• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 PEMBAHASAN

6.2 Penurunan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis dan Rasa Pahit

dibandingkan dengan Non Perokok

Terdapat penurunan sensitivitas indera pengecap rasa manis antara perokok kretek dibandingkan dengan non perokok di reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit. Hal ini terlihat dari penurunan persentase perokok yang dapat mempersepsikan rasa manis di semua reseptor rasa. Persentase perokok dan non perokok mengalami kenaikan seiring peningkatan konsentrasi sukrosa yang diberikan. Ini berarti semakin tinggi konsentrasi sukrosa, maka semakin tinggi persentase sampel yang dapat mempersepsikan rasa manis.

Uji statistik memperlihatkan penurunan sensitivitas indera pengecap rasa manis antara perokok kretek dengan non perokok di setiap reseptor rasa (tabel 5) dimana Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa

manis untuk konsentrasi sukrosa 0,1 g/ml mempunyai nilai p=0,000 dan konsentrasi 0,2 g/ml mempunyai nilai p=0,040. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa manis antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa manis di konsentrasi 0,1 dan 0,2 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa asin untuk konsentrasi sukrosa 0,2 g/ml mempunyai nilai p=0,003 dan konsentrasi

0,4 g/ml mempunyai nilai p=0,011. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa asin antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa manis di konsentrasi 0,2 g/ml dan 0,4 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa asam untuk konsentrasi sukrosa 0,2 g/ml mempunyai nilai p=0,006 dan konsentrasi 0,4 g/ml mempunyai nilai p=0,011. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa asam antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa manis di konsentrasi 0,2 g/ml dan 0,4 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa pahit untuk konsentrasi sukrosa 0,2 g/ml mempunyai nilai p=0,036. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa manis di reseptor rasa pahit antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa manis di konsentrasi 0,2 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Terdapat penurunan sensitivitas indera pengecap rasa pahit antara perokok kretek dibandingkan dengan non perokok di reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit.. Hal ini terlihat dari penurunan persentase perokok yang dapat mempersepsikan rasa pahit di semua reseptor rasa. Persentase perokok dan non perokok mengalami kenaikan seiring peningkatan konsentrasi quinine yang diberikan. Ini berarti semakin

tinggi konsentrasi quinine, maka semakin tinggi persentase sampel yang dapat mempersepsikan rasa pahit.

Uji statistik memperlihatkan penurunan sensitivitas indera pengecap rasa pahit antara perokok kretek dengan non perokok di setiap reseptor rasa (tabel 6) dimana Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa manis untuk konsentrasi quinine 0,006 g/ml mempunyai nilai p=0,047. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa manis antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa pahit di konsentrasi 0,006 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa asin untuk konsentrasi quinine 0,0024 g/ml mempunyai nilai p=0,001 dan konsentrasi

0,006 g/ml mempunyai nilai p=0,025. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa asin antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa pahit di konsentrasi 0,0024 dan 0,006 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa asam untuk konsentrasi quinine 0,0024 g/ml mempunyai nilai p=0,002 dan konsentrasi 0,006 g/ml mempunyai nilai p=0,165. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa asam antara perokok kretek dengan non perokok yang artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa pahit di konsentrasi 0,0024 dan 0,006 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Ho ditolak (p<0,05) pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa pahit untuk konsentrasi quinine 0,0004 g/ml mempunyai nilai p=0,002 , konsentrasi 0,0009 g/ml mempunyai nilai p=0,001 dan konsentrasi 0,006 g/ml mempunyai nilai p=0,021. Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan sensitivitas rasa pahit di reseptor rasa pahit antara perokok kretek dengan non perokok yang

artinya terjadi penurunan sensitivitas rasa pahit di konsentrasi 0,0004 , 0,0009 , dan 0,0024 g/ml pada perokok kretek dibandingkan dengan non perokok.

Hasil ini sesuai dengan yang diungkapkan Sukarno AD dalam penelitiannya bahwa pada saat rokok dihisap, nikotin yang terkondensasi dalam asap rokok masuk ke dalam rongga mulut. Iritasi yang terus menerus dari hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hal ini menyebabkan nikotin lebih mudah terdeposit menutupi taste bud dan membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore. Menempelnya nikotin pada membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore akan menghalangi interaksi zat-zat makanan ke dalam reseptor pengecap sehingga akan mengurangi sensitivitas pengecapan rasa.40

Penurunan sensitivitas indera pengecap khususnya rasa manis ini jika berlangsung dalam waktu yang lama, maka perokok cenderung akan meningkatkan konsumsi gulanya dibanding dengan non perokok. Konsumsi gula yang meningkat ini tanpa disertai dengan aktivitas tubuh yang dominan maka kemungkinan insulin yang dihasilkan akan mengendap dalam darah perokok sehingga perokok rentan terkena diabetes.41

6.3 Perbandingan Pemeriksaan Rasa Manis dan Rasa Pahit pada Perokok Kretek dan Non Perokok Pada Reseptor Rasa Manis, Asin, Asam, dan Pahit dengan Mann-Whitney Test

Analisis data menggunakan Mann-Whitney Test untuk melihat perbandingan pemeriksaan rasa manis dan rasa pahit antara perokok kretek dengan non perokok pada reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit. Hasil yang didapat pada pemeriksaan rasa manis pada reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit antara kelompok perokok kretek dengan non perokok adalah Ho ditolak (p<0,05) artinya ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor rasa manis nilai p = 0.003 dan ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor asin nilai p = 0,035.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada sensitivitas indera pengecap rasa manis di reseptor manis dan di reseptor asin pada perokok kretek dan non perokok. Dengan kata lain pada non perokok lebih peka merasakan rasa manis pada reseptor manis dan lebih peka merasakan rasa manis pada reseptor asin

dibandingkan perokok, sedangkan pada reseptor asam dan pahit sensitivitas merasa antara perokok dengan non perokok tidak berbeda secara signifikan. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukarno AD yang menyatakan kelompok non perokok memiliki kepekaan indera pengecap rasa manis terhadap larutan sukrosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perokok.40 Selain itu, taste buds yang tersebar di seluruh permukaan lidah mengakibatkan rasa manis dapat dirasakan tidak hanya di reseptor rasa manis, tetapi juga di reseptor rasa asin.18

Hasil pemeriksaan rasa pahit pada reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit antara kelompok perokok kretek dan non perokok adalah Ho ditolak (p<0,05) artinya ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa pahit untuk reseptor rasa pahit dimana nilai p = 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada sensitivitas indera pengecap rasa pahit di reseptor pahit saja pada perokok kretek dan non perokok. Dengan kata lain sensitivitas indera pengecap rasa pahit lebih besar pada non perokok dibandingkan perokok kretek. Sedangkan pada reseptor manis, asin, dan asam tidak terdapat perbedaan, artinya sensitivitas pengecapan rasa pahit antara perokok kretek dengan non perokok tidak berbeda secara signifikan. Hasil ini sesuai dengan yang diungkapkan Mulyawati Y dalam tulisannya dimana perokok sukar merasakan rasa manis, asam, asin, dan pahit akibat rusaknya ujung saraf sensoris dan taste buds pada lidah akibat panas yang dihasilkan asap rokok.29

6.4 Perbandingan Pemeriksaan Rasa Manis dan Rasa Pahit pada Reseptor Rasa Manis, Asam, Asin, dan Pahit pada Perokok Kretek dengan

Mann-Whitney Test

Analisis data menggunakan Mann-Whitney test untuk melihat perbandingan pemeriksaan rasa manis dan rasa pahit pada reseptor rasa manis, asam, asin, dan pahit pada perokok kretek. Hasil yang didapat yakni Ho ditolak (p<0,05) untuk reseptor rasa manis, dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan rasa manis dengan rasa pahit (p=0,014), artinya rasa manis yang paling berpengaruh terhadap sensitivitas pengecapan pada perokok berada pada reseptor rasa manis.

Ho diterima (p>0,05) untuk reseptor rasa asin dan reseptor rasa asam, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan rasa manis dengan rasa pahit, artinya pada reseptor rasa asin (p=0,336) dan reseptor rasa asam (p=0,173) sensitivitas pengecapan terhadap rasa manis dan rasa pahit tidak berbeda secara signifikan pada perokok.

Ho ditolak (p<0,05) untuk reseptor rasa pahit dimana, terdapat perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan rasa manis dengan rasa pahit (p=0,002), artinya rasa pahit yang paling berpengaruh terhadap sensitivitas pengecapan pada perokok berada pada reseptor rasa pahit.

Pada penelitian yang dilakukan Tapilatu RR, sampel dibagi menjadi 2 kelompok perokok yakni perokok kretek dan perokok putih. Dengan metode dan bahan yang sama dengan yang digunakan Sukarno AD yakni hanya pemeriksaan rasa manis dengan cara meneteskan larutan glukosa pada lidah sampel hingga sampel dapat mempersepsikan rasa dengan benar. Pada penelitian didapati hasil yakni perokok kretek mengalami penurunan persepsi rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan perokok putih. Hal ini disebabkan kandungan kimia berupa nikotin dan tar yang terdapat pada rokok kretek lebih tinggi daripada rokok putih. Rokok kretek juga tidak memiliki filter untuk menyaring agen yang berbahaya pada rokok seperti nikotin, tar, dan karbonmonoksida sehingga kerusakan taste buds lebih tinggi terjadi pada perokok kretek.40,42

Selain pengaruh nikotin dalam rokok yang dapat mempengaruhi sensitivitas indera pengecap, pada penelitian yang dilakukan oleh Roslan AN, didapati penggunaan Sodium Lauryl Sulphate (SLS) yang berlebihan akan menurun sensitivitas indera pengecap rasa terhadap rasa manis. Sodium Lauryl Sulphate yang digunakan melebihi batas yang dianjurkan dapat menyebabkan terjadinya iritasi epidermis dan denaturasi rantai polipeptida suatu molekul protein sehingga merubah struktur protein. Apabila Sodium Lauryl Sulphate dipakai dalam rongga mulut, struktur rantai protein saliva berubah sehingga kelarutan saliva berkurang. Taste buds yang terdapat pada lidah akan turut terpapar karena taste buds mengandung protein-protein transmembran yang mengenali ion-ion yang memberi reaksi terhadap sensasi rasa. Protein-protein transmembran akan turut terganggu akibat perubahan struktur protein oleh Sodium

Lauryl Sulphate sehingga tastan tidak dapat mencapai reseptor pada mikrovili di lidah menyebabkan terjadinya perubahan sensitivitas rasa.43

Hasil penelitian ini didukung oleh adanya teori yang menjelaskan bahwa pada saat rokok dihisap, nikotin yang terkondensasi dalam asap rokok masuk ke dalam rongga mulut. Iritasi yang terus menerus dari hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hal ini menyebabkan nikotin lebih mudah terdeposit menutupi taste bud dan membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore. Menempelnya nikotin pada membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore akan menghalangi interaksi zat-zat makanan ke dalam reseptor pengecap sehingga akan mengurangi sensitivitas pengecapan rasa.3,39

Dokumen terkait