TINJAUAN PUSTAKA
1. Analisis secara Statistik
4.1 Hasil Penelitian
4.1.7 Penurunan Kadar Glukosa Darah
Hasil persentase penurunan kadar glukosa darah tikus uji pada kelompok positif, dosis 10 mg/kgBB, dosis 100 mg/kgBB, dan dosis 1000 mg/kgBB dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5. Persentase penurunan kadar glukosa darah tikus uji pada kelompok kontrol positif, dan kelompok dosis selama beberapa waktu
pengukuran. Kelompok Perlakuan H8 H15 H22 Kontrol positif 43,0442% 60,8838% 69,6126% Dosis 10 mg/kgBB 8,6563% 27,9069% 32,2997% Dosis 100 mg/kgBB 27,0479% 46,6770% 54,1731% Dosis 1000 mg/kgBB 19,9781% 40.3930% 45,3056%
Data penurunan kadar gula darah dianalisis secara statistika menggunakan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil varian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara bermakna antara kontrol positif, dosis 10 mg/kgBB, dosis 100 mg/kgBB, dan dosis 1000 mg/kgBB terhadap kontrol negatif. Selain itu, tidak ada perbedaan secara bermakna antara kelompok dosis ekstrak dan dengan kontrol positif. Hasil analisis statistik dapat dilihat pada lampiran 15.
4.2 Pembahasan
Pada penelitian ini, dilakukan pengujian aktivitas penurunan kadar glukosa darah terhadap tikus galur Sprague Dawley jantan yang diinduksi diabetes dengan senyawa Aloksan Monohidrat. Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kembang bulan pada bagian daunnya yang diperoleh di Bekasi, Jawa Barat. Sebelum daun kembang bulan digunakan sebagai bahan penelitian, terlebih dahulu dilakukan determinasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman uji adalah benar tanaman kembang bulan (Tithonia diversifolia (Hemsl.) A. Gray) dari familia Asteraceae.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Daun kembang bulan segar kemudian diproses menjadi simplisia dengan berbagai tahapan, yaitu sortasi basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering, dan penghalusan menjadi serbuk simplisia. Setelah proses tersebut dilakukan, didapatkan serbuk simplisia seberat 620 g. Serbuk simplisia yang telah diperoleh kemudian diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Metode ini dipilih karena mudah dan menghasilkan rendemen ekstraksi yang tinggi (Saifudin, 2014). Pada prosesnya, ekstraksi dengan metode maserasi cukup mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana dibandingkan dengan metode ekstraksi cara dingin lainnya.
Pada proses maserasi, serbuk simplisia direndam dengan pelarut etanol 95% sebanyak 5 L di dalam botol gelap selama beberapa waktu pada temperatur kamar. Berdasarkan penelitian, ekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol 95% memiliki ekstraktabilitas yang baik, selain dengan pelarut metanol dan etanol 70% (Saifudin, 2014).
Tahapan ekstraksi selanjutnya yaitu maserat disaring menggunakan kapas dan kertas saring sehingga diperoleh filtrat dan serbuk simplisia yang terbawa. Filtrat kemudian dipekatkan dengan menggunakan alat Rotary Evaporator hingga didapatkan ekstrak kental sedangkan serbuk simplisia yang terbawa dimasukkan kembali ke dalam botol gelap. Etanol yang telah terpisah dari filtrat dimasukkan kembali ke dalam botol gelap untuk merendam serbuk simpilisia. Proses ini disebut remaserasi (pengulangan maserasi). Remasersi dilakukan hingga warna maserat hampir jernih yang ditandai pelarut berwarna hijau muda yang memudar.
Setelah proses pemekatan ekstrak dengan alat Rotary Evaporator, ekstrak yang dihasilkan ternyata belum kental sehingga dilakukan proses pemekatan selanjutnya dengan alat Freeze Dryer. Proses ini dilakukan selama 8 jam di Laboratorium Fitokimia Gedung Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Jawa Barat. Setelah dilakukan pemekatan dengan Freeze Dryer, didapatkan ekstrak kental seberat 83,030 g.
Setelah didapatkan ekstrak kental, dilakukan uji parameter standar ekstrak yakni parameter spesifik dan non spesifik. Uji parameter standar non spesifik yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji kadar air dan kadar abu ekstrak. Pengujian kadar air ekstrak dilakukan untuk memberikan batasan minimal atau
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
rentang tentang besarnya kandungan air di dalam ekstrak (Depkes, 2000). Berdasarkan Materia Medika Indonesia Jilid 6 (1996), batas kadar air ekstrak yang masih memenuhi syarat adalah di bawah 10%. Pada hasil uji kadar air ekstrak, didapatkan hasil persentase kadar air ekstrak yaitu 7,6496% yang berarti kadar air ekstrak telah memenuhi syarat.
Uji parameter non spesifik lainnya adalah uji kadar abu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Berdasarkan hasil uji kadar abu ekstrak, didapatkan persentase kadar abu ekstrak yaitu 16,0431%. Kadar abu ekstrak memenuhi persyaratan, yaitu tidak lebih dari 16,67%.
Pada uji parameter spesifik, hal yang diujikan adalah identifikasi terhadap bentuk, warna, bau dan rasa ekstrak secara organoleptis. Hasil identifikasi ini dapat menjadi karakter spesifik ekstrak etanol 95% daun kembang bulan.
Pemeriksaan selanjutnya adalah penapisan fitokimia ekstrak. Tujuan penapisan fitokimia ekstrak adalah untuk mengetahui keberadaan golongan-golongan senyawa tertentu di dalam ekstrak, khususnya golongan-golongan senyawa yang diduga dapat memiliki aktivitas antihiperglikemia. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan hasil positif terhadap adanya antrakuinon, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid; serta negatif terhadap alkaloid. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Nigeria, diketahui secara kuantitatif terdapat alkaloid di dalam ekstrak sebanyak 236,728 mg/100 g ekstrak (Omoboyowa, 2015). Perbedaan hasil ini dapat disebabkan karena bedanya tempat asal tanaman karena tempat asal tanaman dapat mempengaruhi kandungan kimia dari tanaman tersebut.
Pada penelitian ini hewan uji yang digunakan adalah tikus putih galur Sprague-Dawley berjenis kelamin jantan yang berusia 2-3 bulan dengan berat badan 130-220 g, dalam kondisi sehat. Secara umum, tikus dipilih sebagai hewan uji karena hewan ini memiliki sifat fisiologis yang mirip dengan manusia (Lannaccone et al., 2009). Sel β pankreas tikus juga sensitif terhadap aloksan
dibandingkan dengan hewan lain seperti kelinci, babi, anjing dan marmut. Tikus galur Sprague-Dawley dipilih karena sel β pankreas tikus galur Sprague-Dawley terbukti sensitif terhadap Aloksan (Tyrberg et al., 2001).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kelompok perlakuan yang diujikan yaitu kelompok kontrol dan kelompok dosis uji. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol normal, kontrol positif, dan kontrol negatif. Kelompok perlakuan kontrol digunakan untuk memastikan bahwa hasil uji tidak terpengaruh oleh faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil uji (Budiharto, 2008).
Senyawa yang digunakan dalam perlakuan kelompok positif adalah glibenklamid dengan dosis tikus 0,5 mg/kgBB dengan tujuan untuk memastikan bahwa glukosa darah tikus uji terbukti menurun dengan obat antihiperglikemia yang telah beredar di masyarakat. Obat Glibenklamid dipilih karena memiliki mekanisme kerja meningkatkan pelepasan insulin dari pankreas (Katzung, 2010). Hal ini sejalan dengan penelitian ini dimana diharapkan daya antioksidan ekstrak dapat menghambat kematian sel β pankreas sehingga insulin dapat dihasilkan
lebih banyak.
Pada kelompok uji negatif, tikus uji diberikan Na CMC 1% tanpa ekstrak untuk memastikan bahwa glukosa darah tikus uji yang diinduksi tanpa diberi ekstrak akan tinggi dan berada pada kondisi hiperglikemia. Sedangkan pada kelompok uji normal, tikus uji tidak diberikan perlakuan apapun untuk memastikan bahwa glukosa darah tikus tanpa perlakuan akan berada pada posisi normal.
Pada kelompok dosis, dosis yang diberikan kepada tikus uji yaitu dosis ekstrak 10 mg/kgBB, dosis ekstrak 100 mg/kgBB, dan dosis ekstrak 1000 mg/kgBB. Variasi dosis ini digunakan dengan interval rasio 10 kali lipat untuk mengetahui dosis ekstrak yang paling efektif dalam mengendalikan glukosa darah tikus uji (Praptiwi et al., 2007).
Pada pengujian, ekstrak diberikan secara oral dalam bentuk suspensi. Hal ini disebabkan karena ekstrak tidak dapat larut dalam air, sehingga ekstrak didispersikan dalam air. Suspending agent yang digunakan adalah natrium karboksimetil selulosa (Na CMC) sebanyak 1%. Na CMC dipilih berdasarkan penelitian Shyam dan Ganapaty (2013) yang menggunakan Na CMC sebagai suspending agent. Konsentrasi 1% digunakan karena dapat mendispersikan glibenklamid serta seluruh ekstrak pada setiap konsentrasi.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pada penelitian ini, metode yang digunakan untuk membuat kadar glukosa darah tikus uji tinggi adalah dengan metode induksi senyawa Aloksan. Metode induksi Aloksan dipilih karena ditujukan untuk mengamati penurunan glukosa darah pada tikus diabetes yang pankreasnya dirusak. Pada penginduksian diabetes
dengan senyawa diabetogen Aloksan, sel pankreas yang dirusak hanya sel β
pankreas yang merupakan penghasil hormon insulin. Jika dibandingkan dengan Streptozotosin yang juga merupakan senyawa kimia diabetogen, harga Aloksan relatif lebih murah, serta daya rusak sel pankreas tidak sebesar Streptozotosin sehingga potensi mortalitas tikus uji lebih kecil (Lenzen, 2008).
Sebelum dilakukan penginduksian diabetes, tikus uji diaklimatisasi selama 7 hari. Pada proses aklimatisasi, tikus diberi makan dan minum, ditimbang, serta dipelihara dengan baik. Selama penelitian, tikus uji diberi makan pakan 512 sebanyak 10-15% berat badan dalam sehari dan minum secara ad libitum. Proses aklimatisasi tikus bertujuan untuk membuat tikus uji beradaptasi dengan lingkungannya, menstabilkan parameter fisiologis dan perilaku tikus akibat proses pengiriman, dan menganalisis kelayakan tikus untuk menjadi tikus uji. Tikus dianggap layak menjadi tikus uji apabila selama proses aklimatisasi tidak terjadi penurunan berat badan lebih dari 10% dalam sehari (Arts et al., 2012; K. Chapman et al., 2013).
Sebelum dilakukan penginduksian pankres dengan Aloksan, tikus uji sebelumnya dipuasakan selama 12 jam. Hal ini disebabkan karena aloksan dan glukosa berkompetisi untuk masuk ke dalam sel β pankreas. Adanya glukosa dapat menghambat aloksan untuk masuk ke dalam sel β pankreas sehingga
dilakukan pemuasaan untuk meminimalkan jumlah glukosa darah tikus uji (Radenkovic, 2015).
Penginduksian diabetes dengan senyawa Aloksan dilakukan secara intraperitoneal dengan konsentrasi 30 mg/ml dalam larutan saline. Rute
intraperitoneal dipilih untuk mempercepat efek pengerusakan sel β pankreas,
sedangkan konsentrasi 30 mg/ml dipilih karena berdasarkan perhitungan, tikus seberat 200 g diberikan aloksan sebanyak 30 mg dengan volume 1 ml. Berdasarkan Certificate of Analysis senyawa Aloksan Monohidrat, 40 mg Aloksan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Monohidrat larut dalam 1 ml air sehingga volume larutan saline yang digunakan mampu melarutkan aloksan.
Dosis aloksan yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada tikus uji adalah 150 mg/kgBB. Dosis ini diambil berdasarkan penelitian sebelumnya (Radenkovic, 2015). Dosis ini pun dipilih menjadi dosis untuk uji pendahuluan induksi aloksan. Berdasarkan hasil uji pendahuluan yang telah dilakukan, diketahui bahwa induksi dengan aloksan dosis 150 mg/kgBB terbukti dapat menyebabkan diabetes dalam waktu 7 hari setelah diinduksi. Hasil uji pendahuluan dapat dilihat pada lampiran 10.
Setelah 1 jam tikus diinduksi dengan aloksan, tikus diberikan larutan glukosa 5% secara ad libitum selama 24 jam. Hal ini dilakukan berdasarkan penelitian terdahulu untuk mencegah fase hipoglikemia selama masa pengerusakan pankreas (Radenkovic, 2015). Berdasarkan penelitian, terdapat 4 fase selama masa pengerusakan pankreas yaitu fase hipoglikemia pertama pada 30 menit setelah induksi, lalu fase hiperglikemia awal pada 2-4 jam setelah induksi. Selanjutnya terjadi fase hipoglikemia ke-2 yang terjadi 4-8 jam setelah induksi. Setelah itu barulah terjadi hiperglikemia ke-2 yang bersifat permanen (Lenzen, 2008).
Setelah 30 tikus diinduksi aloksan, sebanyak 25 tikus memiliki nilai kadar glukosa darah di atas 140 mg/dl, 3 tikus memiliki nilai kadar glukosa darah kurang dari 140 mg/dl, dan 2 tikus mati. Diantara 25 tikus yang diabetes, sebanyak 17 tikus memiliki kadar glukosa darah 140-200 mg/dl, 5 tikus memiliki kadar glukosa darah 201-400 mg/dL, dan 3 tikus memiliki kadar glukosa darah di atas 400 mg/dL. Berdasarkan penelitian sebelumnya, sebanyak 40% tikus uji yang diinduksi berhasil diabetes, 20% tikus uji mengalami sedikit kenaikan kadar glukosa darah atau tidak sama sekali, dan 40% tikus uji lainnya mati pada minggu pertama atau minggu sebelumnya yang kemungkinan disebabkan karena asidosis (Carvalho et al., 2003). Akhirnya, pada penelitian ini setiap kelompok perlakuan terdiri dari 5 tikus uji. Jumlah ini masih memenuhi persyaratan dari WHO.
Waktu pengamatan efektifitas antihiperglikemia yang digunakan adalah selama 21 hari. Waktu pengamatan efektifitas antihiperglikemia dilakukan berdasarkan jurnal Radenkovic pada tahun 2015.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pengukuran glukosa darah tikus uji dilakukan dengan alat glukometer GlucoDR. Glukometer yang menerapkan metode enzimatik ini dipilih karena lebih mudah, praktis, akurat, cepat dan hanya membutuhkan sedikit alat dan darah (sekitar 0,3-1 μl) dibandingkan dengan metode pengukuran lain yang
menggunakan instrumen lain seperti alat spetrofotometer dengan metode reduksi dan kondensasi dengan menggunakan berbagai reagen kimia (Thomas et al., 2016; McMiller, 1990).
Pada manusia, waktu pengukuran glukosa darah paling baik adalah pada pagi hari sebelum sarapan (Chase dan Fiallo-Scharer, 2002). Pada pagi hari sebelum sarapan, sekitar pukul 5-9 pagi, terjadi kondisi dawn phenomenon pada pasien diabetes. Dawn phenomenon merupakan kondisi dimana pada pagi hari terjadi kenaikan glukosa darah. Pada pasien normal, terjadi kenaikan glukosa darah tetapi tidak banyak karena insulin tetap disekresikan, tetapi pada pasien diabetes hal tersebut tidak terjadi sehingga pada pagi hari glukosa darah pasien diabetes cukup tinggi (Abma, 2009). Dawn phenomenon juga terjadi pada tikus, tetapi pada waktu yang berbeda, yakni pada awal malam hari (Gale et al., 2011). Sehingga pada penelitian ini pengukuran glukosa darah dilakukan pada malam hari pukul 6-7 malam.
Pada umumnya, nilai GDP tikus normal berkisar antara 85-132 mg/dl (Kohn et al., 2002). Tikus dinyatakan diabetes bila pada pengukuran, nilai GDP sebesar lebih dari 140 mg/dl (Gabriel et al., 2014).
Berdasarkan hasil persentase penurunan gula darah pada tikus uji selama 21 hari, dosis ekstrak yang paling baik dalam menurunkan gula darah tikus uji adalah pada dosis 100 mg/kgBB. Persentase penurunan kadar guka darah pada dosis 100 mg/kgBB adalah sebesar 54,1731%, lebih besar dibandingkan dengan persentase penurunan kadar guka darah pada dosis 10 mg/kgBB dan dosis 1000 mg/kgBB yakni sebesar 32,2997% dan 45,3056%. Namun, daya penurunan kadar gula darah pada ekstrak dosis 100 mg/kgBB masih lebih rendah daripada daya penurunan kadar gula darah pada Glibenklamid yng menjadi kontrol positif, dimana penurunan penurunan kadar gula darah pada kontrol positif adalah sebesar 69,6126%.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Berdasarkan hasil persentase penurunan kadar glukosa darah, diketahui penurunan kadar glukosa darah tidak bersifat dose-dependent. Hal ini mungkin disebabkan karena tingginya dosis ekstrak membuat reseptor target jenuh, sehingga ekstrak yang tidak berikatan dengan reseptor target akan berikatan dengan reseptor lain yang menghasilkan efek antagonis yang akhirnya menyebabkan efek menurun (Walsh dan Schwartz-Bloom, 2004).
Gambar 4.1. Kurva respon dosis terhadap efek agonis (a) dan agonis disertai adanya efek antagonis non kompetitif sesuai dengan peningkatan dosis (b, c, d)
(Craig et al., 2004)
Hasil pengukuran kadar glukosa darah tikus uji dianalisis secara statistika dengan menggunakan program SPSS 21.0. Uji statistik yang pertama dilakukan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnof. Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui persebaran data setiap kelumpok uji. Uji homogenitas dengan menggunakan metode Levene. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui adanya varian homogen pada data. Data terdistribusi normal dan homogen apabila memiliki nilai p ≥ 0,05.
Secara statistika, penelitian ini termasuk ke dalam analitik komparatif numerik tidak berpasangan. Analisis yang dilakukan adalah dengan metode One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) bila data terdistribusi normal dan memiliki varian homogen. Apabila data tidak terdistribusi normal atau varian tidak homogen, dilakukan analisis dengan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney (Dahlan, 2010).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Berdasarhan hasil penelitian, diketahui bahwa data tidak terdistribusi normal pada hari setelah induksi aloksan (H1) dan 7 hari setelah pemberian ekstrak (H8) (p ≤ 0,05). Data juga tidak homogen pada H1, H8, dan H15 (p ≤ 0,05). Pengolahan data tidak bisa dilanjutkan dengan uji One-Way ANOVA apabila terdapat setidaknya data satu kelompok tidak terdistribusi normal (Dahlan, 2010), sehingga pengolahan metode selanjutnya dilakukan dengan metode Kruskal-Wallis.
Berdasarkan hasil analisis dengan metode Kruskal-Wallis, diketahui semua kelompok berbeda secara bermakna pada waktu sebelum induksi (H0), setelah induksi, 14 hari setelah pemberian ekstrak (H15) dan 21 hari setelah pemberian ekstrak (H22) (p ≤ 0,05). Namun, semua kelompok tidak berbeda secara bermakna pada H8 (p ≥ 0,05). Analisis data selanjutnya dilakukan dengan metode Mann-Whitney yang bertujuan untuk menentukan kelompok mana yang memberikan nilai yang berbeda secara bermakna dengan kelompok lainnya.
Hasil uji statistik Mann-Whitney menunjukkan bahwa kontrol positif, dosis 10 mg/kgBB, dosis 100 mg/kgBB, dan dosis 1000 mg/kgBB berbeda secara signifikan dengan kontrol negatif pada H22. Hal ini membuktikan bahwa kontrol positif, dosis 10 mg/kgBB, dosis 100 mg/kgBB, dan dosis 1000 mg/kgBB mampu menurunkan kadar gula darah tikus. Di sisi lain, hasil antara kelompok kontrol positif, dosis 10 mg/kgBB, dosis 100 mg/kgBB, dan dosis 1000 mg/kgBB berbeda tidak signifikan baik pada H8, H15, maupun H22 yang berarti tidak ada perbedaan efek yang signifikan antar kelompok perlakuan.
Penelitian sebelumnya telah membuktikan daya antihiperglikemia tanaman ini. Berdasarkan penelitian Sumarny pada tahun 2011, ekstrak n-heksana daun kembang bulan dapat mengendalikan glukosa darah mencit pada dosis 5,38 g/KgBB dan 10,75 g/KgBB. Ekstrak air daun kembang bulan dapat mengendalikan kadar glukosa darah mencit secara efektif pada kadar 500 mg/kgBB (Thongsom et al., 2013). Ekstrak etanol 95% daun kembang bulan juga dapat mengendalikan glukosa darah tikus dengan metode toleransi glukosa pada dosis 77 mg/kgBB dengan persentase penurunan kadar glukosa darah sebesar 54,15% (Darmawi et al., 2015).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Penurunan kadar glukosa darah tikus oleh ekstrak etanol 95% daun kembang bulan ini terjadi melalui beberapa mekanisme yang mungkin terjadi. Berdasarkan jurnal antihiperglikemia ekstrak etanol 95% daun kembang bulan dengan metode toleransi glukosa, terbukti bahwa ekstrak etanol 95% dapat mengurangi absorpsi glukosa dengan menghambat enzim α-glukosidase dalam memecah disakarida sukrosa menjadi glukosa pada saluran intestinal (Darmawi et al., 2015).
Senyawa sesquiterpenoid lakton yang terkandung dalam ekstrak etanol 95% daun kembang bulan (Tagitinin C) dapat mengendalikan kadar glukosa darah dengan berikatan pada reseptor agonis PPAR (peroxisome proliferator-activated receptor agonists). Efek ikatan ini adalah memodulasi ekspresi gen yang terlibat dalam metabolisme glukosa dan lipid, transduksi sinyal insulin, dan diferensiasi pada jaringan adiposit dan jaringan lainnya (Lin, Hsiang-Ru, 2012).
Pada kondisi hiperglikemia, jumlah stress oksidatif dalam tubuh meningkat. Peningkatan jumlah stress oksidatif dapat menyebabkan toksisitas
pada sel β pankreas sehingga jumlah sel β pankreas dan sekresi insulin berkurang.
(Kajimoto dan Kaneto, 2004). Skema toksisitas sel β pankreas dapat dilihat pada gambar 4.2.
Gambar 4.2. Skema toksisitas sel β pankreas (Kajimoto dan Kaneto, 2004)
Berdasarkan berbagai penelitian, daya antioksidan yang tinggi dapat mengendalikan glukosa darah pada pasien diabetes. Hal ini didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa antioksidan dapat menstimulasi sekresi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta insulin. Pada analisis histologi, terlihat perbanyakan jumlah sel β pankreas pada
mencit DM yang diberikan antioksidan, dan pemberian antioksidan dapat
menghambat terjadinya apoptosis sel β pankreas tanpa mengubah laju proliferasi
sel. Pemberian antioksidan juga dapat dapat meningkatkan jumlah insulin dan mRNA insulin. Ekspresi gen PDX-1 juga terlihat pada sel islet setelah pemberian antioksidan (Kajimoto dan Kaneto, 2004).
Diduga hal-hal di atas juga terjadi pada tikus uji penelitian ini yang mengalami penurunan kadar glukosa darah akibat pemberian ekstrak. Untuk membuktikan hal tersebut, selanjutnya perlu dilakukan uji kadar insulin dalam darah dan uji histopatologi pankreas tikus uji.
59 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.1. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Ekstrak etanol 95% daun kembang bulan dengan dosis 10 mg/KgBB, 100 mg/KgBB, dan 1000 mg/KgBB terbukti memiliki efek antihiperglikemia terhadap tikus Sprague-Dawley jantan yang diinduksi aloksan.
2. Penurunan glukosa darah tikus uji pada kelompok dosis 10 mg/KgBB, 100 mg/KgBB, dan 1000 mg/KgBB secara statistika menunjukkan adanya perbedaan, tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna.
3. Penurunan kadar glukosa darah pada kelompok dosis 100 mg/kgBB paling tinggi dibandingkan dengan kelompok uji dosis 10 mg/kgBB dan 1000 mg/kgBB, yaitu sebesar 54,1731%.
5.2. SARAN
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam hal mencari dosis yang tepat dalam mengendalikan kadar glukosa darah dari ekstrak etanol 95% daun kembang bulan yang tumbuh di Indonesia serta perlu dilakukan uji kadar insulin dalam darah dan uji histopatologi pankreas tikus uji untuk mengetahui adanya perbaikan pada pankreas tikus akibat pemberian ekstrak.
60 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes—2015. Diabetes Care. Volume 38 (suppl 1) : S1-S93
Arts et al. 2012. The Impact of Transportation on Physiological and Behavioral Parameters in Wistar Rats: Implications for Acclimatization Periods. ILAR J (2012) 53 (1): E82-E98 DOI:10.1093/ilar.53.1.82
Ayoola et al. 2008. Phytochemical Screening and Antioxidant Activities of Some Selected Medicinal Plants Used for Malaria Therapy in Southwestern Nigeria. Benin City. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, Volume 7 (3): 1019-1024
Brewer, M.S. 2011. Natural Antioxidants: Sources, Compounds, Mechanisms of Action, and Potential Applications. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 10. Page 221–247. DOI: 10.1111/j.1541-4337.2011.00156.x.
British Pharmacopoeia. 2009. British Pharmacopoeia, Volume I & II. London. Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA). Page 2757.
Budiharto. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu Kesehatan Gigi. Jakarta: Penerbit IKAPI. Hal 51.
Capasso et al. 2003. Phytotherapy : A Quick Reference to Herbal Medicine. New York. Springer-Verlag. Page 3.
Carvalho et al. 2003. Experimental Model of Induction of Diabetes Mellitus in Rat. Acta Cirurgica Brasileira, 18 (spe), 60-64. DOI: 10.1590/S0102-86502003001100009.
Chase dan Fiallo-Scharer. 2002. Understanding Diabetes. Children Diabetes Foundation. Hal. 51.
Chukwuka et al. 2014. Extraction and Characterization of Essential Oils from Tithonia difersifolia (Hemsl.) A. Gray. Nigeria. American Journal of Essential Oils and Natural Product. Page 1-5.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Centre for Agriculture and Biosciences International (CABI). 2015. Tithonia diversifolia. In: Invasive Species Compendium (www.cabi.org/isc, 11 December 2015). Wallingford, UK. CABI Publishing.
Craig et al. 2004. Modern Pharmacology with Clinical Applications. Baltimore. Lippincott Williams & Wilkins Publisher. Page 18.
Dahlan, Sopiyudin. 2010. Mendiagnosis dan Menata Laksana 13 Penyakit Statistik: Disertai Aplikasi Program Stata. Jakarta: Penerbit IKAPI. Hal.