BAB III : PENEGAKAN SANKSI ADMINISTRASI PNS DI
C. Penjatuhan Sanksi Displin Bagi Pegawai Negeri Sipil yang
Tujuan penjatuhan sanksi disiplin pada dasarnya bersifat pembinaan yaitu untuk memperbaiki dan mendidik Aparatur Sipil Negara yang melakukan pelanggaran disiplin. Hal ini juga dimaksudkan agar Aparatur Sipil Negara yang lain tidak melakukan pelanggaran yang sama. Pejabat yang berwenang menjatuhkan hukuman sebelum mengambil keputusan wajib mempelajari dengan
88 Ahmad Ghufron, SH, Hukum Kepegawaian di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 1991, hal. 16
89 Faisal Abdullah, Op.Cit, hal. 181
teliti hasil pemeriksaan, dan memperhatikan dengan seksama faktor- faktor yang mendorong atau menyebabkan Aparatur Sipil Negara yang bersangkutan terlibat dalam kegiatan kampanye pemilihan kepala daerah.
Dalam hal Aparatur Sipil Negara yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya akan dijatuhi hukuman disiplin yang bukan menjadi kewenangannya, Pimpinan Instansi atau Kepala Perwakilan mengusulkan penjatuhan hukuman disiplin kepada Pejabat Pembina Kepegawaian instansi induknya disertai berita acara pemeriksaan. Penjatuhan hukuman disiplin yang menjadi wewenang Presiden diusulkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan tembusannya disampaikan kepada BAPEK dengan melampirkan: 90
1) Berita acara pemeriksaan
2) Bukti- bukti pelanggaran disiplin 3) Bahan- bahan yang diperlukan
Penjatuhan hukuman disiplin ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum. Penyampaian keputusan hukuman disiplin dilakukan sendiri oleh pejabat yang berwenang menghukum. Oknum Aparatur Sipil Negara yang bersangkutan dipanggil secara tertulis untuk hadir menerima keputusan.
Panyampaian pemberian sanksi administratif dilakukan secara tertutup oleh pejabat yang berwenang atau juga pejabat lain yang ditunjuk kepada Aparatur Sipil yang bersangkutan serta tembusannya disampaikan kepada pejabat instansi terkait. Yang dimaksud secara tertutup yaitu penyampaian surat keputusan hanya diketahui oleh Aparatur Sipil Negara yang bersangkutan dan pejabat lain yang
90 Ibid. hal. 185
terkait dengan ketentuan bahwa pejabat terkkait dimaksud jabatan dan pangkatnya tidak boleh lebih rendah dari oknum Aparatur Sipil Negara yang bersangkutan.
Menurut George C. Edwards, implementasi kebijakan dipengaruhi oleh 4 (variabel) yang saling berhubungan, antara lain: 91
1. Adanya komunikasi antara pengambil kebijakan dengan para implementor
2. Adanya sumber daya 3. Disposisi
4. Struktur birokrasi
Sejalan dengan hal tersebut di atas, bahwa dalam menjatuhkan sanksi administrasi kepada Pegawai Negeri Sipil perlu pertimbangan. Wursanto menyatakan bahwa pertimbangan terhadap penjatuhan sanksi administrasi disiplin adalah: 92
1. Hukuman yang bersifat mendidik;
2. Jenis pelanggaran yang dilakukan;
3. Faktor- faktor yang mendorong atau menyebabkan terjadinya pelanggaran disiplin;
4. Hukuman disiplin harus setimpal dengan jenis pelanggaran yang dilakukan pegawai yang bersangkutan;
5. Hukuman disiplin harus bersifat adil.
Khusus untuk sanksi disiplin berat, diharapkan sanksi akan memberikan efek jera kepada para Pegawai Negeri Sipil tersebut maupun kepada Pegawai
91 Achmad Ichsan, Tata Administrasi Kekaryawanan: Dasar- dasar Sosio Analitis, Jakarta, Djambatan, 1976, hal. 131
92 Wursanto, Manajemen Kepegawaian , Jakarta, Kanisius, 2003, hal. 119
Negeri Sipil yang lain. Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi pelanggaran berat terhadap pokok disiplin Pegawai Negeri Sipil karena akan mencoreng instansi Pemerintah Kota Medan. 93
93 Hasil Wawancara dengan Bapak Alfandi Siregar, selaku Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Medan pada tanggal 7 Agustus 2019
BAB IV
PENJATUHAN SANKSI DISIPLIN BERAT BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MEDAN
A. Gambaran Pelanggaran Disiplin Berat PNS di Lingkungan Pemerintah Kota Medan
Dalam pengetahuan hukum kepegawaian ada beberapa pendapat yang perlu dikemukakan mengenai apa sebenarnya pegawai negeri. Logemann menggunakan kriteria yang bersifat materiil yakni hubungan antara negara dengan pegawai negeri tersebut. Logemann menyatakan bahwa pegawai negeri adalah tiap pejabat yang mempunyai hubungan dinas dengan negara. Sedangkan pengertian pegawai negeri menurut Mahfud M.D. dalam buku Hukum Kepegawaian terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut: 107
1. Pengertian Spitulatif
Pengertian spitulatif adalah pengertian berdasarkan penetapan tentang makna yang diberikan oleh undang- undang tentang pegawai negeri yang terdapat dalam Pasal 1 angka (3) dan Pasal 2 Undang- undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara. Menurut pengertian ini PNS adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan perundang-
107 Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Yogyakarta, Gadjah Mada, 1994, hal. 39
undangan yang berlaku yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dalam rangka melancarkan program kerja pemerintah.
2. Pengertian Ekstensif
Selain dari pengertian spitulatif, ada beberapa golongan yang sebenarnya bukan Pegawai Negeri Sipil, menurut Undang- undang Nomor 5 Tahun 2014, tetapi yang dianggap sebagai diperlukan sama dengan pegawai negeri, yaitu TNI dan anggota Polri. Dalam pengertian ini, bahwa PNS bukan saja sebagai yang disebutkan dalam Undang- undang Nomor 5 Tahun 2014 tetapi juga ada pengertian yang berlaku pada hal- hal tertentu.
Dalam penyelenggaraannya, Pegawai Negeri Sipil terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu: 108
1. Pegawai Negeri Sipil Pusat adalah Pegawai Negeri Sipil yang gajinya dibebankan pada APBN dan bekerja pada Departemen, Lembaga Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga tertinggi/ Tinggi Negara, dan kepaniteraan pengadilan.
2. Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah Pegawai Negeri Sipil daerah provinsi/ kabupaten/ kota yang gajinya dibebankam pada APBD dan bekerja pada pemerintah daerah, atau dipekerjakan di luar instansi induknya.
108 Moekijat, Administrasi Kepegawaian Negara, Bandung, Mandar Baru, 1991, hal. 25
Baik Pegawai Negeri Sipil pusat maupun daerah dapat diperbantukan di luar instansi induknya. Jika demikian, maka gaji pegwai tersebut dibebankan pada instansi yang menerima pembantuan tersebut. Selain itu, juga diangkat Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang sering disebut dengan pegawai honorer. Pegawai Tidak Tetap diangkat untuk jangka waktu tertentu dan melaksanakan tugas pemerintahan yang bersifat teknis. Pegawai Tidak Tetap ini bukan merupakan Pegawai Negeri Sipil.
Dalam dunia birokrasi pemerintahan, dikenal adanya jabatan karir. Artinya jabatan ini hanya dapat diduduki oleh PNS. Jabatan ini berbeda halnya dengan jabatan politik. Jabatan karir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 109
1. Jabatan struktural: jabatan yang secara tegas ada dalam struktur organisasi. Kedudukan jabatan struktural bertingkat- tingkat dari tingkat terendah (eselon IV/b) hingga yang tertinggi (eselon I/a).
2. Jabatan fungsional: jabatan yang tidak secara tegas disebutkan dalam struktur organisasi, tetapi dari sudut fungsinya diperlukan oleh organisasi.
Dari pengertian Pegawai Negeri Sipil di atas, dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa Pegawai Negeri Sipil adalah orang yang bekerja pada pemerintah atau negara yang memenuhi syarat tertentu sebagai warga negara
109 Sedarmayanti, Manajemen SDM Pemerintahan, Jakarta, Grasindo, 2005, hal. 15
Indonesia dan diangkat sebagai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan. 110
Telah dijelaskan sebelumnya di atas bahwa jenis pelanggaran disiplin berat yang terjadi di Pemerintahan Kota Medan adalah tindak pidana korupsi.
Pelanggaran ini menjadi pelanggaran berat yang paling banyak terjadi dengan delapan kasus pelanggaran disiplin berat dari tiga belas kasus pelanggatan sepanjang tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan terjadinya tindak pelanggaran berat tindak pidana korupsi di Pemerintahan Kota Medan menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Medan dalam mengatasi permasalahan pegawainya. 111
Delapan orang yang menjadi tersangka kasus pelanggaran berat dengan tindak pidana korupsi kemudian dijatuhi sanksi berupa pemberhentian dengan tidak hormat. Adapun sanksi ini diberikan setelah adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Semua tersangka telah diberhentikan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintahan Kota Medan (Pemko Medan).
Dengan demikian, maka segala fasilitas dan kewenangan yang melekat pada Pegawai Negeri Sipil, setelah adanya pemberhentikan dengan tidak hormat, maka tidak lagi melekat pada diri Pegawai Negeri Sipil tersebut. Hal ini tentunya akan menjadi pelajaran dan akan memberikan efek jera kepada para oknum
110 W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1986, hal. 702
111 Hasil Wawancara dengan Ibu Eriyani Sembiring selaku Anggota Majelis Kode Etik Lingungan Pemko Medan pada tanggal 6 Agustus 2019
Pegawai Negeri Sipil lain yang hendak melakukan tindakan yang sama dengan para pelaku. Sedangkan pada kasus pelanggaran disiplin berat dengan tindakan kekerasan diberikan hukuman beragam. Mulai dari pemindahtugasan, sampai kepada penundaan kenaikan pangkat bagi Pegawai Negeri Sipil tersebut. 112
Bagi seorang Pegawai Negeri Sipil kedisplinan harus menjadi acuan hidupnya. Tuntutan masyarakat akan pelayanan yang semakin tinggi membutuhkan aparatur yang bersih, berwibawa dan berdisplin tinggi dalam menjalankan tugas. Sikap dan perilaku seorang Pegawai Negeri Sipil dapat dijadikan panutan atau keteladanan bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungannya dan masyarakat pada umumnya.
Dalam melaksanakan tugas sehari-hari mereka harus mampu mengendalikan diri sehingga irama dan suasana kerja berjalan harmonis, namun kenyataan yang berkembang sekarang justru jauh dari kata sempurna. Masih banyak Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran disiplin dengan berbagai cara. Disiplin menurut Wirjo Surachmad adalah : “sikap mental yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan pemerintah atau etik, norma serta kaidah yang berlaku dalam masyarakat”.113
112 Ibid.
113 Nurlita Witarsa, Dasar-dasar Produksi, Jakarta, Karunika, 1988, hal. 102
Tingkatan sanksi disiplin yang diberikan pada Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Medan adalah sebagai berkut: 114
1. Penundaan kenaikan pangkat.
Penundaan kenaikan pangkat dapat dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran disiplin. Penundaan kenaikan pangkat ini termasuk jenis hukuman sedang. Penjatuhan hukuman penundaan kenaikan pangkat ditetapkan dengan surat keputusan.
Penundaan kenaikan pagnkat ditetapkan dengan surat keputusan.
Penundaan kenaikan pangkat dijatuhkan untuk waktu sekurang-kurangnya enam bulan dan selama-lamanya satu tahun terhitung tanggal kenaikan pangkat yang bersangkutan. Surat keputusan penjatuhan hukuman disiplin berupa penundaan kenaikan pangkat it harus memuat jenis pelanggaran yang telah dilakukan oleh yang bersangkutan. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman penundaan kenaikan pangkat dapat mengajukan keberatan secara tertulis yang disampaikan dalam jangka waktu empat belas hari terhitung mulai tangal yang bersangkutan menerima keputusan hukuman disiplin tersebut. dalam surat keberatan itu harus disampaikan kepada atas pejabat yang berwenang menghukum secara hirarki.
2. Penurunan pangkat
Penuruan pangkat adalah hukuman disiplin yang bertingkat berat.
Penurunan pangkat ini adalah penurunan pada pangkat yang setingkat
114 Hasil Wawancara dengan Bapak Riko Nainggolan selaku Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Medan pada 5 Agutus 2019
lebih rendah dari pangkat yang sedang dipangku. Hukuman ini harus ditetapkan dengan surat keputusan pejabat yang berwenang menghukum dengan ketentuan bahwa pangkat yang diturunkan itu berlangsung untuk sekurang-kurangnya enam bulan dan paling lama satu tahun. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman penurunan pangkat ini dapat mengajukan keberatan dengan menyebutkan alasan-alasan yang disampaikan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum secara hirarki. Pengajuan keberatan harus sudah dilakukan dalam jangka waktu empat belas hari terhitung mulai menerima keputusan tentang hukuman disiplin itu.
3. Pembebasan dari jabatan
Pegawai Negeri Sipil yang melanggar peraturan disiplin dapat dijatuhi hukuman disiplin berat berupa pembebasan dari jabatan. Pembebasan dari jabatan sebagai hukuman harus ditetapkan dengan surat keputusan pejabat yang berwenag menghukum. Pembebasan dari jabatan berarti pula sebagai pencabutan segala wewenang yang melekat pada jabatan itu, sedangkan gajinya masih diterima secara penuh kecuali tunjangan jabatan, yang bersangkutan baru dapat diangkat lagi dalam sesuatu jabatan setelah sekurang-kurangnya satu tahun menjalani hukuman berupa pembebasan dari jabatan itu, dengan dasar pemikiran bahwa dalam waktu satu tahun kiranya sudah cukup waktu untuk menilai apakah kepada yang bersangkutan sudah dapat diberi kepercayaan untuk memangku jabatan lain. Yang bersangkutan dapat mengajukan
keberatan atas hukuman pembebasan dari jabatan itu dalam waktu empat belas hari setelah diterimanya surat keputusan tentang hukuman itu dengan menyebutkan alasan-alasannya dan disampaikan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum itu secara hirarkis.
4. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sebagai jenis hukuman berat atas pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil harus ditetapkan juga dengan surat keputusan pejabat yang berwenang menghukum. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri diberikan hakhak kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam surat keputusan pejabat tentang hukuman itu harus disebutkan dengan jelas tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman pemberhentian tidak atas permintaan sendiri itu jika memenuhi syarat-syarat masa kerja dan usia pension menurut peraturan yang berlaku, diberikan hak pension. Selanjutnya penjatuhan hukuman berupa pemberhentian tidak atas permintaan sendiri dapat disbanding dengan surat keberatan dari Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan yang disampaikan kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum secara hirarkis dalam jangka waktu empat belas hari dengan memberikan alasan-alasan keberatan tersebut.
5. Pemberhentian tidak dengan hormat
Hukuman disiplin yang terberat adalah pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penjatuhan hukuman menerima surat keberatan dengan surat keputusan pejabat yang berwenang menghukum. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman pemberhentian dengan tidak hormat tidak diberikan hak-hak kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam surat keputusan pejabat tentang hukuman itu harus disebutkan dengan jelas tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman pemberhentian tidak dengan hormat dapat disbanding dengan surat keberatan dari Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan yang disampaikan kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum secara hirarkis dalam jangka waktu empat belas hari dengan memberikan alasan-alasan keberatan tersebut.
Dalam melakukan pengawasan melekat, Pemerintah Kota Medan telah melakukan sesuai dengan aturan yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Pengawasan di tingkat pusat dilakukan oleh KASN, sedangkan pada tingkat kabupaten/kota dilakukan oleh Majelis Kode Etik. Adapun sasaran pengawasan melekat berdasarkan pada Instruksi Presiden tersebut adalah :
a. Meningkatkan kedisplinan pegawai serta prestasi kerja serta pencapaian pelaksanaan tugas.
b. Menekan sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang.
c. Mengurangi kebocoran serta epmborosan keuangan negara dan segala bentuk penyimpangan lainnya.
d. Mempercepat penyelesaian permasalahan dan meningkatkan pelayanan masyarakat.
e. Mempercepat pengurusan kepegawaian sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Berdasarkan sanksi disiplin berat yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Medan di atas, jika dianlisa ternyata sesuai dengan sanksi disiplin berat yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil pada Pasal 7 ayat (4) yaitu:
a. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;
c. pembebasan dari jabatan;
d. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan
e. pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.
Peraturan Walikota Nomor 2 Tahun 2012 tidak disebutkan secara eksplisit mengenai sanksi disiplin berat terhadap Pegawai Negeri Sipil. Pada Pasal 25 hanya disebutkan bahwa Pegawai yang melakukan pelanggaran Kode Etik dikenakan sanksi moral. Namun pada Pasal 31 diberikan kemungkinan pemberian sanksi administratif. Sanksi administratif sendiri telah disebutkan sebelumnya terdiri dari tiga yaitu sanksi disiplin ringan, sedang dan berat. Tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil tersebut. Artinya, apabila pelanggaran Kode Etik dengan tingkatan berat di lingkungan Pmerintahan
Kota Medan, maka dapat diberikan sanksi disiplin berat dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
B. Pertimbangan Penjatuhan Sanksi Disiplin Berat Bagi PNS yang Melakukan Pelanggaran
Setiap peraturan memiliki pembatasan terhadap keberlakuannya untuk dapat menegaskan aspek kepastian, keadilan, dan kegunaan hukum. Artinya tidak ada satupun peraturan yang keberlakuannya sepanjang zaman dan memenuhi kebutuhan realitas sosial yang terus berubah, sehingga setiap perubahan pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis bagi setiap keinginan untuk memenuhi tuntutan zaman. 115 Nilai- nilai etika yang harus ditaati oleh Pegawai Negeri Sipil terlihat dalam kewajiban- kewajiban tersebut di atas. 116
Pokok- pokok Displin Pegawai Negeri Sipil yang berisikan tentang kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tidak dijalankan dan/ atau apabila larangan dilanggar oleh Pegawai Negeri Sipil tersebut. Bentuk- bentuk kegiatan yang dilarang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil: 117
1. Menyalahgunakan wewenang;
115 Ellydar Chaidir, Sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia Pasca Perubahan Undang- undang Dasar 1945, Yogyakarta, Total Media, 2008, hal. 294
116 Sri Hartini, Kebijakan Netralitas Politik Pegawai Negeri Sipil dalam Pemilukada (Studi di Jawa Tengah), Padjajaran Jurnal Ilmu Hukum, Tahun 2014
117 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 74
2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/ atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain;
3. Tanpa izin pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain dan/ atau lembaga atau organisasi internasional;
4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya masyarakat asing;
5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan atau meminjamkan barang- barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah;
6. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;
7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat dalam jabatan;
8. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/ atau pekerjaannya;
9. Bertindak sewenang- wenang terhadap bawahannya;
10. Melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan sesuatu tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehinga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani;
11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/ Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara:
a. Ikut serta sebagai pelaksana kampanye;
b. Menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS;
c. Sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/ atau d. Sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/ Wakil Presiden dengan cara:
a. Membuat keputusan dan/ atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau b. Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat;
14. Memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk sesuai peraturan perundang- undangan; dan
15. Memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah, dengan cara:
a. Terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah;
b. Menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye;
c. Membuat keputusan dan/ atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau d. Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu, sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.
Pada Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 dijelaskan bahwa Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban:118
1. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 3, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
2. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
3. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana
118 Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil
dimaksud dalam Pasal 3 angka 5, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
4. menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
5. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
6. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
7. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau
7. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau