• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPALA Rumah Tahanan

4.1.3. Penjelasan Responden

Dalam penelitian ini, variabel terikat (dependent variable) yaitu kinerja pegawai (Y) dan tiga variabel bebas (independent variable) terdiri dari : variabel faktor teknis (X1), variabel faktor operasional (X2) dan variabel faktor ekonomis (X3).

4.1.3.1. Penjelasan Responden Atas Faktor Teknis

Definisi operasional variabel faktor teknis adalah kemampuan teknis perangkat lunak yang disediakan untuk mendukung aplikasi secara mantap.

Untuk butir pertanyaan-pertanyaan variabel faktor teknis, mayoritas responden memberikan opsi jawaban ke-2 dan ke-3, hal ini menunjukkan pegawai memberikan tanggapan yang positif terhadap faktor teknis di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe, walaupun terdapat sebagian pegawai yang merasakan faktor teknis kurang baik.

4.1.3.2. Penjelasan Responden Atas Faktor Operasional

Definisi operasional variabel ini adalah berkaitan dengan masalah apakah data masukan dapat disediakan dan kelancaran keluaran dapat dihasilkan serta benar-benar akan dipergunakan.

Untuk butir pertanyaan-pertanyaan variabel faktor operasional, mayoritas responden memberikan opsi jawaban ke-2 dan ke-3, hal ini menunjukkan pegawai memberikan tanggapan yang positif terhadap faktor operasional yang diberikan, walaupun terdapat sebagian pegawai yang merasakan perlu lebih diperhatikan faktor operasional dalam penerapan sistem informasi manajemen.

4.1.3.3. Penjelasan Responden Atas Faktor Ekonomis

Definisi operasional variabel faktor ekonomis adalah berkaitan dengan masalah biaya yang dikeluarkan untuk menjalan suatu aplikasi.

Untuk butir pertanyaan-pertanyaan variabel faktor ekonomis, mayoritas responden memberikan opsi jawaban ke-2 dan ke-3, hal ini menunjukkan pegawai

memberikan tanggapan yang positif terhadap faktor ekonomis. Hal ini berarti bahwa tanggapan responden terhadap faktor ekonomis dalam penerapan sistem informasi manajemen cukup baik walaupun terdapat sebagian pegawai yang merasakan perlu lebih diperhatikan lagi faktor ekonomis dalam penerapan sistem informasi manajemen dengan memberikan komentar atas pertanyaan yang diberikan.

4.1.3.4. Penjelasan Responden Atas Kinerja pegawai

Definisi operasional variabel kinerja pegawai adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi.

Untuk butir pertanyaan-pertanyaan variabel kinerja pegawai, pimpinan lebih cenderung memilih jawaban untuk opsi jawaban ke-2 dan ke-3, hal ini menunjukkan pimpinan menilai kinerja pegawai sudah baik dalam bekerja, walaupun ada sebagian pegawai yang dirasakan perlu diperhatikan dan ditingkatkan lagi kinerjanya.

4.1.4. Pengujian Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa model regresi linear berganda dapat digunakan atau tidak. Apabila uji asumsi klasik telah terpenuhi, alat uji statistik linear berganda dapat dipergunakan.

-3 -2 -1 0 1 2 3

Regression Standardized Residual

0 5 10 15 20 Frequency Mean = 1.8E-16 Std. Dev. = 0.973 N = 57

Dependent Variable: Kinerja Pegawai Histogram

4.1.4.1. Uji Normalitas

Untuk pengujian normalitas data dalam penelitian ini dideteksi melalui analisa grafik dan statistik yang dihasilkan melalui perhitungan regresi dengan SPSS. Hasil pengujian normalitas dapat dilihat pada Gambar 2 berikut :

Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Expected Cum Prob

Dependent Variable: Kinerja Pegawai

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)

Gambar 4.3. Uji Normalitas

Dari Gambar 4.3 di atas, dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan menunjukkan normal. Ghozali (2005) menyatakan bahwa, jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi meneuhi asumsi normalitas dan sebaliknya jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi nomalitas. Analisis dari grafik di atas terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Maka model regresi layak dipakai untuk memprediksi kinerja pegawai berdasarkan masukan variabel independen.

Selanjutnya uji normalitas data dilakukan dengan analisis statistik dengan menggunakan alat uji non parametrik Kolmogorov – Smirnov (K-S), seperti terlihat pada Tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5. Uji Kolmogorov – Smirnov (K-S)

Dari Tabel 4.4 di atas diketahui besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 1,143 dan tidak signifikan pada 0,146. Hal ini berarti data residual berdistribusi normal, dan hasilnya konsisten dengan uji sebelumnya.

4.1.4.2. Uji Multikolinieritas

Uji mulitikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka terdapat masalah multikolinieritas. Pada model regresi yang baik tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

57 .0000000 1.52819177 .151 .100 -.151 1.143 .146 N Mean Std. Deviation

Normal Parameters a,b

Absolute Positive Negative Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Unstandardized Residual

Test distribution is Normal.

a.

Calculated from data. b.

Hasil pengujian multikolinieritas data dalam penelitian ini menggunakan alat bantu SPSS, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6. Hasil Uji Multikolinearitas

Dari Tabel 4.6 menunjukkan nilai Tolerance tidak ada variabel independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya lebih dari 95%. Hasil perhitungan Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal sama tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel indenpenden dalam model regresi.

4.1.4.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas.

3.460 3.875 .583 .183 .695 1.439 .479 .143 .696 1.437 .567 .137 .757 1.321 (Constant) Faktor Teknis Faktor Operasional Faktor Ekonomis Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Tolerance VIF Collinearity Statistics

Dependent Variable: Kinerja Pegawai a.

-3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value

-3 -2 -1 0 1 2 3 Regr ess io n Stud en tized Res id u al

Dependent Variable: Kinerja Pegawai Scatterplot

Hasil pengujian heteroskedastisitas data dalam penelitian ini menggunakan alat Bantu SPSS dengan mengamati pola yang terdapat pada Sctterplots, hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4.4 sebagai berikut :

Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)

Gambar 4.4. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari Gambar 4.4 di atas terlihat bahwa titik-ttitik menyebar secara acak (random) serta tersebar di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai.

Menurut Ghozali (2005), jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk suatu pola yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi heterokedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik

menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedistisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi keputusan memilih berdasarkan masukan dari variabel bebasnya.

Selanjutnya dilakukan uji statistik untuk menjamin keakuratan hasil. Adapun uji statistik yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedasitas adalah uji Glesjer.

Tabel 4.7. Hasil Uji Glesjer

Dari Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen. Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%. Jadi dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedasitas.

-6.882 5.271 -1.306 .203 .127 .245 .116 .518 .609 .110 .180 .139 .609 .548 .035 .155 .050 .227 .822 (Constant) Faktor Teknis Faktor Operasional Faktor Ekonomis Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: Res_2 a.

4.1.4.4. Uji Kebagusan Model

Tabel 4.8. Hasil Uji Determinasi

Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, diketahui bahwa besarnya koefisien determinasi atau angka R2 (R-square) adalah sebesar 0,654, yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas indenpenden sebesar 65,40%. Jadi model cukup baik. Sedangkan sisanya 34,60% dijelaskan oleh variabel-variabel bebas lain yang tidak diteliti dan tidak dimasukkan ke dalam model regresi yang juga bisa meningkatkan kinerja pegawai.

4.1.5. Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil regresi dari data yang diolah dengan menggunakan program SPSS diperoleh hasil sebagai berikut :

Dependent Variable: Kinerja Pegawai Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)

.809 a .654 .634 1.57085

Model 1

R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Predictors: (Constant), Faktor Ekonomis, Faktor Operasional, Faktor Teknis a.

Tabel 4.9. Hasil Regresi Faktor Teknis, Faktor Operasional dan Faktor Ekonomis Terhadap Kinerja Pegawai

Berdasarkan Tabel 11 di atas, dapat dibuat persamaan sebagai berikut : Y = 3,460 + 0,583 X1 + 0,479 X2 + 0,567 X3

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa koefisien regresi X1 (faktor teknis) bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh faktor teknis dalam penerapan sistem informasi manajemen adalah searah dengan kinerja pegawai. Dengan demikian apabila kebijakan untuk melakukan perbaikan atau peningkatan faktor teknis dalam penerapan sistem informasi manajemen mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kaban jahe.

Koefisien regresi X2 (faktor operasional) bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh faktor operasional adalah searah dengan kinerja pegawai. Dengan demikian faktor operasional dalam penerapan sistem informasi manajemen mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kaban jahe.

3.460 3.875 .893 .376 .583 .183 .308 3.180 .002 .479 .143 .325 3.350 .001 .567 .137 .383 4.127 .000 (Constant) Faktor Teknis Faktor Operasional Faktor Ekonomis Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: Kinerja Pegawai a.

Koefisien regresi X3 (faktor ekonomis) bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh faktor ekonomis adalah searah dengan kinerja pegawai. Dengan demikian faktor ekonomis dalam penerapan sistem informasi manajemen mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe

4.1.5.1. Uji Serempak

Hasil uji secara serempak pengaruh variabel faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis dalam penerapan sistem informasi manajemen terhadap kinerja pegawai dapat dilihat dalam Tabel 4.10 berikut ini:

Tabel 4.10. Hasil Uji Serempak

Berdasarkan Tabel 4.10 di atas, diperoleh nilai F hitung sebesar 33,386, sedangkan nilai F tabel sebesar 2,78. Dengan demikinian nilai F hitung yang diperoleh sebesar 33,386 lebih besar dari F tabel pada tingkat kepercayaan 95% atau

α = 0,05, hal ini berarti posisi titik hasil uji signifikansi dan F hitung pada kurva distribusi normal berada pada wilayah penolakan Ho, memberikan arti bahwa variabel bebas faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis secara serempak

Dependent Variable: Kinerja Pegawai

247.149 3 82.383 33.386 .000a 130.781 53 2.468 377.930 56 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), Faktor Ekonomis, Faktor Operasional, Faktor Teknis a.

b.

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe. Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe ditolak, berarti Ha yang menyatakan faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe diterima.

4.1.5.2. Uji Parsial

Hasil uji pengaruh secara parsial variabel faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis terhadap kinerja pegawai dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut:

Tabel 4.11. Hasil Uji Parsial

1. Pengaruh Faktor Teknis (X1) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)

Berdasarkan Tabel 4.11 di atas diketahui secara parsial variabel faktor teknis berpengaruh terhadap kinerja pegawai dimana nilai t hitung sebesar 3,180 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti posisi titik

Dependent Variable: Kinerja Pegawai a.

Std. Error Beta

Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (Data Diolah)

3.460 3.875 .893 .376 .583 .183 .308 3.180 .002 .479 .143 .325 3.350 .001 .567 .137 .383 4.127 .000 (Constant) Faktor Teknis Faktor Operasional Faktor Ekonomis Model 1 B Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

hasil uji signifikansi dan t hitung pada kurva distribusi normal berada pada wilayah penolakan Ho.

Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa faktor teknis tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe ditolak, berarti Ho yang menyatakan faktor teknis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe diterima. Ini menunjukkan bahwa faktor teknis yang diberikan oleh Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe sangat mempengaruhi tingkat kinerja pegawai.

2. Pengaruh Variabel Faktor Operasional (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)

Dari Tabel 4.11 di atas diketahui pengaruh secara parsial variabel faktor operasional terhadap kinerja pegawai dimana nilai t hitung sebesar 3,350 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti posisi titik hasil uji signifikansi dan t hitung pada kurva distribusi normal berada pada wilayah penolakan Ho.

Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh faktor operasional terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe ditolak, berarti H1 yang menyatakan faktor operasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe diterima, hal ini menunjukkan bahwa faktor operasional yang dilakukan Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe sangat mempengaruhi kinerja pegawai.

3. Pengaruh Variabel Faktor Ekonomis (X2) Terhadap Kinerja Pegawai (Y)

Dari Tabel 4.11 di atas diketahui pengaruh secara parsial variabel faktor ekonomis terhadap kinerja pegawai dimana nilai t hitung sebesar 4,127 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti posisi titik hasil uji signifikansi dan t hitung pada kurva distribusi normal berada pada wilayah penolakan Ho.

Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh faktor operasional terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe ditolak, berarti H1 yang menyatakan faktor ekonomis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe diterima, hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomis yang dilakukan Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe sangat mempengaruhi kinerja pegawai.

Berdasarkan dari hasil pengujian pada Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa variabel dominan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe adalah faktor teknis, dimana unstandardized coefficient faktor ekonomis sebesar 0,187 lebih besar dari faktor operasional sebesar 0,143 dan faktor ekonomis sebesar 0,137.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pengaruh Faktor Teknis, Faktor Operasional dan Faktor Ekonomis Terhadap Kinerja Pegawai

Sebelumnya telah dijelaskan melalui analisis regresi linier berganda telah terbukti bahwa faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai. Hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis regresi linier berganda signifikan dengan nilai F hitung sebesar 33,386 dengan tingkat signifikansi 0,000. Nilai signifikansi tersebut masih berada dibawah nilai signifikansi yang ditetapkan yaitu α 0,05 dan positif sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe. Apabila semakin besar/baik faktor teknis pada Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe dan faktor operasional yang diberikan sudah memadai, maka semakin tinggi kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe. Demikian pula sebaliknya, apabila faktor teknis oleh Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe kurang besar dan faktor operasional yang diberikan kurang memadai, maka kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe akan menurun.

Faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis dalm penerapan sistem informasi manajemen juga memilki sumbangan terhadap naik turunnya kinerja pegawai sebesar 65,40% sedangkan sisanya dipengaruhi variabel lain. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien determinasinya yang menunjukkan nilai sebesar 0,654. Oleh karena itu berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian maka hipotesis

yang menyatakan faktor teknis, faktor operasional dan faktor ekonomis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe dapat diterima kebenarannya.

Manajemen penerapan sistem informasi manajemen (SIM) penting bagi RUTAN Kaban Jahe, karena dalam kesehariannya menggunakan penerapan untuk menilai kualitas SIM yang sedang di rencanakan, di buat dan yang sedang di gunakan. Namun pengukuran efektivitas SIM ini merupakan tugas yang kompleks karena adanya kesulitan dalam menelusuri dan mengukur pengaruh penerapan SIM melalui faktor yang saling berhubungan. Oleh karena itu para peneliti di bidang SIM membuat ukuran yang mewakili bagi penerapan SIM, misalnya: kepuasan pengguna informasi (user information satisfaction), penggunaan sistem (system usage) dan nilai informasi (information value).

Faktor penerapan SIM berhubungan erat dengan pendekatan kepuasan pemakai. Banyak peneliti mengakui bahwa kepuasan pemakai SIM merupakan indikator yang penting dalam menentukan keberhasilan dalam mendesain dan mengimplementasikan SIM. Namun terdapat tiga cara pandang yang berbeda terhadap konsep pengukuran kepuasan pemakai.

4.2.2. Pengaruh Faktor Teknis Terhadap Kinerja pegawai

Berdasarkan Tabel 4.11 nilai t-test atau t hitung variabel faktor teknis, dimana t hitung sebesar 3,180 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti bahwa variabel faktor teknis secara parsial berpengaruh

terhadap kinerja pegawai karena nilai signifikansinya di bawah α = 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor teknis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe.

Faktor teknis dalam penerapan sistem informasi manajemen di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe akan sangat berpengaruh terhadap kinerja pegawai dan pencapaian tujuan Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe. Pemilihan faktor teknis yang benar dan tepat dapat mengarahkan pencapaian tujuan pegawai secara perseorangan maupun tujuan Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe. Dengan faktor teknis yang tidak sesuai dapat mengakibatkan pencapaian tujuan akan terabaikan dan pengarahan terhadap pegawai akan menjadi tidak jelas, dimana hal ini dapat mengakibatkan ketidakpuasan pegawai dalam bekerja.

Suatu aplikasi sistem informasi bisa dievaluasi menurut tiga ukuran teknis, opersional dan ekonomis. Untuk aplikasi bari evaluasi ini disebut pengukuran kelayakan. Untuk aplikasi yang sedang berjalan evaluasi merupakan ukuran hasil karya. Pengusulan yang baru harus tunduk pada tiga ukuran di atas yang berarti harus mengadakan perhitungan secara menyeluruh yang meliputi permasalahan teknis, pengusulan yang pertimbangan atas masalah yang menyangkut segi operasional serta dikaitkan dengan perhitungan segi ekonomisnya.

Evaluasi teknis meliputi beberapa aspek, yaitu terdapat metode perhitungan yang dijadikan dasar untuk melakukan pemecahan masalah, sistem pengoperasian mendukung pendekatan operasional yang diusulkan, tingkat transmisi data cukup

cepat untuk melakukan pemrosesan/penanganan data, terdapat sarana penyimpanan tambahan yang cukup untuk merekam file yang diperlukan, dan unit pusat pengolahan data mempunyai kemampuan untuk menanggapi semua permintaan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Bilamana melalui evaluasi bidang teknis tersebut menunjukkan aplikasi tidak efektif, maka hal ini menunjukkan secara jelas bahwa kemampuan teknis perangkat lunak yang disediakan bagai pemakaian tidak memiliki kemampuan untuk mendukung aplikasi secara mantap. Suatu pengoperasian pada waktu on line biasanya akan berhasil, teapi harus dikerjakan secara perlahan, karena alat-alat yang dipakai untuk pengolahan data telah nyata memiliki kemampuan yang tidak cukup untuk menangani beban kerja.

4.2.3. Pengaruh Faktor Operasional Terhadap Kinerja Pegawai

Berdasarkan Tabel 4.11 nilai t-test atau t hitung variabel faktor teknis, dimana t hitung sebesar 3,180 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti bahwa variabel faktor teknis secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai karena nilai signifikansinya di bawah α = 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor teknis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe.

Kelayakan operasional senantiasa berkaitan dengan masalah apakah data masukan dapat disediakan dan kelancaran keluaran dapat dihasilkan serta benar-benar akan dipergunakan. Secara teknis tidak sukar untuk mengeluarkan laporan komputer setebal itu tidak efektif.

Pelaksanaan operasional harus dimulai dengan menyelususri seberapa baik aplikasi itu bekerja dalam hubungannya dengan masukan, selanjutnya tinjauan atas tingkat kesalahan dan diteruskan dengan ketepatan waktu. Hasil pengolahan perlu dievaluasi secara periodik, menurut ukuran biaya dan efektivitasnya. Dalam menilai kelayakan ekonomis untuk proyek tersebut dapat dilaksanakan dengan mengevaluasi manfaat ekonomisnya berdasarkan sistem informasi manajemen.

4.2.4. Pengaruh Faktor Ekonomis Terhadap Kinerja Pegawai

Pada Tabel 4.11 nilai t-test atau t hitung variabel faktor ekonomis, dimana t hitung sebesar 2,098 lebih besar dari t tabel pada α = 0,05 yaitu 2,005 (hasil interpolasi). Hal ini berarti bahwa variabel faktor ekonomis secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai karena nilai signifikansinya di bawah α = 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor ekonomis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai di Rumah Tahanan Negara Klas II B Kabanjahe.

Biaya yang diukur atau yang diperkirakan dengan perbedaan kecil merupakan pengeluaran untuk menjalankan suatu aplikasi. Contohnya adalah untuk personalia serta bahan penolong peralatan dan pemeliharaan peralatan tersebut. Beberapa biaya yang penting mempunyai perbedaan yang besar dalam perkiraan, dan hal ini sering

sekali diabaikan karena kejadiannya berada di dalam wilayah pemakai dan tidak dalam tangan pengolah data. Bila ditinjau dari segi pengeluaran dan manfaat, sistem informasi manajemen efektif bila pertambahan hasil yang diperoleh karena adanya informasi yang lebih besar dari pada biaya operasional sistem informasi manajemen tersebut.

BAB V

Dokumen terkait