TINJAUAN PUSTAKA
3. Peningkatan profesionalisme guru
Suyanto dan Hisyam menyatakan bahwa guru di masa mendatang harus dinamis dan kreatif dalam mencari dan memanfaatkan sumber-sumber informasi. Hal itu perlu dilakukan karena karena di era globalisasi, arus informasi dapat muncul dari berbagai media. Akibatnya, guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling tahu berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini.
Guru di masa depan bukan lagi satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah peserta didiknya. Dampak akademik dari keadaan ini adalah ilmu dan pengetahuan yang dimiliki guru semakin cepat usang. Dampak pedagogiknya adalah semakin terbukanya jalan bagi peserta didik untuk mencari pembenaran terhadap suatu pengetahuan yang bersumber dari media informasi selain guru. Guru yang tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi seperti ini dan tidak berusaha mengakses untuk memperbaharui pengetahuannya, maka ia dapat terpuruk secara profesional. Kondisi seperti itu jika benar-benar terjadi pada seorang guru maka ia akan kehilangan kepercayaan, baik dari siswa, orang tua siswa, maupun masyarakat.
Mengantisipasi tantangan profesional seperti itu, maka guru perlu berpikir antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Guru perlu memanfaatkan organisasi atau forum profesi secara efektif. Organisasi profesi guru, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dapat dimanfaatkan oleh guru untuk
mengadakan berbagai kegiatan yang berorientasi kepada proses pembaruan ilmu dan pengetahuan.
Forum guru sejenis seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) menurut Suyanto dan Hisyam (2000:34), perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan profesionalitas guru. Guru yang hanya berjuang secara individual dapat tertinggal dari spektrum perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya jika guru dapat bekerjasama dengan orang-orang seprofesinya dalam wadah dan organisasi profesi yang fungsional, ia akan dapat meningkatkan profesionalitasnya secara sinergis.
Saling ketergantungan profesional merupakan ciri penting dalam kehidupan abad informasi. Guru sebagai profesi harus bersatu padu menghadapi tantangan profesi di masa mendatang agar dapat menegakkan citra profesi. Lebih dari itu, di era globalisasi sekarang ini, guru harus melakukan reformasi dan inovasi terhadap pembelajarannya secara terus-menerus. Upaya untuk melakukan reformasi dan inovasi ini membutuhkan dukungan empiris yang dihasilkan dari kegiatan penelitian. Merujuk pada hal tersebut, maka pemahaman guru terhadap proses dan hasil penelitian sangat menunjang profesionalismenya sebagai guru.
Pemahaman terhadap proses, prinsip, dan metode penelitian oleh guru sangat penting, sebab jika tidak mereka akan terisolasi dari pengetahuan dan informasi mutakhir. Dukungan dari penelitian sangat menunjang upaya reformasi dan inovasi pembelajaran. Guru masa depan harus mengerti dan memahami prinsip dan metode penelitian agar mereka mampu menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk mendukung kinerjanya dalam proses pembelajaran yang efektif.
Keterampilan-keterampilan tersebut harus diupayakan pemilikannya pada guru. Tujuannya adalah mengantisipasi tugas guru ke depan yang menurut Roqib dan Nurfuadi (2009:171) semakin berat seiring dengan transformasi sosial yang semakin cepat. Kompetensi profesional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah dalam menyikapi pentingnya kompetensi profesional tersebut telah mengeluarkan Undang-Undang Guru dan Dosen yang bahkan tidak hanya mensyaratkan pemilikan kompetensi profesional oleh seorang guru tetapi juga kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogis, dan kompetensi sosial.
Kebijakan pemerintah ini dilakukan dalam rangka mempertahankan atau bahkan meningkatkan profesionalisme guru. Kebijakan atau upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan sertifikasi guru. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai konsekuensi dari keputusan menjadikan guru sebagai suatu profesi.
Konsekuensi yang lain bagi pemerintah adalah wajib memfasilitasi proses dan aktivitas pengembangan keahlian profesi bagi guru. Aktivitas tersebut dapat berbentuk pendidikan lanjut, pelatihan berkala, seminar, workshop,dan lain-lain. Bentuk-bentuk pengembangan profesi tersebut oleh pemerintah diharapkan dapat menfasilitasi dari sisi kesempatan, perizinan, dan pendanaan.
Menjadikan guru sebagai suatu profesi, tidak hanya membawa konsekuensi bagi pemerintah, tetapi juga berbagai konsekuensi pada guru. Konsekuensi dimaksud, yakni guru harus mematuhi kode etik, melaksanakan mandat publik, serta memiliki keahlian profesi yang terukur dan teruji sesuai fungsi dan perannya.
Menyikapi konsekuensi tersebut, guru harus selalu siap dengan implikasinya yang mungkin saja mengharapkan pengorbanan dalam bentuk dana atau waktu. Mengikuti pelatihan, seminar, dan workshop misalnya membutuhkan biaya dan harapannya guru dapat memenuhinya tanpa paksaan dari pihak tertentu, misalnya dari atasan, tetapi dilakukan berdasarkan kesadaran sendiri. Guru harus berupaya mewujudkan konsep pendidikan sepanjang hayat ini agar tidak hanya menjadi slogan yang diucapkan di hadapan siswanya.
Konsep pendidikan sepanjang hayat tersebut jika diwujudkan oleh seluruh guru maka penjaminan mutu pendidikan akan terkendali. Seluruh pekerjaan yang dilakukan tidak lagi karena paksaan atau perintah atasan, tetapi telah menjadi kesadaran diri yang tinggi dan menjadi komitmen dalam diri guru untuk melaksanakannya.
Menjadikan guru profesional memang tidak bergantung kepada guru saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan pemerintah. Masyarakat disatu sisi diharapkan memberi ruang bagi guru untuk mewujudkan dirinya menjadi profesional, di sisi lain pemerintah dengan segala kebijakannya mendukung dan memfasilitasi guru untuk menjadi profesional melalui berbagai kegiatan seperti pendidikan lanjutan, pelatihan-pelatihan, workshop, dan lain-lain.
Alasan penting lain yang mendasari mengapa guru harus terus dikembangkan profesionalitasnya adalah guru bukan hanya sekadar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pengetahuan (mata pelajaran) tertentu, tetapi mereka adalah anggota masyarakat yang juga bertanggung jawab mengarahkan
perkembangan anak didiknya menjadi manusia yang siap untuk hidup di tengah masyarakat.