• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB XXI KETENTUAN PIDANA

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Peraturan Daerah yang baru tentang Penyelenggaraan Terminal dan Tarif Retribusi Terminal harus dapat mengakomodasi semua aspek, termasuk aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan dan profesionalisme, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penerapan manajemen dan rekayasa lalu lintas, penegakan supremasi hukum, serta peningkatan potensi pendapatan asli daerah sebagai salah satu modal dasar pembangunan daerah.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas Pasal 2

Ayat (1)

Penyelenggaraan terminal transportasi jalan sangat berkaitan dan berdampak langsung terhadap kelancaran, ketertiban, keteraturan, dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Oleh sebab itu Kepala Daerah berwenang dan berkepentingan untuk menetapkan kebijaksanaan yang berhubungan dengan penyelenggaraan terminal transportasi jalan. Ayat (2)

Sebagai perpanjangan tangan Walikota, Kepala Dinas diberi tugas dan tanggungjawab, serta dilimpahkan kewenangan untuk melakukan pembinaan teknis di bidang terminal

transportasi jalan, serta menandatangani dan mengeluarkan segala bentuk perizinan yang berkaitan dengan penyelenggaraan terminal transportasi jalan.

Pasal 3

Unit pelaksana teknis yang tugas pokok dan fungsinya menangani penyelenggaraan terminal. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4)

Terminal Barang Utama adalah terminal barang induk yang dijadikan sebagai pusat pengendalian utama lalu lintas angkutan barang, pusat pengendalian unit-unit kerja terminal barang lainnya seperti terminal barang pembantu, pos retribusi terminal barang, dan terminal barang untuk kepentingan sendiri, serta dijadikan sebagai kantor Unit Pelaksana Teknis Terminal Barang.

Ayat (5)

Terminal Barang Pembantu adalah salah satu unit kerja terminal barang utama, yang berfungsi sebagai pusat pengendalian lalu lintas angkutan barang pada lintasan atau koridor yang terdekat, serta merupakan satuan kerja dari Unit Pelaksana Teknis Terminal Barang.

Ayat (6)

Untuk menunjang kegiatan pokoknya Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Swasta dapat membangun dan menyelenggararakan Terminal Barang Untuk Kepentingan Sendiri. TBUKS dibangun dan diselenggarakan sebagai penunjang usaha pokok, bukan sebagai usaha pokok penyelenggaraan terminal barang.

Ayat (7)

Disebabkan pada beberapa lintasan angkutan barang belum dapat dibangun dan diselenggarakan terminal barang yang bersifat permanen, maka untuk sementara waktu dapat dibangun Pos Retribusi Terminal Barang, yang berfungsi untuk menyelenggaraan sebagian fungsi Terminal Barang.

Penyelenggaraan Pos Retribusi Terminal Barang ini tetap dilaksanakan mengingat untuk memaksa kendaraan bermotor umum angkutan barang memasuki Terminal Barang yang sangat jauh dari lintasannya, akan menyebabkan inefesiensi waktu, inefektivitas pelayanan, dan ekonomi biaya tinggi bagi masyarkat.

Namun apabila Pos Retribusi Terminal Barang ini tidak diselenggara-kan maka akan menyebabkan kerusakan sistem yang lebih luas dalam penyelenggaraan Terminal Barang dan pengendalian lalu lintas angkutan barang.

Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7

Ayat (1)

Rencana induk jaringan lalu lintas dan angkutan jalan adalah salah satu dokumen perencanaan makro yang dikembangkan dalam rangka memadukan simpul-simpul transportasi secara sinergis dan terinter-grasi. Untuk lingkup Kota Dumai dokumen tersebut dapat berupa Grand Design Transportasi Kota Dumai yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4)

Pembangunan Pool dan/atau Loket di Luar Terminal atau pembangunan TBUKS harus mendapatkan izin dari Walikota berupa izin mendirikan bangunan, dimaksudkan agar pembangunan tempat khusus parkir tidak melanggar penetapan lokasi yang ditetapkan Walikota, memenuhi ketentuan perizinan pendirian bangunan, serta tidak menyebabkan kerusakan sistem bagi penyelenggaraan terminal dan pengendalian lalu lintas dan angkutan jalan. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4)

Penyelenggaraan Pool dan/atau Loket di Luar Terminal atau penyelenggaraan TBUKS harus mendapatkan izin dari Walikota dimaksudkan agar penyelenggaraan tersebut adalah legal sehingga menjamin kepastian hukum bagi penyelenggaranya dan perlindungan hukum bagi pengguna jasanya, serta menjadikannya sebagai komponen yang terpadu dan sinergis terhadap terminal transportasi jalan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14

Ayat (1)

Selain Pemerintah Daerah, orang atau badan yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyelenggarakan terminal yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah adalah ilegal dan merupakan tindakan melanggar hukum.

Ayat (2)

Pembangunan dan penyelenggaraan Pool dan/atau Loket di Luar Terminal serta TBUKS tanpa izin dari Walikota adalah ilegal dan merupakan tindakan melanggar hukum.

Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b

Hanya bagi perusahaan Angkutan Sewa yang nyata-nyata mengoperasikan kendaraannya sebagai mobil rental yang tidak dikenakan kewajiban memasuki terminal penumpang.

Huruf c

Hanya bagi perusahaan Angkutan Pariwisata yang nyata-nyata mengoperasikan kendaraannya sebagai mobil wisata yang tidak dikenakan kewajiban memasuki terminal penumpang. Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1)

Kendaraan bermotor umum angkutan barang yang tidak bermuatan tidak dikenakan kewajiban memasuki terminal barang.

Ayat (2)

Kendaraan bermotor umum angkutan barang yang lintasannya sangat jauh dari terminal barang apabila dipaksa memasuki terminal barang, akan menyebabkan inefesiensi waktu, inefektivitas pelayanan, dan ekonomi biaya tinggi bagi masyarkat. Namun demikian dalam rangka pengendalian lalu lintas angkutan barang, kendaraan bermotor umum angkutan barang dimaksud diwajibkan melintasi dan berhenti pada pos retribusi terminal barang yang terdekat dari lintasannya.

Ayat (3) Cukup jelas

Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3)

Contoh : Sebuah kendaraan truk bak terbuka sumbu 1.2 pengangkut TBS melintasi Pos Retribusi Terminal Barang yang berada di Bukit Timah. Dalam Buku Uji kendaraan tersebut diperoleh data JBI = 7.200 Kg, dan dalam surat muatan barangnya diperoleh data bahwa berat TBS yang diangkut adalah 3.500 Kg. Maka dengan demikian berat kendaraan dan muatannya adalah = 7.200 Kg + 3.500 Kg = 10.700 Kg.

Ayat (4)

Contoh : Sebuah kendaraan truk bak terbuka jenis Colt Diesel T110S sumbu 1.2 pengangkut TBS melintasi Pos Retribusi Terminal Barang yang berada di Bukit Timah dengan muatan penuh setinggi bak kendaraan. Namun kendaraan tersebut tidak dilengkapi dengan sembarang surat muatan barang.

Untuk menentukan berat kendaraan beserta muatannya, petugas pos retribusi berpedoman pada tabel yang telah disiapkan oleh Dinas sebelumnya, berdasarkan hasil uji petik atau uji sampel terhadap kendaraan sejenis dan muatan yang sama, yang pernah ditimbang di Terminal Barang.

Misalkan dalam tabel tersebut diperoleh data bahwa jenis kendaraan Colt Diesel T110S sumbu 1.2 yang mengangkut muatan TBS penuh setinggi bak kendaraan adalah 10.000 Kg, maka petugas pos retribusi dapat langsung mengadopsi nilai tersebut sebagai berat kendaraan beserta muatannya bagi kendaraan yang sedang dilayaninya.

Pasal 22 Ayat (1)

Cukup jelas Ayat (2)

Alat penimbangan yang dapat dipindah-pindahkan disebut juga alat penimbangan portabel, sedangkan alat penimbangan yang bersifat menetap disebut juga jembatan timbang statis.

Alat penimbangan yang dapat dipindah-pindahkan dapat digunakan apabila jembatan timbang statis kelebihan beban tugas penimbangan karena volume kendaraan yang akan ditimbang melebihi kapasitas timbang dalam periode waktu tertentu. Oleh sebab itu untuk meng-urangi antrian kendaraan menuju ke jembatan timbang dapat diper-kerjakan alat penimbangan portabel yang dilakukan di tempat parkir.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas

Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25

Ayat (1)

Pengadaan alat pemadam kebakaran dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan kendaraan dan pengguna jasa di dalam terminal barang.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a

Sistem informasi pendataan keluar masuk kendaraan bermotor umum ke dan dari terminal penumpang dibangun untuk dapat menghasilkan matrik asal dan tujuan perjalanan penumpang berdasarkan trayek kendaraan bermotor umum.

Huruf b

Sistem informasi pendataan keluar masuk kendaraan bermotor umum ke dan dari terminal barang dibangun untuk dapat menghasilkan matrik asal dan tujuan perjalanan barang berdasarkan jenis atau komoditas barang yang diangkut.

Huruf c

Sistem komputerisasi penimbangan kendaraan bermotor dibangun untuk dapat mempercepat proses penimbangan kendaraan bermotor umum beserta muatannya, dan melakukan konversi besaran Retribusi Terminal yang harus dibayar secara elektronik. Huruf d

Penggunaan metode kartu elektronik atau smart card dimaksudkan agar pembayaran Retribusi Terminal dapat dilakukan secara cepat, akurat, efektif dan efisien, dapat diisi ulang, dapat digunakan berkali-kali, dan dapat dipergunakan untuk membayar retribusi jenis pelayanan yang tersedia di terminal.

Huruf e

Sistem komputerisasi pemantauan kejadian, pengawasan situasi dan pengaturan sirkulasi kendaraan di dalam terminal dengan mempergunakan CCTV dibangun dengan maksud agar setiap kejadian dapat direkam dan dijadikan sebagai alat bukti dalam setiap peristiwa yang berimplikasi hukum.

Pasal 27 Ayat (1)

Mencorat-coret, menempelkan sesuatu, mengotori, memindahkan, menghilangkan, menumbangkan, merusak, atau membuat tidak berfungsi rambu-rambu parkir, marka parkir, atau papan informasi tarif retribusi terminal merupakan tindak pidana kejahatan. Ayat (2)

Memasang atau meletakkan rambu-rambu, marka jalan, atau papan informasi, menambah, mengurangi, merenovasi, atau mengubah bentuk bangunan yang berada di dalam Terminal Barang dan/atau dalam daerah Lingkungan Kerja Terminal Barang tanpa izin adalah tindakan perampasan hak umum secara sepihak dan tidak bertanggungjawab, merupakan tindak pidana pelanggaran.

Ayat (3)

Menghapus, menghilangkan, mengubah, mengedit, menambah, atau merekayasa data sistem informasi dan/atau sistem komputerisasi Terminal Barang dengan maksud untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri dan/atau orang lain merupakan tindak pidana kejahatan.

Berjualan atau menjajakan dagangan tidak pada tempat yang telah ditentukan dan/atau berjualan secara asongan, merupakan tindakan yang merusak tatanan ketertiban, keteraturan, kebersihan, dan keindahan, dan merupakan suatu tindak pelanggaran.

Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (2)

Pelanggaran terhadap ketentuan lokasi pool dan/atau loket di luar terminal akan menyebabkan kerusakan bagi sistem penyelenggaraan terminal transportasi jalan yang dibangun dan diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, sehingga dapat dikenakan sanksi hukum bagi para pelakunya.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 32

Cukup jelas Pasal 33

Segala bentuk kegiatan percaloan merupakan kegiatan yang merugikan masyarakat sehingga kepada para pelakunya wajib dikenakan sanksi hukum.

Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a

Penggunaan musholla, serta penggunaan fasilitas wc/toilet yang berada di terminal merupakan pelayanan dasar yang selayaknya dapat dinikmati oleh pengguna jasa yang telah membayar retribusi terhadap pelayanan terminal lainnya.

Huruf b

Penyediaan tempat parkir untuk kendaraan bermotor penjemput atau pengantar adalah merupakan obyek retribusi tempat khusus parkir, bukan merupakan objek retribusi terminal.

Huruf c

Penyediaan tempat parkir untuk kendaraan bermotor bukan angkutan barang adalah merupakan obyek retribusi tempat khusus parkir, bukan merupakan objek retribusi terminal.

Huruf d

Pelayanan Pool dan/atau Loket di Luar Terminal yang dibangun dan diselenggarakan oleh Perusahaan Angkutan Umum merupakan objek pajak parkir, bukan objek retribusi terminal.

Huruf e

Pelayanan TBUKS yang dibangun dan diselenggarakan oleh BUMN, BUMD, dan Swasta merupakan objek pajak parkir, bukan objek retribusi terminal.

Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40

Retribusi terminal barang digolongkan sebagai retribusi jasa usaha disebabkan karena obyek retribusi pelayanan di terminal barang adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersil.

Pasal 41

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat parkir untuk kendaraan bermotor umum di dalam terminal adalah dengan cara mengalikan kapasitas ruang parkir di dalam terminal dengan indeks parkir dan pembagian antara total jam operasi terminal dalam satu hari dengan rata-rata durasi parkir kendaraan bermotor umum.

Jika kapasitas ruang parkir kendaraan bermotor umum di dalam terminal adalah 100 ruang parkir, dengan indeks penggunaan ruang parkir 50%, total jam operasi terminal 24 jam dalam satu hari, dan durasi parkir rata-rata 1 jam, maka tingkat penggunaan jasa pelayanan tempat parkir kendaraan bermotor umum, adalah (100 x 50%) x (24 : 1) sama dengan 1.200 kendaraan per hari.

Cara menghitung tingkat penggunaan tempat tunggu penumpang dan/atau peron di dalam terminal adalah dengan cara mengalikan kapasitas tempat tunggu penumpang dan/atau peron di dalam terminal dengan indeks penggunaan tempat tunggu penumpang dan/atau peron dan pembagian antara total jam operasi terminal dalam satu hari dengan rata-rata lamanya orang menunggu di dalam terminal.

Jika kapasitas tempat tunggu penumpang dan/atau peron di dalam terminal adalah 200 tempat duduk, dengan indeks penggunaan tempat tunggu penumpang dan/atau peron 50%, total jam operasi terminal 24 jam dalam satu hari, dan rata-rata lamanya orang menunggu di dalam terminal adalah 2 jam, maka tingkat penggunaan jasa pelayanan tempat parkir kendaraan bermotor umum, adalah (200 x 50%) x (24 : 2) sama dengan 1.200 penumpang per hari.

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat usaha di dalam terminal adalah dengan cara mengalikan jumlah tempat usaha yang tersedia di dalam terminal dengan luas tempat usaha dan indeks pemanfaatan tempat usaha berdasarkan jenis tempat usaha. Jika jumlah tempat usaha jenis kantin di terminal adalah 10 unit, dengan luas masing-masing kantin adalah 24 m2 dan indeks pemanfaatan tempat usaha jenis kantin adalah 80%, maka tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat usaha jenis kantin di dalam terminal, adalah (10 x 24) x 80% sama dengan 192 m2.

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat peristirahatan awak kendaraan bermotor umum adalah dengan cara mengalikan jumlah tempat tidur yang tersedia dengan indeks penggunaan tempat tidur dan pembagian antara total jam operasi terminal dalam satu hari dengan rata-rata lamanya waktu istirahat awak kendaraan bermotor umum.

Jika jumlah tempat tidur yang tersedia di terminal adalah 20 unit, dengan indeks penggunaan tempat tidur sebesar 50%, total jam operasi terminal 24 jam dalam satu hari, dan rata-rata lamanya waktu istirahat awak kendaraan bermotor umum 2 jam, maka tingkat penggunaan jasa penyediaan tempat peristirahatan awak kendaraan bermotor umum, adalah (20 x 50%) x (24 : 2) sama dengan 120 orang per hari.

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa pelangsiran barang, adalah dengan cara mengalikan intensitas penggunaan jasa pelangsiran barang dengan volume rata-rata barang yang dilangsir.

Jika intensitas penggunaan jasa pelangsiran barang 35 kendaraan per hari, dengan volume rata-rata barang yang dilangsir 150 koli per kendaraan, maka tingkat penggunaan jasa pelangsiran barang, adalah (35 x 150) sama dengan 5.250 koli per hari atau (35 x (150 x 25) sama dengan 131.250 Kg per hari.

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa penitipan barang, adalah dengan cara mengalikan volume rata-rata barang yang dititipkan dengan berat rata-rata barang yang dititipkan.

Jika volume rata-rata barang yang dititipkan 75 koli per hari dengan berat rata-rata barang yang dititipkan 25 Kg, maka tingkat penggunaan jasa penitipan barang, adalah (75 x 25) sama dengan 1.875 Kg per hari.

Cara menghitung tingkat penggunaan jasa pergudangan, adalah dengan cara mengalikan volume rata-rata barang yang disimpan dengan rata-rata berat barang yang disimpan dan pembagian antara total hari dalam satu bulan dengan rata-rata durasi penyimpanan barang di gudang.

Jika volume rata-rata barang yang disimpan 250 koli per hari dengan berat rata-rata barang yang dititipkan 25 Kg, dan rata-rata durasi penyimpanan barang di gudang 3 hari, maka tingkat penggunaan jasa pergudangan, adalah (250 x 25) x (30 : 3) sama dengan 62.500 Kg per hari. Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Cukup jelas Pasal 44 Ayat (1)

Struktur tarif retribusi penyediaan tempat parkir kendaraan bermotor umum di Terminal Penumpang berdasarkan jenis pelayanan, jenis kendaraan / kapasitas kendaraan, dimaksudkan untuk menciptakan keadilan dalam memberikan sumbangan terhadap PAD. Ayat (2)

Struktur tarif retribusi penyediaan tempat parkir kendaraan bermotor umum di Terminal Barang berdasarkan jenis kendaraan, konfigurasi sumbu, dan bobot kendaraan beserta muatannya dimaksudkan untuk menciptakan keadilan dalam memberikan sumbangan terhadap PAD disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis kendaraan, konfigurasi sumbu, dan bobot masing-masing kendaraan beserta muatannya. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Ayat (8) Cukup jelas Ayat (9) Cukup jelas Pasal 45

Memungut retribusi terminal yang melebihi tarif yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah ini, adalah tindak pidana pelanggaran.

Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas Pasal 53 Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Huruf a

Metode pasca bayar (sistem konvensional) adalah metode pemungutan retribusi terminal dengan cara menerima pembayaran langsung dari pengguna jasa pada saat memasuki terminal atau pada saat selesai menerima pelayanan jasa di dalam terminal, dan sebagai buktinya petugas pemungut retribusi menyerahkan potongan karcis dan/atau tanda bukti lainnya yang sah kepada pengguna jasa terminal.

Huruf b

Metode pra bayar dengan mempergunakan kartu elektronik atau smart card adalah metode pemungutan retribusi terminal dengan mempergunakan teknologi komputer dan sistem informasinya. Kartu elektronik atau smart card tersebut berfungsi sebagai kartu deposit retribusi terminal.

Kartu deposit retribusi terminal menyimpan sejumlah uang di dalamnya yang dapat dipergunakan untuk membayar retribusi terminal. Jika nilai uang di dalamnya telah habis, kartu deposit retribusi terminal dapat diisi ulang dengan mempergunakan peralatan atau perangkat elektronik tertentu yang dikuasai oleh Dinas.

Keunggulan metode ini adalah bahwa kartu deposit retribusi terminal dapat menyimpan data-data pemilik kartu dan/atau data-data kendaraan di dalamnya, dapat dipergunakan berkali-kali untuk membayar retribusi terminal, serta dapat dipergunakan untuk menikmati beberapa jenis pelayanan yang berbeda di terminal.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 57 Ayat (1)

Legalisasi dan/atau porporasi terhadap karcis retribusi terminal, dimaksudkan untuk memberikan jaminan keabsahan terhadap karcis retribusi terminal yang digunakan.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3)

Cukup jelas Pasal 58

Ayat (1)

Menggunakan karcis retribusi terminal yang tidak dilegalisasi oleh Dinas dan/atau tidak diporporasi oleh Dinas yang membidangi pengelolaan keuangan daerah, dan/atau menggunakan tanda bukti pembayaran retribusi terminal lainnya yang tidak syah adalah tindak pidana melawan hukum.

Ayat (2)

Membuat, mencetak, mengeluarkan, mengedarkan dan/atau menjual karcis retribusi terminal atau tanda bukti pembayaran retribusi terminal lainnya, dan/atau kartu elektronik atau smart card deposit retribusi terminal yang palsu atau tidak syah adalah tindak pidana melawan hukum.

Pasal 59 Ayat (1)

Instansi yang berhak dan berwenang melakukan pemungutan retribusi terminal adalah Dinas Perhubungan Kota Dumai atau Dinas yang tugas pokok dan fungsinya melakukan pembinaan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan, atau Pejabat yang berada di lingkungan Dinas tersebut.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 60

Ayat (1)

Untuk memberikan motivasi dan semangat kerja yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya, Dinas atau pejabat yang melakukan pemungutan retribusi terminal diberikan insentif atas pencapaian kinerja tertentu.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 61

Ayat (1)

Pengawasan, pengendalian, dan penertiban terhadap penyelenggara-an terminal harus terus dilakukan, agar tidak terjadi penyimpangan operasional dan/atau pelanggaran hukum baik yang dilakukan oleh pengguna jasa terminal, maupun oleh penyelenggara terminal, dan/atau petugas pemungut retribusi yang diperkerjakannya.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Cukup jelas Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67

Cukup jelas Pasal 68

Dokumen terkait