Pasal 29 ayat (2) menentukan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat
2. Penjabaran Konsitusi RI Tentang Kebebasan Beragama Yang Dianggap Bermasalah
2.1. Undang Undang Nomor 1/PNPS/1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama
UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama161
161 UU Nomor 1/PNPS/1965 berpangkal dari penetapan presiden (penpres). Penpres bukanlah bentuk perundang-undangan sebagaimana diakui UUD 1945, melainkan suatu bentuk hukum “jadi-jadian” yang pembentukannya diklaim Soekarno menjadi wewenangnya. Lewat Surat Presiden Nomor 2262/Hk/59, 20 Agustus 1959, kepada DPR, disusul dengan Surat Nomor 3639/Hk59, 26 November 1959, Soekarno mendalilkan klaimnya itu sebagai buah dari kewenangan luar biasa yang ia tuai berkat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, selengkapnya lihat, Mahfud MD, Kebebasan Beragama dalam Perspektif Konstitusi, Loc. Cit, Hal.14.
misalnya, adalah salah satu yang banyak dikritisi. Aturan itu pada pokoknya melarang melakukan penafsiran dan kegiatan keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama. Ketentuan itu jelas mengisyaratkan negara melindungi warga negara Indonesia melalui perlindungan atas
penyalahgunaan dan penodaan agama, dan pada saat bersamaan melarang aliran agama lain itu untuk tidak membuat penafsiran di luar ajaran yang konvensional.
Aturan itu selain dianggap bertentangan dengan semangat kebebasan beragama menurut konstitusi, juga dinilai sebagai bentuk intervensi negara yang sebenarnya tidak perlu. Munculnya UU No. 1/PNPS/1965 perlu ditelisik sungguh-sungguh karena UU ini menjadi landasan yuridis utama bagi banyak UU dan peraturan lain di bidang keagamaan. Apalagi pasal 4 UU No. 1/PNPS/1965 menambahkan “delik agama” pada KUHPidana (pasal 156a) yang punya implikasi sangat penting.
Telah banyak gagasan yang muncul bahwa perihal agama atau penodaan agama tidak perlu diatur oleh negara. Atau dengan kata lain negara tidak semestinya mencampuri urusan keyakinan warga negaranya. Kebijakan pemerintah yang hanya mengakui enam agama membuat para penganut agama lain tidak mendapatkan hak-hak sipil mereka sebagai warga negara. Malah ada yang berkata kehidupan agama di Indonesia lebih baik bila tanpa negara. Artinya, negara tidak perlu ikut campur mengatur kehidupan beragama sebab negara justru membuat kehidupan agama menjadi tidak baik.
Argumen yang mendukung gagasan itu, negara harus bersikap netral terhadap semua agama dan tak boleh melarang timbulnya suatu aliran kepercayaan atau agama apapun. Kalau ada suatu kelompok yang misalnya ingin mendirikan agama sendiri, itu tidak bisa dilarang oleh negara. Menurut pendukung gagasan ini ketentuan yang menunjukkan intervensi negara terhadap sebagaimana UU No. 1/PNPS/1965 tidak
lagi diperlukan. Kebebasan berpikir dan berkeyakinan adalah hak yang melekat, tidak boleh dibatasi, tidak dapat ditunda, dan tidak patut dirampas.162
Kendatipun kebebasan berpikir dan berkeyakinan adalah hak yang melekat, tidak boleh dibatasi, tidak dapat ditunda dan tidak dapat dirampas, namun, baik konstitusi maupun konvensi-konvensi internasional tetap melakukan pembatasan-pembatasan terhadap pelaksanaan hak tersebut. Sebab, tanpa aturan dari negara, akibatnya bukan tidak mungkin tindak-tindak kekerasan justru meruak. Sebab, sensitifitas seseorang terhadap agama sangat besar, terutama ketika agamanya dikritik apalagi dinodai. Tidak adanya aturan justru akan membuka peluang lenturnya penafsiran tentang apa yang dikatakan sebagai penodaan agama. Orang akan dengan mudah membuat aturan yang semata-mata disandarkan pada subyektifitas dan menurut ajaran agama masing-masing, dengan standar keyakinan yang tentu berbeda.
Akan dengan mudah terjadi fenomena menghukum mereka yang dianggap sesat dan atau tidak sesuai mainstream, dengan dalih dan cara-cara yang diperintahkan agama.
.
Akan tetapi didalam konteks hukum internasional, dasar dikeluarkannya peraturan perundang-undangan karena isu penistaan agama untuk membatasi manifestasi keagamaan bertentangan dengan dengan ruang lingkup kebebasan beragama. Selain itu, perundang-undangan tersebut melanggar prinsip non diskriminasi dan persamaan hak asasi manusia internasional. Komite HAM PBB juga menegaskan bahwa negara-negara anggota harus menyediakan seperangkat aturan hukum yang sesuai dengan implementasi hak-hak yang diatur didalam Kovenan.
162 Ibid.
Artinya bahwa semua jenis aturan hukum yang tidak sesuai dengan aturan hukum didalam kovenan harus diamandemen secepatnya setelah suatu negara meratifikasi kovenan tersebut.163
Berbicara mengenai UU No. 1/PNPS/1965, ada dua kelompok orang yang memberi respon terhadapnya. Ada yang meminta supaya aturan ini dicabut, tetapi ada yang menyatakan kalau aturan ini masih relevan dan keberadaannya masih sesuai dengan konstitusi RI. Keberadaan UU ini pernah diajukan ke Mahkamah Konsitusi untuk dilakukan Judicial Review.
Dalam hal ini UU No. 1/PNPS/1965 harus diubah atau dicabut karena jika dianggap tidak sesuai dengan konsitusi.
UU No. 1/PNPS/1965 ini masih relevan dan dianggap tidak bertentangan dengan UUD 1945. Pada tahun 2010, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK) telah meletakkan tonggak penting terkait hubungan negara dan kebebasan beragama. MK dalam putusannya Nomor: 140/PUU-VII/2009 tanggal 19 April 2010, menyatakan menolak semua permohonan pemohon dalam sidang uji materil UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
MK mengakui bahwa UU No.1/PNPS/1965 memerlukan penyempurnaan, bahkan sebuah undang-undang baru pun mungkin perlu dibuat untuk mengakomodasi substansi undang-undang itu, untuk menjamin perlindungan dan kebebasan beragama. Tetapi sampai undang-undang baru seperti itu disahkan, maka UU
163 AlKhanif, Loc. Cit, hal. 289
No.1/PNPS/1965 jo. UU No. 5 Tahun 1969 tidak perlu dicabut karena akan menyebabkan kevakuman hukum164
UUD 1945 dan masih dalam koridor dokumen-dokumen internasional tentang Hak Asasi Manusia. MK juga berargumen bahwa negara memang tidak boleh mencampuri urusan doktrin agama, tetapi negara justru harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin kebebasan dan kerukunan beragama.
Bahkan negara juga dapat melakukan pembatasan-pembatasan yang tidak dengan sendirinya berarti mendikriminasi melainkan untuk menjamin hak-hak orang lain.
Selain itu, MK juga memberikan rambu-rambu tentang bagaimana cara membaca pasal-pasal tertentu dan ungkapan-ungkapan tertentu yang termuat dalam undang-undang tersebut.165
Alasan -alasan hukum baik mengenai Inkonstitusional dan Konsitusional UU No. 1/PNPS/1965 UU ketika diajukan ke Mahkamah Konsitusi :166
Tabel 2: Alasan Inkonstitusional dan Konsitusional UU No. 1/PNPS/1965 UU Menurut pemohon, didukung oleh