BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL, KONSTRUKSI
2.2. Resensi Novel Konbini Ningen
2.2.3. Penokohan (Perwatakan)
Penokohan merupakan unsur instrinsik pembangun karya sastra yang menggambarkan karakter tokoh serta sifat - sifat moral yang cenderung dalam tindakannya, dengan kata lain penokohan adalah penghadiran tokoh pada suatu karya fiksi. Menurut Baldic dalam Nurgiyantoro (2015: 247) bahwa tokoh
28
adalah orang yang menjadi pelaku dalam cerita fiksi atau drama, sedang penokohan (charateristic) adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama secara langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakannya.Menurut Nurgiyantoro (2015: 258) Berdasarkan pada peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1. Tokoh Utama (Central Character)
Merupakah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Baik sebagai pelaku kejadian. Maupun yang dikenai kejadian. Bahkan pada novel – novel tertentu, tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan, namun dalam sebuah cerita fiksi tokoh utama bisa saja lebih dari satu walau kadar keutamaannya belum tentu sama.
Berdasarkan cerita dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata maka tokoh Utama dalam cerita tersebut adalah Keiko Furukura dan Shiraha.
2. Tokoh Tambahan
Tokoh Tambahan merupakan tokoh – tokoh lain yang bermunculan dalam cerita namun kurang mendapat perhatian dalam cerita tersebut.
Tokoh tambahan dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata adalah,adik Keiko, Izumi ( penyelia pegawai paruh waktu), Manager, Sugawara (pegawai paruh waktu), Iwaki (pegawai paruh waktu), Yukishita (pegawai
29
paruh waktu), Miho (teman sekolah Keiko), Yukari (teman sekolah Keiko), suami Yukari.
Watak dari tokoh – tokoh utama dan tambahan tersebut seperti, Keiko Furukuramerupakan seorang wanita yang sudah 18 tahun bekerja di minimarket sebagai pekerja paruh waktu dan memilih tidak menikah, ia mempunyai karakter yang monoton dan tidak pandai dalam mengungkapkan ekspresi, introvert namun ia ingin merubah dirinya menjadi seorang yang extrovert agar dapat dikatakan sebagai manusia normal.
Shiraha merupakan seorang tokoh utama tambahan, untuk melengkapi peran Keiko Furukura dalam konflik kehidupan sosial Keiko Furukura, Shiraha mempunyai karakter yang suka mencemooh, mengomentari, dan mengkritik sesuatu demi membela dirinya sendiri ketika melakukan kesalahan, berkarakter pemalas dan merasa superioritas terhadap perempuan.
Adik Keiko merupakan seorang yang selalu memberikan masukan – masukan untuk keiko agar tdak dikucilkan oleh masyarakat dan teman – temannya, Adik Keiko adalah orang yang sangat perhatian dan peduli terutama pada kondisi kakaknya Keiko.
Izumi merupakan rekan kerja paruh waktu Keiko Furukura di minimarket, Izumi juga merupakan seoran wanita yang sudah tua namun ia sudah menikah, Izumi mempunya watak yang ceria, baik, suka menolong, namun ia gampang menilai orang dengan nilai yang negatif.
30
Pak Manager merupakan seorang atasan di minimarket tempat Keiko bekerja, pak manajer merupakan seorang yang teliti, baik, energik, dan suka membantu pekerja yang baru training namun ia memeliki mulut yang tajam..
Sugawara adalah rekan kerja paruh waktu Keiko di minimarket, Sugawara merupakan perempuan yang ceria suka bercanda dan gampang kesal terhadap seseorang yang tidak sesuai dengan dirinya, Sugawara merupakan salah satu orang yang di contoh Keiko Furukura ekspresi dalam bersosialisasi agar dapat dikatakan sebagai orang normal.
Iwaki merupakan rekan kerja paruh waktu Keiko di minimarket, perannya dalam cerita tidak banyak di munculkan dalam dialog, tetapi berdasarkan cerita dalam novel, Iwaki merupakan seorang pegawai yang patuh di minimarket.
Yukishita, merupakan seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu, dia selalu berada di shift siang.
Miho, merupakan teman Keiko Furukura semenjak masa SMA, Miho merupakan orang yang baik, dia suka menolong Keiko dan melindungi keiko ketika disudutkan oleh teman – temannya yang lain.
Yukari merupakan teman sekolah Keiko Furukura, Yukari sama dengan Miho, dia baik tapi suka mengucilkan Keiko.
Suami Yukari adalah orang yang suka mengucilkan orang lain, dan mencari – cari kesalahan Keiko.
31 2.2.4 Latar/Setting
Latar/Setting menurut Nurgiyantoro (2015: 314) dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial – budaya. Walau masing – masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, ketiga unsur itu pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jadi, pembicaraan secara terpisah hanya bersifat teknis dan untuk memudahkannya saja.
a. Latar Tempat
Latar tempat menurut Nurgiyantoro (2015: 314) menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan, mungkin berupa tempat – tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
Berdasarkan cerita dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata berlatar tempat di Jepang, Stasiun Hiroomachi, Smile Mart, dan apartemen Keiko Furukura,
b. Latar Waktu
Menurut Nurgiyantoro (2015: 318) latar waktu berhubungan dengan masalah
“kapan” terjadinya peristiwa – peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
32
Berdasarkan cerita dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata, maka latar waktu dalam novel tersebut pada era modern tahun 2000-an ke – atas, hal ini ditunjukkan secara implisit oleh pengarang, dan hanya bisa dikaitkan dengan waktu faktual melalui kata “modern” yang di ucapkan oleh tokoh Shiraha dalam novel tersebut.
“Meskipun masyarakat modern membicarakan individualisme, mereka yang berbeda harus siap dicampuri urusannya, ditekan, dan akhirnya disingkirkan dari desa”. (Konbini Ningen:91).
c. Latar Sosial/Budaya
Menurut Nurgiyantoro (2015: 322) Latar sosial – budaya menunjuk pada hal – hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Berdasarkan cerita dan latar tempat serta waktu yang telah di identifikasi dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata, latar sosial – budaya dalam novel diidentifikasi sebagai sosial – budaya pada masyarakat Jepang yang berkultur patriarkis dan kental dengan kelas – kelas sosial. Dimana yang lemah akan disingkirkan dari kelompok masyarakat. Hal ini dapat di identifikasi melalui dialog tokoh Shiraha dengan Keiko.
“Karena itulah aku sadar bahwa sejak zaman Jomon masyarakat tidak pernah berubah. Mereka yang tak berguna bagi kelompok akan disingkirkan: laki – laki
33
yang tak pergi berburu dan perempuan yang tidak melahirkan”. (Konbini Ningen: 91).
2.2.5 Sudut Pandang (PointOf View)
Menurut Nurgiyantoro (2015: 336) sudut pandang dalam teks fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan, atau: dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Dengan demikian, pemilihan bentuk persona yang dipergunakan, disamping memengaruhi perkembangan cerita dan masalah yang diceritakan, juga kebebasan dan keterbatasan, ketajaman, ketelitian, dan keobjektifan terhadap hal – hal yang diceritakan. Menurut Nurgiyantoro (2015:
339) sudut pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan kedalam dua macam: persona pertama, first person, gaya “aku”, dan persona ketiga, third person, gaya “dia”.
Sudut pandang dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata adalah menggukan persona pertama, first person. Dimana pengarang menjadikan tokoh utama Keiko sebagai sudut pandang persona pertama dengan banyak menggunakan kata “aku” dan tokoh Keiko dalam novel menceritakan pengalaman dan kehidupan sosialnya.
34 2.3 Konstruksi Gender
2.3.1 Prespektif Gender
Kata gender, berasal dari bahasa Inggris “Gender”, yang berarti jenis kelamin. Secara etimologi gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan, dilihat dari nilai dan tingkah laku.Adapun gender merupakan istiliah yang digunakan untuk membedakan anatara laki – laki dan perempuan yang didasarkan pada aspek sosiokultural. Jika jenis kelamin terbentuk melalui proses alamiah dan bersifat kodrat ilahiah, sedangkan gender merupakan atribut dan perilaku yang terbentuk melalui proses sosial, sehingga istilah gender lebih merujuk pada bangunan (konstruksi) kultural yang acap kali masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki – laki. Setiadi & Kolip (2011:
873).
Menurut Mansour Fakih dalam Hasanah (2013: 14), gender adalah konstruksi sosial di mana laki-laki dan perempuan memiliki kiprah dalam kehidupan sosial, sehingga perempuan tidak hanya dijadikan makhluk subordinat dari laki-laki yang peran sosialnya tidak diberdayakan secara lebih luas.
Dengan demikian maka perlu adanya pemahaman mengenai konstruksi Sosial agar dapat mengetahui bagaimana istilah gender terbentuk dan menjadi sebuah realitas sosial.
35 2.3.2 Konstruksi Sosial
Konstruksi sosial merupakan teori yang termasuk kedalam teori tradisi dan sosiokulturual. Sociocultural Theories tidak menekankan pada struktur atau bentuk pengawasan terhadap individu. Teori ini lebih fokus terhadap makna dan penafsiran bersama yang dikonstruksi dalam jaringan masyarakat dan implikasinya pada konstruksi kehidupan organisasi (aturan, norma, nilai, perbuatan yang diterima dalam organisasi. Little John dalam Karman (2015:
17) menjelaskan bahwa teori sosiokultur kurang memberikan perhatian kepada struktur dan bentuk tetapi lebih fokus kepada makna dan penafsiran bersama yang dikonstruksi dalam satu jaringan (organisasi, komunitas, kelompok) dan implikasi dari hasil konstruksi ini terhadap kehidupan organisasi. Inilah yang sering disebut sebagai budaya, yang mencakup nilai bersama, norma, nilai - nilai dan praktik yang lazimnya digunakan dan diterima dalam satu organisasi.
Teori konstruksi sosial ini termasuk teori yang amat berpengaruh dalam tradisi sosiokultur. Menurut Berger & Luckmanndalam Karman (2015: 17) Realitas itu di konstruksi secara sosial melalui pengetahuan, ini menekankan bahwa realitas sosial adalah sesuatu yang dihasilkan dan dikomunikasikan (dihasilkan berdasarkan interaksi sosial). Dalam melihat masyarakat, Peter L. Berger membaginya dalam masyarakat sebagai realitas objektif dan masyarakat sebagai realitas subjektif. Beger & Luckman menjelaskan dalam Karman
36
(2015: 18) masyarakat sebagai kenyataan subjektif melalui 3 proses dialektis yang simultan yaitu :
1. Internalisasi
Berger meyakini bahwa manusia lahir dalam kondisi aspek biologis dan psikologis bayi mendukung proses internalisasi. Ini menyangkut proses penyerapan realitas objektif menjadi realitas subjektif yang ada pada individu.
Dengan bahasa lain, proses internalisasi adalah proses penerimaan definisi situasi institusional. Waste proses internalisasi adalah sejak lahir sampai tumbuh menjadi individu yang matang dalam masyarakat. Proses internalisasi ini dapat dibagi dua: primer dan sekunder. Sosialisasi primer dialami individu dalam masa kanak – kanak untuk kemudian menjadi anggota masyarakat. Pada sosialisasi primer individu lebih banyak belajar secara kognitif semata-mata.
2. Eksternalisasi
Lalu Proses internalisasi di atas dilanjutkan dengan proses eksternalisasi.
Proses eksternalisasi adalah ekspresi individu dalam kehidupan nyata. Jadi kebalikan dari internalisasi.
3. Objektivasi
Proses externalisasi lalu dilanjutkan dengan proses objektivasi, hasil aktivitas manusia ditransmisikan dan di-share ke orang lain. Ketiga proses tersebut terjadi secara dialektis antara diri (self) dengan sosiokultural.
37
Kerangka teori Berger berangkat dari komitmen metodologi ini; analisis sosiologis tak boleh lepas dari makna yang dilekatkan oleh paraaktor dalam gejala sosial.
2.4 Ketidakadilan Gender
Konsep ketidakadilan gender menurut Mansour Fakih (dalam Janu Arbain, dkk 2015:89), bahwa secara Biologis (Kodrat) kaum perempuan dengan organ reproduksinya yang bisa hamil, melahirkan, dan menyusui bukanlah sebuah masalah dan tidak perlu dipermasalahkan. Akan tetapi yang menjadi masalah dan perlu digugat oleh mereka yang menggunakan analisis gender adalah struktur “ketidakadilan” yang ditimbulkan oleh peran gender dan perbedaan tersebut. Dari studi yang dilakukan dengan menggunakan analisis gender menurut Mansour Fakih dalam (Janu Arbain, dkk 2015:89 – 90), ternyata banyak ditemukan berbagai manifestasi ketidakadilan seperti:
1. Marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan. Meskipun tidak setiap marginalisasi perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender, namun yang dipersoalkan dalam analisis gender adalah marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender. Misalnya, banyak perempuan desa tersingkirkan dan menjadi miskin akibat program pertanian yang hanya di fokuskan kepada kaum laki-laki. Hal ini karena asumsinya bahwa petani itu identik dengan petani laki-laki.
38
2. Subordinasi (merendahkan peran) pada salah satu jenis kelamin, umumnya kepada kaum perempuan. Dalam rumah tangga,masyarakat, banyak kebijakan dibuat tanpa menganggap penting kaum perempuan. Misalnya, perempuan hanya pantas di dapur atau hanya sebatas konco wingking.
3 Stereotype (pelabelan negatif) terhadap jenis kelamin tertentu dan akibat dari stereotype itu terjadi terjadi diskriminasi serta berbagai ketidakadilan lainnya. Dalam masyarakat banyak sekali pelabelan negatif yang diletakkan kepada kaum perempuan yang berakibat membatasi, menyulitkan, memiskinkan dan merugikan kaum perempuan. Karena adanya keyakinan masyarakat bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama. Tapi jika perempuan bekerja itu hanya dinilai sebagai tambahan dan dibayar lebih rendah.
4 Violence (kekerasan) terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, karena perbedaan gender. Kekerasan ini mencakup kekerasan fisik seperti pemerkosaan dan pemukulan, sampai kekerasan secara halus seperti pelecehan. Banyak sekali kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang diakibatkan karena adanya stereotype gender.
5 Double burden (beban ganda), adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Misalnya, di kalangan keluarga
39
miskin beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri. Terlebih-lebih jika si perempuan terus bekerja, maka ia memikul beban kerja ganda.
40 BAB III
KONSTRUKSI GENDER PADA TOKOH KEIKO FURUKURA DALAM NOVEL “KONBINI NINGEN” KARYA SAYAKA MURATA
3.1 Konstruksi Gender Pada Tokoh Keiko Furukura Dalam Novel “Konbini Ningen” Karya Sayaka Murata
3.1.1. Proses Internalisasi Cuplikan Halaman 59
“Tapi, kalau mereka menganggapku tak normal, sedangkan mereka merasa diri mereka normal, pasti mereka bakal bertanya secara mendetail, kan ? akan mudah bagiku jika aku punya alasan sehingga aku bisa menghindari hal itu.” (Konbini Ningen 2020: 59)
Berdasarkan cuplikan dialog di atas, dapat diketahui bahwa tokoh Keiko Furukura meminta alasan yang baik kepada adiknya agar ketika teman – teman Keiko yang bertanya mengenai dirinya. perempuan yang belum menikah di umur 35 tahun dan masih menjadi pekerja paruh waktu. dan dijawab dengan memberikan alasan yang normal, kemudian tokoh Keiko akan dianggap sebagai manusia normal di dalam tatanan masyarakat kultur nya. Bagi masyarakat Jepang tradisional bahwa perempuan yang belum menikah di usia paruh baya dan tidak mendapatkan pekerjaan tetap merupakan beban desa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko Furukura mengalami proses konsstruksi sosial
41
gender yaitu internalisasi pada masyarakat kultur patriarkis agar individunya dapat diterima dalam tatanan masyarakat.
Cuplikan halaman 78
“Diantara empat belas atau lima belas orang yang berkumpul, hanya ada dua orang selain aku yang belum menikah. Tak ada pikiran apa pun di benak ku karena tidak semua yang datang berpasangan, tapi Miki yang masih lajang berbisik padaku, “Cuma kita yang tak bisa berdiri dengan kepala tegak, iya kan?”. (Konbini Ningen 2020: 78)
Berdasrkan cuplikan di atas, tokoh Keiko menerima sugesti dari teman SMA nya yang bernama Miki, karena mereka berdua yang belum Menikah di antara teman – teman nya yang hadir dalam pesta barbeku. bahwa perempuan dewasa yang belum menikah tidak dapat menegakkan kepala di depan umum, yang berarti bahwa “malu dan akan dikucilkan”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keiko mengalami konstruksi sosial gender yaitu Internalisasi, dengan menyerap dan menghayati sugesti dari Miki.
Cuplikan halaman 80
“Apa? Kau tak punya pengalaman lain….? Kalau susah mendapatkan pekerjaan tetap, kenapa tak menikah saja ? sekarang ini banyak situs perjodohan kan?”.
42
Berdasarkan cuplikan di atas, Keiko Furukura mendapatkan saran dari suami Yukari, kalau perempuan yang susah mendapatkan pekerjaan tetap, lebih baik menikah saja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keiko Furukura mengalami proses internalisasi.
Cuplikan halaman 137
“Furukura san, kau beruntung. Berkat aku, kau yang tadinya menanggung tiga penderitaan dengan status sebagai lajang, perawan, dan bekerja di minimarket, sekarang bisa jadi bagian dari masyarakat yang sudah menikah. Semua akan berasumsi kau bukan perawan lagi dan orang sekitar akan menganggapmu manusia yang layak dihargai. Sosokmu yang seperti itulah yang paling membahagiakan mereka. Kau harus bersyukur.”
(Konbini Ningen 2020: 137)
Berdasarkan cuplikan diatas, dapat diketahui bahwa tokoh Keiko Furukura menerima keberadaan Shihara sebagai calon suami pura - pura nya agar dilihat teman – teman dan keluarga bahwa Keiko telah menajadi perempuan yang normal dengan berpura – pura menikah dengan Shihara.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keiko Furukura mengalami konstruksi gender yaitu proses internalisasi pada dirinya.
3.1.2. Proses Externalisasi
Cuplikan halaman 157
43
“Aku tak bisa ikut denganmu karena aku adalah seekor binatang.
Binatang minimarket. Aku tak bisa menghianati naluri.” (Konbini Ningen 2020: 157)
Berdasarkan cuplikan di atas, Keiko Furukura menunjukkan ekspresi yang menyatakan sebagai “binatang minimarket” yang berarti dirinya hanya menginginkan menjadi sebagai pekerja di minimarket. tidak suka dan menolak dengan apa yang dialami nya sebagai mahluk normal dalam masyarakat kultur yang mengikuti norma dan moral yang mengatur peran nya sebagai perempuan harus menikah dan mendapatkan pekerjaan tetap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko Furukura mengalami proses kosntruksi gender yaitu eksternalisasi.
Cuplikan halaman 158
“Tidak, aku tetap pegawai minimarket meski tanpa izin siapapun.
Sebagai manusia, keberadaanmu mungkin akan menguntungkan buatku.
Keluarga dan teman – temanku mungkin akan tenang dan puas. Tapi, sebagai binatang bernama „pegawai minimarket‟, kau sama sekali tak kubutuhkan.” (Konbini Ningen 2020: 158)
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Keiko Furukura menunjukkan ketidaksukaannya dengan sistem budaya patriarkis yang sudah dialami nya dengan menjadi pacar pura – pura shiraha agar dapat diterima keluarga dan teman – temannya. Tokoh Keiko memilih untuk menjadi pegawai minimarket
44
dan meninggalkan Shiraha. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko Furukura mengalami konstruksi gender yaitu Eksternalisasi.
3.1.3. Proses Objektivasi
“Kami berencana menikah. Dia bekerja dan aku mengurus rumah. Kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan, aku akan mengembalikan uang sewa itu dari gaji nya.”
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Shiraha sengaja memberitahukan kepada kakak iparnya agar tokoh Keiko dan Shiraha yang sama – sama belum menikah dapat diterima dalam masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko mengalami kosntruksi gender yaitu objektivasi dengan berpura – pura akan merencanakan menikah dengan Shiraha dan memberitahukannya kepada kakak ipar Shiraha.
Cuplikan halaman 108 – 109
“Shiraha terlihat penuh percaya diri. Meskipun ide itu berasal dariku, desakannya membuatku curiga. Tapi kemudian aku teringat reaksi adikku serta ekspresi Miho dan kawan – kawan ketika aku berkata belum pernah menjalin percintaan, dan kupikir tak buruk juga kalau aku mencobanya.” (Konbini Ningen 2020: 108 – 109)
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Utama Keiko Furukura memilih untk menjalani hubungan percintaan pura – pura dengan Shiraha, agar dapat diterima
45
di dalam masyarakat dan tidak dikucilkan sebagai wanita yang belum menikah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko Furukura mengalami konstruksi gender yaitu Objektivasi.
Cuplikan halaman 110 – 111
“Aku seperti melakukan penipuan dengan membiarkan Shiaraha tinggal di apartemenku, tapi diluar dugaan apa yang dikatakan Shiraha ternyata benar.
Keberadaannya di apartemenku menguntungkan buatku. Tak butuh waktu untuk meyakini itu.”
“Setelah adikku, berikutnya aku membicarakan soall Shiraha saat berkumpul dirumah Miho. Kami sedang duduk makan kue ketika dengan santai aku bercerita tentang Shiraha yang tinggal di apartemenku.
“Eh ? sejak kapan ? sejak kapan?!”
“Seperti apa dia ?”
“Syukurlaaah! Aku sempat menghawatirkan dirimu... aku benar – benar bersyukur!” (Konbini Ningen 2020: 110 – 111)
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Keiko Furukura memberitahukan kepada teman – teman dan keluarga tentang hubungan nya dengan Shiraha, dan akhirnya Keiko Furukura mendapatkan respons yang baik dan teman – temannya senang dengan kondisinya yang seperti itu. Hal ini membuat Keiko Furukura mendapatkan tempat dalam tatanan masyarakatnya. Sehingga dapat
46
disimpulkan tokoh Keiko Furukura mengalami konstruksi gender yaitu objektivasi.
3.2 Bentuk ketidakadilan gender sebagai dampak dari konstruksi gender pada tokoh Keiko Furukura dalam novel “Konbini Ningen” karya Sayaka Murata
3.2.1. Marginalisasi (Pemiskinan Ekonomi)
Cuplikan halaman 135
“Mana bisa seperti ini ? kalian tak akan sanggup menjalaninya! Lagi pula, maaf kalau aku mengatakan ini meskipun kita baru pertama kali bertemu, tapi anda sudah berumur, kan ? kenapa memilih bekerja paruh waktu ?!”
“Ee... sebelumnya aku pernah menjalani beberapa wawancara pekerjaan, tapi aku hanya bisa bekerja di minimarket.” (Konbini Ningen 2020: 135)
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Keiko menyatakan bahwa dia sudah beberapa kali menajalani wawancara kerja ketika ia baru tamat kuliah sampai ia
47
berumurn 35 tahun, namun dia hanya bisa bekerja di minimarket sebagai pekerja paruh waktu, yang berarti tokoh Keiko tidak diterima untuk bekerja menjadi karyawan tetap di beberapa perusahaan yang ingin dilamarnya, dan hanya diterima di minimarket sebagai paruh waktu selama 18 tahun dari masa ia kuliah sampai dia berumur 35 tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh Keiko Furukura mengalami tindakan ketidakadilan gender dalam masyarakat patriarkis, yaitu marginalisasi (pemiskinan ekonomi).
3.2.2. Subordinasi (Merendahkan Peran)
Cuplikan halaman 105
“Furukura – san, sebaiknya kau sadar diri. Terus terang saja levelmu ada di bawah dari yang terbawah. Rahimmu mungkin sudah menua dan penampilanmu tak bisa memuaskan kebutuhan seksual.penghasilanmu juga tak sebanyak laki – laki, dan kau juga bukan pegawai tetap, cuma pekerja paruh waktu. Bagi desa, kau manusia sampah yang hanya jadi beban.” (Konbini Ningen 2020: 105)
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Keiko direndahkan peran sebagai perempuan berdasarkan fisik dan perannya dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan norma masyarakat kultur tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
Berdasarkan cuplikan di atas, tokoh Keiko direndahkan peran sebagai perempuan berdasarkan fisik dan perannya dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan norma masyarakat kultur tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa