara sikap dan perilaku adalah konsisten. Sikap yang diharapkan terbentuk dari intervensi pendidikan kesehatan ini adalah sikap positif yang dapat memahami kerentanan diri terhadap bahaya HIV, setuju untuk melakukan tes bila diri merasa rentan serta bersedia untuk menyebarluaskan pengetahuan yang telah mereka dapatkan.
Pengetahuan dan sikap sejalan dalam mebentuk perilaku seseorang. Perilaku yang diharapkan dari upaya pendidikan kesehatan ini adalah kesediaan para kader menyebarluaskan informasi dan melakukan tes HIV saat hamil ataupun saat merasa rentan terinfeksi. Upaya pencegahan ini merupakan salah satu tujuan Word Health Organization (WHO) dalam menurunkan infeksi HIV pada bayi dan meningkatkan ketahanan hidup ibu, bayi dan anak yang terkena HIV (WHO, 2009). Pencegahan penularan dari ibu ke bayi, salah satunya dengan mengetahui status HIV dari ibu. Bila kehamilan terjadi saat ibu sudah terinfeksi, sangat penting untuk menurunkan viral load dibawah 1000 agar bayi tidak tertular dalam kandungan (spiritia, nd). Upaya lainnya yang dapat dilakukan dengan mengurangi kontak cairan ibunya dengan bayi waktu lahir dan menghindari menyusui. Hal tersebut dapat menurunkan kemungkinan infeksi pada bayi dibawah 8% (Spiritia, nd). Berdasarkan hal tersebut sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan sikap positif para kader yang nantinya menjadi agent perubahan di masyarakat ini akan pentingnya pencegahan dari ibu ke bayi. Mendeteksi secara dini sehingga pencegahan penularan ke bayi dapat segera dilakukan.
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu strategi dalam promosi kesehatan yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan sikap seseorang. Dari hasil intervensi di Sanur Kauh juga tampak bahwa pendidikan kesehatan ini meningkatkan pengetahuan dan sikap subjek yang diintervensi. Sedikit kelemahan dalam intervensi ini adalah tidak ada control dan memerlukan monitoring serta pendampingan lebih lanjut kepada kader agar bisa meneruskan informasi ke masyarakat dan membuat pengetahuan yang mereka miliki bertahan lebih lama.
5. KESIMPULAN
Secara umum, pengetahuan kader terkait HIV-AIDS sudah cukup bagus dan bertambah baik lagi setelah dilakukan pendidikan kesehatan kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari perubahan skor dari per tes dan post tes. Pengetahuan yang ada pada kader terkait langsung dengan sikapnya. Pengetahuan yang baik akan sebuah informasi, dalam hal ini HIV-AIDS dan PMTCT, membentuk sikap positif pula kepada mereka saat menghadapi kondisi HIV-AIDS baik pada diri sendiri ataupun orang lain .
Beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti adalah bagaimana peran aktif para kader nantinya dalam upaya screening dan menyebarkan informasi di sekitarnya setelah pendidikan kesehatan berlangsung. Pendampingan dan evaluasi sangat diperlukan untuk keberlanjutan program pencegahan HIV-AIDS di
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis ucapkan kepada Kepala Desa Sanur, Kepala Lingkungan dan Kader Kesehatan di Desa Sanur Kauh atas partisipasinya dalam kegiatan edukasi kesehatan dalam upaya pencegahan penularan HIV-AIDS dari ibu ke anak.
7. DAFTAR PUSTAKA
Abhinaja, G.W. & Astuti, P.S. (2013). `Pengetahuan, Sikap Ibu Rumah Tangga Mengenai Infeksi Menular Seksual Termasuk HIV/AIDS Serta Perilaku Pencegahannya di Kelurahan Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Tahun 2013`. Journal Community Health Vol 1 No 3, Juli 2013. Denpasar : PS IKM Udayana
Azwar, S. (2005). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Dinas Kesehatan Propinsi Bali (2011). Data HIV-AIDS 2011. Denpasar
Erviani, K. (2006). Lokalisasi Ada Di Seluruh Bali. Denpasar : Warna-Warni Bali. Access: http:// warnawarnibali.wordpress.com/2006 last update: 5 April 2014
Gerungan, WA. (2000). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan situasi perkembangan HIV-AIDS di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. (2008). Pemberdayaan perempuan dalam pencegahan penularan HIV-AIDS. Jakara: Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kantor Desa Sanur Kauh (2013). Profil Desa Sanur Kauh . Sanur- Denpasar, Bali
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Wirawan, D. N. (2011). Surveillance on HIV: Lessons Learned from Bali. Paper yang dipresentasikan dalam International Seminar on Evidence-Based Programmes for Reproductive Health and HIV Interventions. Sanur-Bali.
WHO. (2009). PMTCT Strategic Vision 2010-2015. Access: www.who.int last up date: 5 April 2014 Spiritia. (Nd). Pencegahan Penularan dari Ibu ke Bayi (PMTCT). Access: www.spiritia.or.id last up date: