Kawasan TN Lama dan Alih Fungsi ALIH FUNGSI,
PENUTUP DAN REKOMENDASI UNTUK PIHAK BERWENANG
9.1 Sinergi Pemerintah dan Masyarakat dalam Penataan Ruang
Kawasan Puncak sebagai wilayah hinterland menjadi penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir, yaitu Bogor, Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Kesinambungan fungsi Bogor, Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini, terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air dan pengendali banjir. Aktifitas ekonomi yang terjadi di kawasan puncak perlu dikendalikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan dari aspek ekologis.
Peran Kawasan Puncak sebagai kawasan lindung sering menghadapi dilema jika dibenturkan dengan aspek ekonomi dalam pembangunan. Pengembangan ekonomi disatu sisi mampu menumbuhkan pembangunan, namun disisi yang lain dapat mengancam peran kawasan Puncak sebagai kawasan lindung. Tekanan aktivitas perekonomian tidak jarang dilaksanakan dengan melanggar peraturan yang ada. Sementara itu, instansi pemerintah terkait sulit melakukan pengawasan dan penindakan pelanggaran pemanfaatan tata ruang dengan alasan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Fungsi kontrol pemanfaatan ruang yang terlalu tergantung pada instansi pemerintah menyebabkan sulitnya pengawasan terhadap banyaknya pelanggaran tata ruang. Inkonsistensi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan peraturan yang berlaku jika dibiarkan berlarut-larut, dalam jangka waktu yang lebih panjang dapat memicu terjadinya bencana yang lebih parah, baik di kawasan Puncak sendiri maupun wilayah yang berada di bawahnya seperti Depok dan Jakarta. Semakin hilangnya daerah resapan air karena penambahan bangunan-bangunan baru dan berkurangnya luasan tutupan lahan hutan atau kebun tidak menyebabkan berkurangnya kemampuan lingkungan dalam menetralisir tingginya curah hujan di kawasan Puncak.
Peraturan dan rencana mengenai tata ruang yang dibuat oleh pemerintah (pusat, provinsi dan kabupaten) hanyalah instrument yang berusaha mengarahkan pengelolaan yang efektif dan efisien. Namun kondisi ini tidak akan tercapai tanpa peran masyarakat yang merupakan pihak yang banyak terlibat dalam penataan ruang di lapangan. Sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, bahwa penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam penataan ruang merupakan kunci untuk tercapainya tujuan penataan ruang yaitu terselenggaranya pemanfatan ruang berwawasan lingkungan, terselenggaranya
pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. Kewajiban masyarakat dalam penataan ruang adalah menjaga, memelihara dan meningkatkan kualitas ruang. Secara lebih khusus ditekankan keikutsertaan masyarakat untuk mematuhi dan mentaati segala ketentuan normatif yang ditetapkan dalam rencana tata ruang, dan mendorong terwujudnya kualitas ruang yang lebih baik. Masyarakat lokal terkadang mempunyai kearifan lokal dalam menjaga lingkungan agar dalam posisi keseimbangannya. Oleh karena itu pemerintah harus menginventarisir dan terus mendorong kearifan lokal yang ada. Hal ini penting dilakukan karena kearifan lokal merupakan modal sosial yang kuat dalam mengamankan hakekat penataan ruang yang baik.
9.2 Rekomendasi Kebijakan untuk Pihak Berwenang
Berkaitan dengan permasalahan penataan ruang kawasan puncak dan DAS Ciliwung serta perlunya upaya penyelamatan fungsi ekologis kawasan puncak dalam hal tata kelola air dan pengendalian erosi. Secara garis besar kami merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan tindakan-tindakan berikut :
1. Melakukan revisi tata-ruang wilayah yang tepat, termasuk pembuatan rencana detail tata ruang setiap kecamatan di kawasan puncak.
2. Secara konsekuen menerapkan aturan perlindungan di Kawasan Puncak melalui:
a) Penghentian pemberian izin mendirikan bangunan dan pengurusan sertifikat maupun surat keterangan tanah.
b) Menindak - tegas penyimpangan atas penggunaan kawasan lindung sebagai areal kebun dan rumah peristirahatan, tanpa pandang bulu.
c) Penerapan insentif pajak bagi penggunaan lahan non hutan dan pertanian.
d) Perhitungan nilai lingkungan atau sumber daya (ekstrinsik dan intrinsik) pada proses perencanaan
e) Perbaikan tata kepemilikan tanah-tanah terlantar ex HGU
3. Segera merehabilitasi lahan - lahan terbuka di Kawasan Puncak dengan jenis - jenis pohon hutan yang “ramah air”.
Perlunya ketersediaan rencana tata ruang secara merata bagi semua wilayah administrasi pemerintahan dengan kelengkapan tema yang diarahkan oleh peraturan perundangan berlaku. Perlu kajian yang komprehensif dalam menentukan struktur ruang yang baru setelah Kabupaten Bogor Barat terbentuk nantinya, sehingga dapat meningkatkan pola pemanfaatan ruang. Pemerintah hendaknya dapat bertindak lebih tegas terhadap setiap upaya
pelanggaran tata ruang. Penertiban terhadap pelanggaran tata ruang diharapkan dapat memberikan efek jera terhadap para pelanggar dan sekaligus sebagai upaya mencegah munculnya pelanggar tata ruang yang baru. Selain itu, upaya preventif agar tidak terjadi pelanggaran lebih lanjut dapat diantisipasi dengan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya tata ruang beserta manfaatnya sehingga masyarakat lebih sadar dan mau bekerjasama dalam pengawasan pemanfaatan tata ruang. Kerjasama yang dapat dijalin antara masyarakat dengan pemerintah juga sebagai upaya untuk mereduksi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki pemerintah.
Pengembalian fungsi ruang yang tidak sesuai dengan tata ruang hendaknya dapat dilaksanakan secara bertahap. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fungsi ruang yang sesuai dengan tata ruang adalah melalui reboisasi pada kawasan hutan yang sudah gundul ataupun terkonversi sebagai bangunan. Gencarnya upaya reboisasi atau penanaman hutan kembali diharapkan dapat meningkatkan kembali daya dukung hutan sebagai kawasan lindung. Kawasan pertanian perlu terus dipertahankan, khususnya di kawasan yang sangat produktif. Hal ini terkait dengan kondisi bahwa konversi lahan dari pertanian ke perumahan/ komersial/industri cenderung meningkat. Sawah produktif sangat berkontribusi terhadap perekonomian di Kabupaten Bogor. Pengendalian Pemanfaatan Ruang perlu terus ditingkatkan mengingat secara regional Kabupaten Bogor berperan dalam masalah banjir di Jakarta.
Upaya pencegahan konversi lahan hutan, pertanian, dan kebun menjadi kepentingan perumahan, industri dan sejenisnya dilakukan adalah melalui pendekatan pengenaan biaya pajak/retribusi yang sangat tinggi. Pengenaan biaya pajak/retribusi yang sangat tinggi terhadap lahan pertanian, hutan atau kebun yang dikonversi menjadi penggunaan lain diharapkan dapat mencegah/mengurungkan niat bagi pelakunya sehingga jumlah luas lahan pertanian, hutan maupun kebun dapat tetap terjaga. Diperlukan regulasi ketat yang mengatur secara teknis upaya konversi lahan hutan, pertanian dan perkebunan.. Hal ini sangat mendesak untuk dilakukan seiring dengan pemikiran rasional oportunis yang menggoda para pemilik lahan pertanian untuk menjual lahannya untuk selanjutnya digunakan sebagai tempat usaha atau permukiman.
Penataan kawasan perbatasan, dengan penentuan titik ordinat dan pemasangan patok, baik perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten/Kota di sekitarnya, perbatasan antar kecamatan di Kabupaten Bogor, maupun perbatasan dengan Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten yang berada di Kabupaten Bogor. Penyelesaian permasalahan, konflik/sengketa
dengan pihak yang menguasai tanah dimaksud. Penyelesaian permasalahan konflik pertanahan di beberapa desa yang telah digarap oleh masyarakat.
Pembangunan daerah yang mampu mengintegrasikan tiga aspek yakni ekologi, ekonomi dan sosial akan menimbulkan ancaman terhadap pembangunan ekonomi maupun sosial yang akan mengganggu stabilitas daerah. Oleh karena itu maka dalam program-program pembangunan aspek lingkungan perlu mendapat perhatian. Setiap program yang akan dilaksanakan harus dievaluasi dampaknya terhadap lingkungan. Selain itu, penilaian terhadap sumberdaya-sumberdaya yang dimanfaatkan (baik nilai ekstrinsik maupun intrinsik) sangat diperlukan untuk menghindari, setidaknya mengurangi, eksternalitas yang ditimbulkan.
Sementara itu, terkait dengan isu wacana revisi Perda RTRW, Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor harus mengikuti prosedur peninjauan kembali dalam waktu lima tahun sejak Perda RTRW ditetapkan. Hasil peninjauan kembali tersebut berupa rekomendasi perlunya revisi atau tidak perlu revisi. Rekomendasi perlunya revisi dapat dikeluarkan apabila terjadi perubahan kebijakan nasional yang mempengaruhi penataan ruang wilayah kabupaten dan/atau terdapat dinamika pembangunan kabupaten yang menuntut perlunya dilakukan revisi RTRW kabupaten.