• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJELASAN PER POS NERACA

Dalam dokumen LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT (Halaman 88-115)

C. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA

C.2. PENJELASAN PER POS NERACA

C.2.1. Rekening Kas BUN di Bank Indonesia

Jumlah Rekening Kas BUN di Bank Indonesia (BI) per 31 Desember 2006 dan 31

Desember 2005 masing-masing sebesar Rp954.310.836.789 dan

Rp100.485.809.688 merupakan saldo Rekening 502 yang ada di BI.

C.2.2. Rekening Kas di KPPN

Jumlah Rekening Kas di KPPN per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp20.594.618.632.501 dan Rp17.956.484.012.457 merupakan saldo Rekening KPPN di seluruh Indonesia. Daftar Saldo Kas di KPPN dapat dilihat pada Daftar 7.

C.2.3. Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia

Khusus Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp12.331.109.271.481 dan Rp26.503.223.018.939 merupakan saldo rekening pemerintah lainnya yang ada di BI, yang terdiri dari:

Kas di Bendahara Pengeluaran Rp1,46 triliun Kas di Bendahara Penerimaan Rp429,49 miliar Kas di BRR NAD-Nias Rp2,43 triliun 2006 2005 RDI dan RPD Rp4.263.280.108.491 Rp5.733.834.164.019

Rek. hasil minyak perjanjian KPS 1.151.490.051.659 10.720.482.154.138 Rek. Pemerintah lainnya 6.916.339.111.331 10.048.906.700.782

Jumlah Rp12.331.109.271.481 Rp26.503.223.018.939

Jumlah rekening untuk menampung hasil penerimaan minyak perjanjian karya

production sharing (KPS) sebesar Rp1.151.490.051.659 masih terdapat hak

pemerintah daerah dan pihak lainnya yang belum dibagikan. Di dalam rekening pemerintah lainnya terdapat rekening Kas BUN dalam valas sebesar Rp3.806.594.579.799.

Rincian lebih lengkap masing-masing rekening dapat dilihat pada Daftar 8.

C.2.4. Kas di Bendahara Pengeluaran

Jumlah Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp1.457.362.551.679 dan Rp671.209.250.352 merupakan saldo uang persediaan yang belum disetor dan bukti-bukti pengeluaran yang belum dipertanggungjawabkan bendahara pengeluaran kementerian negara/lembaga (K/L) ke kas negara. Rincian Kas di Bendahara Pengeluaran pada kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Daftar 9.

C.2.5. Kas di Bendahara Penerimaan

Jumlah Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp429.489.122.788 dan Rp955.897.763.011 mencakup seluruh kas, baik saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai. yang berada di bawah tanggung jawab bendahara penerimaan yang belum disetor ke kas negara. Rincian Kas di Bendahara Penerimaan masing-masing kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Daftar 10.

C.2.6 Kas di BRR NAD-Nias

Jumlah Kas di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias per 31 Desember 2006 sebesar Rp2.425.944.284.122 terdiri dari:

- Kas Trust Fund Rp2.213.702.756.920

- Kas PMU ReKOMPAK 158.504.274.302

- Kas Komite Beasiswa 53.737.252.900

Jumlah Rp2.425.944.284.122

Saldo Kas Trust Fund sebesar Rp2.213.702.756.920 merupakan jumlah nilai kas yang ditempatkan pada rekening Trust Fund yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan lanjutan pembangunan perumahan, infrastuktur, fasilitas bangunan layanan publik dan pengadaan tanah.

Kas PMU ReKOMPAK sebesar Rp158.504.274.302 merupakan nilai uang kas pada rekening PMU ReKOMPAk yang belum disalurkan kepada Kelompok Penerima Bantuan (Kelompok Pemukim).

Kas Komite Beasiswa sebesar Rp53.737.252.900 merupakan nilai uang kas pada rekening Komite Beasiswa yang dikelola oleh Komite Pelaksana Program Beasiswa Pendidikan Lanjutan, yang bertujuan untuk mendanai beasiswa pendidikan lanjutan bagi tenaga kesehatan di Provinsi NAD.

Uang Muka dari Rekening BUN Rp2,76 triliun

Piutang Pajak Rp35,45 triliun

C.2.7. Uang Muka dari Rekening Bendahara Umum Negara (BUN)

Jumlah Uang Muka dari Rekening BUN per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp2.764.674.545.037 dan Rp2.489.884.695.414 merupakan pembayaran pembiayaan pendahuluan dalam rangka penarikan pinjaman luar negeri dari BUN yang belum ada penggantian dari lender. Rincian Uang Muka dari Rekening BUN menurut lender dapat dilihat di Tabel 7.

Tabel 7

Uang Muka dari Rekening BUN

(dalam rupiah) Lender 2006 2005 - IBRD 962.602.151.537 930.389.055.199 - ADB 873.514.048.925 642.255.391.454 - OECF/JBIC 650.366.643.918 646.476.064.556 - Lainnya 278.191.700.656 270.764.184.205 Jumlah 2.764.674.545.037 2.489.884.695.414 C.2.8. Piutang Pajak

Jumlah Piutang Pajak per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp35.454.552.126.836 dan Rp29.216.456.291.000 merupakan tagihan pajak yang telah ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBM) yang belum dilunasi sampai dengan akhir tahun anggaran, dengan rincian sebagai berikut:

2006 2005

- SKPKB Rp32.280.657.580.871 Rp29.216.456.291.000

- SPKPBM 3.173.894.545.965

Jumlah Rp35.454.552.126.836 Rp29.216.456.291.000

Rincian Piutang Pajak berupa SKPKB sebesar Rp32.280.657.580.871 dapat dilihat pada Daftar 11.

Piutang Pajak berupa SKPBM sebesar Rp3.173.894.545.965 merupakan piutang pajak yang berada di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan rincian sebagai berikut:

Kanwil I DJBC Medan Rp 2.786.856.779

Kanwil II DJBC Tanjung Balai Karimun 6.539.090.175

Kanwil III DJBC Palembang 764.728.834

Kanwil IV DJBC Jakarta 222.143.741.938

Kanwil V DJBC Bandung 273.769.885.528

Kanwil VI DJBC Semarang 2.538.017.222.531

Kanwil VII DJBC Surabaya 78.969.843.351

Kanwil VIII DJBC Denpasar 168.233.463

Kanwil IX DJBC Pontianak 1.602.176.117

Kanwil X DJBC Balikpapan 49.010.436.363

Kanwil XII DJBC Ambon 122.330.886

Piutang Bukan Pajak Rp25,74 triliun

C.2.9. Piutang Bukan Pajak

Jumlah Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp25.737.724.557.593 dan Rp37.025.156.608.440 merupakan piutang penerimaan negara bukan pajak, yaitu semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat dijadikan kas dan belum diselesaikan pada akhir tahun anggaran diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Piutang tersebut terdiri dari:

2006 2005

- PNBP K/L Rp25.658.717.662.864 36.995.215.431.035

- Piutang kepada PPA 79.006.894.729 29.941.177.405

Rp25.737.724.557.593 Rp37.025.156.608.440

Piutang Bukan Pajak sebesar Rp25.658.717.662.864 yang berada di kementerian negara/lembaga, termasuk di dalamnya adalah Piutang Bukan Pajak di Departemen Keuangan sebesar Rp22.598.801.458.415 dengan rincian sebagai berikut:

- Piutang denda dan dividen Rp 5.440.601.893

- Piutang migas kepada Pertamina 18.556.219.133.446

- Piutang migas kepada KKKS 3.818.683.368.529

- Piutang Pungutan Ekspor 161.279.583.878

- Piutang PNBP lainnya 57.178.770.669

Rp22.598.801.458.415 Piutang denda dan dividen sebesar Rp5.440.601.893 merupakan pembayaran dividen BUMN kepada pemerintah yang penyelesaiannya dijadwalkan tahun 2006 namun sampai dengan 31 Desember 2006 belum diselesaikan pembayarannya. Keterlambatan penyelesaian ini mengakibatkan denda, yang diperhitungkan sebagai penambah piutang. Rincian piutang dividen per BUMN sebagai berikut: 2006 2005 - PT Nindya Karya Rp 3.201.105.867 Rp2.623.257.586 - PT Yodya Karya 1.118.878.408 1.732.172.584 - PT Balai Pustaka 1.120.193.135 883.264.643 - PT PAL 424.483 0 - BUMN Lainnya 0 249.916.410.477 Jumlah Rp 5.440.601.893 Rp255.155.105.290

Piutang Pemerintah kepada PT Pertamina sebesar Rp18.556.219.133.446 merupakan kewajiban PT Pertamina (Persero) dari sektor migas sampai dengan 31 Desember 2006, dengan rincian sebagai:

- Nilai Lawan Rp 8.704.636.756.974

- Technical Assistance Contract (TAC) 299.781.225.977

- Operasi Hulu Pertamina 2.770.128.335.978

- Ekspor Minyak Mentah 2.730.382.090.535

- Natural Gas 1.116.051.759.264

- LPG 60.452.412.165

- Piutang Lain-lain1) 2.874.786.552.552

Jumlah2) Rp18.556.219.133.446

Keterangan:

(BoA) sehubungan dengan kasus Karaha Bodas Company (KBC). Namun telah dilakukan pencairan seluruh dana yang tertahan oleh BoA kepada KBC terkait putusan pengadilan yang memenangkan KBC dalam kasus tersebut, maka direncanakan dana-dana yang telah dicairkan kepada KBC tersebut akan dijadikan sebagai kewajiban PT Pertamina (Persero) kepada Pemerintah. 2) Masih termasuk kewajiban PT Pertamina (Persero) kepada Pemerintah eks.

Periode tahun 2003 yang direncanakan menjadi tambahan Penyertaan Modal Pemerintah sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 454/KMK/06/2005 tanggal 21 September 2005 kurang dan belum memperhitungkan koreksi BPK atas hasil pemeriksaan subsidi BBM tahun 2005 yang berpengaruh terhadap kewajiban nilai lawan sebesar Rp467.62 miliar.

Piutang migas kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebesar Rp3.818.683.368.529 merupakan piutang yang timbul karena penjualan minyak dan gas yang jatuh tempo dan diperkirakan akan dibayar satu bulan setelah pengiriman minyak dan gas tersebut, dengan rincian sebagai berikut:

1. Penjualan Minyak Bumi Rp 902.950.480.155

2. Penjualan Gas Alam Rp 2.802.373.373.690

Melalui Trustee Rp 2.432.078.167.798

- Ekspor LNG Rp1.346.442.418.237

- Eksopr LPG

-- Ekspor Gas Alam 484.423.321.180

- Domestik Gas Alam 601.212.428.381

Melalui Non Trustee (Kewajiban KKKS) Rp 370.295.205.892

- Eksopr LPG Rp 74.473.958.869

- Ekspor Gas Alam 195.914

- Domestik Gas Alam1) 295.821.051.108

3. Overlifting KKKS Rp 113.359.514.684

Jumlah 1+2+3 Rp 3.818.683.368.529

Keterangan:

1) Jumlah tersebut termasuk kewajiban PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sebesar USD29.819.111.27, yang berasal dari transaksi swap LNG untuk PT PIM. Dari jumlah tersebut, menurut informasi dari BP MIGAS sebesar USD7.000.000.00 telah diselesaikan oleh PT PIM sebagai pembayaran uang muka, namun dana tersebut saat ini masih berada di rekening penampungan yang dibentuk oleh BP MIGAS dalam rangka penyelesaian permasalahan transaksi swap LNG Arun.

Piutang Pungutan Ekspor sebesar Rp161.279.583.878 merupakan piutang kepada eksportir batu bara yang sampai saat ini masih menunggu keputusan Menteri Keuangan atas tagihan batu bara tersebut. Rincian Piutang Pungutan Ekspor disajikan pada Daftar 13.

Rincian Piutang Bukan Pajak masing-masing kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Daftar 12.

Piutang kepada PT PPA sebesar Rp79.006.894.729 merupakan kewajiban PT PPA atas Hasil Pengelolaan Aset yang masih harus disetorkan kepada Pemerintah, yang dapat dirinci sebagai berikut:

Saldo Awal (1) 29.941.177.405

Penerimaan:

Hasil Pengelolaan Aset:

Divestasi saham yang dikelola Rp 2.269.255.316.405

Dividen atas saham yang dikelola 28.619.817.293

Pokok dan bunga atas tagihan yang dikelola 517.147.111.212

Bunga atas obligasi yang dikelola 32.550.000.000

Bagian Lancar TPA Rp90,56 juta

Bagian Lancar Tagihan TGR Rp12,15 miliar

Dana Cadangan Biaya Pengelolaan 150.000.000.000

Bunga dari dana hasil pengelolaan aset yang masih harus

disetor 72.754.608.120

Jumlah Penerimaan (3) 3.070.326.853.030

Pengurangan:

Biaya pengelolaan yang dapat diperoleh kembali tahun

berjalan dan telah dibayar tunai Rp123.972.633.961

Biaya pengelolaan yang dapat diperoleh kembali periode

sebelumnya yang dibayar tunai pada tahun berjalan 1.457.203.291

Insentif Kinerja Perusahaan 221.186.353.712

PPN atas Insentif Kinerja Perusahaan 22.118.635.371

Jumlah Pengurangan (4) 368.734.826.335

Hasil Pengelolaan Aset yang harus disetor ke Pemerintah (5)

= (1) + (3) –(4) 2.731.533.204.100

Hasil Pengelolaan Aset yang telah disetor ke Pemerintah (6) (2.652.526.309.371)

Jumlah HPA yang masih harus disetor (7) = (5) –(6) Rp79.006.894.729

C.2.10. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran

Jumlah Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp90.560.467 dan Rp39.858.709 merupakan saldo TPA yang akan jatuh tempo dua belas bulan setelah tanggal neraca. Jumlah tersebut merupakan Saldo Bagian Lancar TPA yang berada di:

2006 2005

- Badan Pemeriksa Keuangan Rp 75.240.000 Rp 14.630.000

- Bappenas 15.320.467 25.228.709

Rp 90.560.467 Rp 39.858.709

C.2.11. Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi

Jumlah Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp12.153.879.936 dan Rp8.101.260.747 merupakan saldo Tagihan TGR kementerian negara/lembaga yang akan jatuh tempo dua belas bulan setelah tanggal neraca. Rincian Bagian Lancar Tagihan TGR untuk masing-masing kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Daftar 14.

Jumlah Bagian Lancar TGR sebesar Rp12.153.879.936 belum termasuk TGR terhadap pegawai KPPN Jakarta IV. Pemalsuan dilakukan oleh yang bersangkutan sebanyak dua periode dengan rincian sebagai berikut:

No. TA Bruto Pot. Pajak Jumlah Bersih Penerbitan

Cheque 1 2005 Rp249.850.500 Rp36.341.890 Rp213.508.610 Rp207.000.000

2 2006 542.459.000 76.959.938 465.499.062 460.500.000

Jumlah Rp792.309.500 Rp113.301.828 Rp679.007.672 Rp667.500.000

Berdasarkan Resume Kasus Pemalsuan SPM pada KPPN Jakarta IV bahwa akibat perbuatan yang bersangkutan, negara dirugikan sebesar Rp792.309.500. Berdasarkan surat Direktur Jenderal Perbendaharaan No. S-8739/PB/2006 tanggal 30 Nopember 2006 hal Persetujuan pembayaran dana DIPA 2006 Satker Departemen Agama akibat pemalsuan SPM, butir 4 bahwa terhadap pegawai yang terlibat dalam pemalsuan SPM agar dilakukan TGR dan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Selanjutnya pada butir 5 dicantumkan bahwa Piutang TGR dicantumkan pada neraca satuan kerja KPPN Jakarta IV. Sampai dengan 31 Desember 2006 jumlah sebesar Rp792.309.500 belum dilunasi oleh pegawai tersebut ke kas negara.

Belanja Dibayar Dimuka Rp597,91 miliar

Piutang Lain-lain Rp19,69triliun

C.2.12. Belanja Dibayar di Muka

Jumlah Belanja Dibayar di Muka per 31 Desember 2006 sebesar Rp597.914.389.211 merupakan belanja yang telah dibayarkan kepada pihak ketiga yang manfaat/barangnya masih akan diterima pada periode berikutnya yang berada di:

- Kementerian Negara PAN Rp167.475.000

- BRR Aceh-Nias1) 594.839.660.739

- Komisi Yudisial2) 2.309.400.000

- BKN3) 597.853.472

Rp597.914.389.211

Keterangan:

1) merupakan pembayaran termin atas pembangunan rumah yang belum selesai oleh BRR Aceh-Nias sebesar Rp581.822.001.519 dan sisa sewa

yang belum habis masa sewanya sebesar Rp13.017.659.220.

2) merupakan sewa gedung untuk periode Januari-Desember 2007 3) merupakan sewa gedung tiga kantor regional BKN

Pada Neraca per 31 Desember 2005 belum menyajikan Belanja Dibayar di Muka.

C.2.13. Piutang Lain-lain

Piutang Lain-lain per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp19.688.724.084.329 dan Rp6.578.250.135.452 merupakan piutang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu kategori piutang sebagaimana telah dijelaskan di atas, yang terdiri dari:

2006 2005

- Piutang di K/L Rp6.314.315.922.896 Rp6.556.737.856.239

- Bunga dan denda 17.056.982.202 21.512.279.213

- Kredit program 1.017.038.368.126

- Piutang 18 BDL 12.180.641.909.105 0

- Piutang Kelebihan

Rekapitalisasi 155.000.000.000 0

- Kompensasi penjualan aset eks

asing/cina 4.670.902.000 0

Jumlah Rp19.688.724.084.329 Rp6.578.250.135.452

 Piutang Lain-lain yang berasal dari kementerian negara/lembaga sebesar Rp6.314.315.922.896 merupakan piutang yang berada di Kejaksaan Agung berupa denda dan hukuman membayar uang pengganti kerugian negara yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2006 belum diselesaikan.

 Piutang bunga dan denda sebesar Rp17.056.982.202 merupakan jumlah bunga dan denda dari pinjaman pendanaan KUMK eks dana SU-005 yang sudah jatuh tempo tetapi sampai dengan tanggal 31 Desember 2006 belum diterima. Rincian piutang bunga dan denda dapat dilihat pada Daftar 15.  Piutang kredit program sebesar Rp1.017.038.368.126 merupakan hak

pemerintah sampai dengan 31 Desember 2006 atas beberapa kredit program yang telah dilaksanakan, dengan rincian sebagai berikut:

 Tunggakan Kkop Pangan sebesar Rp92.373.626.116, yang merupakan

hak pemerintah atas kredit kepada Koperasi dalam rangka Pengadaan Pangan (KKop-Pangan) Musim Pengadaan (MP) 2000. Dalam rangka pelaksanaan KKop-Pangan MP 2000. Pemerintah telah menandatangani

Persediaan Rp3,54 triliun

perjanjian pinjaman dengan 5 (lima) bank pelaksana, dengan total plafond sebesar Rp500 milyar.

 Tunggakan dalam rangka Program Kredit Ketahanan Pangan yang

menjadi bagian Pemerintah atas klaim risiko sampai dengan akhir tahun 2006 sebesar Rp1.413.860.570.

 Hak pemerintah sebesar Rp923.250.881.440 merupakan tunggakan yang

terkait dengan program Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Pengadaaan (TP) 1999/2000. Dalam rangka pelaksanaan KUT TP 1999/2000 tersebut. Pemerintah telah melakukan kerjasama dengan 11 (sebelas) bank pelaksana dalam rangka penyediaan pendanaan dengan subsidi bunga dari Pemerintah, dengan total plafond sebesar Rp1.903 milyar.

 Piutang 18 Bank Dalam Likuidasi (BDL) sebesar Rp12.180.641.909.105

merupakan total kewajiban 18 BDL kepada Pemerintah sampai dengan triwulan IV tahun 2006 (termasuk piutang Bank Asiatic (DL), Bank Dagang Bali (DL) dan Bank Global Internasional (DL)). Atas piutang tersebut, Pemerintah telah melakukan koordinasi dengan BI dan selanjutnya meminta rencana kerja dari Tim Likuidasi Bank eks Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah dalam memenuhi kewajibannya kepada Pemerintah. Rincian piutang yang berasal dari kewajiban BDL dapat dilihat pada Daftar 16.  Piutang kelebihan rekapitalisasi sebesar Rp155.000.000.000 merupakan

kelebihan biaya rekapitalisasi PT Bank Danamon Indonesia (BDI) yang harus dikembalikan kepada Pemerintah. BDI diminta untuk melakukan koreksi atas masih tercantumnya pinjaman subordinasi Danamon Internasional dalam neracanya dengan menyetorkannya ke rekening BUN No. 502.000.000 di Bank Indonesia.

 Piutang kompensasi penjualan aset bekas asing/cina sebesar

Rp4.670.902.000 merupakan tagihan atas pelepasan/penjualan aset bekas milik asing/cina kepada pihak ketiga di Surabaya sebesar Rp2.448.268.000 dan di Semarang sebesar Rp2.222.634.000 yang sampai saat ini sedang dalam proses penyelesaian/penagihan. Apabila dalam batas waktu yang telah ditetapkan pihak yang bersangkutan belum juga melunasi kewajibannnya, maka besarnya kompensasi akan ditaksir ulang.

C.2.14. Persediaan

Jumlah Persediaan per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp3.536.487.866.859 dan Rp7.046.248.099.544 merupakan nilai persediaan berdasarkan neraca kementerian negara/lembaga dan unit terkait lainnya.

Termasuk dalam nilai persediaan kementerian negara/lembaga sebesar Rp2.050.894.259.692 antara lain:

 Persediaan yang berada di BRR Aceh-Nias dengan nilai Rp452.392.778.617 yang sebagian besar merupakan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan kepada masyarakat berupa persediaan rumah dan bangunan sebesar Rp449.880.004.651, peralatan, alat permainan edukatif dan sarana perpustakaan sebesar Rp2.489.142.016 dan sisanya sebesar Rp23.631.950 merupakan hasil stock opname barang habis pakai.

 Persediaan di Kepolisian RI berupa barang konsumsi, amunisi dan suku cadang serta blangko SSB sebesar Rp618.428.329.304.

Rincian Persediaan untuk setiap kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Daftar 17.

Persediaan dari unit terkait lainnya sebesar Rp1.485.593.607.167 terdiri dari:

 Persediaan berupa Cadangan Beras Pemerintah yang belum

terjual/tersalurkan yang disimpan di Perum Bulog sebesar

RDI/RPD Rp59,21 triliun

 Persediaan berupa Cadangan Benih Nasional (CBN) yang pengelolaannya ditugaskan kepada PT Sang Hyang Seri (Persero) sebesar Rp209.879.907.167 yang meliputi pengadaan tahun 2006 dan sisa CBN tahun sebelumnya yang belum tersalurkan.

C.2.15. Rek. Dana Investasi/Rek. Pembangunan Daerah

Jumlah Rek. Dana Investasi/Rek. Pembangunan Daerah (RDI/RPD) per 31

Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar

Rp59.212.080.140.000 dan Rp60.371.748.000.000 merupakan nilai dana investasi yang terdiri dari:

dalam juta rupiah)

2006 2005

- pokok blm jatuh tempo Rp41.502.352,46 Rp44.632.310,10

- total tunggakan per 31-12-2006 16.678.387,04 5.682.157,40 - kewajiban akrual bunga, biaya

komitmen dan denda s.d. 31-12-2006 1.031.340,65 10.057.280,50

Jumlah Rp59.212.080,14 Rp60.371.748,00

Berdasarkan tingkat kolektibilitasnya, tunggakan sebesar Rp17.709.727,69juta (Rp16.678.387,04 juta + Rp1.031.340,65 juta) tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

(dalam juta rupiah)

Kategori 2006 % 2005 % - Lancar 551.922,37 3,12% 700.825,13 4,47% - Dalam perhatian 578.891,08 3,27% 1.155.512,03 7,37% - Kurang lancar 125.827,15 0,71% 464.042,20 2,96% - Diragukan 48.267,34 0,27% 98.261,32 0,63% - Macet 16.404.819,75 92,63% 13.262.498,53 84,58% Jumlah 17.709.727,69 15.681.139,20

Rincian saldo RDI/RPD dapat dilihat pada Daftar 18.

RDI dibentuk berdasarkan Keputusan Dewan Moneter No. 7/Kep/DM/1971 tanggal 31 Desember 1971 merupakan kelanjutan dari pengelolaan pinjaman luar negeri yang diteruspinjamkan yang sudah dilaksanakan pada PELITA I tahun 1969. Proyek yang dibiayai antara lain pertanian, perkebunan, kehutanan, jasa keuangan bank dan bukan bank, sarana dan prasarana pemerintah daerah dan koperasi melalui unit usaha BUMN, BUMD/Pemda. Pembiayaan yang berasal dari penerusan pinjaman luar negeri ini diharapkan tidak akan membebani APBN. Pengembalian pinjaman luar negeri bersumber dari pembayaran kembali RDI oleh debitur.

SLA diberikan berdasarkan Keppres No. 59 tahun 1972 tentang Penerimaan Kredit Luar Negeri dan Surat keputusan Bersama antara Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Proyek yang dapat dibiayai melalui SLA antara lain pertanian, eksplorasi laut, kehutanan. Perkebunan, farmasi, jasa keuangan bank dan bukan bank, sarana dan prasarana pemerintah daerah, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, koperasi melalui unit usaha BUMN, BUMD/Pemda dan Koperasi.

RPD dibentuk berdasarkan surat Menteri Keuangan No. S-495/MK.01/86 tanggal 7 Mei 1986. Pedoman Pengelolaan RPD mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan No. S-1021/KMK.013/1991 tanggal 30 September 1991 dan

diperbaharui dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.

347.a/KMK.017/2000 tanggal 22 Agustus 2000. Proyek yang dapat dibiayai melalui RPD antara lain sarana dan prasarana pemerintah daerah, perusahaan air minum melalui unit usaha BUMD/Pemda.

Dana Bergulir Rp5,69 triliun Investasi Non Permanen Lainnya Rp2,75 triliun C.2.16. Dana Bergulir

Jumlah Dana Bergulir per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp5.690.613.254.758 dan Rp2.937.740.327.698 merupakan dana pemerintah yang disalurkan dalam bentuk pinjaman bergulir kepada pengusaha kecil, anggota koperasi, anggota KSM dan lain-lain yang dikelola oleh kementerian negara/lembaga. Rincian dana bergulir adalah sebagai berikut:

2006 2005

1. Dep. Keuangan1) 1.658.234.536.813 1.211.990.994.755

2. Dep. Perindustrian2) 7.610.858.926 40.246.486.000

3. Dep. Kehutanan3) 1.476.715.412.919 0

4. Dep. Kelautan dan Perikanan4) 2.968.940.800 0

5. Kemneg. Kop dan UKM5) 2.540.083.505.300 1.685.502.846.943

6. KLH6) 5.000.000.000 0

Jumlah Rp5.690.613.254.758 Rp2.937.740.327.698

Keterangan:

1) Dana Bergulir yang dikelola oleh Departemen Keuangan yang disalurkan antara lain melalui Bank Pembangunan Daerah , PT Bank BUKOPIN, PT Bank BRI dan PT Bank Mandiri. Dari jumlah tersebut yang terkait dengan RDI sebesar Rp945.091.660.984 dan tidak terkait RDI sebesar Rp713.142.875.829.

2) Jumlah tersebut merupakan nilai bersih yang dapat direalisasikan, yang terdiri dari piutang lancar sebesar Rp4.723.407.082 dan piutang kurang lancar sebesar Rp2.887.451.842. Sedangkan piutang macetnya berdasarkan hasil inventarisasi sebesar Rp26.708.553.030.

3) Meliputi Dana Hutan Tanaman Industri, Dana Kredit Usaha Konservasi Daerah Aliran Sungai, Dana Kredit Usaha Persuteraan Alam dan Dana Kredit Usaha Hutan Rakyat. Atas pengembalian dana bergulir tersebut dari pihak ketiga langsung disetorkan ke kas negara dan tidak digulirkan lagi kepada pihak ketiga.

4) Merupakan dana penguatan modal yang diberikan kepada 164 Koperasi Usaha Bersama dengan melibatkan 2.624 nelayan. Dana bergulir tersebut disalurkan selama periode 2003-2006.

5) Merupakan nilai akumulasi sejak tahun 2000 s.d. 2006 yang merupakan Bantuan Perkuatan Dana Bergulir untuk memberikan stimulan dalam pemberdayaan koperasi dan usaha kecil dan menengah.

6) Merupakan dana Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) yang ditempatkan di Bank Syariah Mandiri yang akan disalurkan kepada Usaha Ekonomi Lemah (UKM) sebagai kredit untuk membiayai investasi di bidang lingkungan hidup.

C.2.17. Investasi Non Permanen Lainnya

Investasi Non Permanen Lainnya per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005

masing-masing sebesar Rp2.750.000.000.000 dan Rp2.684.000.000.000

merupakan pinjaman pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) yang disalurkan melalui BUMN dan lembaga keuangan yang ditunjuk sebagai BUMN Pengelola dan/atau Lembaga Keuangan Pelaksana (LKP). Pinjaman pendanaan KUMK merupakan kelanjutan pendanaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sehubungan dengan berlakunya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999, BI tidak diperkenankan lagi untuk memberikan kredit likuiditas. Untuk itu pemerintah menerbitkan Surat Utang No. SU-005/MK/1999 tanggal 29 Desember 1999 dengan pagu sebesar Rp9.97 triliun. Realisasi pencairan pinjaman pendanaan KUMK eks dana SU-005 adalah sebagai berikut:

Penyertaan Modal Negara Rp475,74 triliun 2006 2005 Saldo awal Rp2.684.000.000.000 Rp1.420.053.000.000 Mutasi 66.000.000.000 1.263.947.000.000 Saldo akhir Rp2.750.000.000.000 Rp2.684.000.000.000

Rincian mengenai pencairan pinjaman pendanaan KUMK sampai dengan tanggal 31 Desember 2006 dapat dilihat pada Daftar 19.

C.2.18. Investasi Permanen Penyertaan Modal Negara

Jumlah Investasi Permanen Penyertaan Modal Negara (PMN) per 31 Desember 2006 dan 31 Desember 2005 masing-masing sebesar Rp475.737.070.434.585

dan Rp430.416.127.491.383 merupakan nilai penyertaan modal negara pada:

2006 2005 - BUMN Rp427.734.043.176.954 Rp393.102.042.283.196 - BHMN 11.077.359.758.021 0 - Non BUMN 2.891.624.719.663 2.627.090.000.000 - Lemb Internasional 34.034.042.779.947 34.686.995.208.187 Rp475.737.070.434.585 Rp430.416.127.491.383

Penyertaan pada BUMN (kepemilikan sama dengan atau lebih dari 51%) merupakan penjumlahan total ekuitas masing-masing BUMN setelah dikalikan dengan persentase kepemilikan negara pada BUMN yang bersangkutan (equity

method). Penyertaan modal negara pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

sebesar Rp427.734.043.176.954 diperoleh dari ikhtisar laporan keuangan BUMN dari 141 BUMN (termasuk PT Dirgantara dan PT Sarana Multigriya Finansial). Laporan keuangan BUMN tersebut terdiri dari:

- 64 laporan keuangan audited tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar

Rp104.079.973.009.389,00;

- 52 laporan keuangan unaudited tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar

Rp160.181.446.567.465,00;

- 20 laporan keuangan prognosa tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar

149.557.853.826.700;

- 1 laporan keuangan semester tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar

minus Rp83.618.000.000;

- 1 laporan keuangan triwulan III tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar

Rp14.081.880.647.400.

- 1 laporan keuangan RKAP tahun 2006 dengan nilai investasi sebesar minus

Rp83.492.874.000.

BUMN yang laporannya belum tersedia adalah PT Survey Udara Penas dan PT

Dalam dokumen LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT (Halaman 88-115)

Dokumen terkait