G. Ruang Lingkup Penelitian
V. PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka penelitian mengenai “ Hubungan antara tingkat pendidikan, nilai anak dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup wanita PUS pasangan perkawinan usia muda di desa Campanglapan Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Tahun 2014 (Sebagai Kritik Kehidupan Sosial)”, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup wanita PUS pasangan perkawinan usia muda di desa Campanglapan Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Tahun 2014 (Sebagai Kritik Kehidupan Sosial). Hal ini berarti bahwa wanita PUS yang memiliki tingkat pendidikan dan usia kawin pertama tinggi akan memiliki jumlah anak yang sedikit dan sebaliknya bahwa ada kecenderungan wanita PUS yang memiliki tingkat pendidikan dan usia kawin pertama rendah akan memiliki jumlah anak yang banyak.
2. Ada hubungan negatif antara nilai anak dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup wanita PUS pasangan perkawinan usia muda di desa Campanglapan Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Tahun 2014 (Sebagai Kritik Kehidupan Sosial). Hal ini berarti bahwa wanita PUS yang memiliki nilai anak dan usia kawin pertama tinggi akan memiliki jumlah anak yang sedikit dan sebaliknya bahwa ada kecenderungan wanita PUS yang memiliki nilai anak dan usia kawin pertama rendah akan memiliki jumlah anak yang banyak.
3. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan, nilai anak dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup wanita PUS pasangan perkawinan usia muda di desa Campanglapan Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Tahun 2014 (Sebagai Kritik Kehidupan Sosial). Hal ini berarti bahwa wanita PUS yang memiliki tingkat pendidikan, nilai anak dan usia kawin pertama tinggi akan memiliki jumlah anak yang sedikit dan sebaliknya bahwa ada kecenderungan wanita PUS yang memiliki tingkat pendidikan, nilai anak dan usia kawin pertama rendah akan memiliki jumlah anak yang banyak.
B. Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian maka implikasi dari penelitian ini sebagai berikut. 1. Secara teori, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan
sebagai rujukan dalam mengadakan penelitian lain yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, nilaai anak dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup wanita PUS pasangan perkawinan usia muda Suku Sunda.
2. Secara praktik, penelitian ini dapat digunakan sebagai suplemen pengajaran mengenai tingkat pendidikan, nilai anak dan usia kawin pertama dengan jumlah anak lahir hidup pasangan perkawinan usia muda dalam perkembangan ilmu geografi.
Penelitian ini berkaitan dengan pendidikan IPS sebagai kritik kehidupan sosial (social studies as social criticism) yaitu bagi wanita PUS pasangan perkawinan usia muda yang berpendidikan rendah hendaknya memperkaya pengetahuan dengan pemberian penyuluhan mengenai pengetahuan tentang pertimbangan untuk memiliki anak dan sosialisasi program keluarga berencana (KB).
Wanita PUS pasangan perkawinan usia muda yang berpandangan nilai anak positif bahwa dengan memiliki anak membawa keberuntungan dalam hidupnya. Anak memang menjadi sumber kebahagiaan keluarg tetapi diharapkan wanita PUS pasangan perkawinan usia muda bisa memenuhi kebutuhan anak yang dimilikinya karena nilai anak berkaitan dengan teori ekonomi tentang fertilitas yaitu mengenai pemenuhan kebutuhan anak.
Wanita PUS pasangan perkawinan usia muda yang melakukan usia kawin pertama pada usia masih sangat muda diharapkan bisa mengikuti program keluarga berencana (KB) untuk menjarangkan jumlah anak ang dimiliki karena diharapkan anak yang dimilikinya berkualitas. Untuk generasi yang akan datang diharapkan para wanita bisa menunda usia kawin pertama dengan melajutkan pendidikan atau bekerja dahulu sebelum melakukan perkawinan.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut.
1. Bagi wanita PUS pasangan perkawinan usia muda yang berpendidikan rendah hendaknya menerapkan pola keluarga kecil, dalam rangka pelaksanaan Keluarga Berencana dengan baik
2. Pandangan nilai anak bagi wanita PUS pasangan perkawinan usia muda hendaknya tidak dijadikan tolak ukur untuk memiliki anak
3. Bagi wanita PUS pasangan perkawinan usia muda yang sudah terlanjur memiliki jumlah anak banyak hendaknya cukup puas terhadap jumlah anak yang dimiliki dan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak yang dimiliki 4. Bagi wanita PUS pasangan perkawinan usia muda hendaknya memberikan
nasihat kepada anak-anaknya agar meningkatkan tingkat pendidikan dan menunda usia kawin pertama
5. Bagi pemerintah daerah hendaknya memperhatikan pertumbuhan jumlah penduduk di Desa Campanglapan
6. Bagi pemerintah daerah hendaknya memperhatikan peraturan undang-undang perkawinan pada warganya agar tidak terjadi perkawinan usia muda di Desa Campanglapan
7. Bagi pemerintah daerah hendaknya memberikan penyuluhan tentang program keluarga berencana kepada warganya yang melakukan perkawina usia muda
Abdurahman, Edeng. 2008.Pola Perkawinan dan Perceraian di Jawa Barat.Warta Demografi (Wahana Memasyarakatkan Pemikiran Demografi) Tahun ke-38 No. 4. Lembaga Demografi FE UI. Jakarta. Ananta, Aris. 1993.Ciri Demografi Kualitas Penduduk dan Pembangunan
Ekonomi.Bina Aksara. Jakarta.
Ancok, Djamaludin. 1987.Teknik Penyusunan Skala Pengukur. Pusat Penelitian Kependudukan UGM. Yogyakarta.
Arikunto, Suharsimi. 2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta: Jakarta.
BKKBN. 1999.Petunjuk Pelaksanaan KB Oleh Bidan Desa. BKKBN Propinsi Lampung.
Depdikbud. 1990.Pola Pengasuhan Anak Secara Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta.Depdikbud. Jakarta.
Fawcett, James. 1984.Psikologi dan Kependudukan. Rajawali. Jakarta.
Hamid, Zahri. 1975.Pokok-Pokok Perkawinan Islam Dan Undang-Undang Di Indonesia. Sumur Bandung.
Hartono. 2004.Statistik Untuk Penelitian. Lembaga Studi Filsafat,
Kemasyarakatan, Kependidikan dan Perempuan (LSK2P). Pekanbaru. Kartono, Kartini. 2004.Pengantar Metodologi Riserch Sosial. Alumni Bandung. Koentjaraningrat. 2002.Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru. Jakarta. Koestoro, Budi. 2006.Strategi Penelitian Sosial. Yayasan Kampusina. Surabaya. Lucas, David. 1982.Pengantar Kependudukan. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.
Mantra, Ida Bagus. 2003.Demografi Umum. Nur Cahya. Yogyakarta.
Mantra, Ida Bagus.1995.Penentuan Sampel dalam Masri Singarimbun dan Sofian Efendi (Editor). Metode Survai. Lembaga Penelitian Pendidikan
Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.
Press : Yogyakarta.
Nazir, Mohamad. 2005.Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Rusli, Said. 1996.Pengantar Ilmu Kependudukan. LP3E. Jakarta.
Siswono, Eko. 2000.Pergesaran Budaya Perkawinan di Jawa Barat. Warta Demografi (Wahana Memasyarakatkan Pemikiran Demografi) Tahun ke-30 no. 2. Lembaga Demografi FE UI. Jakarta.
Singarimbun, Masri. 1982.Metode Penelitian Survai. Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.
Sukardi. 2003.Metodologi Penelitian Survei. Bumi Aksara. Yogyakarta. Sudjana. 2002.Metode Statistik. Tarsito. Bandung.
Sukamdi. 1995. Populasi (Buletin Penelitian Kebijakan Kependudukan). Pusat Penelitian Kependudukan UGM. Yogyakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974.Tentang Perkawinan. Penerbit Pustaka Tinta Mas. Surabaya.
Usman, Husaini. 2008.Metodologi Penelitian Sosial. Bumi Aksara. Jakarta. Wirosuhardjo, Kartomo. 2000. Kebijaksanaan Kependudukan dan
Ketenagakerjaan.FEUI. Jakarta.
Wiyasa, Thomas. 2002.Upacara Perkawinan Adat Sunda. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.