• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Bekerja Sama dengan semua Pihak

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN MEMFASILITASI DAMEÉ

D. Pentingnya Bekerja Sama dengan semua Pihak

Prinsip kerja sama sering disebut dalam proses litigasi. Secara eksternal, hakim harus berupaya bekerja sama dengan kuasa hukum dan secara internal, mereka harus bekerja sama dengan panitera pengadilan. Ini tentunya berlaku juga dalam mengupayakan dameé. Kerja sama dengan kuasa hukum dapat melahirkan kecurigaan. Dalam dunia seperti di Indonesia sekarang ini, kerja sama diartikan dalam arti negatif semata. Sedangkan dalam budaya masyarakat di Aceh dan di Indonesia kerja sama itu bermakna positif, pasti saling menguntungkan. Hal makna kerja-sama dalam arti positif harus disosialisasikan lebih mendalam, sebelum digalakkan berdamai.

Sebaliknya, ide bekerja sama dengan panitera pengadilan dalam mengupayakan dameé sangatlah kurang diperhatikan oleh hakim. Sebab, sejak dulu biasa dipikirkan bahwa tidak seperti proses persidangan. Prosedur dameé adalah prosedur opsional yang tidak memerlukan kehadiran

panitera. Pada satu waktu, saya sendiri merasa bahwa inilah salah satu keunggulan dameé, karena tidak ada alasan untuk mendesakkan kehadiran panitera, dan karena hal itu tidak merepotkan panitera betapapun proses itu berlangsung. Di samping itu kehadiran banyak orang dalam satu majelis damai dapat membuat situasi tidak rileks. Situasi ini dapat menghambat damai.

Namun demikian, melalui pengalaman praktik, lama-lama saya melihat panitera pengadilan yang tadinya begitu antusias terhadap kasus yang mereka tangani kemudian minatnya pudar sesudah perkaranya pindah ke upaya dameé sehingga terjadi kesenjangan antara kesadaran hakim dan kesadaran panitera terhadap perkaranya.15 Pengalaman ini memang tidak merata. Artinya tidak semua kasus saya mengalami seperti itu. Walaupun jarang terjadi ada panitera yang merasa senang kalau dapat berdamai.

Saya mengira panitera kehilangan minat karena mereka menyadari bahwa kasus-kasus yang tadinya mereka tangani berjalan sedemikian rupa tanpa melibatkan mereka lagi. Namun begitu hendaknya panitera itu tetap hadir selama prosedur dameé, mereka antusias mempersiapkan usulan dameé dan membuat saran-saran yang tepat. Ketikan dan konsep damai dipersiapkan oleh panitera. Keterlibatan panitera dapat meningkatkan pamor pengadilan serta bermanfaat secara akademik kepada panitera sendiri. Hakim ____________

15Khairul Akmal, Pelaksanaan Tugas Panitera Dalam Pemberian

Akta Cerai Di Pengadilan Agama Bangkinang (Tinjauan Terhadap Pasal 84 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989), Disertasi Universitas Islam

Negeri Sultan Sarif Kasim Riau, 2011. Suwarti, Peran Panitera dalam Persidangan Peradilan Anak di Pengadilan Negeri Rembang, Disertasi Fakultas Hukum UNISSULA, 2016.

mediator dan panitera seakan-akan berada pada satu kemitraan.

Di Indonesia, kata kemitraan merujuk pada hubungan antara dua pemegang tandu, satu di depan dan satu di belakang. Satu tandu tidak dapat dipanggul oleh satu pundak. Dan dengan dua pembawa pula, dia hanya dapat dibawa secara efektif jika keduanya mengkoordinasikan langkahnya. Hakim dan panitera pengadilan mengkoordinasi langkah-langkah mereka, karena mereka membawa satu tandu di pundak mereka dengan satu penumpang yang disebut perkara. Panitera bukanlah pihak luar dalam suatu perkara. Panitera memang tidak mencampuri perkara. Akan tetapi diplomasi panitera penting bagi pihak-pihak diplomasi ini untuk mewujudkan perdamaian. Panitera dimungkinkan untuk diminta petunjuk teknis oleh pihak-pihak.16

Pembawa tandu mengarah ke satu tujuan, yaitu penyelesaian perselisihan dengan cepat dan tepat. Selama ini, hakim selalu menjadi pembawa di depan, sedangkan panitera pengadilan menjadi pembawa yang kalem di belakang; mulai dari sekarang dan seterusnya saya kira sejauh mana panitera pengadilan membawa tandu di depan akan ikut menentukan keberhasilan dameé. Keikutsertaan panitera dapat memperlancar konsep damai yang dibangun oleh hakim.

Dameé artinya menyelesaikan masalah tidak melalui

formalitas pengadilan. Jalur formalitas pengadilan dianggap jalur lambat dan menyesakkan. Meninggalkan bekas yang berkepanjangan dan tidak memberi pelajaran bagi pelaku, masyarakat dan mengerikan. Justru penyelesaian melalui jalur non formal akan lebih berhasil dan mengesankan. Suatu ____________

peristiwa perlu disampaikan sebagai contoh penyelesaian masalah dalam suatu masyarakat melalui jalur non formal. Pada Tahun 1966 saya ikut kegiatan PKP-PII di Sigli. Saya ditempatkan pada salah satu meunasah di Lampoih Saka bersama beberapa orang teman. Teman-teman itu berasal dari berbagai daerah, tentu sekolahnyapun berbeda-beda.

Salah seorang teman kami itu kehilangan jam tangannya. pencarianpun dilakukan, namun tidak ketemu. Masyarakat gampoeng menjadi gelisah dengan kehilangan itu. Kami diajak membaca surat Yasin. Di sela-sela marka' (ain) bacaan surat Yasin Tgk Imam membaca do'a. Ada bait-bait do'a yang diselingi dengan do'a “ya Allah ya Rabbi tulikanlah dan butakanlah orang yang mengambil/mencuri jam saudara kami di meunasah ini”. Diulang sampai tiga kali. Bacaan surat Yasin itu berturut-turut sampai tiga malam. Lalu salah seorang teman kami bermimpi bahwa jam itu berada di atas salah satu tiang meunasah. Betul saja jam itu diketemukan. Salah seorang teman kami yang bermimpi merasa tersisih dan sering termenung. Malam berikutnya Tgk Imam mengajak baca Yasin kembali diselingi dengan do'a, agar Allah memberi maaf kepada pencuri serta memberi hidayah tambahan kepada anak kami yang telah bermimpi menemukan jam tangan anak kami ini. Kegelisahan yang dialami oleh anak/peserta PKP menjadi reda dan tenang kembali.

Contoh di atas betapa terbukti kontribusi pengetua-pengetua masyarakat dalam menyelesaikan sengketa dalam masyarakatnya. Tidak ada pihak yang tersinggung atau disinggungkan, semua berjalan dengan normal, bahkan saling membantu. Pihak yang melakukan kejahatan telah menjadi pelajaran baginya dan ikut serta mencari dan menemukan

jalan penyelesaian. Memang konsep seperti ini tidak dapat serta-merta diaplikasikan dalam masyarakat modern sekarang ini, tetapi ilmu tentang itu harus dijadikan batu loncatan untuk mencapai konsep-konsep baru yang lain sebagai pengembangan konsep lama itu.17

____________

17Lihat juga Laurensia Mei Dita Sari, Pengaruh Spiritual

Leadership Dan Workplace Spirituality Terhadap Organizational

Commitment Dengan Perceive Organizational Support Sebagai Variabel Moderasi, Disertasi Universitas Airlangga, 2018.

BAGIAN 4

POLA PENYELESAIAN SENGKETA DALAM