BAB III PENGAWASAN PEMBERIAN IZIN KERJA BAG
A. Pentingnya Pengawasan dalam Hukum Administras
Dalam menyelenggarakan pemerintahan, Administrasi Negara mempunyai beberapa keleluasaan demi terselenggaranya kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan asaa legalitas. Hal ini berarti bahwa sikap tindak Administrasi Negara tersebut haruslah dapat dipertanggung jawabkan, baik secara moral maupun secara hukum.
Lord Acton mengatakan bahwa setiap kekuasaan sekecil apa pun cenderung untuk disalahgunakan. Oleh sebab itu, dengan adanya keleluasaan bertindak dari Administrasi Negara yang memasuki semua sektor kehidupan masyarakat, kadang-kadang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat itu sendiri. Maka, wajarlah bila diadakan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, yang merupakan jaminan agar jangan sampai keadaan Negara menjurus ke arah diktator tanpa batas, yang berarti bertentangan dengan ciri Negara hukum. Pada sisi lain, berarti pula ada suatu sistem perlindungan bagi yang diperintah oleh karena adanya tindakan diskresi (freies ermessen). Disisi lai diperlukan pula perlindungan terhadap Administrasi Negara itu sendiri agar sikap tindaknya baik dan benar menurut hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Hali ini berarti memberikan perlindungan kepada Administrasi Negara
Cara-cara pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat dirinci sebagai berikut.
1. Ditinjau dari segi kedudukan badan / organ yang melaksanakan pengawasan :
a. Pengawasan intern,78 b. Pengawasan ekstern.79
2. Ditinjau dari segi saat / waktu dilaksanakannya : a. Pengawasan preventif / pengawasan apriori,80 b. Pengawasan represif / pengawasan aposteriori.81 3. Pengawasan dari segi hukum.82
Menurut Winardi “Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan”. Sedangkan menurut Basu Swasta “Pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan”. Sedangkan menurut Komaruddin “Pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana, dan
78
Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh suatu badan yang secara organisatoris / struktural masih termasuk dalam lingkungan pemerintah sendiri.
79
Pengawasan ekstern adalah pengawasan yang dilakukan oleh organ / lembaga secara organisatoris / struktural berada diluar pemerintah (dalam arti eksekutif)
80
Pengawasan Preventif yakni pengawasan yang dilakukan sebelum dikeluarkannya suatu keputusan / ketetapan pemerintah, dinamakan juga pengawasan apriori.
81
Pengawasan Represif yakni pengawasan yang dilakukan sesudah dikeluarkanya keputusan / ketetapan pemerintah, sehingga bersifat korektif dan memulihkan suatu tindakan yang keliru, disebut juga pengawasan aposteriori.
82
Diana Halim Koentjoro, Hukum Administrasi Negara, (Ghalia Indonesia, Bogor Selatan, 2004), hal 70-71
awal untuk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti”.83
Dengan adanya pengawasan maka perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan berjalan dengan baik.
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan atau pemerintahan. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan.
84
Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. melalui pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauh
83
mana kebijakan pimpinan dijalankan dan sampai sejauhmana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.
Konsep pengawasan demikian sebenarnya menunjukkan pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, di mana pengawasan dianggap sebagai bentuk pemeriksaan atau pengontrolan dari pihak yang lebih atas kepada pihak di bawahnya.” Dalam ilmu manajemen, pengawasan ditempatkan sebagai tahapan terakhir dari fungsi manajemen. Dari segi manajerial, pengawasan mengandung makna pula sebagai : “pengamatan atas pelaksanaan seluruh kegiatan unit organisasi yang diperiksa untuk menjamin agar seluruh pekerjaan yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan peraturan.” atau “suatu usaha agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, dan dengan adanya pengawasan dapat memperkecil timbulnya hambatan, sedangkan hambatan yang telah terjadi dapat segera diketahui yang kemudian dapat dilakukan tindakan perbaikannya.”
Sementara itu, dari segi hukum administrasi negara, pengawasan dimaknai sebagai “proses kegiatan yang membandingkan apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan, atau diperintahkan.”85
Hasil pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan dan ketidakcocokan dan menemukan penyebab ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik), pengawasan
85Ibid.
merupakan aspek penting untuk menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam konteks ini, pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan good governance itu sendiri.
Dalam kaitannya dengan akuntabilitas publik, pengawasan merupakan salah satu cara untuk membangun dan menjaga legitimasi warga masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dengan menciptakan suatu sistem pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern (internal control) maupun pengawasan ekstern (external control). Di samping mendorong adanya pengawasan masyarakat (social control).
Sasaran pengawasan adalah temuan yang menyatakan terjadinya penyimpangan atas rencana atau target. Sementara itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah:
1. Mengarahkan atau merekomendasikan perbaikan; 2. Menyarankan agar ditekan adanya pemborosan;
3. Mengoptimalkan pekerjaan untuk mencapai sasaran rencana.
Pentingnya pengawasan dalam hukum Administrasi dikarenakan Pengawasan adalah merupakan salah satu proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.86
Pengawasan juga merupakan proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan
penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncankan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta suatu aktifitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah dilaksankan. Pengawasan juga dapat mendekteksi sejauhmana kebijakan pimpinan dijalankan dan sampai sejauhmana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.
Konsep pengawasan demikian sebenarnya menunjukkan pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, dimana pengawasan dianggap sebagai bentuk pemeriksaan atau pengontrolan dari pihak yang lebih atas kepada pihak dibawahnya.87
Disamping itu, pengawasan bukan semata-mata mencari siapa yang bersalah, tetapi apa yang salah dan mengapa kesalahan itu terjadi. Sehingga dalam kegiatan pengawasan ada unsur membimbing dan mendidik terhadap pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalnya. Pengawasan
Pengawasan bukan merupakan suatu tujuan,melainkan sarana untuk meningkatkan efisiensi dalam melaksanakan kegiatan. Didalamnya termasuk unsur pencegahan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu kegiatan pengawasan tidak hanya dilakukan dalam tahap pelaksanaan. Artinya aspek pengawasan telah masuk selagi proyek-proyek pembangunan masih dalam tahap perencanaan.
87
merupakan unsur pokok bagi setiap nmanajemen, termasuk manjemen pembangunan.
Dalam konsep pengawasan ada unsur yang mengawasi dan diawasi. Disini, selain criteria pelaksanaannya (proyek) pembangunnan yang ditetapkan dalam rancangannya, terlihat pula segi penegakan norma-norma etika. Pengawasan dengan hal demikian mengadung makna penegakan hukum dan disiplin.88
B. Peran Departemen Tenaga Kerja dalam Pengawasan Tenaga Kerja Asing
Departemen Tenaga Kerja dalam pengawasan Tenaga Kerja Asing merupakan salah satu Instansi Pemerintah dibidang ketenagakerjaan yang mempunyai kedudukan dan berperan mengawasi pemberian izin penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia, memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi, juga melakukan pengawasan terhadap tenaga kerja baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing, dalam hal ini juga Badan Koordinasi Penanaman Modal, Direktorat Jenderal Pariwisata, Departemen Kehakiman, Keimigrasian, Kementerian dan Kepolisian yang mempunyai peran penting dalam melaksanakan pengawasan Tenaga Kerja asing.89
Peran Departemen Tenaga Kerja juga merupakan sarana untuk melaksanakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten dibidang
ketenagakerjaan dan transmigrasi. Melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas ekonomi dan tugas pembantuan dibidang tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 177.
Departemen Tenaga Kerja juga berperan dalam mengawasi pemberian izin penggunaan Tenaga Kerja Asing yaitu dengan cara membuat atau menyuruh :
1. Adanya laporan wajib lapor (3bulan sekali) 2. Progres
Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER/MEN/1990, yang berwenang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan tentang pemberian izin mempekerjakan tenaga kerja warga Negara asing pendatang adalah Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja, sebagaimana tercantumdalam Pasal 21 berbunyi : “Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan ini dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951.90
a. Menyiapkan bahan untuk penyusunan pembinaan dan pengawasan Peranan Disnakertrans dalam melakukan pengawasan terhadap Tenaga Kerja Asing ini adalah bentuk peranan imperative karena merupakan kewajiban yang bersifat aktif dan harus dilaksanakan oleh Disnakertrans. Salah satuu kewajibanya yaitu melakukan pengawasan terhadap Tenaga Kerja Asing pada perusahaan meliputi :
b. Pengadaan inventariasi keberadaan Tenaga Kerja Asing
c. Membuat rencana kerja pembinaan dan pengawasan terhadap perusahaan yang menggunakan Tenaga Kerja Asing pendatang d. Mengadkan koordinasi dengan instansi-instansi terkait dengan
keberadaan Tenaga Kerja Asing
e. Melakukan penyidikan terhadap perusahaan penggunaan TKWNAP yang melanggar peraturan tentang penempatan Tenaga Kerja Asing91
C. Sanksi bagi Pengusaha yang Melanggar Izin Penggunaan Tenaga Kerja Asing
Prosedur perizinan dalam penggunaan TKA di Indonesia sebaiknya dijalankan sesuai dengan peraturan dan Per-07/MEN/III/2006 yaitu sebagai berikut :
1. Pembuatan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA),pengajuan RPTKA ke badan pelaksanaan dan persetujuan terhadap RPTKA yang diajukan ke DEPNAKER, keluarnya VITAS dari Keimigrasian setelah RPTKA disetujui oleh DEPNAKER.
2. Permohonan Visa,untuk visa kerja kemudian ajukan IMTA 3. Urus POA ke polisi (STMD & SKJ) berlaku 3 bulan/6bulan 4. Syarat untuk migrasi harus ada pendamping
5. Syarat untuk semua posisi harus ada sponsor yaitu perusahaan
7. Pembayaran DPKK US$ 100 perbulan ke BRI sejumlah masa kerja atau 1t tahun minimal sesuai IMTA
Sepanjang yang diketahui peraturan yang ada tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam peraturan dan kebijakan yang berlaku dan masih dijalankan sesuai dengan Undang-undang yang ada. Tapi dapat dilihat dalam contoh konkret atau kenyataannya kebanyakan hal tersebut belum sesuai cara pelaksanaannya dimana hal ini sesuai survey atau kenyataan yang banyak didapat dilapangan dan sesuai dari wawancara yang diajukan kepada pihak-pihak terkait yaitu di Kantor Apindo Sumut dan Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Misalnya masih banyak perusahaan-perusahaan sengaja tidak mendaftarkan pegawai TKA nya karena takut diminta membayar pajak dan banyak orang asing juga datang ke Indonesia dengan alasan jalan-jalan tetapi ternyata untuk bekerja.
Maka dari itu terkadang Departemen Ketenagakerjaan melakukan fungsi pengawasan dengan mendatangi perusahaan-perusahaan yang melangggar izin penggunaan Tenaga Kerja Asing untuk mendata keberadaan Tenaga Kerja Asing tersebut.
Bila disebuah perusahaan diduga menggunakan Tenaga Kerja Asing tanpa izin dari Departemen Tenaga Kerja Pusat, maka Disnakertrans dapat mengusut kebenaran dari dugaan tersebut terhadap perusahaan yang menggunakan Tenaga Kerja Asing, tetapi apibila perusahaan tersebut menolak petugas Disnakertrans untuk mengusut, maka dapat meminta bantuan dari pihak kepolisian setempat untuk memasuki perusahaan tersebut.
Jika dugaan tersebut benar,maka Disnakertrans akan memberi sanksi Administratif bagi perusahaan yang menggunakan Tenaga Kerja Asing tanpa izin diberi peringatan untuk segera melengkapi perizinan penggunaan Tenaga Kerja Asing sedangkan bagi Tenaga Kerja Asing sendiri dilarang untuk bekerja dala lingkup kerja pada perusahaan.
Pengawasan yang dilakukan oleh departemen Tenaga Kerja menghadapi kendala, dan yang paling sering terjadi adalah kemampuan berbahasa, untuk berkomunikasi.
Hal ini disebabkan petugas tidak menguasai bahasa asing, dan sebaliknya Tenaga Kerja Asing tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Hambatan lain adalah menyangkut tidak berjalannya transfer teknologi sebagaimana yang diharapkan, sehingga maksud untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia di Indonesia menjadi tidak tercapai. 92
BAB IV
KEBIJAKAN HUKUM DALAM PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING TERKAIT PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI NASIONAL
DAN INTERNASIONAL
A. Kebijakan Pemerintah Terkait Iklim Investasi (Inpres No.3 Tahun 2006)
Iklim investasi yang baik memberikan kesempatan dan insentif kepada dunia usaha untuk melakukan investasi yang produktif, menciptakan lapangan kerja dan memperluas kegiatan usaha. Investasi memainkan peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Memperbaiki iklim investasi adalah masalah kritial yang dihadapi pemerintah di negara berkembang, menyediakan lapangan kerja penting untuk menciptakan keseimbangan dan kedamaian.93
Dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia No.3 tahun 2006 tentang ”Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi’, Presiden mengeluarkan paket kebijakan perbaikan iklim investasi dimana bertujuan untuk :94
a. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi guna menciptakan Iklim Investasi yang kondusif.
93
The World Bank, World Development Report 2005 A Better Investment Climate for Everyone, (Washington,Dc.:World Bank and Oxford University Press,2004), hal 1.
94
Instruksi Presiden Republik Indonsia No.3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi
b. Dalam mengambil langkah-langkah sebagaimana dimaksud dalam diktum Pertama, berpedoman kepada program-program sebagaimana tercantum dalam lampiran instruksi Presiden ini.
c. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan kegiatan yang dilaksanakan oleh para Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen.
d. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian :
1. Memantau pelaksanaan Instruksi Presiden ini dan melaporkan secara berkala kepada Presiden;
2. Membentuk Tim Pemantau, yang diketuai oleh Staf Khusus Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Urusan Pemantauan Kebijakan Ekomoni dan sebagai wakil ketua adalah Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Departemen dalam Negeri;
3. Mengatur tugas, keanggotaan, susunan oerganisasi, tata kerja dan kesekretariatan Tim Pemantau.
e. Melaksanakan Instruksi Presien ini dengan penuh tanggung jawab.
Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No.3 Tahun 2006 tentang, ’Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi’ Pemerintah membentuk Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi, yang untuk selanjutnya dalam keputusan Presiden ini disebut Timnas PEPI. 95
Dimana dalam Inpres No. 3 tahun 2006 ini Pemerintah membentuk PEPI dengan atau bertugas untuk :
a. merumuskan kebijakan umum peningkatan ekspor dan peningkatan investasi;
b. menetapkan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka peningkatan ekspor dan peningkatan investasi;
c. mengkaji dan menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam proses peningkatan ekspor dan peningkatan investasi;
d. melakukan deregulasi dan debirokratasasi ekonomi, keterpaduan promosi pariwisata dan investasi, serta peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.96
Sejalan dengan bidang yang esensial untuk dikaji dalam bidang perburuhan yaitu ketentuan tentang tenaga kerja asing. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yaitu :
1. Keputusan Menteri Tenaga dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP.228/MEN/2003 tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing
2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/XII/2004 tentang Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Tenaga Kerja dan Transmigrasi
96
Pasal 2 Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 3 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi
Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/XII/2004 tentang Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Asing
3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: KEP-20/MEN/III/2004 tentang Tata Cara Memperoleh Ijin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing.
4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor :KEP.67/MEN/IV/2004 tentang Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Asing.
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : PER-07/MEN/III/2006 tentang Penyederhanaan Prosedur Memperoleh Ijin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA).
Peraturan-peraturan tersebut menimbulkan kontroversial dan berpotensi membatasi tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia. Keputusan ini dirasakan menutup pintu industri karena arus masuk pekerja asing menjadi sangat rendah. Ditinjau dari segi hukum, maka aspek perburuhan pada mulanya masuk ke dalam hukum keperdataan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu , aspek hukum perburuhan masuk ke dalam lingkup hukum publik. Konsekuensinya adalah masuknya dan pemakaian tenaga kerja asing diserahkan pada mekanisme pasar, tetapi hal ini belum terwujud dengan baik .
Hal ini seharusnya mengacu pada Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Bab IVB mengenai arah kebijakan ekonomi yang menegaskan yaitu mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang
di atas, tampak peraturan perundang-undangan di bidang perburuhan di Indonesia belum mencerminkan adanya kepastian hukum dan perlakuan yang adil bagi masyarakat khususnya buruh (pekerja) sebagaimana dinyatakan dalam GBHN Tahun 1999 begitu juga belum siapnya perangkat hukum di bidang perburuhan dalam menghadapi era perdagangan bebas.97
B. Kebijakan Liberalisasi Jasa GATT/WTO terhadap Tenaga Kerja Asing di Indonesia
General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) lahir dengan tujuan untuk membuat suatu unifikasi hukum dibidang perdagangan internasional.
Meskipun pada awalnya masyarakat internasional ingin membentuk sebuah organisasi perdagangan internasional di bawah PBB, namun dengan adanya penolakan dari Amerika Serikat, maka negara peserta GATT membuat kesepakatan agar perjanjian dalam GATT ditaati oleh para pihak yang menandatanganinya. Beragam kelemahan yang terdapat dalam GATT kemudian diperbaiki melalui beberapa pertemuan. Salah satu pertemuan yang berhasil adalah Putaran Uruguay antara tahun 1986-1994. Pada putaran tersebut dicapai kesepakatan untuk membentuk sebuah lembaga perdagangan internasional World Trade Organization(WTO).98 97 2013 Pukul 12.00 Wib 98
Administrator, Perjanjian Perdagangan Regional (RTA) dalam Kerangka WTO, http://senandikahukum.wordpress.com/2009/03/01/perjanjian-perdagangan-regional-rta-dalam- kerangka-world-trade-organization-wto-study, terakhir diakses pada hari senin tanggal 18 April 2013
Pembentukan World Trade Organization(WTO) tersebut, dan Indonesia meratifikasi GATT/WTO ini dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1994,99 dan telah memberikan konsep liberalisasi perdagangan kepada dunia khususnya kepada negara-negara anggota, dimana konsep dasar dari liberalisasi perdagangan adalah penghilangan hambatan dalam perdagangan internasional. Konsep ini dalam pelaksanaannya membentuk globalisasi100, yang maknanya ialah universal dan mencakup bidang yang sangat luas. Dari segi ekonomi dan perdagangan globalisasi sudah terjadi pada saat mulainya perdagangan rempah-rempah, kemudian tanam paksa di Jawa, sampai tumbuhnya perkebunan-perkebunan di Hindia Belanda, dan pada saat itu globalisasi lahir dengan kekerasan dalam alam kolonialisme. Berbeda dengan globalisasi ekonomi dan perdagangan pada masa kini dilakukan dengan jalan damai yaitu melalui perundingan dan perjanjian internasional yang melahirkan aturan perdagangan bebas serta memfokuskan pengembangan pasar bebas terbuka.101
The World Trade Organization (WTO) merupakan payung yang menaungi berbagai jenis persetujuan yang mengatur tentang perdagangan barang, perdagangan jasa dan perlindungan hak milik intelektual serta investasi yang berhubungan dengan perdagangan. Keikutsertaan suatu negara sebagai anggota
99
Erman Rajagukguk, Butir-Butir Hukum Ekonomi,,( Fakultas Hukum Universitas Indonesia : Lembaga Studi Hukum dan Ekonomi, 2011), hal. 31.
100
Eko Prilianto Sudradjat, Free Trade(Perdagangan Bebas) dan Fair Trade( Perdagangan berkeadilan) Dalam Konsep Hukum, http:// Whatbecomethegreaterme.blogspot.com/2007/12/konsep-hukum-fair-trade.html, diakses pada tanggal 18 Maret 2013.
101
WTO menimbulkan konsekuensi hukum yang otomatis mengikat, bahkan disertai dengan sarana penerapan sanksi-sanksi bagi pelanggaran terhadap aturannya. Pada tanggal 12 Nopember 1994 Indonesia menyetujui Persetujuan Pembentukan World Trade Organization (WTO) berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 Lembaran Negara No. 57 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Estabilishing The World Trade Organization. Berdasarkan Undang-Undang ini Indonesia telah memenuhi kesepakatan yang tercantum di dalam Final Act sehingga dapat meratifikasinya pada tanggal 2 Desember 1994. Sejak tanggal tersebut Indonesia resmi menjadi anggota WTO, selain itu Indonesia juga tergabung di dalam APEC yang pada tanggal 15 November 1994 mengeluarkan Deklarasi Bogor. Deklarasi tersebut pada intinya kesepakatan untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perdagangan dan investasi serta mendorong ke arah perekonomian dunia yang lebih terbuka.102
Dengan keikutsertaan Indonesia di dalam WTO dan juga berdasarkan Deklarasi Bogor yang menentukan bahwa jadwal pelaksanaan sistem perdagangan bebas dan terbuka bagi anggota APEC dimulai tahun 2003, diharapkan Indonesia dapat menyediakan kerangka hukum yang memadai bagi transaksi-transaksi perdagangan internasional. Berkaitan dengan pasar bebas adalah adanya GATT. Sasaran utama dari GATT adalah untuk mempromosikan pembebasan perdagangan sampai pengurangan substansiil tarif-tarif dan penghalang-
102
Pendekatan telah dicoba pada waktu penyusunan komiten Indonesia dibidang perdagangan jasa dalam rangka putaran Uruguay/WTO. Harmonisasi tersebut dilakukan dengan menyusun komitmen yang dimuat dalam Horizontal Measures yang berlaku untuk seluruh sector jasa yang ditawarkan. Dalam kerangka WTO ini sector jasa yang ditawarkan sebanyak 5 sektor jasa yaitu, sector pariwisata, keuangan, telekomunikasi, angkatan laut , dan konsultan kontruksi.
penghalang lain untuk berdagang dan penghapusan perawatan bersifat membedakan seperti yang dinyatakan dalam Mukadimah nya. Untuk tujuan