• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL (Halaman 16-59)

1. Agenda Riset Nasional yang selanjutnya disingkat ARN adalah dokumen

yang disusun oleh Dewan Riset Nasional (DRN) memuat fokus pembangunan iptek, arah kebijakan dan prioritas utama, program, sasaran, dan target capaian.

2. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA

adalah suatu dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan, berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah.

3. Diseminasi iptek nuklir adalah kegiatan penyampaian hasil litbangyasa

dengan tujuan memperluas aplikasi dan pemanfaatan iptek nuklir dalam kehidupan masyarakat.

4. Difusi Teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi

teknologi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan potensi pendayagunaannya.

5. Hak Kekayaan Intelektual yang selanjutnya disingkat HKI adalah hak

memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

6. Inovasi teknologi adalah kegiatan modifikasi desain atau produk

litbangyasa untuk meningkatkan daya saing (estetika, kualitas, dan harga).

7. Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan

Teknologi yang selanjutnya disingkat Jakstranas Iptek adalah dokumen yang disusun oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk

memberikan arah, prioritas, dan kerangka kebijakan dalam

pembangunan iptek.

8. Komisi Ahli Tenaga Nuklir yang selanjutnya disingkat KATN adalah

nasehat, masukan dan bantuan pemikiran untuk peningkatan efektivitas dan perluasan penggunaan tenaga nuklir bagi kesejahteraan masyarakat.

9. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau

beberapa satuan kerja BATAN sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program, terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya yang berupa personil (SDM), barang modal termasuk peralatan dan teknologi secara sendiri-sendiri dan/atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut

sebagai masukan (input) untuk menghasilkan luaran (output) dalam

bentuk barang/jasa.

10.Kemitraan adalah jejaring kerja yang saling menguntungkan antara satu

pihak dengan pihak lain pada kedudukan yang sama tinggi.

11.Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah yang selanjutnya disingkat

KPJM adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan yang dilakukan dalam perspektif waktu lebih dari satu tahun anggaran dengan mempertimbangkan implikasi biaya pada tahun berikutnya yang dinyatakan sebagai prakiraan maju.

12.Kinerja adalah luaran/hasil kegiatan/program yang hendak atau telah

dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur.

13.Komisi Pembina Tenaga Fungsional yang selanjutnya disingkat KPTF

adalah tim yang mempunyai tugas melakukan pembinaan teknis tenaga fungsional non-peneliti melalui kegiatan evaluasi usulan kegiatan litbangyasa dan pembinaan penyusunan laporan teknis serta penulisan karya tulis ilmiah.

14.Komisi Pembina Tenaga Peneliti yang selanjutnya disingkat KPTP adalah

tim yang mempunyai tugas antara lain melakukan pembinaan teknis tenaga fungsional peneliti melalui kegiatan evaluasi usulan kegiatan litbangyasa serta membina para tenaga peneliti dalam penyusunan laporan teknis hasil kegiatan litbangyasa dan penulisan suatu karya tulis ilmiah.

15.Laporan Kinerja adalah ikhtisar yang menjelaskan secara ringkas dan

lengkap tentang capaian kinerja yang disusun berdasarkan rencana kerja yang ditetapkan dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah.

16.Litbangrap adalah penelitian, pengembangan dan penerapan.

17.Litbangyasa adalah penelitian, pengembangan dan perekayasaan.

18.Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan

tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya manusia serta sumber daya organisasi lainnya.

19.Manajemen Mutu Terpadu yang selanjutnya disingkat MMT adalah

sistem manajemen organisasi yang mengutamakan peningkatan kinerja secara berkelanjutan tanpa menunggu permintaan pemangku kepentingan melalui pendekatan proses dan pelibatan seluruh jajaran pelaksana.

20.Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama dalam struktur

dan koordinasi tertentu untuk mencapai serangkaian tujuan tertentu. 21.Peer Group adalah kelompok pakar yang mempunyai tugas melakukan

penilaian dan rekomendasi terhadap kelayakan usulan kegiatan BATAN dan bertanggung jawab kepada Kepala BATAN.

22.Pendayagunaan adalah peningkatan pemanfatan dari hasil kegiatan

litbangyasa yang sudah teruji (proven)

23.Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode

ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran status asumsi atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

24.Penerapan adalah pemanfaatan ilmu pengetahuan atau suatu hasil

penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, dalam bentuk kegiatan perekayasaan, inovasi, serta difusi teknologi.

25.Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada untuk menghasilkan teknologi baru.

26.Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan

teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai, produk, dan/atau proses produksi dengan

mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan atau konteks teknikal, fungsional, bisnis, sosial budaya, dan estetika.

27.Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa

depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

28.Pemimpin BATAN adalah jajaran pemimpin yang memiliki wewenang

untuk menetapkan suatu kebijakan strategis, yaitu Kepala BATAN, Sekretaris Utama dan Deputi.

29.Penerimaan Negara Bukan Pajak yang selanjutnya disingkat PNBP

adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.

30.Program adalah penjabaran kebijakan Kementerian Negara/Lembaga

dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi Kementerian Negara/Lembaga.

31.Proven Technology adalah teknologi yang telah terbukti memberikan manfaat bagi kehidupan (ekonomi, sosial, dan budaya) umat manusia dan aman bagi lingkungan dan masyarakat. Dalam bidang ekonomi proven technology terbukti memberikan nilai tambah antara lain dengan memperbaiki efisiensi usaha, menghemat biaya produksi, meningkatkan kualitas produk barang dan jasa, sehingga meningkatkan daya saing.

32.Pusat Teknologi yang selanjutnya disingkat Pustek adalah satuan kerja

yang mempunyai tugas melaksanakan litbangyasa dengan

memanfaatkan teknologi tertentu guna mempercepat hasil.

33.Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga yang selanjutnya

disingkat RKA-K/L adalah dokumen perencanaan dan anggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga

34.Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disingkat RKP merupakan

dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun yang ditetapkan oleh Presiden dan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

35.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang selanjutnya

disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. RPJMN merupakan penjabaran dari visi, misi dan program presiden terpilih yang disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.

36.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang selanjutnya disingkat RPJPN adalah dokumen perencanaan jangka panjang untuk periode 20 tahun. RPJPN merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, dalam bentuk visi, misi dan arah pembangunan nasional.

37.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata

cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.

38.Standardisasi adalah proses perumusan, penetapan, penerapan, dan

pengawasan standar. I.4. Organisasi dan Pelaku

Organisasi BATAN adalah alat untuk mencapai tujuan yang didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 tahun 2005. Organisasi BATAN meliputi struktur, tugas dan fungsi, merupakan alat untuk mewujudkan cita-cita serta merupakan peta dari sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi lembaga.

Berdasarkan Keppres Nomor 103 Tahun 2001 jo Perpres Nomor 64 Tahun 2005, BATAN mempunyai tugas, fungsi, kewenangan dan tanggung jawab secara garis besar dibagi dalam 2 (dua) tugas utama, yaitu:

• Pengembangan kebijakan iptek nuklir nasional.

• Pengembangan kebijakan pemanfaatan iptek nuklir melalui kegiatan

litbangyasa.

Organisasi Manlitbang adalah organ/seluruh unit kerja dalam struktur organisasi BATAN yang terlibat dalam kegiatan litbangyasa iptek nuklir sesuai dengan tugas dan fungsi yang ditetapkan dalam surat keputusan Kepala BATAN.

Pelaku Manlitbang adalah seluruh pegawai di berbagai tingkat jabatan struktural dan fungsional, personil dan komisi khusus yang dibentuk untuk

maksud tertentu. Pelaku manlitbang terintegrasi dalam suatu kesatuan yang sinergis (saling menunjang) terdiri dari pejabat struktural, pejabat fungsional, dan kelompok penunjang termasuk Tim Pakar dan Komisi Ahli.

I.4.1. Pejabat Struktural

Pejabat Struktural adalah pegawai yang menduduki jabatan struktural terdiri dari Pejabat Eselon I, Pejabat Eselon II, III dan IV. Tugas pokok dan wewenang pejabat struktural adalah:

Pejabat Eselon I:

Dalam pelaksanaan (implementasi) Manajemen Litbangyasa, tugas dan wewenang utama Pejabat Eselon I adalah sebagai berikut:

• Menetapkan Kebijakan Strategis (Renstra) BATAN.

• Menetapkan ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan dan

pelaksanaan program dan anggaran serta keselamatan penyelenggaraan kegiatan.

• Menetapkan pedoman, petunjuk pelaksanaan program dan kegiatan

litbangyasa, diseminasi, dan penguatan kelembagaan.

• Menetapkan Kebijakan Strategis (Renstra) Kedeputian dan Settama.

• Mengembangkan dan menetapkan arah kebijakan kerjasama luar negeri

dan dalam negeri.

• Menetapkan Country Program Framework (CPF) dalam rangka mengisi

program kerja sama teknik IAEA.

• Merumuskan usulan program konseptual yang memuat pokok-pokok

program dan kegiatan tahunan sebagai acuan penyusunan rencana kegiatan tahunan unit kerja.

• Memantau dan mengendalikan pelaksanaan program litbangyasa,

diseminasi, dan penguatan kelembagaan.

• Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan program litbangyasa dalam

rangka membangun sinergi lintas pusat dan lintas lembaga.

• Bila dianggap perlu, Pejabat Eselon I dapat membentuk Tim Ahli/Pakar

untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.

• Mengembangkan dan menetapkan arah kebijakan kerjasama luar negeri

dan dalam negeri.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenang tersebut Pejabat Eselon I mempertimbangkan berbagai aspek antara lain:

• RPJPN, RPJMN, KPJM, RKP.

• Kebijakan di bidang riset dan pengembangan teknologi antara lain

Jakstranas Iptek dan ARN.

• Renstra BATAN.

• Dokumen Sistem Standardisasi BATAN (SSB).

• Penetapan Kinerja BATAN/Deputi/Settama.

• Perkembangan politik, ekonomi, sosial-budaya dan iptek dalam lingkup

nasional, regional dan global.

• Masukan dari pejabat struktural dan fungsional, Komisi Ahli dan Pakar

terkait dengan aspek ilmiah, teknis, dan administratif. Pejabat Eselon II:

Tugas dan wewenang utama Pejabat Eselon II adalah :

• Merumuskan dan menetapkan Renstra Unit Kerja sebagai penjabaran

Renstra BATAN.

• Menetapkan kebijakan operasional dalam rangka kelancaran dan

keberhasilan pelaksanaan program, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan dan kebijakan yang berkedudukan lebih tinggi.

• Menyampaikan bahan masukan kepada Pejabat Eselon I dalam rangka

penyusunan Usulan Konseptual Program dan Anggaran BATAN.

• Menyiapkan Usulan Program dan melaporkan pelaksanaan kerjasama

teknik luar negeri kepada Pejabat Eselon I c.q Biro Kerjasama Hukum dan Humas (BKHH).

• Menyiapkan dan menyampaikan Usulan Program kerjasama teknik dalam

rangka kerjasama bilateral, regional, dan mengisi kerjasama teknik IAEA.

• Menyusun dan menyampaikan Usulan Kegiatan Tahunan kepada Kepala

BATAN c.q Biro Perencanaan untuk dievaluasi dalam format baku.

• Menjabarkan Usulan Kegiatan yang disetujui kedalam Usulan Penelitian

dan Rencana Kegiatan untuk dibahas oleh KPTP/KPTF dalam format baku.

• Menyiapkan Usulan Pengadaan SDM pada Biro Sumber Daya Manusia

(BSDM) dan pembinaan SDM ke Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) melalui program diklat teknis dan kursus penjenjangan dalam format baku.

• Menyiapkan dan menyampaikan usulan pengadaan

perbaikan/pemeliharaan/renovasi dan penghapusan untuk peralatan dan prasarana fisik kepada Biro Umum (BU) dalam format baku.

• Melakukan koordinasi, pemantauan, dan pengendalian kegiatan serta melaporkan kemajuan dan kinerja pelaksanaan program dan anggaran kepada Pejabat Eselon I c.q Biro Perencanaan dan Inspektorat dalam format baku.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenang tersebut, Pejabat Eselon II memperhatikan:

• RPJPN, RPJMN, KPJM, RKP.

• Kebijakan strategis Ristek Nasional, ARN.

• Renstra BATAN dan Renstra Unit Kerja.

• Dokumen Sistem Standardisasi BATAN (SSB).

• Arahan dan kebijakan Pemimpin BATAN.

• Country Programme Framework (CPF).

• Penetapan Kinerja Unit Kerja.

• Peraturan dan ketentuan yang berlaku.

• Kemajuan dan perkembangan pelaksanaan kegiatan litbangyasa,

pendayagunaan hasil litbangyasa dan diseminasi iptek nuklir serta penguatan kelembagaan yang telah direncanakan.

• Masukan teknis ilmiah, dan administratif dari pejabat struktural dan

fungsional dibawahnya serta KPTF/KPTP. Pejabat Eselon III dan IV:

• Menyiapkan dan menyampaikan bahan masukan kepada Pejabat Eselon II

mengenai aspek ilmiah, teknis dan administratif sesuai kompetensinya untuk perencanaan dan pelaporan program kegiatan litbangyasa, pendayagunaan hasil litbangyasa dan diseminasi iptek nuklir dan penguatan kelembagaan yang menjadi tanggung jawabnya.

• Memantau dan mengendalikan aspek ilmiah, teknis dan administratif dari

pelaksanaan kegiatan dan program unit kerja yang menjadi tanggung jawabnya.

• Mengelola peralatan, sarana, dan fasilitas kerja yang menjadi tanggung

jawabnya.

• Membina dan meningkatkan kemampuan teknis dan ilmiah bawahannya.

• Menyiapkan dan menyampaikan usulan kegiatan kepada Pejabat Eselon II

atasannya untuk proses evaluasi kelayakan.

• Menyampaikan laporan secara berkala kepada Pejabat Eselon II tentang

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Pejabat Eselon III dan IV harus memperhatikan:

• Renstra Unit Kerja.

• Dokumen Sistem Standardisasi BATAN (SSB).

• Arahan dan kebijakan atasannya.

• Ketetapan tentang kinerja unit kerja.

• Peraturan dan ketentuan yang berlaku.

• Masukan dari bawahan ataupun para pejabat fungsional dalam unit kerja

ataupun unit lain yang terkait dengan kegiatan.

• Kemajuan dan perkembangan ilmiah dan teknis mengenai program dan

kegiatan yang terkait I.4.2. Pejabat Fungsional

Pejabat fungsional adalah pegawai yang mempunyai keahlian dalam bidang keilmuan atau ketrampilan tertentu yang merupakan tulang punggung bagi pelaksanaan program litbangyasa, diseminasi dan penguatan kelembagaan di BATAN. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang menjadi pelaksana kunci kegiatan litbangyasa tetapi bukan pejabat struktural ataupun pejabat fungsional. Tugas dan fungsi utama pejabat fungsional antara lain adalah:

• Menyiapkan dan merancang usulan kegiatan sesuai dengan bidang

kompetensi.

• Menyiapkan dan merancang usulan penelitian sebagai penjabaran usulan

kegiatan yang telah disetujui.

• Menyampaikan laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan penelitian secara

berkala.

• Mempublikasikan dan atau menyebarluaskan hasil kegiatan litbangyasa,

melalui forum ilmiah dan atau jurnal ilmiah.

• Menyampaikan pandangan dan masukan kepada Pejabat Eselon I, II, dan

III dalam rangka penyusunan kebijakan strategis di bidang iptek (Renstra BATAN) maupun operasional (Renstra Unit Kerja), dan perencanaan usulan kegiatan atau usulan penelitian.

• Merancang dan menyiapkan program bantuan/kerjasama teknik luar

negeri.

• Berperan sebagai nara sumber sesuai bidang kompetensinya dalam

• Membina dan mengembangkan kemampuan ilmiah dan ketrampilan teknis para pelaksana kegiatan litbangyasa di lingkungan unit kerja sesuai bidang kompetensinya.

• Membina kemampuan ilmiah dan ketrampilan teknis bawahannya.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya para pejabat fungsional perlu memperhatikan:

• RPJPN, RPJMN.

• Jakstranas Iptek dan ARN.

• Renstra BATAN dan Renstra Unit Kerja.

• Ketetapan Deputi tentang Kinerja Unit Kerja.

• Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang relevan dengan

bidang keilmuannya.

• Arahan kebijakan strategis tentang sasaran program dan kegiatan

litbangyasa; pendayagunaan hasil litbangyasa dan diseminasi iptek nuklir; dan penguatan kelembagaan.

I.4.3. Komisi Ahli/Pakar

Komisi ahli/pakar adalah sekelompok orang-orang yang memiliki keahlian dan/atau integritas yang tinggi di bidang iptek nuklir atau yang bermanfaat bagi pengembangan iptek nuklir. Mereka merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin BATAN dengan tugas membantu Pemimpin BATAN dan Pejabat Eselon II (Kepala Pusat) dalam memberi penilaian serta masukan terhadap program BATAN dan program unit kerja. Komisi tersebut terdiri dari

KPTF/KPTP, Peer Group, KATN dan komisi lainnya yang dibentuk sesuai

kebutuhan untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian tujuan dan sasaran program BATAN.

I.4.4. Penunjang

Penunjang adalah pegawai baik yang menduduki jabatan struktural ataupun fungsional, dengan tugas memberikan dukungan bagi kelancaran pelaksanaan kegiatan litbangyasa dan diseminasi baik secara teknis maupun administratif. Jenis kegiatan yang dilaksanakan kelompok ini antara lain adalah:

• Membantu persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan kegiatan litbangyasa

• Melakukan pengelolaan administrasi program dan kegiatan.

• Melaksanakan pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana litbangyasa.

• Membantu proses perencanaan dan melakukan pengelolaan anggaran.

• Membantu proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan penyusunan

laporan kinerja.

• Membantu menyiapkan ketentuan hukum dan materi kehumasan.

• Membantu dan melakukan pengelolaan data dan informasi.

• Melakukan pengelolaan administrasi dan ketatausahaan pegawai dan

barang.

• Membantu dan melaksanakan pengelolaan program jaminan mutu.

I.5. Pilar Kompetensi BATAN

Pilar kompetensi BATAN adalah berbagai bidang keahlian yang dimiliki BATAN untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan serta pemanfaatan teknologi nuklir. Pilar-pilar ini sangat spesifik dan memiliki nilai strategis serta mencirikan BATAN sebagai lembaga riset bidang nuklir. Pilar BATAN dipergunakan sebagai acuan dalam penyusunan program dan kegiatan, yaitu:

1. Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (ATIR)

2. Pembuatan Isotop dan Senyawa Bertanda (PISB)

3. Pengelolaan Limbah Radioaktif (PLR)

4. Rekayasa dan Pembuatan Perangkat Instrumentasi Nuklir (RPPIN)

5. Daur Bahan Bakar Nuklir (DBBN)

BAB II. KEBIJAKAN

Dalam melaksanakan kegiatan litbangyasa agar sejalan dengan program nasional (RPJPN, RPJMN, ARN) maka program dan kegiatan tersebut harus memperhatikan dan mengacu pada kebijakan baik yang bersifat nasional maupun internasional. Kebijakan merupakan alat untuk mempermudah menyelesaikan permasalahan yang timbul di masyarakat. Kebijakan merupakan komitmen bersama dan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan litbangyasa yang ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kualitas hidupnya, meningkatkan daya saing, memperbaiki kualitas produk barang dan jasa, dan lingkungan.

II.1. Kebijakan Internasional

Kebijakan internasional adalah lingkungan strategis yang sedang berkembang di dunia. Lingkungan strategis ini merupakan kondisi terkini yang mempengaruhi lingkungan strategis nasional, berupa perkembangan ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kebijakan internasional menjadi salah satu pertimbangan/parameter dalam merencanakan program dan kegiatan BATAN.

Kebijakan yang berkaitan dengan program nuklir BATAN antara lain: Nuclear

Non-Proliferation Treaty (NPT), Safeguards Agreement, konvensi serta traktat

IAEA yang lain, Sustainable Development, MDGs (Millenium Development

Goals), Clean Development Mechanism, Kyoto Protocol, perubahan paradigma dari bantuan teknik menjadi kerjasama teknik (partnership) dengan IAEA. II.2. Kebijakan Nasional

Kebijakan Nasional adalah arahan Pemimpin Negara yang dijabarkan dalam bentuk perangkat perundangan/peraturan/kebijakan lain menjadi acuan BATAN dalam menentukan dan merencanakan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan agar sesuai dengan dan mendukung program nasional. Kebijakan Nasional tersebut antara lain RPJPN, RPJMN, Jakstranas Iptek, KPJM dan ARN.

II.3. Kebijakan BATAN

Kebijakan BATAN adalah arahan pemimpin BATAN yang dijabarkan dalam bentuk Peraturan Kepala BATAN atau Surat Keputusan Kepala BATAN dan kebijakan lain yang akan menjadi acuan dalam perencanaan program dan

kegiatan yang harus dilaksanakan agar sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka mendukung pelaksanaan program nasional.

Kebijakan BATAN dijabarkan dalam bentuk Rencana Strategis (Renstra) yang memuat Visi dan Misi, tujuan, sasaran, program, dan kegiatan. Renstra memberikan gambaran makro mengenai strategi pencapaian cita-cita melalui program dan kegiatan Litbangyasa, Pendayagunaan Hasil Litbangyasa dan Diseminasi Iptek Nuklir, dan Penguatan Kelembagaan dalam kurun waktu tertentu. Renstra ini menjadi pedoman dan acuan dalam pengembangan iptek nuklir untuk pembangunan nasional. Renstra BATAN disusun berjenjang dijabarkan ke dalam Renstra Kedeputian, Renstra Settama, dan Renstra Unit Kerja.

Renstra direncanakan berdasarkan arahan dari pemimpin (top down) dan masukan dari staf (bottom up) serta para pemangku kepentingan. Perencanaan dan penyusunan Renstra dilakukan oleh tim dan/atau unit kerja yang ditugasi dan disahkan menjadi dokumen Renstra. Penyusunan Renstra memerlukan berbagai data dan informasi, antara lain:

• RPJPN, RPJMN, KPJM.

• Kebijaksanaan Ristek Nasional antara lain Agenda Riset Nasional (ARN).

• Status dan perkembangan iptek nuklir dalam lingkup regional dan

internasional.

• Hasil kegiatan litbangyasa, diseminasi, dan kelembagaan nuklir yang telah

dilakukan.

• Masukan narasumber dari berbagai institusi dan pemangku kepentingan

• Renstra dari berbagai instansi terkait.

• Masukan dari pejabat struktural, fungsional, dan pemangku kepentingan.

Keberadaan Renstra BATAN didukung oleh perangkat kebijakan lain yang lebih bersifat operasional untuk memperlancar pelaksanaan kebijakan tersebut, antara lain:

• Renstra Unit Kerja.

• Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L).

• Rencana Kerja Tahunan (RKT).

• Penetapan Kinerja (PK).

Selain dokumen Renstra BATAN, kebijakan BATAN lainnya adalah Sistem Standardisasi BATAN (SSB) yaitu ketentuan pimpinan BATAN yang menjelaskan tatacara pelaksanaan standardisasi di lingkungan BATAN untuk

mewujudkan jaminan keselamatan dan mutu produk/hasil kegiatan BATAN sehingga memiliki daya saing.

II.4. Kebijakan Pemimpin BATAN

Kebijakan pemimpin BATAN adalah arahan pemimpin BATAN untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan jangka panjang, menengah dan pendek. Kebijakan pemimpin meliputi:

• Kebijakan Kepala BATAN.

• Kebijakan Deputi dan Sestama.

3. Kebijakan Pemimpin BATAN direncanakan berdasarkan masukan dari

berbagai sumber internal dan eksternal dengan memperhatikan Renstra yang telah disusun.

II.4.1. Kebijakan Kepala BATAN

Kebijakan Kepala BATAN adalah arahan Kepala BATAN berupa produk yang akan dijadikan bahan untuk penyusunan Rencana Kerja Lembaga

Dalam dokumen BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL (Halaman 16-59)

Dokumen terkait