• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Ruang Linkup Pendidikan Islam

4. Pentingnya Pembinaan Moral Bagi Remaja

Pekerjaan mendidik itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah jika harus dilaksanakan secara baik dan benar. Namun dalam kenyataannya pekerjaan dapat dilakukan oleh semua orang yang karenanya posisinya harus berperang sebagai pendidik. Banyak orang tua yang sebelum dan sesudah pernikahan tidak memiliki bekal sedikitpun untuk menjadi pendidik, yang ternyata mampu menjalankan tugas tersebut, terbukti dan keberhasilan anak-anaknya mencapai kedewasaan sebagaiman diharapkannya dan diharapkan masyarakatnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa mendidik merupakan bagian dari naluri ummat manusia sebagai karunia Allah SWT. Dengan demikian, antara kegiatan pendidikan dan bimbingan berjalan seiring, sebab dalam pembinaan terhadap seseorang termuat unsur pendidikan.

Hubungan antara remaja dalam masyarakat erat sekali, maka proses berkembannya tidak lepas dari gerakan mesin sosial. Mesin sosial menggerakkan segenap komponen kehidupan manusia, terdiri dari sektor-sektor, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, politik dan agama. Masing-masing sektor ini bergerak dan berkemban salin pengaruh-mempengaruhi menuju kearah tujuan sosial yang telah ditetapkan.

Kaitannya dengan hal tersebut, orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama pendidikan umunya terdapat dalam rumah tangga dan itu bukan berpankal dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan pendidik, melainkan karena secara kodrati suasananya dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh-mempengaruhi secara timbal balik antara oran tua dan anak.

Orang tua atau ayah dan ibu memegan peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampinnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalangkan tugasnya dengan baik. Ibu

merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan yang mula-mula dipercayainya.

Pada dasarnya kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas, itu berlaku dalam keluarga atau dalam rumah tangga yang seperti apapun juga keadaannya. Hal itu menunjukkan ciri-ciri dari watak rasa tanggun jawab setiap orang tua atas anak-anak mereka untuk masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan umumnya orang tua merasa bertanggun jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anak mereka. Karenanya tidaklah diragukan bahwa tanggun jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua. Apakah tanggun jawab pendidikan diakuinya secara sadar atau tidak, hal ini adalah fitrah yang telah dikodratkan oleh Allah SWT. kepada setiap orang tua. Mereka tidak bisa mengelakkan tanggun jawab itu karena merupakan amanah Allah SWT. yang dibebangkan kepada mereka.

Disamping itu pangkal ketentraman dan kedamaian hidup terletak dalam keluarga. Mengingat pentingnya hidup keluarga yang demikian, maka Islam memandang keluarga hanya sebagai perskutuan hidup terkecil saja, melaingkan lebih dari itu, yakni sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada anggotanya untuk hidup bahagia atau celaka dunia dan akhirat.

Agama Islam yang ajarannya berinteraksi kesejahteraan dengan duniawi-ukhrawi sebagai kesinanmbungan hidup manusia, peletakkan

iman dan taqwa kepada Allah SWT. sebagai landasan hidup manusia dalam perjuangannya menuju cita-cita hidup tersebut.

H. M. Arifin, mengatakan bahwa:

Sayyiq sabiq dalam karya tulisanya “Anaashir al Quwwah fi al Islam” menegaskan kembali tentang perjuangan manusia muslim untuk berusaha keras merubah pandangan, jiwa dan sikap lama yang lapuk, mental lama yang statis, secara menyeluruh, dari Islam pribadi dan masyarakat, didasarkan atas studi dan strategis agar ummat Islam dapat terbebaskan dari sumber penyebab kehancuran dan kelemahan di satu segi serta segera mungkin mengambil langkah-langkah yang dapat mendatangkan kekuatan dan keberhasilan (kemenangan) disegi lain.

Adalah amat dinamis makna firman Allah SWT, dalam kitab suci Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menyatukan sebagai berikut:



Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….

(Kemenag, 2011 : 250).

Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua perilaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah SWT. dan kedua, perubahan keadaan diri seseorang yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan oleh Tuhan

terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditentukannya.

Berdasarkan ayat tersebut, bahwasanya pembinaan remaja khususnya pada aspek moral dititik beratkan pada manusia itu sendiri, Allah SWT. hanya menyediakan fasilitas yaitu berupa akal fikiran untuk menilai yang baik dan buruk.

Dari sini disimpulkan bahwa jalan pertama dan utama yang diajarkan Al-Qur’an untuk membina remaja dari krisis moral remaja adalah kerja dan usaha yang diwajibkan atas setiap individu yang mampu. Disinilah perlunya pembinaan akhlak dan moral generasi agar tidak terjebak dengan keadaan saat ini khususnya perkembangan dalam bidang imformatika.

Sejalan dengan itu, ayat Al-Qur’an surah Alam Nasyrah 7-8, Allah berfirman:

Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (kemenag, 2011: 596).

Al-Qur’an dalam hal ini tidak menjadiakan dirinya sebagai alternatif mengganti usaha manusiawi, tetapi sebagai pendorong dan pemandu demi berperannya manusia secara positif dalam bidang-bidang kehidupan.

Dari ayat-ayat Al-Qur’an dipahami bahwa perubahan baru dapat terlaksana bila dipenuhi dua syarat pokok :

H. M. Quraish shihab,(2002 : 213) Mengtakan bahwa: Fungsi dan Perang Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat

a. Adanya nilai atau ide, dan

b. Adanya pelaku-pelaku yang menyelasaikan diri dengan nilai-nilai tersebut.

Untuk mencapai perubahan seseorang diperlukan ide dari pelaku yang berlandaskan nilai-nilai agama. Bagi ummat Islam, syarat utama yaitu melalui petnjuk-petunjuk Al-Qur’an serta penjelasan-penjelasan Rasulullah SAW. Walaupun sifatnya masih umum dan memerlukan perincian dari manusia. Adapun para pelakunya, mereka adalah manusia-manusia yang hidup dalam suatu tempat dan selalu terikat dengan hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan itu.

Salah satu sarana yang efektif untuk membina dan mengembangkan manusia dalam masyarakat adalah pendidikan yang teratur, berdaya guna dan berhasil guna, maka pendidikan Islam di negeri kita ini perlu di organisasikan atau dikelolah secara utuh dan rapi, efektif dan efisien dan metode yang tepat guna dan berhasil guna pula.

Masyarakat, besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki setiap anak didik menjadi anggota yang taat dan

patuh menjalangkan agamanya. Baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelasnya dan sekolahnya.

Dengan demikian, dipundak mereka terpikul keikut sertaan membimbing pertumbuhan anak. Ini berarti bahwa pemimpin dan penguasa dari masyarakat ikut bertanggun jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan. Sebab tanggun jawab terhadap pendidikan pada hakikatnya merupakan tanggun jawab moral dari setia orang dewasa baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok sosial.

Sekalipun menekankan tanggun jawab pribadi atau perseorangan bagi manusia dan menganggapnya sebagai asas, ia tidaklah mengabaikan tanggung jawab sosial yang menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang memilik akhlak yang mulia. semua anggota masyarakat jika hal tersebut menjadi kenyataan maka harus memikul tanggun jawab, membina, memakmurkan, memperbaiki, mengajak kepada kebaikan, memerintaahkan kepada yang ma’rub dan mencegah kemungkaran.

Dalam kehidupan masyarakat modern, setiap cabang pendidikan dan pengajaran senantiasa memiliki pedoman umum untuk menentukan tujuan dan hasil akhir. Pedoman itu akan cenderung bersifat filosofis dan juga politis. Karena menurut lazimnya tujuan itu ditetapkan sebagai peraturan atau undang-undang. Bagi Indonesia

telah diterapkan dasar tujuan dan sistem pendidikan nasional pancasila. Dari undang-undang atau kebijakan dalam pendidikan akan dipancarkan ke dalam ketentuan-ketentuan bagi tujuan lembaga tertentu, misalnya lembaga pendidikan tertinggi, lembaga pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah, pendidikan angkatan bersenjatah, kejuruan dan sebagainya. Maksud dari itu semua adalah untuk memberikan gambarang secara umum tentang kualitas manusia yang dicita-citakan terbentuk, berbagai hasil pengalaman edukatifnya pada lembaga-lembaga tersebut.

Tujuan pendidikan nasioanal kita yang berasal dari berbagai akar budaya bangsa Indonesia terdapat dalam UU sistem Pendidikan Nasional, yaitu UU No. 20 Tahun 2003. Dalam Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut dikatakan:

M. Sukardjo. Ukim Komaruddin, (2012):

Pendidikan nasionala bertujuan untuk berkembannya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggun jawab.

Dari rumusan tujuan tersebut dapat diberikan penjelasan secara rinci, bahwa prinsip untuk membentuk manusia atau warga Negara memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Susila : Berbudi luhur, tenggan rasa, Taqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, mempertinggi budi pekerti.

b. Cakap : memiliki pengetahuan, kecerdasan, keterampilan dan dapat mengembangkan kreativitas.

c. Sosial : sikap demokratis, mencintai sesama manusia mempertebal semngat kebangsaan.

Demi mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokrasi serta bertanggun jawab yang berlandaskan agama Islam sehingga tercipta insan yang lebih baik.

Dalam unsur demokratis akan didapat tiga prinsip yaitu:

1. Rasa hormat terhadap pribadi atau harkat sesame manusia.

2. Kepercayaan bahwa setiap manusia biasa mempunyai pikiran.

3. Kerelaan berbakti kepada kesejahteraan umum.

Dengan demikian, norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku, sebab dalam setiap zaman berubah-ubah pandangan orang tentang baik dan buruk. Yang dahulu berlaku, mungkin sekarang sudah dianggap sebagai suatu hal yang bersifat feodal atau kolonial. Tetapi kita harus ingat bahwa tidak semua yang kolot atau kuno itu buruk, dan sebaliknya segala yang baru itulah yang baik. Banyak sekali tingkah laku dan perbuatan-perbuatan ataupun adat-istiadat yang dahulu di anggap baik yang sekarang juga tetap baik dan perlu dipertahankan, dan sebaliknya banyak hal yang baru yang sebenarnya tidak baik dan tidak sesuai sekali dengan adat-istiadat atau pandangan hidup bangsa kita, yang tidak perlu kita kembangkan dan bahkan harus ditinggalkan.

1 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dengan mengeksploitasi data dilapangan dengan metode analisis deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran tentang Bagaimana Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Dalam Mengatasi Krisis Moral Remaja di Desa Sopa Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba.

Margono: (1997: 33)

Metode kualitatif sebagai prosedur peneliti yang menghasilkan data kualitatif berupa ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang teropsesi dan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang yang ada dilingkungan sekitarnya.