STANDAr PENIlAIAN PENDIDIkAN
2. MEkANISME PENETAPAN STANDAr PENIlAIAN PENDIDIkAN
2.2. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika hendak menetapkan standar turunan yaitu Standar Penilaian Pendidikan Oleh
Dosen
Walaupun menurut PP tentang SNP, penetapan Standar Penilaian Pendidikan menjadi otonomi PT, namun tidak ada salahnya apabila dalam bab ini disarankan agar PT dalam menetapkan substansi standar penilaian, khususnya penilaian oleh Dosen, mengutamakan terlebih dahulu 3 (tiga) aspek yang perlu ditetapkan standar mutunya, yaitu:
Metode dan mekanisme penilaian
Prosedur penilaian
Instrumen penilaian
Sejalan dengan perubahan paradigma dalam sistem pembelajaran di PT yang mengacu pada pengembangan dan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ada pergeseran pada aspek “method of delivery” atau
“transfer of knowledge” dalam proses pembelajaran. Perubahan pendekatan dari “teacher-centered learning” menuju “student-centered learning”
membawa konsekuensi pada perlunya perbaikan sistem penilaian pendidikan yang dapat mencerminkan mutu kompetensi lulusan sesuai dengan tuntutan pengguna (market demand).
“If we wish to discover the truth about an educational system, we must look into its assessment procedures”, pernyataan tersebut memiliki arti yang cukup mendalam terkait dengan arti pentingnya dan peran suatu proses penilaian dalam sistem pendidikan. Di lain pihak, masih banyak pertanyaan
yang muncul dalam proses penilaian pendidikan, antara lain;
Apakah yang dimaksud penilaian adalah pemberian angka pada hasil belajar mahasiswa?
Ranah kemampuan apa yang akan dinilai dari mahasiswa, kognitif, psikomotorik atau afektif?
Apakah teknik penilaian yang diterapkan sudah tepat sesuai kemampuan mahasiswa secara nyata dan benar?
Bagaimana cara menilai paper/karangan, syair, matematika, maket, patung, ujian tulis, apakah menggunakan cara yang sama?
Apakah tes dan ujian tulis merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk melihat kemampuan mahasiswa?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, perlu rasanya kita samakan persepsi tentang apa yang dimaksud dengan “penilaian” dan lingkup batasannya pada pendidikan. Dalam arti umum, “penilaian” adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil pembelajaran mahasiswa (learning objectives). Berikutnya, dimana letak perbedaan antara “tes”, “pengukuran” dan “penilaian”? Kadang-kadang kita sulit membedakan dan sering mencampur adukkan ketiga istilah tersebut.
Beberapa sumber pustaka menyatakan bahwa pengertian “Tes” adalah proses untuk mencari/mengumpulkan informasi kemampuan suatu obyek, misalnya; pasien melakukan tes jantung. Tujuannya adalah untuk mencari informasi terkait seberapa tingkat kemampuan kerja/fungsi jantung pada tubuh si pasien “X”. Kemudian, “Pengukuran” adalah pemberian angka pada formula/parameter tertentu, baik dalam bentuk nominal maupun skala, misalnya; denyut nadi si pasien “X” : 80 kali/menit. Sedangkan pengertian
“Penilaian” yaitu proses pengambilan keputusan dalam pemberian nilai kualitas suatu obyek, misalnya; karena kondisi si pasien gawat, maka harus segera masuk ruang ICU. Dalam contoh kasus di atas, keputusan yang diambil merupakan akumulasi/rangkaian dari hasil proses sebelumnya, yaitu tes dan pengukuran.
Berikut kita mencoba melihat lebih dalam lagi terkait tujuan kita melakukan penilaian hasil pembelajaran mahasiswa, yaitu antara lain;
Mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh mahasiswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
Mengetahui posisi atau kedudukan seorang mahasiswa dalam kelompok.
Mengetahui tingkat usaha yang dilakukan mahasiswa dalam belajar.
Mengetahui hingga sejauh mana mahaiswa telah mendayagunakan kapasitas kognitif, afektif dan psikomotorik (ranah kompetensi).
Mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode yang telah digunakan dosen dalam proses pembelajaran.
Sedangkan kegunaan lebih lanjut dari hasil penilaian nantinya dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan ; (i) proses dan hasil pembelajaran, (ii) diagnosis dan usaha-usaha perbaikan yang berkelanjutan, (iii) placement test dan seleksi, (iv) bimbingan dan konseling, (v) kurikulum dan (vi) penilaian kelembagaan.
Ada beberapa model atau metode penilaian hasil pembelajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Pada umumnya yang dijadikan dasar pengembangan model penilaian adalah tujuan yang hendak dicapai dalam melakukan proses tersebut, apa yang akan kita nilai? Metode penilaian yang lazim dilakukan adalah seperti terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Model penilaian terhadap individual subyek (Sumber : Modul “Penilaian dalam Pembelajaran” - Tim KBK Dit.
Akademik Dikti)
masuk ruang ICU. Dalam contoh kasus di atas, keputusan yang diambil merupakan akumulasi/rangkaian dari hasil proses sebelumnya, yaitu tes dan pengukuran.
Berikut kita mencoba melihat lebih dalam lagi terkait tujuan kita melakukan penilaian hasil pembelajaran mahasiswa, yaitu antara lain;
Mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh mahasiswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
Mengetahui posisi atau kedudukan seorang mahasiswa dalam kelompok.
Mengetahui tingkat usaha yang dilakukan mahasiswa dalam belajar.
Mengetahui hingga sejauh mana mahaiswa telah mendayagunakan kapasitas kognitif, afektif dan psikomotorik (ranah kompetensi).
Mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode yang telah digunakan dosen dalam proses pembelajaran.
Sedangkan kegunaan lebih lanjut dari hasil penilaian nantinya dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan ; (i) proses dan hasil pembelajaran, (ii) diagnosis dan usaha-usaha perbaikan yang berkelanjutan, (iii) placement test dan seleksi, (iv) bimbingan dan konseling, (v) kurikulum dan (vi) penilaian kelembagaan.
Ada beberapa model atau metode penilaian hasil pembelajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Pada umumnya yang dijadikan dasar pengembangan model penilaian adalah tujuan yang hendak dicapai dalam melakukan proses tersebut, apa yang akan kita nilai? Metode penilaian yang lazim dilakukan adalah seperti terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Model penilaian terhadap individual subyek
(Sumber : Modul "Penilaian dalam Pembelajaran" - Tim KBK Dit. Akademik Dikti)
Gambar 1 memperlihatkan proses penilaian yang biasa dilakukan, mulai dari kegiatan perkuliahan (interaksi dan komunikasi antara dosen - mahasiswa), pelaksanaan tes/ujian, penilaian hasil belajar, sampai diputuskan bahwa mahasiswa tersebut lulus atau tidak lulus. Dalam model ini, keputusan akhir didasarkan pada persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan untuk kelulusan, misalnya; jumlah SKS minimum, IPK, dll. Sehingga penilaian suatu matakuliah akan memberikan kontribusi parsial terhadap keseluruhan dari proses penilaian kemampuan mahasiswa. Dengan mencermati model penilaian di atas (Gambar 1), timbul pertanyaan selanjutnya, yaitu bagaimana kita dapat menilai kompetensi seorang mahasiswa yang telah dinyatakan lulus?
Di dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi, ada tiga ranah penyusun kompetensi yaitu (i) kognitif (kemampuan berfikir intelektual), (ii) psikomotor (kemampuan motorik yang berhubungan dengan anggota badan) dan (iii) afektif (kemampuan bersikap / menggunakan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap). Dengan mendasarkan hal tersebut, model penilaian yang digunakan harus dapat memberikan keputusan yang menggambarkan tingkat kemampuan / kompetensi secara utuh (integrasi 3 ranah) dari mahasiswa.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara menilai kemampuan kognitif? Apakah cukup dengan ujian tulis? Kemudian, apakah dengan praktikum atau praktek lapangan, kita dapat menilai tingkat kemampuan psikomotor?, dan dengan pertanyaan yang sama, bagaimana kita akan menilai kemampuan afektif?
Gambar 2 mengilustrasikan secara sederhana proses penilaian terintegrasi (comprehensive assessment) yang ditujukan untuk dapat menilai tingkat kompetensi mahasiswa/lulusan.
150 BUKU II - Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)
Gambar 2. Model penilaian komprehensif
(Sumber : Modul “Penilaian dalam Pembelajaran” - Tim KBK Dit.
Akademik Dikti)
Model penilaian komprehensif menggabungkan beberapa metode penilaian (assesment), antara lain; tugas, presentasi, seminar, pemodelan dengan tujuan dapat menilai tiga ranah kompetensi secara terintegrasi dalam proses pembelajaran, dan sebagai kesimpulannya adalah mahasiswa berkompeten atau tidak.
Dalam praktek di lapangan, untuk mendapatkan penilaian yang lebih berkualitas dari hasil pembelajaran, sering digunakan kombinasi dua model penilaian tersebut di atas, model individual subyek dan model komprehensif.
Sebagai contoh beberapa metode penilaian yang sering digunakan antara lain; tes tertulis pada ujian tengah semester atau ujian akhir, jumlah kehadiran, pre - post praktikum, quiz atau assignment, keaktifan dalam mengikuti perkuliahan di kelas, dll.
Gambar 2. Model penilaian komprehensif
(Sumber : Modul "Penilaian dalam Pembelajaran" - Tim KBK Dit. Akademik Dikti)
Model penilaian komprehensif menggabungkan beberapa metode penilaian (assesment), antara lain; tugas, presentasi, seminar, pemodelan dengan tujuan dapat menilai tiga ranah kompetensi secara terintegrasi dalam proses pembelajaran, dan sebagai kesimpulannya adalah mahasiswa berkompeten atau tidak.
Dalam praktek di lapangan, untuk mendapatkan penilaian yang lebih berkualitas dari hasil pembelajaran, sering digunakan kombinasi dua model penilaian tersebut di atas, model individual subyek dan model komprehensif. Sebagai contoh beberapa metode penilaian yang sering digunakan antara lain; tes tertulis pada ujian tengah semester atau ujian akhir, jumlah kehadiran, pre - post praktikum, quiz atau assignment, keaktifan dalam mengikuti perkuliahan di kelas, dll.
2.3. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika hendak menetapkan standar turunan yaitu Standar Penilaian Pendidikan Oleh Perguruan Tinggi (institusi)
Standar mutu penilaian pendidikan oleh institusi atau PT diartikan sebagai tolok ukur minimum yang ditetapkan oleh PT untuk mengukur hasil belajar mahasiswa, berupa hasil belajar untuk setiap matakuliah, setiap semester, dan pada setiap tahap studi hingga tahap studi terakhir yaitu kelulusan mahasiswa dari program studi yang bersangkutan. Standar ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa setiap lulusan dari masing-masing program studi memperoleh nilai akhir sesuai dengan
PRESENTASI MEMBUAT
MODEL KULIAH DAN TUTORIAL
KOMPETEN
TUGAS SEMINAR
2.3. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika hendak menetapkan