BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.4 Pentingnya Membangun Loyalitas Karyawan
Para ahli mengatakan bahwa sepertiga atau lebih profit sebuah perusahaan dihasilkan oleh karyawan mereka yang loyal. Pimpinan tinggi sebuah perusahaan harus membangun suasana kondusif dalam mempertahankan karyawan terbaik dan meminimalisir jumlah karyawan yang tidak loyal. Berikan penghargaan positif untuk menyemangati dan membuat mereka semakin engaged terhadap perusahaan. Buatlah program keterlibatan karyawan dalam membangun inisiatif dan perbaikan disetiap lini organisasi.
Cara demikian lebih efektif membangun Loyalitas Karyawan sebagaimana dapat dijabar berikut:
a. Jadikan Perusahaan Anda Tempat Favorit
Pastikan setiap karyawan merasakan kepuasan dan ketersediaan dalam karir mereka. Mungkin dapat dilakukan berupa kegiatan Sosial, Amal, Sukarela dan Layanan Masyarakat sebagai aktualisasi mereka dalam Lingkungan.
b. Ciptakan Peluang Partisipasi Karyawan
Keterlibatan dan Partisipasi karyawan bukan hanya urusan kerja semata namun juga menyentuh aktivitas pribadi dan keluarga mereka, sehingga mereka akan lebih bahagia dan lebih aktif terlibat dan produktif dalam
bekerja. Kegiatan dalam komunitas mereka selain di kantor perlu difasilitasi untuk membangun mental dan jiwa mereka.
c. Buka Kotak Saran
Selalu buka pintu dalam menampung dan berdiskusi setiap waktu. Saran dan masukan mereka bukan menunjukkan sikap cengeng dalam bekerja, melainkan bentuk dan cara mereka mencapai performa yang mungkin tidak di harapkan mereka lakukan.
d. Aktivitas Team Building
Kebersamaan dalam Tim akan membuat suasana kerja makin kondusif dan tingkat produktivitas semakin besar. Kegiatan menyatukan karyawan ini tidak hanya melulu seperti kegiatan Outing (Outbound) namun bisa berupa aktivitas sosial kemasyarakatan, seperti Donor Darah, Kunjungan Panti Asuhan, Pasar Murah dan lainnya. Keterlibatan mereka akan membangun Kebersamaan dalam Tim.
e. Program Berkelanjutan
Program pemberdayaan karyawan untuk membangun Loyalitas ini tidak mungkin hanya berlangsung sekali saja, namun merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dan terus dengan tekun dilakukan.
Loyalitas Karyawan seiring menjaga performa atau kinerja juga berimbas pada bentuk-bentuk positif lain seperti Pola Pikir Maju (Advanced), Integritas (Integrity) dan Disiplin (Dicipline). Perilaku ini sangat mahal harganya terlebih dengan makin maraknya industri-industri sejenis yang meramaikan pasar.
2.1.5 Strategi Meningkatkan Loyalitas Kerja
Dr. Malayu S.P Hasibuan menjelaskan bahwa pemeliharaan adalah strategi untuk mempertahankan loyalitas karyawan. Pemilihan metode pemeliharaan yang tepat sangat penting. Supaya pelaksanaannya efektif dalam mendukung tercapainya tujuan perusahaan.
Metode pemeliharaan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Komunikasi
Komunikasi harus digunakan dalam setiap penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Dengan komunikasi yang baik akan dapat diselesaikan masalah-masalah yang ada di dalam perusahaan. Jadi manajemen terbuka akan mampu mendukung terciptanya pemeliharaan keamanan dan kesehatan loyal yang baik dari para karyawan. Masuknya informasi yang lebih banyak akan menjadi daya penggerak yang merangsang gairah kerja dan meningkatkan sikap loyal seseorang terhadap perusahaan.
b. Insentif
Insentif adalah daya perangsang yang diberikan kepada para karyawan tertentu berdasarkan prestasi kerjanya agar karyawan terdorong meningkatkan produktivitasnya. Dengan memberikan insentif karyawan merasa mendapat perhatian dan pengakuan atas prestasi yang dicapainya sehingga semangat kerja dan sikap loyal karyawan akan lebih baik. Bentuk insentif dapat berupa penghargaan berdasarkan prestasi kerjanya. Isentif dapat juga berupa fasilitas dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Seperti promosi, mengikuti pendidikan,naik haji. Insentif ini disebut Sosial Insentif. Bentuk
insentif lainnya adalah berupa uang atau barang, atau disebut sebagai material intensif.
c. Program Kesejahteraan
Kesejahteraan karyawan adalah balas jasa pelengkap (material dan nonmaterial) yang diberikan kebikjasaan. Jenis-jenis kesejahteraan yang diberikan adalah financial dan non financial yang bersifat ekonomis, serta pemberian fasilitas dan pelayanan. Pemberian kesejahteraan perlu diprogram sebaik-bainya supaya bermanfaat dalam mendukung tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Program kesejahteraan harus berasakan keadilan dan kelayakan, juga didasarkan atas kemampuan perusahaan.
d. Keselamatan dan Kesehan kerja (KKK)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja akan menciptakan terwujudnya pemeliharaan karyawan yang baik. KKK harus ditanamkan pada diri masing-masing individu karyawan, dengan penyuluhan dan pembinaan. Selain ditentukan oleh kepribadian, loyalitas karyawan juga ditentukan oleh keadaan perusahaan. Perusahaan yang tidak sehat akan mengurangi loyalitas karyawan.
Adapun cara-cara yang dapat meningkatkan loyalitas karyawan, yaitu:
a. Memberikan hak-hak karyawan dengan baik
Karyawan direkrut untuk bekerja. Akan tetapi, kewajiban tersebut harus seimbang dengan hak-hak mereka. Hak-hak tersebut antara lain:
1) Gaji
3) Pelatihan 4) Fasilitas kerja
5) Kesejahteraan keluarga 6) Jaminan sosial tenaga kerja 7) Keamanan
8) Tunjangan hari raya
Hak-hak di atas tentunya harus diberikan secara profesional agar karyawan Anda tidak pindah kerja. Jika hak-haknya sudah diberikan, karyawan akan fokus kepada kewajibannya saja tanpa direpotkan memikirkan hal-hal lain yang mengganggu. Dengan kata lain, mereka tenang bekerja untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan perusahaan.
Bagaimana jika hak-hak karyawan tidak diberikan secara baik? Anda jangan mengharapkan kinerja mereka akan baik karena mereka akan terdemotivasi atau menuntut hak-haknya. Bukan tidak mungkin, mereka akan mengadukan Anda dan perusahaan Anda ke pihak berwenang.
b. Menerapkan penilaian kinerja yang efektif
Cara lain untuk meningkatkan loyalitas karyawan adalah menerapkan penilaian kinerja yang efektif. Penilaian seperti ini dilakukan secara fair dan objektif. Fair berarti Anda menilai berdasarkan standar yang telah disepakati, sedangkan objektif berarti menilai berdasarkan pencapaian kinerja, bukan berdasarkan suka atau tidak suka.
Jika kinerja mereka dinilai secara efektif, karyawan akan senang karena jerih payah mereka dihargai dengan baik. Dengan demikian, mereka umumnya betah bekerja di perusahaan tersebut.
c. Menerapkan jenjang karier yang jelas
Selain hak karyawan dan penilaian kinerja yang efektif, menerapkan jenjang karier yang jelas dapat juga meningkatkan kesetiaan karyawan pada perusahaannya. Jenjang karier yang jelas ini akan meningkatkan motivasi karyawan untuk bekerja dengan baik sehingga dia bisa meraih puncak kariernya.
Kejelasan jenjang karier umumnya berkaitan dengan:
1) Waktu kerja
2) Kompetensi suatu posisi 3) Kinerja karyawan 4) Perilaku karyawan
Sebagi contoh, seorang junior engineer bisa dipromosikan menjadi engineer setelah tiga tahun bekerja sepanjang kinerja, perilaku, dan kompetensinya memenuhi persyaratan posisi engineer.
d. Mempromosikan karyawan
Mempromosikan karyawan merupakan cara lain dalam meningkatkan kesetiaan karyawan pada perusahaan. Cara ini umumnya dilakukan kepada karyawan spesial yang sangat dibutuhkan perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan takut kehilangan karyawan tersebut karena jika yang
Promosi ini diharapkan membuat karyawan bersangkutan merasa tertantang dengan jabatan barunya sehingga mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tanpa memikirkan untuk pindah ke perusahaan lain. Selain itu, promosi ini memberikan tambahan finansial bagi karyawan bersangkutan.
e. Membebaskan kreativitas
Membebaskan kreativitas karyawan dalam bekerja merupakan tips lain yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kesetiaan karyawan. Yang dimaksud kreativitas ini adalah hal-hal baik di luar standar kerja yang sudah ditetapkan.
Usulan-usulan kreatif dari karyawan hendaknya Anda maknai sebagai kreativitas mereka, tanpa harus memangkasnya karena di luar standar kerja yang diterapkan. Bagi si karyawan, pembebasan kreativitas ini akan memacu mereka bekerja lebih baik karena tidak merasa jenuh dalam rutinitas yang monoton.
f. Memberikan pinjaman lunak
Memberikan pinjaman lunak dapat juga dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan loyalitas karyawan. Mengapa? Selain dibantu dari sisi finansial, si karyawan bersangkutan harus melunasi pinjaman tersebut seandainya ia mengundurkan diri dari perusahaan.
g. Memberikan bonus
Cara terakhir untuk meningkatkan loyalitas karyawan adalah memberikan bonus. Ini bisa berupa bonus kinerja (performance bonus), bonus akhir tahun (year-end bonus), atau bonus pembagian keuntungan (profit-sharing bonus).
Pemberian bonus ini menunjukkan bahwa perusahaan Anda profesional karena memberikan hal lain di luar hak karyawan. Oleh karena itu, diharapkan karyawan akan betah bekerja sehingga loyal kepada perusahaan.
Mariko menjelaskan, tidak sulit meningkatkan loyalitas karyawan pada perusahaan. Ada empat cara meningkatkan loyalitas:
a. Perhatian khusus kepada karyawan khusus. Ini bisa diimplementasikan dengan cara menaikan jabatan dan meningkatkan gaji. Untuk mengetahui perkembangan karyawan, perusahaan harus memantau kerja karyawan. Tugas ini biasanya dilakukan HRD dan harus dikerjakan dengan teliti dan tidak asal-asalan. Karyawan berkualitas harus diberikan kompensasi positif, salah satunya bonus. Cara ini akan meningkat karyawan untuk enggan pindah kerja karena semua kebutuhan sudah dipenuhi perusahaan.
b. Membangun nilai kekeluargan. Nilai ini bisa dibangun dengan cara makan siang bersama karyawan terpilih. Tidak perlu setiap hari, makan siang bersama bisa dilakukan dalam sebulan atau seminggu sekali. Dari sini akan terbangun keakraban antara karyawan dengan pemimpin. Dalam kondisi akan terlontar pembicara-pembicara non formal yang membuat suasana yang santai dan akrab. “Cara seperti banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, para CEO meluangkan waktu untuk makan siang bersama karyawan terpilih,”
kata mariko.
c. Meningkatkan karier. Menaikan jabatan karyawan berprestasi sangat perlu dilakukan, karena itu merupakan satu kebanggaan. Karyawan paling senang
kerja, dengan imbalan ini mereka akan meningkatkan semangat kerja. Jangan biarkan karyawan berprestasi pindah kerja, karena mereka adalah aset perusahaan yang nilainya tidak kalah dengan keuntungan.
d. Analisa. Dengan menganalisa keadaan karyawan pemimpin akan tahu kondisi dan tingkat kebutuhan karyawan. Setiap karyawan mempunyai tingkat kebutuhan berbeda-beda. Tingkat kebutuhan karyawan berusia 22-25 tahun, dimana mereka baru lulus kuliah dan belum menikah berbeda dengan karyawan berusia 30-35 tahun. Karyawan berusia 22-25 tahun mempunyai sifat ingin belajar dan tingkat kebutuhan terhadap materi masih kecil.
Karyawan pada level ini lebih cocok jika berikan learning center atau pendidikan tambahan. Pendidikan tambahan akan menjadi bekal pengembangan karier. Berbeda dengan karyawan berusia 30-35 tahun.
Anoraga dan Widiyanti (1993) mengemukakan ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk meingkatkan loyalitas kerja, yaitu:
a. Hubungan yang erat antar karyawan b. Saling keterbukaan dalam hubungan kerja c. Saling pengertian antara pimpinan dan karyawan
d. Memperlakukan karyawan tidak sebagai buruh, tetapi sebagai rekan kerja e. Pimpinan berusaha menyelami pribadi karyawan secara kekeluargaan f. Rekreasi bersama seluruh anggota perusahaan.
Martoyo (1987) mengemukakan bahwa perhatian terhadap karir individual dalam perencanaan karir yang telah ditetapkan, penilaian prestasi kerja baik tertib dan benar saja pemberian upah akan dapat meningkatkan loyalitas karyawan pada
perusahaan dimana mereka bekerja, Gilsbert (Kadarwati, 2003) berpendapat agar karyawan mempunyai loyalitas kerja yang tinggi pada perusahaan dengn jalan mengambil perhatian, memuji kemajuan, pemindahan, kenaikan upah, promosi jabatan, memberitahukan kepada karyawan tentang apa yang terjadi pada perusahaan, membiarkannya mengerti bagaimana bekerja dengan baik serta mau mendengarkan keluhan para karyawan.
2.1.6 Sebab-Sebab Turunnya Loyalitas dan Cara Mengatasinya
Penyebab terjadinya ketidak loyalnya para sumber daya manusia, salah satu sebabnya adalah adanya ketidakpuasan karyawan. Ketidakpuasan tersebut berasal dari berbagai hal, antara lain ketidakcocokan dengan pimpinan, kenyamanan kerja, lingkungan kerja, masalah upah, fasilitas minim, maupun yang bersifat psikologis seperti penghargaan terhhadap karyawan, kebutuhan untuk ikut serta berpartisipasi dalam pengembangan usaha, dll. (Nitisemito, 1996)
Uraian yang disampaikan oleh Nitisemito pun mengemukakan bahwa sebenarnya loyalitas karyawan dapat dihindari apabila para pemilik usaha memperhatikan indikasi-indikasi yang memunculkan turunnya loyalitas kerja karyawan. Hal itu dapat diketahui dalam perilaku yang ditunjukkan, antara lain : a. Turun/rendahnya produktivitas kerja
Produktivitas kerja tersebut dapat diukur atau diperbandingan dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat terjadi karena pekerjaan yang tertunda.
b. Meningkatnya tingkat absensi
Pada umumnya, apabila loyalitas dan sikap karyawan menurun, maka terlihat dalam perilaku kerja yang malas untuk datang tiap hari. Bila ada gejala-gejala absensi naik, maka perlu dicara penyebabnya.
c. Tingkat Perpindahan yang tinggi
Turn over atau keluar masuknya karyawan yang meningkat tersebut terutama adalah karena tidak senangnya para karyawan bekerja pada perusahaan yang lain yang diminati. Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi ini selain berdampak pada menurunnya produktivita kerja, juga dapat mempengaruhi kelangsungan jalannya perusahaan.
d. Kegelisahan dimana-dimana
Loyalitas dan sikap kerja yang menurun menyebabkan kegelisahan bagi karyawan yang lain. Apabila dampak ini dirasakan oleh pimpinan dan segera mengambil langkah, maka hal ini segera dapat teratasi. Namun tidak semua pimpinan memahami dan peduli terhadapsiuasi perusahaan.
e. Tuntutan yang sering terjadi
Tuntutan yang merupakan perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.
f. Pemogokan
Indikasi paling dapat diambil kesimpulan adalah saat terjadi pemogokan karyawan. Hal ini terjadi apabila karyawan suatu perusahaan sudah tidak merasa tahan lagi hingga memuncak, yang akhirnya muncul tuntutan karyawan sebagai dampak atas ketidakpuasan. Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, biasanya terjadi mogok kerja.
Mengenai loyalitas, juga mempunyai kaitan dengan tingkat kematangan karyawan. Disatu sisi kematangan karyawan tidak mungkin serempak, karena masing-masing orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.latar belakang karyawan dari sisi keluarga adalah dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan keluarga, status gizi, pendidikan. Selain itu, dari sisi usiapun ada dampaknya terhadap keputusan kaitannya dengan loyalitas.
Adapun faktor-faktor lain yang menyebabkan turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas, yakni:
a. Faktor Rasional
Faktor rasional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang dapat dijelaskan secara logis. Faktor-faktor rasional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawan.
b. Faktor Emosionl
Faktor emosional turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang menyangkut perasaan atau ekspresi diri. Faktor-faktor emosional yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain pekerjaan yang dinilai kurang menantang, lingkungan kerja yang tidak kondusif, perasaan was-was terhadap keberlangsungan hidup perusahaan, ketidakcocokan karyawan dengan pemimpin, pekerjaan yang dinilai tidak prestige, serta kurangnya penghargaan perusahaan
c. Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian sebagai penyebab turunnya loyalitas karyawan mengacu pada hal-hal yang sifat pribadi karyawan. Faktor-faktor kepribadian yang menjadi penyebab turunnya loyalitas karyawan sesuai dengan pengertian loyalitas antara lain adalah sifat mudah bosan dan ketidakcocokan karyawan dengan budaya kerja di suatu perusahaan.
Selain faktor-faktor yang menyebabkan turunnya loyalitas, adapula indikasi-indikasi yang menyebabkan turunnya loyalitas karyawan, yaitu:
a. Rendahnya produktivitas kerja
Indikasi pertama turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan adalah adanya penurunan produktivitas kerja karyawan, penurunan ini dapat diukur dengan membandingkan produktivitas kerja saat ini dengan produktivitas pada waktu sebelumnya.
Beberapa hal penyebab turunnya produktivitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain karena adanya kemalasan atau sikap karyawan yang cenderung menunda-nunda pekerjaan.
b. Tingkat absensi yang naik
Ketika loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan menurun, biasanya karyawan akan malas untuk datang ke tempat kerja.
Hal ini dapat dideteksi dengan naiknya jumlah absen karyawan dibandingkan dengan jumlah absen di bulan-bulan sebelumnya.
c. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi
Tingkat perpindahan atau keluar masuknya karyawan yang tinggi mengindikasikan adanya sesuatu yang salah pada suatu perusahaan.
Banyaknya karyawan yang merasa tidak cocok bekerja diperusahaan tersebut menandakan jika sistem manajemen perusahaan tidak sesuai dengan sistem yang diharapkan oleh karyawannya. Tingkat perpindahan karyawan yang tinggi akan merugikan pihak perusahaan karena dapat menurunkan produktivitas kerja dan dapat memengaruhi secara langsung kelangsungan hidup perusahaan tersebut.
d. Muncul kegelisahan
Loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loylitas karyawan yang menurun dapat menimbulkan munculnya kegelisahan dikalangan para karyawan.
Seorang pemimpin semestinya peka terhadap isu dan kegelisahan-kegelisahan yang muncul di kalangann para karyawan. Dengan mengetahui keluh kesah karyawan, seorang pemimpin dapat mencegah turunnya loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan disebuah perusahaan.
e. Tuntutan yang sering terjadi
Tuntutan yang sering terjadi dari kalangan karyawan sebenarnya adalah bentuk perwujudan dari ketidakpuasan karyawan terhadap perusahaan.
Pada tahap tertentu, ketidakpuasan tersebut akan memunculkan keberanian karyawan untuk mengajukan tuntutan kepada perusahaan tempatnya bekerja.
f. Pemogokan kerja
Wujud paling ekstrem dari penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan kepada perusahaan adalah terjadinya pemogokan kerja. Apabila karyawan merasa suaranya tidak lagi didengar, maka ketidakpuasan mereka akan memuncak dan akhirnya menimbulkan munculnya gerkan mogok kerja.
Penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan bukan berarti akhir bagi hubungannya karyawan dan perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah perusahaan dapat mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan dengan mewujudkan harapan-harapan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan para karyawan yang sempat terabaikan sebelumnya. Beberapa cara mengatasi penurunan loyalitas kerja sesuai dengan pengertian loyalitas karyawan antara lain:
a. Memberikan gaji yang cukup b. Memberikan kebutuhan rohani
c. Sesekali perlu menciptakan suasana santai d. Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat e. Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju f. Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan
g. Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas. Sesekali mengajak karyawan berunding
h. Memberikan fasilitas yang menyenangkan
2.1.7 Aspek-Aspek Loyalitas
Loyalitas krja tidak terbentuk begitu saja dalam perusahaan, tetapi ada aspek-aspek yang terdapat didalamnya yang mewujudkan loyalitas kerja. Masing-masing aspek merupakan bagian dari manajemen perusahaan yang berkaitan dengan karyawan maupun perusahaan.
Steers & Porter (1983) mengemukakan aspek-aspek loyalitas yang berhubungan dengan sikap yang akan dilakukan karyawan, dan merupakan proses psikologis teciptanya loyalitas kerja dalam perusahaan, antara lain:
a. Dorongan yang kuat untuk tetap menjadi anggota perusahaan, kekuatan aspek ini sangat dipengaruhi oleh keadaan individu, baik kebutuhan, tujuan maupun kecocokan individu dalam perusahaan.
b. Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin bagi perusahaan.
Kesamaan persepsi antara karyawan dan perusahaan dan yang didukung oleh kesamaan tujuan dalam perusahaan mewujudkan keinginan yang kuat untuk berusaha maksimal, karena dengan pribadi juga perusahaan akan terwujud.
c. Kepercayaan yang pasti dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai perusahaan. Kepastian kepercayaan yang diberikan karyawan tercipta dari operasional dari kepercayaan perusahaan terhadap karyawan itu sendiri untuk melaksanakan pekerjaannya.
Bekerja merupakan salah satu jalan seseorang meraih aktualisasi diri serta memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal bekerja, salah satu aspek penting yang diperlukan oleh karyawan adalah loyalitas kerja.
Aspek-aspek loyalitas kerja yang lain terdapat pada individu dikemukakan oleh Siswanto (1989), yang menitik beratkan pada pelaksanaan kerja yang dilakukan karyawan antara lain:
a. Taat pada peraturan
Karyawan mempunyai tekat dan kesanggupan untuk menaati segala peraturan, perintah dari perusahaan dan tidak melanggar larangan yang telah ditentukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Peningkatan ketaatan tenaga kerja merupakan prioritas utama dalam pembinaan tenaga kerja dalam rangka peningkatan loyalitas kerja pada perusahaan.
b. Tanggung jawab
Karakteristik pekerjaan dan prioritas tugasnya mempunyai konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan kesadaran setiap resiko melaksanakan tugas akan memberikan pengertian tentang keberanian dan kesediaan menanggung rasa tanggung jawab ini akan melahirkan loyalitas kerja. Dengan kata lain bahwa karyawan yang mempunyai loyalitas yang tinggi maka karawan tersebut mempunyai tanggung jawab yang lebih baik.
c. Sikap kerja
Sikap yang mempunyai sisi mental yang mempengaruhi individu dalam memberikan reaksi terhadap stimulus mengenai dirinya diperoleh dari
pengalaman dapat merespon stimulus tidaklah sama. Ada yang merespon secara positif dan ada yang merespon secara negative. Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan memiliki sikap kerja yang positif. Sikap kerja positif meliputi :
1) Kemauan untuk bekerja sama. Bekerjasama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
2) Rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memilikisikap untuk ikut menjaga dan ikut bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.
3) Hubungan antar pribadi. Karyawan yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini meliputi : hubungan sosial antara karyawan. Hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman sekerja.
4) Suka terhadap pekerjaan. Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari datang untuk bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukakan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari : kesanggupan karyawan dalam bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
Aspek-aspek loyalitas, baik yang merupakan proses psikologis individu maupun dalam pekerja tersebut diatas akan sering mempengaruhi untuk membentuk loyalitas, yaitu dorongan yang kuat untuk tetap menjadi anggota perusahaan, kepercayaan yang pasti, penerimaan penuh atas nilai-nilai perusahaan, taat pada peraturan yang berlaku, rasa tanggung jawab yang tinggi dan sikap kerja yang positif. Apabila hal-hal tersebut dapat terpenuhi dan dimiliki oleh karyawan, maka niscaya karyawan tersebut akan memiliki loyalitas yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan.
2.2 Kerangka Pikir
Bedasarkan tinjauan landasan teori dan penelitan terdahulu maka dapat disusun
Bedasarkan tinjauan landasan teori dan penelitan terdahulu maka dapat disusun