BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Penjabaran Anggaran dan Realisasi dalam Pengelolaan
Kewenangan pemerintah desa dalam menerapkan akuntansi desa sudah jelas tercantum dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan desa yang menetapkan bahwa akuntansi desa berpedoman pada akuntansi pemerintahan. Dalam menerapkan akuntansi desa terdapat laporan yang menunjukkan seperti apa penerapan laopran dari suatu desa yaitu laporan APBDesa dan realisasi , dimana laporan APBDesa menjadi acuan penganggaran dan realisasi menjadi laporan yang menjadi bukti sebuah desa sudah menjalankan kegiatan desa berdasarkan Anggaran yang dibuat.
Keuangan desa yang tercermin dalam APBDesa menunjukkan adanya kewenangan pemerintah desa dalam membiayai kegiatan pemerintahan. Setiap tahun, kepala desa menetapkan APBDesa melalui musyawarah bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). APBDesa disusun oleh sekretaris desa berdasarkan pada Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDesa). APBDesa merupakan rencana keuangan, terdiri dari bagian pendapatan, belanja, dan pembiayaan desa telah dilakukan perubahan bentuk yang awalnya tidak dilakukan penjabaran mengenai kegiatan, waktu dan rinciannya sehingga dilakukan perubahan dengan
melakukan perincian, Laporan APBDesa merupakan laporan yang dibuat sebagai tombak dalam pencaian dana desa.
Dalam hal penganggaran dicantumkan dalam Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) yang didalamnya terdapat laporan mengenai pendapatan desa, pembiayaan, belanja, silpa, surflus/deficit. Sepeti yang tercantum dalam ringkasan laporan APBDes Desa Sappa pada tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 5.1
Ringkasan Laporan APBDesa KODE REK URAIAN ANGGARAN KETERANGAN (Rp) 1 2 3 4 1 Pendapatan Pendapatan Asli Desa 4.000.000,00
Hasil Aset Desa 4.000.000,00
Pendapatan Transfer 1.249.786.864,04
Dana Desa 848.156.534,00 Bagi Hasil Pajak dan Retribusi 35.060.652,04 Alokasi Dana Desa 366.569.678,00
Jumlah Pendapatan 1.253.786.864,04
2 Belanja
Belanja Desa 1.283.700.159,74 Belanja Pegawai 154.440.000,00 Belanja Barang dan Jasa 69.580.904,00 Belanja Modal 1.059.679.255,74
Jumlah Belanja 1.283.700.159,74
Surplus/(Defisit) (29. 913.295,70)
3 Pembiayaan
Penerimaan Pembiayaan 54.913.295,70 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Tahun Sebelumnya
54.913.295,70
Pengeluaran Pembiayaan 25.000.000,00 Penyertaan Modal Desa 25.000.000,00
Jumlah Pembiayaan 29.913.295,70
Sisa Lebih/(Kurang)
Perhitungan Anggaran
0,00
Dari ringkasan laporan APBDesa pada tabel 5.1 menjabarkan bahwa laporan tersebut memberikan informasi terkait pos-pos yang tercantum dalam PSAP tentang penjabaran laporan yang memuat tentang pendapatan,
pembiayaan, belanja, surplus/defisit, dan silpa. Hal ini menunjukkan bahwa desa Sappa dalam menerapkan pencatatan mengenai akuntansi pemerintahan yang menjadi indikator dari akuntansi desa sudah memenuhi standar akuntansi pemerintah.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari anggaran keuangan desa perlu adanya bukti realisasi atas apa yang sudah dianggarkan. Dalam keuangan desa yang menjadi laporan pertanggungjwaban terkait kegiatan yang dilaksanakan yaitu laporan realisasi. Laporan realisasi berdasarkan peraturan desa Sappa Nomor 01 tahun 2017 tentang penjabaran realisasi pelaksanaan anggaran pendapatan belanja desa tahun anggaran 2017 berisi pendapatan, belanja, surflus/ defisit, pembiayaan dan silpa. Perbedaan dari APBDesa mengenai laporan realisasi terlihat pada penjabaran dari laporan realisasi itu sendiri yang lebih rinci terhadap segala kegiatan yang dilakukan yang dapat dilihat pada laporan realisasi itu sendiri pada lampiran.
Secara ringkas, laporan realisasi dari kegiatan yang dilakukan di Desa Sappa dapat dilihat dalam tabel 5.2 berikut:
Tabel 5.2
Ringkasan Laporan Realisasi desa Sappa tahun 2017 KODE
REK URAIAN
ANGGARAN REALISASI LEBIH/(KURANG)
(Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5
1 Pendapatan
Pendapatan Asli Desa 4.000.000,00 4.000.000,00 0,00 Hasil Aset Desa 4.000.000,00 4.000.000,00 0,00
Pendapatan Transfer 1.249.786.864,04 1.249.786.864,04 0,00
Dana Desa 848.156.534,00 848.156.534,00 0,00 Bagi Hasil Pajak dan Retribusi 35.060.652,04 35.060.652,04 0,00 Alokasi Dana Desa 366.569.678,00 366.569.678,00 0,00
Jumlah Pendapatan 1.253.786.864,04 1.253.786.864,04 0,00
2 Belanja
Belanja Desa 1.283.700.159,74 1.281.318.900,00 2.381259,74 Belanja Pegawai 154.440.000,00 154.440.000,00 0,00 Belanja Barang dan Jasa 69.580.904,00 68.061.000,00 1.519.904,00 Belanja Modal 1.059.679.255,74 1.058.817.900,00 861.355,74
Jumlah Belanja 1.283.700.159,74 1.281.318.900,00 2.381.259,74
Surplus/(Defisit) (29. 913.295,70) (27.532.035,96) (2.381.259,74)
3 Pembiayaan
Penerimaan Pembiayaan 54.913.295,70 54.913.295,70 0,00 Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun Sebelumnya
54.913.295,70 54.913.295,70 0,00 Pengeluaran Pembiayaan 25.000.000,00 25.000.000,00 0,00 Penyertaan Modal Desa 25.000.000,00 25.000.000,00 0,00
Jumlah Pembiayaan 29.913.295,70 29.913.295,70 0,00
Sisa Lebih/(Kurang) Perhitungan Anggaran
0,00 2.381.259,74 (2.381.259,74)
Pada laporan realisasi yang tercantum dalam tabel 5.2 menunjukkan bahwa penjabaran terkait pos-pos yang dihadirkan sudah memenuhi standar akuntansi pemerintah, sama halnya dengan laporan APBDesa yang sudah memenuhi standar akuntansi pemerintah. Namun pada laporan tersebut menunjukkan bahwa desa Sappa dalam tahun 2017 mengalami kekurangan dari anggaran desa yang memiliki selisih sebesar Rp. 2.381.259,74 sehingga dapat disimpulkan bahwa desa Sappa masih mengalami kekurangan dalam menaksir anggaran desa sehingga dana yang diperlukan saat realisasi mengalami kekurangan.
Tahapan-tahapan siklus pencatatan atas laporan APBDesa antara lain : 1. Tahap Pencatatan bukti transaksi ke Buku Besar
Setiap transaksi yang terjadi baik yang terkait dengan penerimaan pendapatan pengeluaran belanja, dan penerimaan/pengeluaran pembiayaan dicatat pada Buku Kas Umum. Selanjutnya atas transaksi-transaksi yang telah dilakukan pencatatannya di bukukan ke dalam buku besar dan buku besar pembantu yang sesuai.
Contoh :
a) Pada tanggal 13 Mei 2017 diterima Pendapatan Asli Desa yang berasal dari Hasil Usaha sebesar Rp 4.000.000 yang dicatat berdasarkan bukti Penerimaan Nomor P-001, maka transaksi tersebut akan di catat pada Buku Kas Umum sebesar Rp 4.000.000 pada kolom Penerimaan. Selanjutnya atas transaksi tersebut akan dicatat pada Buku Besar “Pendapatan Asli Desa” dan Buku Besar Pembantu “Hasil Usaha”.
b) Pada tanggal 17 Mei 2017 dibeli alat tulis kantor (ATK) untuk Operasional Kantor senilai Rp 3.000.000 yang dicatat berdasarkan Bukti Pengeluaran Nomor B-001, maka transaksi tersebut akan dicatat pada Buku Kas Umum sebesar Rp 3.000.000 pada kolom pengeluaran. Selanjutnya atas transaksi tersebut akan dicatat pada Buku Besar “Belanja Operasional Perkantoran” dan Buku Besar Pembantu “Belanja barang dan jasa (ATK)”.
2. Tahap Pengikhtisaran Buku Besar ke Laporan Pertanggungjawaban Realisasi APBDesa
Setelah seluruh transaksi dicatat pada Buku Kas Umum dan Buku Besar, tahap berikutnya adalah tahap pengikhtisarannya dari Buku Besar ke Neraca Saldo. Pencatatan ke Neraca Saldo dilakukan untuk meyakinkan bahwa proses yang telah dilakukan pencatatannya dengan benar (pengecekan debit dan kreditnya sudah seimbang). Dengan dibuatnya neraca saldo maka akan memudahkan dalam penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Realisasi APBDesa.
3. Tahap Pelaporan
Tahap ini merupakan tahap akhir dari siklus akuntansi. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu membuat Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa. Laporan ini berisi jumlah anggaran dan realisasi dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan dari pemerintah desa yang bersangkutan untuk tahun anggaran tertentu.
Adapun mekanisme pencatatan pada Pengelolaan Keuangan Desa sebagai berikut :
1) Pencatatan Transaksi Pendapatan a. Pendapatan Asli Desa (PADesa)
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas penerimaan pendapatan yang berasal dari Hasil Usaha; Hasil Aset; Swadaya/Partisipasi/Gotong Royong ; lain-lain pendapatan asli desa. b. Transfer
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas penerimaan pendapatan yang berasal dari Dana Desa; bagian dari Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kabupaten/Kota; Alokasi Dana Desa
(ADD); Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi; Bantuan Keuangan APBD Kabupaten/Kota.
c. Pendapatan Lain-Lain
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas penerimaan pendapatan yang berasal dari Hibah dan Sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat; dan lain-lain pendapatan Desa yang sah. 2) Pencatatan Transaksi Belanja
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan atas belanja yang dilakukan berdasarkan pada kelompok : Penyelenggaraan Pemerintahan Desa; Pelaksanaan Pembangunan Desa; Pembinaan Kemasyarakatan Desa; Pemberdayaan Kemasyarakatan Desa; dan Belanja Tak Terduga. Masing-masing kelompok ini dalam pelaksanaannya dilakukan melalui Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, dan Belanja Modal.
3) Pencatatan Transaksi Pembiayaan a. Penerimaan Pembiayaan
Pada kelompok ini dicatat penerimaan pembiayaan yang berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA); Pencairan Dana Cadangan; Hasil Penjualan Kekayaan Desa yang dipisahkan.
b. Pengeluaran Pembiayaan
Pada kelompok ini dicatat pengeluaran pembiayaan yang digunakan untuk Pembentukan Dana Cadangan, dan Penyertaan Modal Desa. Khusus untuk Dana Cadangan, penempatannya pada rekening tersendiri dan penganggarannya tidak melebihi tahun akhir masa jabatan Kepala Desa.
Pada kelompok ini dilakukan pencatatan yang mempengaruhi posisi aset, kewajiban, dan kekayaan bersih pemerintah desa pada akhir tahun anggaran yang bersangkutan (per 31 Desember). Dilakukan pencatatan untuk transaksi yang mencerminkan hak dan kewajiban dari pemerintah desa pada akhir tahun anggaran berupa pencatatan piutang ataupun hutang.