• Tidak ada hasil yang ditemukan

serta dalam suatu kegiatan; keikutsertaan; peran serta. Sedangkan masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Masyarakat dalam pengertian UU No. 12 Tahun 2011 adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi rancangan undang-undang.74

Istilah partisipasi masyarakat banyak dijumpai dalam beberapa terminologi, beberapa diantaranya menyebutkan peran serta masyarakat atau partisipasi publik.

Oleh Huntington dan Nelson, partisipasi publik didefinisikan sebagai activity by private citizens designed to influence government decision making (partisipasi publik menjadi salah satu alat dalam menuangkan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat untuk dituangkan dalam suatu peraturan). Pusat Studi Hukum dan Kebijakan mendefinisikan partisipasi sebagai keikutsertaan masyarakat, baik secara individual maupun kelompok, secara aktif dalam penentuan kebijakan publik atau peraturan.75

Dalam konteks hubunganya dengan tata pemerintahan yang baik, maka partisipasi merujuk pada keterlibatan akan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Partisipasi masyarakat mutlak diperlukan agar penyelenggara pemerintahan dapat lebih mengenal warganya berikut cara pikir dan kebiasaan hidupnya, masalah yang dihadapinya, cara atau jalan keluar yang disarankan, apa yang dapat disumbangkan dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Masih dengan konteks yang sama, UNDP mengartikan partisipasi sebagai keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung maupun

74 Pasal 76 UU Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Perundang-Undangan

75 Yuliandri. Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang Undangan yang baik. Gagasan Pembentukan Undang-Undang Yang Berkelanjutan.(Jakarta: Rajawali Pers, 2011) h., 185

tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya.

Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan bersosialisasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif. Seringkali timbul anggapan bahwa dalam suatu negara yang telah menganut sistem perwakilan tidak ada keharusan untuk melaksanakan bentuk-bentuk partisipasi masyarakat karena para wakil rakyat telah bertindak untuk kepentingan rakyat. Anggapan tersebut bukanlah anggapan yang benar karena tidak ada yang bisa menjamin anggota legislatif yang sudah kita pilih bertindak sesuai kepentingan rakyat. Justru bagaimana membuka partisi public dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat setelah pemilu jauh lebih penting. Bagaimana mau menjalankan demokrasi yang sesungguhnya kalua aspirasi masyarakat tidak diperlukan setelah pemilu.

Partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah merupakan wujud dari pelaksanaan asas keterbukaan yang merupakan salah satu asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Asas tersebut menyatakan bahwa”Yang dimaksud dengan ”asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka.76 Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Sejalan dengan hal tersebut Hadjon mengemukakan bahwa konsep partisipasi masyarakat berkaitan dengan konsep keterbukaan. Dalam artianan, tanpa keterbukaan pemerintahan tidak mungkin masyarakat dapat melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan.77

76 Pasal Pasal 5 Huruf g UU Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Perundang-Undangan

77 Rahendro Jati, Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembentukan Undang-Undang Yang Responsif. Jurnal Rechtsvinding , Vol 1, No 23, Tahun 2012. h., 334

Sebagai prasyarat untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, partisipasi masyarakat akan memberikan manfaat penting yaitu peraturan perundang-undangan akan memiliki kelebihan dalam hal efektivitas keberlakuan di dalam masyarakat. Koesnadi Hardjasoemantri berpendapat bahwa peran serta masyarakat dapatlah dipandang untuk membantu negara dan Lembaga lembaganya guna melaksanakan tugas-tugas dengan cara yang lebih dapat diterima dan berhasil guna.

Selain itu, partisipasi masyarakat akan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan equitable serta memperkuat lembaga demokrasi. Manfaat yang akan diperoleh dengan partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah:

1) meningkatkan letgitimasi dan kualitas peraturan perundang-undangan yang dihasilkan

2) meningkatkan peluang untuk keberhasilan dalam penerapannya

3) meningkatkan ketaatan terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan tersebut secara sukarela

4) memperluas bentuk partnership dengan warga negara.78

Pelaksanaan partisipasi masyarakat sebagai hak masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, harus dimaknai juga sebagai kewajiban di sisi lainnya yaitu pemerintah. Ketika masyarakat, warga negara diberikan hak berdasarkan peraturan perundang-undangan maka itu menjadi suatu kewajiban bagi negara untuk mendukung dan menjamin pelaksanaan hak tersebut. Karena tanpa adanya dukungan dan jaminan dari negara untuk melaksanakan kewajiban atas

78 Diroktorat Harmonisasi Peraturan Perundang Undang-Undangan, Pnduan Pengharmonisasian, Pembulatan dan Pemantapan Konsepsi Rancangan Perundang-Undangan.

(Jakarta: Kementrian hukum dan HAM, Cappler Project 2010) h.,69

pelaksanaan serta perlindungan hak-hak masyarakat, maka partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan akan sia-sia.79

Partisipasi publik merupakan sebuah keharusan dalam pembentukan undang agar masyarakat bisa menyampaikan aspirasinya kepada pembentuk undang-undang. Pembentuk undang-undang harus mempertimbangkan aspirasi terbit karena biar bagaimanapun nanti undang-undang yang disahkan akan berdampak luas kepada kehidupan masyarakat.Sebagaimana telah disampaikan Moh. Mahfud. M.D bahwa Sistem Hukum Pancasila membangun hukum yang dalam proses pembentukannya tidak ada sesuatu yang dilakukan dengan “kucing-kucingan” ataupun sembunyi-sembunyi.80 Sehingga publik secara luas mengetahui serta dapat memberikan masukan terhadap proses yang ada, apabila terdapat sesuatu hal yang menurut publik merupakan sesuatu yang tidak tepat. Partisipasi dan aspirasi merupakan kontrol masyarakat kepada pembentuk undang agar berhati hati dalam pembentukan undang-undang.

Adanya partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan ini penting karena sistem perwakilan rakyat tidak pernah dapat diandalkan sebagai satu-satunya saluran aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, prinsip representation in ideas dibedakan dari representation in presence, karena perwakilan fisik saja belum tentu mencerminkan keterwakilan gagasan atau aspirasi.81

Partisipasi public dalam pembentukan undang-undang berpengaruh terhadap dua hal yang saling mengait, yaitu proses dan substansi. Proses adalah mekanisme dalam pembentukan undang-undang yang harus dilakukan secara transparan sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dan memberikan aspirasinya

79 Salahudin Tunjung seta, Hak Masyarakat dalam Pembentukan Perundang-Undangan. Jurnal Legislasi, Vol 17 No 2 Tahun 2020.h., 161

80 Moh. Mahfud. M.D, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2013), h., 9

81 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme, Jakarta, Sinar Grafika, 2010, h., 133.

terkait substansi pasal yang sedang dibahas. Substansi adalah materi yang akan diatur harus ditujukan kepentingan masyarakat luas sehingga menghasilkan suatu undang-undang yang berkarakter responsif. Sebagaimana kata Mahfud MD indikator hukum yang responsif adalah pembuatanya partisipatif, muatannya aspiratif dan rincian isinya limitatif.82

Secara filosofis Indonesia adalah negara hukum yang demokratis sebagai pengejawantahan sila ke 4 dan partisipasi publik dijamin oleh pasal 28 E Ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi “setiap orang Hak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”. secara formal juga telah diatur oleh perangkat Peraturan yang ada. Pasal 96 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyatakan bahwa:

1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

2) Masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui: a. rapat dengar pendapat umum; b. kunjungan kerja; c. sosialisasi; dan/atau d. seminar, lokakarya, dan/atau diskusi.

3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.

4) Untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Pasal 188 Peraturan Presiden Nomer 87 tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomer 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan juga mempertegas bahwa

82 Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pres, Cet. IV,2011), h.,32

1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka melaksanakan konsultasi publik.

3) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan konsultasi publik diatur dengan Peraturan Menteri.

Kemudian diperkuat oleh oleh pasal 18-21 Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomer 11 Tahun 2021 Tentang Pelaksanan Konsultasi Publik dalam Pembentukan Perundang-Undangan

Pasal 18

Konsultasi Publik pada tahap pembahasan rancangan Undang-Undang dilakukan terhadap rancangan Undang-Undang yang diprakarsai oleh Pemerintah.

Pasal 19

1) Konsultasi Publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dilaksanakan oleh instansi Pemrakarsa.

2) Pemrakarsa menyebarluaskan hasil perkembangan pembahasan rancangan Undang-Undang di DPR dengan cara: a. mengunggah ke dalam sistem informasi peraturan perundang-undangan dan/atau media elektronik lainnya yang mudah diakses oleh masyarakat; dan b. menyelenggarakan forum tatap muka atau dialog langsung yang dilakukan dengan melibatkan Masyarakat

Pasal 20

Masyarakat dapat memberikan masukan dan/atau tanggapan terhadap perkembangan pembahasan rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19

Pasal 21

Pemrakarsa dalam membahas rancangan Undang-Undang di DPR mempertimbangkan tanggapan dan/atau masukan yang diperoleh dari Masyarakat

Begitupun dalam pasal 243-246 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Tata Tertib Juga telah mengatur partisipasi masyarakat yang berbunyi

Pasal 243

Masyarakat dapat memberikan masukan secara lisan dan/ atau tertulis kepada DPR dalam proses: a. penyusunan dan penetapan Prolegnas; b. penyiapan dan pembahasan rancangan undang-undang; c. pembahasan rancangan Undang-Undang mengena1 APBN; d. pengawasan pelaksanaan Undang-Undang-Undang-Undang; dan e.

pengawasan pelaksanaan kebijakan Pemerintah.

Pasal 244

1) Dalam hal masukan diberikan secara tertulis dalam proses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 huruf a, huruf b, huruf d, dan huruf e, masukan disampaikan kepada Anggota dan/atau pimpinan alat kelengkapan DPR.

2) Dalam hal masukan diberikan dalam proses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 243 huruf c, masukan disampaikan kepada pimpinan komisi.

3) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dan ayat (2) disampaikan dengan menyebutkan identitas yang jelas ditujukan kepada Pimpinan DPR, pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan panitia khusus, p1mpman Badan Legislasi, atau p1mpman Badan Anggaran yang menyiapkan dan menangani pembahasan rancangan undang-undang serta melakukan pengawasan pelaksanaan Undang-Undang atau melaksanakan kebijakan Pemerintah.

4) Dalam hal masukan se bagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Pimpinan DPR, masukan diteruskan kepada p1mpman komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan panitia khusus, pimpinan Badan

Legislasi, atau pimpinan Badan Anggaran yang menyiapkan rancangan undang-undang.

Pasal 245

1) Dalam hal masukan disampaikan secara lisan, pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan panitia khusus, pimpinan Badan Legislasi, atau pimpinan Badan Anggaran, menentukan waktu pertemuan dan jumlah orang yang diundang dalam pertemuan.

2) Pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpman panitia khusus, pimpman Badan Legislasi, atau pimpinan Badan Anggaran menyampaikan undangan kepada orang yang diundang se bagaimana dimaksud pada ayat (1).

3) Pertemuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan dalam bentuk rapat dengar pendapat umum, pertemuan dengan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan panitia khusus, pimpinan Badan Legislasi, atau p1mpman Badan Anggaran, dan dapat didampingi oleh be berapa Anggota yang terlibat dalam penyiapan rancangan undang-undang.

4) Hasil pertemuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi bahan masukan terhadap rancangan undangundang yang sedang dipersiapkan.

Pasal 246

Pimpinan alat kelengkapan yang menenma masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 dan Pasal 245 menyampaikan informasi mengenai tindak lanjut atas masukan kepada masyarakat melalui surat atau media elektronik

Dengan mencermati peraturan di atas, maka sudah bahwa partisipasi publik dalam pembentukan undang-undang di Indonesia dijamin oleh UUD 1945 dan perangkat peraturan yang ada. Bahkan berdasarkan Ketentuan pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, partisipasi publik merupakan wujud dari asas keterbukaan yang wajib dipenuhi oleh Pembentuk Undang-Undang guna menghasilkan undang-undang yang berkualitas.

Sehingga apabila dalam pembentukan sebuah undang-undang tidak membuka partisipasi publik maka undang-undang yang nantinya disahkan bisa dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui mekanisme Judicial Review.

.

57 BAB IV

POTRET ASPIRSI MASYARAKAT DALAM DINAMIKA PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM

PIDANA

A. Sejarah panjang pembaruan RUU KUHP

KUHP yang sekarang berlaku sekarang adalah hukum warisan kolonial belanda yang berlaku di Indonesia dari zaman sebelum kemerdekaan melalui Staatsblad Tahun 1915 nomor 732 yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918. Setelah Indonesia merdeka melalui undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana, KUHP diberlakukan di negara Indonesia khususnya di jawa dan madura. Kemudian dikuatkan kembali dengan UU N0 73 Tahun 1958 yang menyatakan bahwa KUHP berlaku di seluruh wilayah di indonesia.83

Meskipun telah terjadi upaya untuk menyesuaikan peraturan hukum pidana sesuai dengan suasana kemerdekaan akan tetapi asas-asas hukum pidana kolonial masih mempengaruhi KUHP di Indonesia. Itu menandakan bahwa KUHP yang sekarang berlaku tidak bersumber dari ideologi Pancasila dan tidak mencerminkan kebutuhan hukum masyarakat.84 Maka dengan kondisi tersebut upaya untuk memperbarui KUHP yang berkarakter Pancasila menjadi cita cita bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang merdeka Indonesia sudah melakukan upaya untuk mempunyai KUHP sendiri. Langkah itu sejatinya sudah dimulai sesaat pasca kemerdekaan dengan undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Saat itu sudah ada penyelarasan kondisi berupa pencabutan pasal-pasal yang

83 Hanafi Amrani, Politik Pembaruan Hukum Pidana, (Yogyakarta : UII Press, 2019) h., 29

84 Yesmil Anwar, Pembaharuan Hukum Pidana Reformasi Hukum Pidana, (Jakarta: Grasindo, 2008) h., 17

tidak lagi relevan. Namun upaya itu adalah Langkah sementra agar pasca kemerdekaan tidak terjadi kekosongan hukum.

Tercatat upaya melakukan pembaruan KUHP mulai terasa gregetnya sejak 1958, yaitu ditandai dengan berdirinya LPHN (Lembaga Pembinaan Hukum Nasional).

Selanjutnya juga diselenggarakan Seminar Hukum Nasional I pada 1963. Seminar ini menghasilkan berbagai resolusi, yang antara lain adanya desakan untuk merumuskan KUHP baru. Masih di tahun yang sama, upaya tersebut juga telah didorong oleh Menteri Kehakiman saat itu, Saharjo, dengan membentuk tim perumus KUHP.85 Namun hingga periode kekuasaan Presiden Soekarno berakhir, upaya merumuskan KUHP Indonesia masih jauh dari terwujud. Bahkan di sepanjang pemerintahan Orde Baru di bawah komando Presiden Soeharto selama 32 tahun praktis belum juga berhasil diwujudkan.

Di masa era Orde Baru ini kita mengenang nama Menteri Kehakiman Ismail Saleh (1984 - 1993), yang boleh dikata paling gencar mendorong penyusunan KUHP baru. Pada 1993 sebenarnya rumusan RKUHP praktis telah berhasil dirampungkan.

Namun upaya ini, entah mengapa terhenti saat Menteri Kehakiman berganti di bawa kepemimpinan Oetojo Oesman (1993 - 1998).

Barulah saat Muladi menjabat menjadi Menteri Kehakiman pada 1998, RKUHP ini kembali diajukan. Agenda ini dilanjutkan saat Yusril Ihza Mahendra pada 2001 - 2004 menjabat menjadi Menteri Hukum dan Ham, sebuah nomenklatur baru menggantikan istilah Menteri Kehakiman. Pada 2004, RKUHP masuk program legislasi nasional prioritas. Saat itu kementerian itu dipimpin oleh Hamid Awaluddin (2004 - 2007). Tapi, pembahasan tak jua kunjung usai hingga 2009, saat posisi menteri dijabat oleh Mohammad Andi Mattalatta (2007 - 2009).

85 https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/ekonomi/spirit-perumusan-rkuhp diakses pada tanggal 24 September 2021

Pada tahun 2012 RUU KUHP pertama kali disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada DPR. Sejak saat itu, pembahasan draft RKUHP mulai intensif dibahas antara Panitia Kerja (Panja) DPR dan tim pemerintah. Berbagai masukan sejumlah elemen masyarakat sudah ditempuh baik melalui media maupun rapat dengar pendapat umum (RDPU). Janji wakil rakyat pernah terlontar untuk segera merampungkan pembahasan RKUHP. Panja DPR yang diketuai Benny K Harman ini pernah menargetkan pembahasan RKUHP bakal rampung akhir 2013. Tapi hingga berakhirnya DPR periode 2009-2014 pembahasanya tak kunjung selesai.86

Pada tahun 2015 Presiden Joko Widodo menyampaikan Kembali ke DPR dan menerbitkan Surat Presiden Nomor R-35/Pres/06/2015 pada tanggal 5 Juni 2015 yang ditindaklanjuti dengan pembahasan Intensif bersama DPR selama empat tahun. Pada tanggal 18 September 2019 pemerintah dan DPR telah menyepakati RUU KUHP dalam pembahasan tingkat I.87 untuk selanjutnya dibawa ke pembahasan tingkat II yakni pengambilan keputusan disetujui atau tidaknya RUU KUHP di rapat paripurna.

Namun ketika hendak dibawa ke pembahasan tingkat II RUU KUHP ini mendapatkan puncak penolakan dari sejumlah kalangan masyarakat di Indonesia utamanya mahasiswa, karena beberapa materi pasal dalam RUU KUHP dianggap kontroversial seperti, pasal penghinaan presiden, pasal zina, pasal Aborsi, pasal kohabitasi, pasal Penodaan agama, pasal unggas. contempt of court dan Tindak Pidana Khusus.

Penolakan tersebut ditandai dengan berbagai macam demonstrasi besar besaran di jakarta dan di berbagai penjuru daerah hingga berjilid-jilid. Sehingga dengan melihat penolakan yang begitu besar, pada tanggal 26 September 2019 Presiden meminta DPR untuk menunda pembahasan RUU KUHP Tingkat II dan akhirnya disetujui oleh DPR.

Penolakan tersebut didasari bahwa RUU KUHP pada tahun 2019 dinilai masih banyak mengandung masalah yaitu Pertama, RKUHP berperspektif pemenjaraan dan

86 https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5a42131b82c60/sekilas-sejarah-dan-problematika-pembahasan-rkuhp/?page=1 diakses pada tanggal 24 September 2021

87 Pemaparan Materi Oleh Dr. Yenti Garnasih, S.H., M.H. pada Diskusi Publik RUU KUHP, Jakarta 14 Juni 2021

sangat represif, membuka ruang kriminalisasi melebihi KUHP produk kolonial (over-criminalization). Kedua, RUU KUHP belum berpihak pada kelompok rentan, utamanya anak dan perempuan. Ketiga RUU KUHP mengancam program pembangunan pemerintah, utamanya program kesehatan, pendidikan, ketahanan keluarga, dan kesejahteraan masyarakat. Keempat, RUU KUHP membangkang pada Konstitusi, mengancam kebebasan berekspresi dan memberangus proses berdemokrasi. Kelima, RUU KUHP memuat banyak pasal karet dan tak jelas yang mendorong praktik kriminalisasi, termasuk intervensi terhadap ruang privat warga.

Keenam, RUU KUHP mengancam eksistensi lembaga independen. Ketujuh, berdasarkan 6 (enam) poin permasalahan yang telah disebutkan di atas, telah nyata terlihat bahwa RUU KUHP dibahas tanpa melibatkan sektor kesehatan masyarakat, sosial, perencanaan pembangunan, pemasyarakatan, dan sektor-sektor terkait lainnya.

Padahal seharusnya RUU KUHP harus dibahas dengan semangat reformasi, berbasis data dan pendekatan lintas disiplin ilmu, serta pelibatan bersama seluruh pihak, lembaga terkait, dan masyarakat sipil serta Pengesahannya tidak boleh dipaksakan.88 B. Urgensi Pembaruan KUHP

Kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) yang sampai sekarang berlaku di negara kita Indonesia adalah produk hukum peninggalan zaman kolonial Belanda.

Kitab itu merupakan turunan dari wetboek van strafrecht nederlandsch indie yang mulai berlaku bagi semua penduduk pada tanggal 01 januari 1918. yang mana kita ketahui bersama bahwa materi muatan menonjolkan paham”individualism, liberalism and individual rights.89 Setelah Indonesia merdeka melalui undang-undang nomor 1 tahun 1946 KUHP ini resmi diberlakukan di negara Indonesia. Kemudian dipertegas Kembali dengan UU N0 73 Tahun 1958 yang menyatakan bahwa KUHP berlaku di seluruh wilayah tanah air. Meskipun telah terjadi upaya untuk menyesuaikan peraturan

88 Aliansi Nasional Reformasi KUHP. Rancangan KUHP: Berbau Kolonial, Minim Perlindungan Rakyat!Pengesahannya Tidak Boleh Dipaksakan. Jakarta, 26 Agustus 2019

89 Sri Wahyuningsih.Urgensi Pembaharuan Hukum Pidana Materiil Indonesia Berdasarkan Nilai–Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Jurnal Pembaharuan Hukum Vol I No.1 2014 h.,17

hukum pidana sesuai dengan suasana kemerdekaan akan tetapi asas-asas hukum pidana kolonial masih mempengaruhi KUHP di Indonesia. Ini menandakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang jauh dari nilai nilai masyarakat Indonesia dan bertentangan dengan Pancasila.90

Padahal seharusnya segala peraturan yang berlaku di suatu negara haruslah mencerminkan dari ideologi bangsanya. Jika ada peraturan yang tidak sesuai dengan ideologi bangsanya maka hukum itu harus diperbarui. Begitupun KUHP yang sekarang berlaku ini karena bertentangan dengan falsafah bangsa Indonesia maka harus ada pembaruan. Pembaruan KUHP ini dilakukan dalam upaya untuk menciptakan KUHP nasional yang mencerminkan nilai-nilai bangsa Indonesia dan falsafah Pancasila dan yang terpenting upaya ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan sebagai kemandirian bangsa yang merdeka.

Upaya pembaharuan hukum pidana Indonesia mempunyai suatu makna yakni untuk menciptakan suatu kodifikasi hukum pidana nasional untuk menggantikan kodifikasi hukum pidana yang merupakan warisan kolonial belanda yakni Wetboek van Strafrecht Voor Nederlands Indie 1915, yang merupakan turunan dari Wetboek van Strafrecht Negeri Belanda tahun 1886.

Menurut pendapat Barda Nawawi bahwa makna dan hakikat pembaharuan hukum pidana dapat: 91

1. Dilihat dari sudut pendekatan kebijakan:

a. Sebagai bagian dari kebijakan sosial bahwa pembaharuan hukum pidana merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi masalah-masalah sosial.

90 Yesmil Anwar, Pembaruan Hukum Pidana Reformasi Hukum Pidana, (Jakarta : Grasindo, 2008) h., 17

91 Barda Nawawi, Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group,2008) h.,29

b. Sebagai bagian dari kebijakan kriminal bahwa pembaharuan hukum pidana merupakan bagian dari upaya perlindungan masyarakat.

c. Sebagai bagian dari kebijakan penegakan hukum bahwa pembaharuan hukum pidana merupakan bagian dari upaya pembaharuan substansi hukum dalam rangka lebih mengefektifkan penegakan hukum.

2. Dilihat dari sudut pendekatan nilai, pembaharuan hukum pidana merupakan upaya melakukan peninjauan dan penilaian kembali nilai-nilai sosio politik, sosio filosofis dan sosio kultural yang melandasi dan memberi isi terhadap muatan normatif serta substansi hukum pidana

Secara faktual ada beberapa yang mendorong untuk pembaruan KUHP Karena sebagian besar materi muatannya adalah peninggalan zaman kolonial sehingga banyak bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia. Disamping itu adanya berbagai perubahan kehidupan masyarakat akibat perkembangan teknologi yang mendorong KUHP ini dirubah agar nantinya materi KUHP yang berlaku bisa menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. ditambah lagi adanya kejahatan kejahatan baru yang belum diatur sehingga tidak bisa dijerat dengan KUHP yang sekarang.

Secara faktual ada beberapa yang mendorong untuk pembaruan KUHP Karena sebagian besar materi muatannya adalah peninggalan zaman kolonial sehingga banyak bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia. Disamping itu adanya berbagai perubahan kehidupan masyarakat akibat perkembangan teknologi yang mendorong KUHP ini dirubah agar nantinya materi KUHP yang berlaku bisa menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. ditambah lagi adanya kejahatan kejahatan baru yang belum diatur sehingga tidak bisa dijerat dengan KUHP yang sekarang.