• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.2.2. Higiene Sanitasi Instalasi Gizi

4.2.2.10. Penjamah Makanan

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di instalasi gizi RSU Mayjen

H.A.Thalib Kabupaten Kerinci penilaian tentang penjamah makanan dapat dilihat

Tabel 4.12

Distribusi Hasil Observasi Berdasarkan Penjamah Makanan di Instalasi Gizi RSU Mayjen H.A.Thalib Kabupaten Kerinci Tahun 2011

NO VARIABEL BOBOT KOMPONEN YANG AKAN DINILAI

NILAI SKOR TOTAL SKOR KET (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) J. PENJAMAH MAKANAN 1. Pengetahuan /sertifikat hygiene sanitasi makanan.

a. Kepala instalasi gizi pernah

mengikuti kursus.

b. Supervisor pernah mengikuti

kursus.

c. Semua penjamah makanan pernah

mengikuti kursus.

d. Salah seorang penjamah makanan

pernah mengikuti kursus.

4 2 2 4 2 8 8 0 0 MS MS TMS TMS 2. Pakaian kerja a. Bersih.

b. Tersedia pakaian kerja seragam 2 stel atau buah.

c. Penggunaan khusus waktu kerja saja.

d. Lengkap dan rapi.

2 3 2 2 3 6 4 4 6 MS MS MS MS 3. Pemeriksaan Kesehatan

a. Karyawan/penjamah 6 bulan sekali check up kesehatan.

b. Pernah divaksinasi thypoid. c. Check up penyakit khusus.

d. Bila sakit tidak bekerja dan berobat ke dokter.

e. Memiliki buku kesehatan karyawan/penjamah. 2 3 2 1 2 2 0 0 0 4 0 TMS TMS TMS MS TMS 4. Personal hygiene a. Setiap karyawan/penjamah berprilaku bersih dan berpakaian rapi.

b. Setiap mau kerja cuci tangan. c. Menutup mulut dengan sapu tangan

bila batuk atau bersin.

d. Menggunakan alat yang sesuai dan bersih. 7 3 3 2 2 21 21 0 14 MS MS TMS MS

Ket : MS (Memenuhi Syarat) TMS (Tidak Memenuhi Syarat)

Berdasarkan tabel 4.12, diketahui bahwa berdasarkan variabel sertifikat higiene

sanitasi makanan, total skor yang diperoleh adalah 16 dan tidak memenuhi syarat

kesehatan karena semua penjamah makanan belum pernah mengikuti kursus higiene

sanitasi makanan. Berdasarkan variabel pakaian kerja, total skor yang diperoleh adalah

total skor yang diperoleh adalah 4 dan tidak memenuhi syarat kesehatan karena

penjamah makanan tidak memeriksakan kesehatan setiap 6 bulan sekali, tidak

mendapat vaksinasi thypoid, tidak check up penyakit khusus dan tidak memiliki buku

kesehatan karyawan. Berdasarkan variabel personal higiene, total skor yang diperoleh

adalah 56 dan tidak memenuhi syarat kesehatan. Total skor variabel higiene penjamah

makanan adalah 96.

4.2.3. Hasil Pemeriksaan Bakteri Escherichia coli pada Peralatan Makan

Waktu pengambilan sampel peralatan makan yaitu pada tanggal 9 januari 2011

pukul 08.00-09.00 WIB.

Hasil pemeriksaan yang diperoleh dari Laboratorium Kesehatan Daerah

Kabupaten Kerinci dapat dilihat dalam tabel 4.13 berikut :

Tabel 4.13

Hasil Pemeriksaan Bakteri Escherichia coli pada Peralatan Makan di Instalasi Gizi RSU Mayjen H.A.Thalib Kabupaten Kerinci Tahun 2011

No Sampel Escherichia coli per cm2 permukaan alat

Keterangan

1. Piring stainless steel Negatif Memenuhi syarat kesehatan

2. Gelas kaca Negatif Memenuhi syarat kesehatan

3. Sendok stainless steel Negatif Memenuhi syarat kesehatan

Berdasarkan tabel 4.13, diketahui bahwa seluruh sampel peralatan makan di

instalasi gizi RSU Mayjen H.A.Thalib Kabupaten Kerinci yang telah diperiksa

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Higiene Sanitasi Pengelolaan Makanan di Instalasi Gizi RSU Mayjen H.A.Thalib

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di instalasi gizi RSU Mayjen

H.A.Thalib Kabupaten Kerinci dalam higiene sanitasi secara keseluruhan memenuhi

syarat kesehatan (>700) yaitu 770,5 sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1098/Menkes/

SK/VII/2003. Walaupun ada beberapa point yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

A. Lokasi dan Bangunan

Lokasi instalasi gizi telah memenuhi syarat kesehatan, dimana lokasi instalasi

gizi tidak berada dekat dengan sumber pencemaran (> 100 m). Instalasi gizi berada di

bagian belakang rumah sakit hal ini dikarenakan untuk menghindar dari keramaian,

kebisingan dan jauh dari sumber pencemaran misalnya tempat pembuangan sampah

tidak diletakkan berdekatan dengan instalasi gizi sehingga tidak menimbulkaan bau.

Bangunan instalasi gizi kokoh/permanen,terpisah dari ruang lainnya, rapat serangga

dan tikus. Di instalasi gizi terdiri dari beberapa ruangan, yaitu dapur, toilet, gudang

bahan makanan, ruang karyawan, ruang administrasi, dan gudang peralatan. Lantai

bersih, kedap air,licin tapi tidak konus, lantai terbuat dari marmer berwarna putih.

Apabila lantai tidak konus sulit untuk dibersihkan dan dapat juga menjadi tempat

berkembangnya mikroba pathogen yang nantinya akan mencemari peralatan, bahan

makanan, dan sebagainya.

Sudut pertemuan dinding dengan lantai seharusnya dibuat melengkung dengan

pembersihannya (Anwar, 2000). Dinding bersih, ventilasi tersedia, yang cukup

membuat nyaman, tapi ventilasi tidak ada kawat kassa, hanya terbuka. Dan langit-

langit yang tidak rata dan bersih karena pada langit-langit terdapat debu sehingga

terlihat kotor.

Menurut Depkes RI(2003) Instalasi Gizi rumah sakit harus terletak pada lokasi

yang terhindar dari pencemaran yang diakibatkan antara lain oleh debu,asap,serangga,

dan tikus. Bangunan dan rancang bangun harus dibuat sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan terpisah dengan tempat tinggal.

B. Fasilitas Sanitasi

Fasilitas sanitasi adalah kebutuhan dasar sebagai penunjang sarana kebersihan

yang terdapat di instalasi gizi. Di instalasi gizi menggunakan air bersih dari PAM, yang

telah memenuhi syarat kesehatan yaitu tidak berasa,berbau, berwarna, jumlahnya

mencukupi sedangkan secara kualitas mikrobiologis air harus terbebas dari kuman –

kuman parasitic, kuman-kuman pathogen dan bakteri golongan coli

(Kusnoputranto,1986). Dan untuk mikrobiologis air dan bahan kimia di instalasi gizi

telah diperiksa oleh Depkes setempat sesuai dengan Depkes RI tahun 1990.

Hasil observasi yang dilakukan, pembuangan air limbah, airnya mengalir

dengan lancar dan kedap air tetapi tidak terdapat grease trap pada salurannya dan tidak

tertutup. Fungsi dari grease trap untuk menyaring sampah-sampah yang mengalir

bersama dengan air limbah agar saluran pembuangan limbah tidak tersumbat. Di

instalasi gizi hanya memiliki 1 (satu) buah toilet,dimana berhubungan langsung

dengan dapur karena ruangan tidak terlalu besar sehingga toilet pria dan wanita tidak

mencuci tangan pakai sabun di washtafel tempat mencuci bahan makanan karena para

penjamah sebagian berasal dari SMK (Tata Boga) yang telah mengetahui syarat-syarat

higiene sebelum maupun sesudah mengolah makanan. Apabila mencuci tangan setelah

dari kamar mandi dapat mencegah terkontaminasi kuman pathogen dengan bahan-

bahan makanan maupun peralatan yang ada di instalasi gizi sehingga terjaga higiene

sanitasi makanan. Tempat sampah di instalasi gizi hanya 2 (dua) buah diangkut tiap 24

jam oleh petugas sampah,tempat sampah diletakkan di dapur dan diluar instalasi gizi,

tidak semua ruangan memiliki tempat sampah. Tempat sampah hendaknya tersedia

disetiap ruangan sehingga kebersihan ruanganpun terjaga dengan baik.

Sampah diwilayah dapur hendaknya dimasukkan ke dalam tempat sampah yang

tertutup dan kedap air, dipisahkan antara sampah basah dan sampah kering masing-

masing mempunyai tempat sendiri, waktu pengangkutan sampah ke tempat

penampungan lainnya supaya diperhatikan jangan sampai berceceran atau

menimbulkan pengotoran (Sihite,2000).

Tempat mencuci peralatan hanya menggunakan satu bak pencuci yang besar,

tidak terdiri dari tiga bak pencuci dan satu washtafel. Di instalasi gizi tidak memiliki

loker bagi penjamah makanan, hanya memiliki 1 (satu) buah lemari yang besar yang

berfungsi untuk semua penjamah makanan yang diletakkan di ruang penjamah

makanan. Dan di instalasi gizi pada bagian ventilasi tidak dipasang kawat kasa

serangga maupun terali untuk tikus, ventilasi terbuka permanen.

C. Dapur, Ruang Makan dan Gudang Bahan Makanan

Dapur setiap hari selalu dalam keadaan bersih, dan dibersihkan setiap sebelum

(freezer,kulkas,kompor panas,dll). Di instalasi gizi, tidak ada cerobong asap karena

pada saat memasak menggunakan gas bukan kayu bakar. Tidak tersedia pesan-pesan

higiene bagi penjamah makanan hanya terpasang jadwal piket bagi para penjamah

makanan karena tidak terpikirkan oleh mereka untuk membuatnya. Gudang bahan

makanan telah memenuhi syarat kesehatan dengan tidak meletakkan bahan lain selain

bahan makanan, gudang bahan makanan ada dua ruangan untuk tempat beras dan

tempat gula, kecap, garam, saus, bumbu-bumbu dapur, telur, kerupuk, minyak, tepung

dan sebagainya dan semua tertata rapi . Sedangkan ruang makan bagi penjamah

makanan tidak ada, para penjamah makan di meja tempat makanan pasien yang akan

dibagikan. Hal ini dikarenakan, instalasi gizi tidak terlalu besar sehingga ruangannya

terbatas.

Menurut Depkes (2003), bahwa ruang makan bagi penjamah makanan harus

terpisah dengan ruang pengolahan makanan, tersedia fasilitas cuci tangan dan pintu

masuk buka tutup secara otomatis, agar tangan tidak terkontaminasi dengan kuman

yang ada di sekitarnya.

D. Pemilihan Bahan Makanan

Pemilihan bahan makanan adalah semua bahan baik terolah maupun tidak

termasuk bahan tambahan dan bahan penolong. Dimana pemilihan bahan makanan di

instalasi gizi telah memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No.

1098/Menkes/ SK/VII/2003 yaitu kondisi fisik bahan makanan dalam keadaan baik,

terdaftar pada Departemen Kesehatan, angka kuman dan bahan kimia pada bahan

makanan memenuhi syarat kesehatan dimana bahan makanan sebelum diantar ke

resmi. Untuk pemesanan bahan makanan dilakukan oleh petugas koperasi rumah sakit

yang khusus menangani makanan. Dan membeli bahan makanan di pasar tradisional.

Menurut FAO Indonesia (2009), bahwa dalam memilih bahan makanan

sebaiknya makanan yang bergizi, sehat, aman, tidak mengandung bahan pewarna,

disajikan pada wadah yang bersih, tidak rusak secara fisik, tidak tercemar secara fisik,

kimiawi dan mikroba.

E. Penyimpanan Bahan Makanan

Penyimpanan Bahan Makanan adalah meletakkan bahan makanan menurut

jenisnya dengan aturan sanitasi tempat penyimpanan makanan, suhu penyimpanan serta

lamanya penyimpanan di rak-rak makanan,

Hasil wawancara dengan penjamah makanan dan observasi yang dilakukan

bahwa bahan makanan disimpan didalam gudang bahan makanan, di freezer, dan

dikulkas. Di gudang bahan makanan penyimpanan beras dengan bumbu-bumbu masak

yang di freezer tempat penyimpanan daging,ikan dan di kulkas tempat penyimpanan

buah-buahan, sayur-sayuran dan jus. Tentang menyimpan bahan makanan dengan suhu

dan kelembaban sesuai dengan jenis bahan makanan, memenuhi syarat kesehatan.

Ketebalan penyimpanan tidak sesuai dengan persyaratan penyimpanan jenis makanan,

penjamah makanan menyimpan bahan makanan dengan memperkiraannya saja.

Apabila menyusun bahan makanan padat ketebalannya tidak lebih dari 10 cm tidak

akan merusak bahan makanan yang disimpan, karena adanya pertukaran udara.

Penyimpanan bahan makanan ditempatkan ditempat yang bersih dan di susun di rak-

rak dengan aturan yang sejenis telah memenuhi syarat kesehatan, sehingga mudah

makanan, sedangkan yang tidak memenuhi syarat kesehatan bila meletakkan bahan

makanan tidak dirak-rak akan dapat merusak bahan makanan serta dapat

terkontaminasi dengan hewan-hewan serta serangga.

Menurut Soebagio (2001) bahwa penyimpanan bahan makanan harus dilakukan

dalam suatu tempat khusus/gudang untuk bahan makanan kering dan dalam lemari

pendingin untuk bahan makanan basah serta penyimpanan harus diatur dan disusun

dengan baik. Dipandang dari segi kesehatan gudang, rak penyimpanan bahan makanan

kering harus dirancang khusus agar sesuai dengan Permenkes RI No.

304/Menkes/Per/VI/1989 yaitu jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm, jarak bahan

makanan dengan dinding 5 cm, jarak bahan makanan dengan langit-langit 60 cm.

kesemuanya ini bertujuan agar cukup sinar matahari, cukup ventilasi/penghawaan dan

tidak menjadi tempat infestasi serangga dan tikus.

F. Pengolahan Bahan Makanan

Pengolahan bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam pengolahan

bahan makanan dengan memperhatikan faktor tempat pengolahan, peralatan memasak

dan cara penjamah dalam mengolah makanan.

Hasil wawancara pada penjamah makanan dan observasi tentang pengolahan

makanan di instalasi gizi dimana seluruh penjamah memakai pakaian kerja dengan

benar dan cara kerja yang bersih dan setiap hari berbeda-beda pakaian kerja. Pakaian

kerja berfungsi untuk mencegah pengotoran makanan yang berasal dari penjamah

makanan. Menggunakan alat khusus untuk mengambil makanan, menggunakan

celemek berupa rompi, penutup kepala berupa jilbab dan pada saat bekerja mereka

Menggunakan alat bantu saat mengambil makanan seluruh penjamah makan

(100%) sudah memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga makanan akan terhindar dari

pencemaran melalui tangan sipengolah. Tangan harus selalu dijaga kebersihannya,

yaitu memotong kuku, kulit harus dalam keadaan bersih, membersihkan tangan dengan

sabun, bebas dari kosmetik (Depkes RI, 2001).

Penjamah makanan tidak ada memelihara kuku panjang telah sesuai dengan

yang diisyaratkan dalam pedoman sanitasi rumah sakit. Kuku yang panjang merupakan

tempat berkembangbiaknya mikroorganisme seperti Escherichia coli, Staphylococcus

dan Salmonella ( Anwar,2000).

G. Penyimpanan Makanan Jadi

Penyimpan makanan jadi adalah menyimpan dan menempatkan makanan yang

telah jadi/masak dengan memperhatikan prinsip penyimpanan sementara waktu pada

ruang penyimpanan makanan jadi dengan memperhatikan kebersihan tempat maupun

wadah penyimpanan.

Hasil wawancara dan observasi penyimpanan makanan jadi, dimana makanan

jadi ditutup untuk menghindari debu dari langit-langit yang berterbangan yang dapat

mencemari makanan, makanan jadi diletakkan di atas meja secara teratur dalam suatu

wadah yang bersih. Penyimpanan makanan jadi tidak terlalu lama, dalam keadaan

hangat makanan langsung dimasukkan ke dalam piring stainless steel untuk di angkut

dan disajikan ke setiap kamar pasien rawat inap.

Menurut Depkes RI (2003), bahwa tempat penyimpanan makanan yang sudah

matang harus terlindung dari debu, bahan berbahaya, serangga,tikus dan hewan

H. Pengangkutan dan Penyajian Makanan Jadi

Pengangkutan makanan adalah sarana pengangkut makanan jadi dari tempat

penyimpanan untuk dihidangkan. Penyajian makanan adalah menyajikan makanan

jadi/matang kepada konsumen dengan menggunakan wadah. Hasil wawancara dan

observasi telah memenuhi syarat kesehatan. Sebelum makanan jadi diangkut, tugas dari

ahli gizi selain menentukan menu makanan untuk pasien juga menghubungi setiap

ruang rawat inap di rumah sakit untuk mengetahui berapa pasien yang dirawat inap.

Setelah dilakukan pendataan, maka penjamah makanan bertugas untuk membuat

makanan pasien. Dengan peralatan makan berupa piring stainless steel, gelas kaca, dan

sendok stainless steel yang telah dicuci bersih dan kering. Makanan yang telah dibuat

diletakkan diatas meja untuk dibungkus dengan plastic wrap. Setelah semua terbungkus

dengan rapi, penjamah makanan menggunakan trolley tertutup agar menghindari

kontaminasi yang ada untuk mengangkut makanan jadi ke setiap ruangan rawat inap di

rumah sakit sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu pagi pukul 07.00 WIB,

siang pukul 12.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB.

Menurut Depkes RI (2003), persyaratan penyajian makanan adalah harus

terhindar dari pencemaran, peralatan untuk penyajian harus terjaga kebersihannya,

harus diwadahi dan dijamah dengan peralatan yang bersih dan penyajian dalam

keadaan hangat.

I. Penjamah Makanan

Peralatan makan adalah peralatan yang digunakan untuk menyediakan,

Hasil wawancara dan observasi pada penjamah makanan, bahwa penjamah

makanan (100%) tidak pernah mengikuti kursus higiene sanitasi makanan hanya kepala

instalasi gizi dan supervisor yang pernah mengikuti, penjamah makanan tidak pernah di

undang untuk mengikuti kursus. Pakaian kerja penjamah makanan tersedia 7 (tujuh)

stel, setiap hari berbeda-beda seragam yang dipakai, dipakai hanya pada waktu bekerja

saja, terlihat rapi dan bersih. Penjamah makanan (100%) tidak pernah ada melakukan

pemeriksaan kesehatan secara resmi dari Rumah Sakit, apabila merasa sakit, penjamah

makanan meminta izin tidak masuk kerja, dan selama bekerja di instalasi gizi penjamah

makanan tidak pernah divaksinasi thypoid, check up penyakit khusus dan tidak

memiliki buku kesehatan karyawan.

Penjamah makanan (100%) tidak menutup mulut dengan sapu tangan disaat

bersin atau batuk karena penjamah makanan jarang membawa sapu tangan pada saat

bekerja. Tindakan menutup mulut dengan tangan pada saat batuk atau bersin

merupakan tindakan yang kurang higienes. Kebiasaan ini dapat menyebabkan

terjadinya kontaminasi pada tangan dan pada gilirannya mengkontaminasi makanan.

Sesuai dengan yang disyaratkan bahwa setiap tenaga penjamah makanan harus

menutup mulut dengan sapu tangan bila bersin atau batuk pada saat mengolah

makanan.

Penjamah makanan tetap bekerja bila menderita penyakit ringan seperti batuk,

pilek, bersin-bersin. Penjamah makanan tetap melakukan aktifitas menjamah makanan

bila hanya sekedar batuk, pilek, dan pusing sedikit saja. Sebaiknya tindakan ini tidak

kuman penyakit yang dideritanya, kecuali penjamah makanan mencuci tangan pakai

sabun dengan bersih.

Menurut Mubarak (2009), bahwa dari seorang penjamah yang tidak sehat,

penyakit dapat menyebar ke masyarakat konsumen seperti kontaminasi terhadap

makanan oleh penjamah makanan yang batuk atau luka ditangannya.

5.2. Kandungan Bakteri Escherichia coli pada Peralatan Makan

Kandungan bakteri Escherichia coli pada peralatan makan di instalasi gizi RSU

Mayjen H.A. Thalib Kabupaten Kerinci telah memenuhi standar yang mengacu pada

Kepmenkes RI No. 1098/Menkes/SK/VII/2003 yaitu 0 per cm2 permukaan alat. Hal ini

dapat dilihat dari hasil laboratorium 3 sampel peralatan makan ( piring, gelas, sendok)

bahwa tidak 1 (satu) pun dari tiap sampel peralatan makan ditemukan kuman E.coli

(Negatif). Dilihat dari proses pencucian peralatan makanan, telah memenuhi syarat

kesehatan dimana air yang digunakan berasal dari air PAM. Karena air yang berasal

dari PAM biasanya sudah mengandung klorin yang dapat membunuh bakteri. Hal

tersebut juga dinyatakan oleh Giwangkara (2007), yang menyatakan bahwa klorin

merupakan bahan kimia pembunuh bakteri, jadi air bersih yang sampai ke konsumen

sudah bebas dari coliform. Berdasarkan tempat pencucian peralatan, tersedia air panas

dan air dingin yang memadai dan tempat pencuciannya terbuat dari bahan yang

kuat,aman dan halus, walaupun tidak tersedia 3 (tiga) bak pencuci yaitu Bak I disebut

bak pencuci ( wash), Bak II disebut bak pembilas ( rinse) dan Bak III disebut bak

pembilas terakhir ( final rinse atau desinfektan) tetapi para penjamah (100%) dapat

mencuci peralatan makan dengan bersih, dengan cara tidak merendam peralatan makan

dengan air dingin maupun air panas. Setelah itu, peralatan makan disusun di rak- rak

dengan rapi hingga kering dan ditutup dengan kain berwarna putih bersih agar

terhindar dari debu yang berterbangan. Peralatan makan yang telah digunakan

langsung dicuci tidak dibiarkan terlalu lama dalam keadaan kotor. Dari penjamah

makanan itu sendiri bila dilihat dari latar belakang pendidikannya sebagian besar dari

SMK tata boga yang telah mengerti akan kebersihan peralatan makan. Dan dilihat dari

syarat peralatan makan, di instalasi gizi RSU Mayjen H.A.Thalib telah memenuhi

syarat yaitu permukaan halus, rata, tidak ada sudut mati, peralatan makan stainless steel

dan peralatan makan tidak mengandung angka kuman setelah di lakukan pemeriksaan

BAB VI KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan

Higiene sanitasi pengelolaan makanan di instalasi gizi RSU Mayjen H.A.Thalib

Kabupaten Kerinci telah memenuhi syarat kesehatan secara keseluruhan dengan nilai

770,5 yang mengacu pada Kepmenkes No.1098/Menkes/SK/VII/2003, walaupun ada

beberapa point yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

1. Karakteristik penjamah makanan di instalasi gizi berdasarkan jenis kelamin

adalah perempuan (100%), dengan latar belakang pendidikan sebagian besar dari

SMK Tata Boga (60%).

2. Berdasarkan kondisi fisik lokasi dan bangunan, instalasi gizi belum memenuhi

syarat kesehatan karena pada instalasi gizi lantainya tidak konus dan langit-

langitnya kotor oleh debu.

3. Berdasarkan fasilitas sanitasi, instalasi gizi belum memenuhi syarat kesehatan

karena SPAL tidak dilengkapi dengan grease trap dan tidak tertutup, loker

karyawan tidak tersedia dan tidak terdapat peralatan pencegah masuknya

serangga dan tikus.

4. Berdasarkan dapur, ruang makan dan gudang bahan makanan, instalasi gizi belum

memenuhi syarat kesehatan karena ukuran dapur tidak cukup memadai dan tidak

ada ruang makan bagi penjamah makanan.

5. Berdasarkan pemilihan bahan makanan, pengolahan bahan makanan,

syarat kesehatan, sedangkan penyimpanan bahan makanan dan penyimpanan

makanan jadi belum memenuhi syarat kesehatan.

6. Peralatan makan yang digunakan di instalasi gizi telah memenuhi syarat

kesehatan.

7. Tenaga kerja/penjamah makanan belum memenuhi syarat kesehatan karena tidak

pernah mengikuti kursus,tidak pernah check up kesehatan, tidak memiliki buku

kesehatan, dan tidak menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk atau bersin.

8. Kandungan Escherichia coli yang terdapat pada peralatan makan berupa piring

tainless steel, gelas kaca dan sendok stainless steel yaitu negatif (0 per cm2

permukaan alat).

6.2. Saran

1. Pada fasilitas sanitasi, sebaiknya bagian langit-langit dibersihkan dari debu agar

tidak terlihat kotor. Sebaiknya disediakan loker bagi penjamah makanan, agar

para penjamah makanan dapat bekerja dengan nyaman dan ruang makan

2. Untuk ukuran dapur sebaiknya diperbesar, agar dapat menata kembali fasilitas

yang tersedia di instalasi gizi sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan

kebersihan.

3. Para penjamah makanan sebaiknya mengikuti kursus hygiene sanitasi pengolahan

makanan, memiliki sertifikat kesehatan, dan buku panduan kesehatan agar

makanan dan minuman bagi pasien lebih terjaga lagi kebersihannya dan sangat

DAFTAR PUSTAKA

Afriyenti, 2002. Higiene dan Sanitasi Penyelenggaraan Makanan Di Instalasi Gizi

Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru dan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru 2000-2002. Skripsi FP Institut Pertanian Bogor.

Dokumen terkait