Penjaminan mutu hakikatnya adalah upaya mempertahankan kualitas asuhan yang diberikan sesuai dengan standar yang ada (STIKES Santo Borromeus, 2010). Standar Praktik Keperawatan mengacu pada Standar Praktik Keperawatan Indonesia yang dikeluarkan oleh PPNI tahun 2010. Standar tersebut mencakup Standar Praktik Profesional dan Standar Kinerja Profesional. Adapun standar asuhan kebidanan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 938 Tahun 2007 Tentang Standar Asuhan Kebidanan.
Untuk memastikan bahwa praktik dan asuhan yang diberikan kepada pasien adalah asuhan yang bermutu, maka harus dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yang dibuktikan dengan hasil audit asuhan berbasis dokumentasi. Saat ini sudah berkembang pendekatan-pendekatan baru dalam melaksanakan audit praktek keperawatan, tetapi yang harus digarisbawahi adalah audit dilaksanakan bukan untuk mencari kesalahan tetapi lebih diarahkan pada upaya menemukan hal-hal yang belum memenuhi standar untuk selanjutnya ditingkatkan agar menjadi lebih baik lagi. Karena itu topik audit ditentukan berdasarkan situasi yang menjadi current issue saat itu. Akan lebih baik apabila audit mengikuti temuan-temuan klinis yang dirasakan tidak memuaskan dari sudut pandang perawat, atau dilaksanakan berdasarkan adanya keluhan dari pasien sebagai pengguna layanan.
Upaya penjaminan mutu juga sebenarnya sudah berjalan ketika jenjang karir Perawat Manajer (PM mulai dikembangkan setidaknya mulai PM III samai PM V) karena itu untuk melakukan audit mutu ini sebaiknya adalah perawat dengan kualifikasi minimal setara dengan PM III, yaitu PK V dan PP II. Apabila tidak tersedia
tenaga yang sesuai dengan kualifikasi tersebut maka audit mutu boleh diselenggarakan oleh tenaga keperawatan sekurang-kurangnya adalah yang setara dengan PM II, yaitu PK IV dan PP I. H. Pembinaan Etik dan Disiplin Keperawatan
Pembinaan etik dan disiplin sebenarnya bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kelalaian atau kejadian mal-practice dalam pelaksanaan praktik keperawatan di rumah sakit. Pencegahan dan penanganan kejadian pelanggaran etik dan disiplin ini menjadi salah satu fokus penilaian dalam akreditasi rumah sakit menurut versi KARS-2012. Kejadian-kejadian seperti near misses (Kejadian Nyaris Cedera/KNC), Kejadian Tak Diharapkan (KTD), ketidakcocokan hingga kelalaian harus diantisipasi dengan baik melalui sistem penjagaan etik dan disiplin tenaga keperawatan. Karena itu perlu dibuat gradasi untuk screening dini supaya tidak terjadi kejadian mal-praktik atau kelalaian, serta bagaimana alur penyelesaian masalahnya apabila terjadi kejadian-kejadian seperti di atas (KARS, 2012).
I. Road-Map Pembentukan dan Pengembangan Komite
Keperawatan di Rumah Sakit 1. Persiapan
Pada tahap ini Komite Keperawatan belum dibentuk dan/atau jenjang karir belum terisi oleh tenaga keperawatan. Kebutuhan yang utama adalah membentuk panitia adhoc yang tugasnya adalah menyusun Nursing Staff by Law sebagai panduan jenjang karir tenaga keperawatan, menyatukan persepsi tentang Komite Keperawatan dan manfaatnya bagi Rumah Sakit, serta mempersiapkan dan menyelenggarakan kredensial awal bagi Pengurus Komite Keperawatan.
Ketentuan mengenai sistematika NSBL terdapat dalam lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit. Isi NSBL merupakan panduan dalam menyusun jenjang karir profesional bagi tenaga keperawatan.
Harus dipertimbangkan potensi terisinya jenjang karir dengan komposisi tenaga keperawatan yang ada saat ini, serta tingkat pencapaian jenjang yang dibutuhkan untuk seorang Ketua Komite.
Jenjang karir juga perlu memperhatikan hirarki pendidikan keprofesian dan batas kewenangan tertinggi dari masing-masing jenjang pendidikan tersebut. Selain itu perlu diingat bahwa jenjang karir akan berjalan selama tenaga keperawatan bekerja hingga usia pensiun, sebagai dasar untuk menentukan batas waktu kenaikan jenjang karir profesional tersebut. Untuk tahap awal sebaiknya jenjang karir tidak menuntut persyaratan yang tidak mungkin dicapai dalam 5 tahun kedepan, dan seiring waktu dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan perkembangan dan pencapaian tenaga keperawatan selanjutnya.
b. Menyatukan persepsi tentang Komite Keperawatan
Banyak kasus terjadi dimana Komite Keperawatan tidak mampu berjalan dengan baik, adalah karena ada perebutan pengaruh dengan Bidang / Seksi Keperawatan. Pada beberapa Rumah Sakit, Komite keperawatan dipersepsikan sebagai ancaman terhadap peran dan fungsi Bidang / Seksi Keperawatan sehingga tidak dapat berjalan dengan optimal dan pembinaan keprofesian menjadi terhambat sehingga merugikan Rumah Sakit karena tata kelola klinis yang dilaksanakan tenaga keperawatan berjalan tanpa pembinaan
yang baik. Banyak kasus yang akhirnya muncul dari situasi ini, seperti tingginya keluhan pasien terhadap pelayanan keperawatan, banyaknya kejadian-kejadian pelanggaran etik dan disiplin serta muncul konflik perebutan “penghasilan tambahan” baik terkait penerimaan staff baru ataupun bimbingan mahasiswa.
Namun ada juga Rumah Sakit yang memberikan kewenangan sangat besar bagi Komite Keperawatan, dimana Komite menjalankan peran bukan hanya sebagai pemberi rekomendasi tetapi sudah menjalankan fungsi pengawasan dan kontrol bagi manajemen Rumah Sakit. Sehingga yang terjadi adalah tingginya protes terhadap kebijakan yang dirasakan “merugikan” bagi tenaga keperawatan yang bekerja di Rumah Sakit. Hal ini tentu tidak produktif untuk membangun keprofesian sebab Komite sendiri bukan merupakan wadah struktural dalam manajerial Rumah Sakit dan bukan pula wadah perwakilan tenaga keperawatan (semisal Serikat Pekerja).
Karena itulah sosialisasi tentang Komite Keperawatan harus dilaksanakan sebelum Komite berjalan. Akan muncul banyak tanggapan dari sosialisasi yang diselenggarakan dan mungkin saja akan banyak protes maupun klarifikaasi-klarifikasi dari unit-unit yang sebelumnya (mungkin) merupakan “kerajaan kecil” dengan penghasilan di atas rata-rata unit lainnya. Untuk mengatasi hal ini maka manajemen Rumah Sakit perlu mempertimbangkan pembicara yang kompeten tentang Komite Keperawatan sehingga konsepnya terpapar dengan jelas. Sosialisasi mungkin membutuhkan waktu beberapa minggu, yang berisi pertemuan-pertemuan kecil dengan metode sindikat dilaksanakan di unit-unit
perawatan yang diakhiri dengan pertemuan skala besar dihadiri oleh stake-holder terkait dengan mendatangkan pembicara yang kompeten, untuk finalisasi konsep dan pemahaman serta memberikan klarifikasi-klarifikasi sesuai kebutuhan.
c. Kredensial bagi Pengurus Komite Keperawatan
Setelah sosialisasi dirasakan memadai, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan kredensial Ketua Komite Keperawatan. Meskipun dalam Permenkes 49 / 2013 disebutkan bahwa Ketua Komite ditunjuk oleh Direktur atas masukan dari tenaga keperawatan yang bekerja di Rumah Sakit, tapi perlu juga disadari bahwa Komite keperawatan akan menyelenggarakan peran yang besar, mencakup fungsi pengawasan dan pengendalian. Karena itu seorang Ketua Komite harus memiliki kapasitas yang memungkinkan dirinya mengelola organisasi dengan baik. Ada banyak potensi gejolak dan ketegangan ketika Komite Keperawatan mulai berjalan dan seorang Ketua Komite haruslah memiliki pemahaman yang baik tentang konsep komite itu sendiri sehingga klarifikasi yang diberikan atas masalah yang timbul serta solusinya dapat diterima oleh tenaga keperawatan dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pengurus komite keperawatan juga merupakan bagian dari sistem kredensial dan pengawasan yang akan dilaksanakannya. Karena itu mereka harus memiliki kapasitas setidak-tidaknya satu tingkat di atas jenjang karir tenaga keperawatan pada umumnya, ketika Komite nantinya dilaksanakan serta sudah terlebih dahulu melalui proses kredensial tersebut. Kapasitas mereka harus dibuktikan melalui kredensial yang dilaksanakan secara terbuka
sehingga nantinya mereka memperoleh legitimasi dan penghargaan dari anggota komite dan tenaga keperawatan lainnya.
Apabila pada tahap awal, calon-calon yang mengajukan diri mengikuti kredensial Ketua Komite semuanya belum memenuhi 100% kualifikasi yang dibutuhkan, atau diantara seluruh tenaga keperawatan belum ada yang mampu memenuhi semua aspek kompetensi yang dipersyaratkan maka Ketua Komite yang dipilih harus membuat pernyataan bahwa dirinya berkomitmen untuk segera meningkatkan kapasitas dirinya sesuai persyaratan yang telah disepakati. Mengingat pada tahap persiapan ini belum ada Komite, maka prosesnya diselenggarakan oleh panitia adhoc yang ditunjuk oleh Direktur. Panitia adhoc ini dapat berasal dari kelompok Mitra Bestari (misalnya tenaga keperawatan dari Rumah Sakit lain, tenaga keperawatan senior yang dihormati, institusi pendidikan, dan organisasi profesi) yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang Komite Keperawatan. Panitia adhoc ini ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit dengan Surat Keputusan. Tidak ada batasan jumlah panitia adhoc ini dan tidak ada aturan yang khusus mengatur tentang hal ini. Semaata-mata dilaksanakan untuk memenuhi rasa keadilan dan agar Pengurus Komite Keperawatan yang tersusun memiliki legitimasi yang baik sebab proses pembentukannya melalui tahapan-tahapan yang formal dan diselenggarakan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas individual yang terpercaya.
2. Pembentukan Komite
Setelah sosialisasi dilaksanakan maka Panitia Adhoc menyususn persyaratan kredensial bagi Ketua Komite dan Pengurus Komite. Persyaratan kredensial ini diumumkan secara
terbuka dan diberikan kesempatan bagi tenaga keperawatan untuk mempersiapkan persyaratan tersebut dengan baik. Sosialisasi bisa dilaksanakan selama 1 bulan, dan dilanjutkan dengan penetapan peserta kredensial dilanjutkan dengan jadwal kegiatan kredensial.
Setelah Ketua Komite ditetapkan maka dilaksanakan pemilihan pengurus oleh Ketua Komite bersama-sama dengan Panitia Adhoc. Calon ketua yang tidak terpilih boleh direkrut sebagai pengurus. Kepengurusan Komite Keperawatan harus terdiri dari tenaga perawat dan bidan sehingga memungkinkan kedua profesi memperoleh rasa keadilan. Namun perlu disadari bahwa saat ini pendidikan keprofesian untuk bidan klinik sebagian besar hanya setingkat Diploma-III, dan sebagian kecil adalah D-IV Pendidik. Selain itu konsep keprofesian dan pendidikan keprofesian pada Bidan belum berkembang sebagaimana yang terjadi pada Perawat, sehingga akan lebih adil jika proporsi Perawat yang menduduki jabatan inti dalam kepengurusan lebih banyak dari Bidan.
Untuk membangun komitmen dan rasa memiliki terhadap Komite, maka proses sosialisasi dan pemilihan pengurus harus diselenggarakan secara “semarak” tanpa mengabaikan pelayanan kepada pasien. Organisasi Profesi tingkat Komisariat harus mengkomunikasikan hal itu secara intens baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit sebab penyelenggaraan tata kelola klinis yang baik akan berakibat pada meningkatnya citra profesi. Setelah Pengurus Komite Keperawatan terbentuk dan ditetapkan dengan SK Direktur maka secara formal, kepanitiaan adhoc berakhir. Namun demikian, untuk menjaga kondusifitas, Panitia Adhoc sebaiknya diposisikan sebagai penasihat dari Komite Keperawatan sampai batas waktu tertentu yang dibutuhkan.
Terutama bagi Rumah Sakit yang beru pertama kali menjalankan Komite Keperawatan, akan banyak potensi masalah yang terjadi pada tahap-tahap awal, sehingga peran Panitia Adhoc yang memiliki pengetahuan yang baik tentang Komite Keperawatan menjadi penting untuk membantu Komite mencari jalan keluar yang baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Panitia Adhoc juga dapat berperan sebagai mentor bagi pengurus Komite Keperawatan dalam mengembangkan keprofesian. Karena itulah Panitia Adhoc sebaiknya berasal dari kalangan yang memiliki keilmuan yang baik, serta mampu menginspirasi orang lain untuk bekerja dengan baik tanpa mengutamakan imbalan serta mampu berkomunikasi antar profesi.
3. Kredensial Tenaga Keperawatan
Ketika pola jenjang karir sudah disepakati dan Komite Keperawatan telah dilembagakan maka langkah selanjutnya adalah melakukan kredensial untuk mengisi jenjang karir yang ada. Seluruh tenaga keperawatan mendaftarkan diri kepada Sub Komite Penjaminan Mutu dan disertai dengan dokumen-dokumen penunjang seperti ijazah, SK kepangkatan, sertifikat pelatihan, dan dokumen lain yang dianggap penting dan menunjang karir profesionalnya.
Data yang terkumpul kemudian dibuat rekapitulasi dan disusun dalam folder masing-masing individu. Ini adalah data dasar untuk membuat profil tenaga keperawatan yang berada di Rumah Sakit. Data ini akan sangat berguna untuk Bagian SDM / Kepegawaian pada saat merencanakan kebutuhan tenaga dan membuat analisa beban kerja / analisa jabatan. Dokumen-dokumen yang terkumpul diseleksi bersama dengan Sub Komite Kredensial untuk menentukan mana dokumen yang terkategori
dokumen utama dan mana dokumen yang hanya merupakan pendukung.
Selanjutnya Sub Komite Kredensial membuat pemetaan, dengan cara membuat asumsi penempatan masing-masing tenaga keperawatan pada masing-masing jenjang karir. Rencana penempatan ini dibuat dengan mempertimbangkan potensi individual dari masing-masing tenaga keperawatan, kemungkinan untuk memenuhi persyaratan kredensial yang kurang dalam jangka waktu tertentu, atau hal lain yang layak dipertimbangkan (misalnya prestasi kerja, pelayanan terhadap pasien,rekomendasi dari rekan kerja/sejawat, atau perilaku keseharian).
Hasil pemetaan tersebut sebaiknya juga dibahas bersama dengan Bidang Keperawatan untuk memperoleh masukan-masukan yang baik dan terkait rencana peningkatan kapasitas tenaga keperawatan jangka panjang. Progress dari proses yang berjalan juga sebaiknya dikomunikasikan kepada Direktur dan stake-holder terkait.
Hasil pemetaan yang sudah final kemudian disosialisasikan kepada seluruh tenaga keperawatan disertai kekurangan dokumen yang harus diupayakan dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3-6 bulan, sesuai kebutuhan). Hal ini untuk memberikan kesempatan bagi tenaga keperawatan melengkapi dokumen dan memenuhi azas keterbukaan informasi dan azas keadilan. Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan dokumen tersebut tidak berhasil dilengkapi maka proses kredensial dilakukan menurut jenjang karir di bawahnya. Selama masa sosialisasi, tenaga keperawatan juga berhak mengajukan permohonan alih jenjang yang setara (misalnya direkomendasikan sebagai PK III tetapi yang bersangkutan
memohon untuk dikredensial sebagai PM I) dengan melampirkan dokumen tambahan. Usulan ini dinilai dan dievaluasi oleh Sub Komite Kredensial untuk disetujui atau ditolak sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Mengingat keberadaan Komite Keperawatan masih baru, maka pada tahap ini sebaiknya tetap melibatkan unsur-unsur Mitra Bestari dalam melakukan penelaahan dan penilaian. Setelah jangka waktu sosialisasi berakhir maka Sub Komite Kredensial menetapkan peserta Ujian Jenjang Karir, waktu dan tempat pelaksanaan ujian serta Tim Penguji.
Harus difahami bahwa Sub Komite Kredensial adalah penyelenggara proses kredensial. Dalam melakukan penilaian, tidak harus Pengurus komite yang melakukannya. Tim Penguji haruslah proporsional dengan jenjang karir yang akan di uji. Misalnya, Pengurus Komite dengan kualifikasi setingkat PK II tentu tidak etis jika menguji tenaga keperawatan yang ingin menduduki jabatan PK III, atau sebaliknya. Sangat berlebihan jika pengurus dengan kualifikasi PK V ikut menguji tenaga keperawatan untuk menduduki jabatan PK II.
Pada tahap awal, penguji sebaiknya melibatkan pihak Mitra Bestari atau praktisi profesional yang memiliki kapasitas keilmuan dan kepribadian yang dibutuhan untuk masing-masing jenjang karir. Hasil ujian dilaporkan kepada Ketua Komite untuk disampaikan kepada Direktur sebagai rekomendasi untuk memperoleh kewenangan klinis tertentu sesuai jenjang karirnya. Atas dasar hasil rekomendasi ini, selanjutya Direktur mengeluarkan Surat Penugasan Klinis (SPK) kepada masing-masing tenaga keperawatan untuk melakukan praktik profesionalnya sesuai batas kewenangan yang tertuang dalam SPK tersebut. Dengan demikian Direktur telah melaksanakan
upaya penjaminan mutu yang berorientasi pada keselamatan pasien, sebab masing-masing tenaga keperawatan sudah melalui penilaian tertentu dalam melakukan praktek profesionalnya di Institusi Rumah Sakit. Untuk memenuhi rasa keadilan terhadap kesejahteraan, maka sepatutnya hal ini diikuti dengan remunerasi yang memperhitungkan jenjang karir dan prestasi yang bersangkutan dalam melaksanakan profesinya. Secara berkala, proses kredensial untuk maintenance dan kenaikan jenjang karir dilaksanakan dengan mulai mengurangi peran Mitra Bestari sedikit demi sedikit seiring dengan penigkatan kapasitas Komite Keperawatan.
4. Peningkatan Kapasitas
Seiring waktu, masing-masing tenaga keperawatan berupaya meningkatkan kapasitas dirinya sendiri dan sejawatnya untuk meningkatkan mutu asuhan yang diberikan. Hal ini dapat dilakukan secara formal (studi lanjut) maupun informal (kursus, pelatihan, seminar, workshop) serta kaderisasi (preseptorship dan mentorship). Upaya pengembangan kapasitas juga mencakup penyempurnaan aturan yang berlaku dan penataan jenjang karir secara lebih baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya penjaminan mutu tingkat kebijakan (regulation safety).
Komite Keperawatan harus mulai melakukan audit klinis secara formal selain dari audit-audit yang diselenggarakan oleh Perawat Manager. Tool untuk audit harus mulai dikembangkan dan diuji sensitifitasnya sehingga terjadi siklus penjaminan mutu berkelanjutan.
Penyempurnaan aturan juga berkaitan dengan cara mengidentifikasi masalah-masalah etik dan disiplin dalam praktik profesional dan merumuskan bagaimana mekanisme
penyelesaiannya serta mengidentifikasi pihak-pihak yang akan terlibat dalam penyelesaian masalah etik dan disiplin tersebut. Pengembangan kapasitas juga harus diarahkan pada peningkatan grade persyaratan pada jenjang karir tertentu (pengetatan persyaratan) sehingga kualifikasi tenaga keperawatan secara perlahan-lahan meningkat.
Penyelenggaraan Komite Keperawatan yang diiringi dengan upaya pengembangan, akan menghasilkan sebuah sistem yang mendukung tata kelola klinis yang baik sehingga memudahkan Rumah Sakit untuk menjadi Rumah Sakit Pendidikan yang menyediakan wahana pembelajaran yang bermutu bagi perawat muda maupun calon perawat.
5. Penyempurnaan Sistem Berkelanjutan
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi maka beberapa institusi Rumah Sakit sudah mulai mengkonversi mekanisme kredensial dan penjaminan mutu manual ke dalam sebuah sistem informasi berbasis digital. Salah satunya sistem kredensial yang tengah dikembangkan oleh PPNI saat ini adalah Sistem Informasi Keperawatan secara on-line. Hal ini adalah salah satu upaya kredensial untuk mendapatkan/memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR). Mekanisme yang sama juga dapat diterapkan dalam kredensial jenjang karir perawat yang bekerja di Rumah Sakit.
Selain itu, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan masalah etik dan disiplin juga perlu dikuatkan dalam bentuk keputusan formal dengan Keputusan Direktur.
Terkait penjaminan mutu, Komite Keperawatan sebagai sebuah lembaga juga perlu dilakukan audit dan sertifikasi (standarisasi mutu). Karena itu perlu dikembangkan sistem audit dan tool yang
dibutuhkan untuk menilai kinerja Komite itu sendiri serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses audit tersebut.
Meskipun dalam jangka waktu 5-10 tahun kedepan hal ini baru akan terlaksana dengan baik, tetapi setidaknya Rumah Sakit harus mulai persiapan melaksanakan hal itu sejak dini sehingga saat kebutuhan akreditasi meningkat hingga ke taraf Internasional (akreditasi Join Commite International for Accreditation / JCI), semua hal itu sudah dipersiapkan sejak dini. J. Penutup
Mengingat begitu pentingnya asuhan yang berorientasi pada keselamatan pasien maka tenaga keperawatan (perawat dan bidan) sebagai tenaga kesehatan dengan proporsi paling banyak di Rumah Sakit untuk selalu dibina dan ditingkatkan profesionalismenya. Seiring dengan semakin banyaknya regulasi yang berkaitan dengan praktik keperawatan dan kebidanan maka manajemen Rumah Sakit perlu mengambil langkah untuk mulai memberdayakan Komite Keperawatan dan Mitra Bestari sebagai mitra strategis Rumah Sakit dalam mengembangkan profesionalisme tenaga keperawatan. Pustaka
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063)
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072)
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607)
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 307; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5612)
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1053)
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 938 Tahun 2007 Tentang Standar Asuhan Kebidanan
Bawole, G. Y. (2013). Rumah Sakit sebagai Badan Hukum bertanggung jawab atas tindakan medis yang dilakukan dokternya. Lex Crimen, II(5), 130–139.
Christina, M. (2012). Mutu Pelayanan Kesehatan. UGM.
Hartati, K., Djasri, H., & Utarini, A. (2014). Implementasi tata kelola klinis oleh komite medik di rumah sakit umum daerah di provinsi Jawa Tengah. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 17(01), 51–59.
Herkutanto. (2009). Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 12(01), 41–47.
Herkutanto, & Susilo, A. P. (2009). Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 12(03), 140– 147.
Idris, F. (2007). Manajemen resiko dalam pelayanan kesehatan : konsep dalam sistem pelayanan kesehatan. Palembang: Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat-Kedokteran Komunitas.
KARS. (2012). Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012.
Kornela, F., Hariyanto, T., & Pusparahaju, A. (2014). Pengembangan Model Jenjang Karir Perawat Klinis di Unit Rawat Inap Rumah Sakit (Clinical Nursing Career Model Development in Inpatient Units of Hospital). Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), 58–63.
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan RS.
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 755 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Komite Medik Di Rumah Sakit.
Siregar, C. T. (2013). Perilaku Caring Perawat dalam Melakukan Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Tengku Mansyur Tanjungbalai. Asuhan Keperawatan. Retrieved from http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39084/4/Chapter ll.pdf
STIKES Santo Borromeus. (2010). PELAKSANAAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL: IDENTIFIKASI RESIKO PASIEN JATUH DENGAN MENGGUNAKAN SKALA JATUH MORSE DI RUMAH SAKIT “A” BANDUNG. Stikes, 1, 1–12.