• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemauan Sendiri Individu dalam

PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan berupa hasil dari pembahasan data dan informasi yang telah di peroleh di lokasi penelitian, makan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

Terjadi perkawinan beda agama sebagai besar karena didasari atas rasa cinta yang begitu besar terhadap pasangan, sehingga mereka tidak mempedulikan lagi tanggapan orang-orang yang ada disekitar mereka. Perkawinan beda agama yang terjadi di Kecamatan Sangalla Selatan mereka pada awalnya tidak mendapat restu dari orangtua tapi lama- kelamaan orangtua setuju dengan adanya perkawinan mereka apalagi setelah mendapatkan cucu dari anaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari terlihat bahwa kehidupan beragama bukanlah suatu masalah yang harus dibesar-besarkan karena sebagian dari mereka bukanlah penganut yang fanatik. Di daerah tersebut masyarakatnya lebih mengutakamakan hubungan yang baik dalam sistem adat istiadat mereka. Jika ada anggota keluarga yang keluar dari agama yang mereka telah anut dan berpindah ke agama lain seperti adanya perkawinan beda agama, hubungan silaturahmi mereka tetap bisa terjalin melalui acara adat-istiadat yang tetap melibatkan mereka.

Pengaturan tentang perkawinan beda agama tidak ada dalam Undang-undang Perkawinan di Indonesia membuat pasangan-pasangan yang ingin melangsungkan perkawinan tidak mempunyai tempat untuk mengesahkan perkawinan mereka

78 secara syah dalam hukum negara. Hal ini membuat banyak pasangan beda agama yang hanya melakukan perkawinan dengan cara adat istiadat.

Selain masalah-masalah yang timbul pada pasangan itu sendiri, perkawinan beda agama juga berdampak kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Dari penelitian sebagian anak-anak yang lahir dari perkaiwan beda ada yang ikut agama ayahnya ada juga ikut agama ibunya dimana ada yang sejak kecil agama mereka sudah ditentukan oleh orang tua melalui kesepakatan namun ada juga yang memberikan kebebasan kepada anak memilih agama sendiri. Memiliki orangtua dengan dua agama yang berbeda membuat mereka setelah dewasa juga mempunyai keinginan untuk memilih agama yang benar-benar mereka yakini. Selain keinginan dari dalam diri sendiri ada juga faktor-faktor dari luar diri mereka yang mempengaruhi anak dalam memilih agama yaitu peran ayah, peran ibu, peran orangtua angkat, hubungan dengan kerabat orangtua, dan hubungan kekasih.

Salah satu elemen penting dalam hidup manusia adalah agama. Agama bagi kehidupan manusia berfungsi sebagai wadah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Agama yang telah di akui khususnya di indonesia semua mengajarkan tentang kebaikan yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian,agama apapun yang dipilih oleh anak-anak dari perkawinan beda agama tidak menjadi masalah jika ajaran agama yang telah mereka pilih benar-benar diamalkan, tetap akan menjadi pedoman hidup mereka yang menunutun ke jalan yang benar.

79 B. Saran

1. Bagi pasangan-pasangan beda agama, harus difikirkan secara matang sebelum mengambil keputusan untuk melakukan perkawinan dengan pasangannya karena tidak semua orang bisa menerima keputusan tersebut terutama keluarga.

2. Bagi anak yang memiliki orangtua yang beda agama , agama apapun yang akan dipilih haruslah benar-benar diyakini akan dapat menjadi pedoman hidup jangan sampai hanya menjadi formalitas saja, Karena agama sangat penting sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir kebahagiaan hidup. 3. Pemerintah ataupun pembuat peraturan undang-undang perlu kiranya

segera memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk mengatur perkawinan antar agama.

4. Jika undang- undang yang mengatur tentang perkawinan beda agama memang tidak bisa dibentuk, maka tidak ada salahnya dibuat suatu Badan/Lembaga. Tidak bisa dipungkiri betapa sulitnya untuk menentukan sikap terhadap masalah perkawinan beda agama. Dalam hal ini penulis menyarankan agar dibentuk suatu Badan/Lembaga Penasehat Perkawinan Antar Agama khususnya untuk orang-orang yang hendak melangsungkan perkawinan beda agama. Dimana Badan/Lembaga ini berfungsi untuk memberikan penjelasan, bimbingan ataupun nasehat kepada kedua calon mempelai sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut guna mencegah terjadinya perkawinan beda agama.

80 DAFTAR PUSTAKA

Asmin (1986). Status Perkawinan antar Agama ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Berger, Peter (1991). Langit Suci, Agama Sebagai Realitas Sosial. Jakarta: LP3ES Bungin, Burhan (2012). Analisis Data Penelitian Kualitatif; Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.

Bungin, Bungin (2011). Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan ilmu sosial lainnya. Jakarta: Kencana.

Geertz, Clifford (1992). Kebudayaan dan Agama. Jakarta: Kanisius

Gunawan, Imam (2014). Metode Penelitian Kualitatif ; Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Hartini G Kartasapoetra (1992). Kamus Sosiologi dan Kependudukan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hatta, Mohammad (2002). Sosialisme Religius. Yogyakarta: Kreasi Wacana Kartono, Kartini (1985). Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta: Rajawali Khairuddin (2008). Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta Koentraningrat (1986). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

Muhtaj, Majda El (2005). Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia dari UUD 19945 sampai dengan Amandemen UUD 1945 Tahun 2002. Jakarta: Kencana.

Mulders, Niels (1999). Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suhendi, Hendi dan Ramdani Wahyu (2001). Pengantar Sosiologi Keluarga. Bandung: Cv Pustaka Setia.

Setiadi, Elly M dan Usman Kolip (2011). Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta : Kencana Pranada Media Group.

Sukarti, Dewi (2003). Perkawinan Antar Agama menurut Al-Quran dan Hadis. Jakarta: PBB UIN Syarif Hidayatullah.

81 Sugiyono, (2014). Memahami dan Metode Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Surbakti, Minarti (2009). Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan. Beda Agama. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Upe, Ambo (2010). Tradisi Aliran dalam Sosiologi dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady (2009). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Wahid, Abdurrahman (2001). Pergaulan Agama, Negara, dan Kebudayaan. Depok: Desantara.

Yasin, Mohammad (2010). Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga Beda Agama. Yogyakarta: Universitas Negeri Sunan Kalijaga.

-https://toniannabil.wordpress.com/2013/02/22/8/, diakses pada tanggal 5 maret 2016 pukul 21:54.

-http://anggara.org/2007/07/05/perkawinan-beda-agama-diIndonesia -http:www.scrib.com/doc/3144824/perkawinan-beda-agama-di-indonesia.

83 PEDOMAN WAWANCARA

KEBEBASAN ANAK DALAM MEMILIH AGAMA DALAM KELUARGA

Dokumen terkait