Pada kesimpulan berisi tentang asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu Post Partum Normal dengan Anemia Ringan dan permasalahan yang timbul pada ibu tersebut. Sedangkan saran berisi tentang harapan masukan dari penulis yang berhubungan dengan asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada Ny.
R dengan Post Partum Normal dengan Anemia Ringan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan perawatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB II TINJAUAN TEORI
Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang definisi dari post partum, adaptasi fisiologis dan psikologis post partum, pemenuhan kebutuhan dasar post partum, konsep post partum pada anemia, pengkajian keperawatan pada post partum dengan anemia ringan, diagnosis keperawatan pada post partum dengan anemia ringan, perencanaan keperawatan pada post partum dengan anemia ringan, implimentasi keperawatan pada post partum dengan anemia ringan dan evaluasi keperawatan pada post partum dengan anemia ringan.
A. Konsep Dasar 1. Pengertian
Post partum adalah jangka waktu antara lahirnya bayi dengan kembalinya organ reproduksi ke keadaan normal seperti sebelum hamil. Periode ini disebut masa nifas (puerperium) (Lowdermilk, 2014).
Post partum adalah masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira – kira 6 minggu dan masa pulih semua selama 3 bulan (Prawirahrdjo, 2010).
Masa postpartum terbagi tiga tahap, yaitu:
a. Immediet post partum periode (24 jam pertama setelah melahirkan) Post partum dini, yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan jalan – jalan, dihitung setelah 24 jam plasenta lahir. b. Early post partum periode (minggu pertama setelah melahirkan)
Periode 1 minggu setelah melahirkan.
c. Late post partum (minggu kedua/ketiga sampai keenam setelah melahirkan)
Minggu kedua sampai keenam setelah melahirkan.
2. Adaptasi Fisiologis Post Partum
Setelah proses melahirkan, seluruh sistem tubuh berhubungan dengan proses kehamilan akan mengalami perubahan adaptasi (Bobak,dkk, 2009).
a. Perubahan sistem reproduksi 1) Proses Involusi
Setelah involusi, uterus kembalik ke ukuran normal, walaupun ukurannya tidak akan sekecil seperti sebelum hamil, berat uterus kira-kira 1 kg, pada akhir minggu utama sekitar 500 gram, pada akhir minggu kedua sekitar 350 gram, dan pada saat involusi komplit ukuran uterus sekitsr 40 sampai 60 gram. Setelah melahirkan plasenta, uterus masuk kedalam kedalam rongga panggul dan fundus uterus teraba di pertengahan tengah antara umbilicus dan simfisis dalam 2 sampai 4 jam. Uterus terletak setinggi umbilicus (12 sampai 14 cm diatas simfisis pusbis), dan 12 jam kemudian, uterus dapat agak lebih tinggi kemudian tinggi fundus menurun sekitar 1 cm atau turun 1 jari per hari. Pada hari ke 10 uterus tidak lagi dapat di palpasi pada abdomen.
2) Kontraksi uterus
Setelah kelahiran plasenta, uterus menjadi massa jaringan yang hampir padat. Dinding belakang dan depan uterus yang tebal saling menutup, yang menyebabkan rongga di bagian tengah merata. Ukuran uterus akan tetap sama selama dua hari pertama setelah melahirkan, tetapi kemuadian secara tetap ukurannya berkurang oleh involusi. Keadaan ini di sebabkan sebagian oleh kontraksi uterus dan mengecilnya ukuran masing-masing sel-sel myometrium dan sebagian lagi oleh proses otolisis, yaitu sebagian material protein dinding uterus di pecah menjadi komponen yang lebih sederhana yang kemudian di absorbsi.
After pains merupakan kontraksi uterus setelah melahirkan dengan berbagai intensitas. Peristiwa ini merupakan hal yang sering di alami oleh wanita yang pernah melahirkan, yang otot– otot uterusnya tidak lagi dapat mempertahankan retraksi yang tetap karena penurunan tonus dari proses persalinan sebelumnya. Pada wanita yang baru satu kali mengalami kehamilan tonus uterus meningkat, dan otot-ototnya masih dalam keadaan kontraksi dan retraksi yang tonik.
After pains sering kali terjadi bersamaan dengan menyusui, pada saat kelenjar hipofisis posterior melepaskan oksitosin yang disebabkan oleh isapan bayi. Oksitosin menyebabkan kontraksi saluran lacteal pada payudara, yang mengeluarkan kolostrum atau air susu, dan menyebabkan otot-otot uterus berkontraksi. Sensasi after pains dapat terjadi selama kontraksi uterus aktif untuk mengeluarkan bekuan-bekuan darah dari rongga uterus.
b) Subinvolusi uterus
Kegagalan uterus untuk kembali ke ukuran dan keadaan normal seperti sebelum hamil. Penyebab subinvolusi yang paling sering adalah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi.
3) Lokia
Lokia adalah secret berlendir warna putih atau kekuniangan dari kanal serviks atu vagina yang bisa normal secara fisiologis atau di sebabkan keadaan patologis vagina dan endoserviks. Lokia memiliki bau yang khas namun seharusnya tidak berbau busuk. a) Lokia rubra
Rubra berwarna merah terang ini berlangsung selama 1 - 3 hari pertama. Berwarna merah terang dan mengandung darah. Lokia rubra berbau amis, bau busuk mengidentifikasikan infeksi. b) Lokia serosa
Serosa muncul setelah perdarahan berkurang. Warna lokia serosa berubah menjadi merah muda atau kecoklatan sekitar 7 hari. Lokia serosa sedikit berbau tanah.
c) Lokia alba
Lokia ini berwarna kuning atau putih, mulai muncul pada sekitar hari ke-10. Pada masa ini, jumlah lokia berkurang banyak. Lokia alba juga berbau tanah.
4) Serviks
Ujung serviks yang melunak di sebut tanda Goodell dapat di lihat sekitar awal minggu ke-6 pada serviks normal pada jaringan parut. Tanda ini disebabkan oleh peningkatan vaskularitas, hipertropi ringan, dan hyperplasia (peningkatan jumlah sel) otot dan jaringan ikat kaya kolagen, yang menjadi longgar, edema, elastis, dan bertambah besar. Tempat mengambil sempel sel untuk skrining kanker serviks, semakin menjauh dari seviks karena semua perubahan ini, jadi test pap smear saat kehamilan menjadi sulit (Copeland, 2007).
Serviks sebelum melahirkan berbentuk bulat. Laserasi serviks hampir selalu terjadi saat persalinan. Meski demikian, seviks menjadi lebih oval pada bidang horizontal dan ostium eksterna tampak seperti celah transversal.
5) Vagina dan perineum
Vagina menjadi lunak dan membengkak dan memiliki tonus yang buruk setelah persalinan. Setelah tiga minggu, vaskularisasi, edema, dan hipertropi akibat kehamilan dan persalinan berkurag secara nyata.
Rugae vagina muncul kembali pada post partum miggu keempat, tetapi banyak dari rugae tersebut secara permanen masih merata setelah melahirkan, rugae tidak setebal pada nulipara.
Segera setelah melahirkan, introitus vagina mengalami edema. Jika terdapat laserasi atau episiotomi, kondisi edema pada introitus vagina makin parah pada area perbaikan.
Kebanyakan wanita terbebas dari nyeri perineal setelah satu bulan post partum, walaupun pada beberapa wanita, ketidaknyamanan mungkin mungkin dapat berlangsung sampai lebih dari 6 bulan. Lebih dari separuh wanita post partum kembali melakukan aktifitas seksual pada 2 bulan post partum dengan waktu median senggama yang nyaman sekitar 3 bulan pascapartum.
Hormon esterogen mengalami penurunan setelah persalinan, sehingga mengakibatkan penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat tegang akan kembali secara bertahap keukuran sebelum hamil, 6 – 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat sekitar minggu ke-4, walaupun tidak akan menonjol pada wanita nulipara pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap atrofi pada wanita yang menyusui sekurang – kurangnya sampai menstruasi di mulai kembali. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium.
Kekurangan esterogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus (dyspareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi. Biasanya wanita di anjurkan pelumas larut air saat melakukan hubungan seksual untuk pada awalnya, introitus mengalami eritematosa dan edematosa terutama pada epistomi atau jahitan laserasi. Perbaikan yang cermat, pencegahan atau pengobatan dini hematoma dan hygine yang baik selama 2 minggu pertama setelah melahirkan biasanya membuat intruitus dengan mudah dibedakan dari introitus
pada wanita nulipara. Pada umumnya episiotomi hanya mungkin di lakukan bila wanita berbaring miring dengan bokong di angkat atau ditempatkan pada posisi litotomi penerapan yang baik diperlukan supaya episiotomi dapat terlihat jelas.
Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan luka operasi lainnya dalam 2 – 3 minggu. Tanda – tanda infeksi nyeri, bengkak (panas, merah dan pendarahan).
b. Sistem endokrin
Perubahan hormonal yang terjadi segera setelah plasenta lahir adalah hormon esterogen dan progesterone menurun, sedangkan hormon prolaktin dan hormon oksitosin meningkat pada ibu menyusui, menstruasi terjadi setelah 12 minggu post partum. Pada ibu yang tidak menyusui terjadi setelah 36 minggu post partum.
c. Sistem perkemihan
Pengeluaran janin melewati jalan lahir menyebabkan trauma pada uretra dan kandung kemih. Mukosa kandung kemih setelah kelahiran menunjukkan berbagai derajat edema, dengan penurunan tonus kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan penurunan sensasi terhadap tekanan dan kapasitas kandung kemih yang lebih besar. Edema jaringan dikombinasikan dengan efek analgesik, menekan keinginan untuk berkemih. Nyeri panggul bertambah berkurangnya refleks untuk berkemih. Diuresis pascapartum dapat menyebabkan cepatnya pengisian kandung kemih.
Faktor-faktor tersebut sering kali menyebabkan kandung kemih sangat besar dengan inkontinensia aliran yang berlebihan dan tidak sempurnanya pengosongan kandung kemih. Urine residual membuat kandung kemih lebih rentan terhadap infeksi dan mengganggu pengeluaran urine normal. Pembesaran kandung kemih berkepanjangan dapat menyebabkan atonia dinding kandung kemih. Dengan pengosongan kandung kemih yang adekuat, tonus biasanya
pulih dalam 5-7 hari. Diuresis terjadi dalam 12 jam pada kelahiran, keluarnya urine 3000 ml selama 4-5 hari, fungsi ginjal kembali ke kondisi sebelum melahirkan dalam waktu 6 minggu, hal ini menyebabkan penurunan berat badan sekitar 4,5 kg selama puerperium. Tonus kandung kemih membaik pada akhir minggu pertama.
d. Perubahan payudara
Perubahan pada payudara setelah kelahiran mempersiapkan zat gizi untuk bayi baru lahir selama paru akhir kehamilan dan beberapa hari pertama postpartum, payudara memproduksi kolostrum, sekresi kekuningan yang memberi vitamin dan zat imun yang melindungi bayi baru lahir terhadap infeksi. Pada sekitar hari kedua atau ke-3 post partum, payudara mulai menyekresi ASI.
Laktasi, produksi ASI, terjadi karena pelepasan 2 hormon, yaitu prolaktin dan oksitoksin. Untuk beberapa hari pertama, payudara lunak. Putting harus utuh, tidak kering, pecah-pecah, atau mengalami fisura. Saat ASI diproduksi, payudara akan terasa penuh dan keras saat diraba.
e. Sistem pencernaan
Ibu biasanya akan merasa lapar segera setelah melahirkan dan dapat mentoleransi menu makanan yang ringan. Sehingga besar ibu akan sangat lapar setelah pulih dari anastesi, analgestik, dan kelelahan. Permintaan porsi makanan dua kali lebih banyak dan cemilan yang sering merupakan hal yang umum. Defekasi spontan mungkin baru terjadi 2 – 3 hari post partum. Penundaan ini dapat di sebabkan oleh berkurangnya tonus otot di usus selama melahirkan dan masa nifas. Pergerakan usus yang biasa dan teratur akan kembali setelah tonus otot kembali.
f. Sistem kardiovaskular
Antara kehamilan 14 daan 20 minggu, denyut nadi meningkat sekitar 10-15 kali/menit, yang kemudian menetap saat kehamilan aterm. Palpitasi mungkin terjadi, pada kehamilan kembar mendekati aterm, frekuensi denyut jantung ibu dapat meningkat sampai 40% frekuensi saat tidak hamil (Blackburn, 2007).
1) Volume Darah
Volume darah meningkat sekitar 1.500 ml atau sekitar 40-45% di atas volume sebelum hamil (Cunningham dkk., 2007). Peningkatan ini terdiri dari 1.000 ml plasma dan 450 ml sel darah merah (SDM). Rata-rata kehilangan darah persalinan normal pervagina adalah 400 sampai 500 ml, untuk persalinan dengan seksio sesaria kehilangan darah sering kali lebih dari 1.000 ml.
2) Curah Jantung
Curah jantung yang meningkat selama persalinan, memuncak secara tiba-tiba setelah pelepasan plasenta seiring dengan kontraksi uterus yang memaksa volume darah dalam jumlah besar masuk ke dalam sirkulasi (Laros, 2007). Peningkatan isi sekuncup yang disebabkan oleh kehamilan berlanjut sampai 48 jam setelah melahirkan, akibat peningkatan aliran balik vena yang disebabkan oleh hilangnya sirkulasi plasenta dan menurunnya aliran darah uterus. Kombinasi efek peningkatan aliran balik vena dan diuresis menyebabkan curah jantung 35% lebih besar pada masa awal post partum.
Dalam dua minggu setelah melahirkan, curah jantung menurun sampai sekitar 30% (Robson et al., 2007). Penurunan volume darah bertahap terjadi selama minggu kedua sampai minggu keempat post partum, yang memungkinkan curah jantung kembali ke kondisi sebelum hamil pada sekitar minggu ketiga post partum (Cunninghem et al., 2007).
3) Tanda-tanda Vital
Tekanan darah mengalami sedikit perubahan di bawah keadaan normal. Hipotensi ortostatik dapat terjadi dalam 48 jam pertama setelah melahirkan karena pembengkakan kelenjar limpa. Setelah melahirkan, sering kali terjadi bradikardi fisiologik sementara, yang berlangsung selama 24 sampai 48 jam, dengan frekuensi jantung 40 sampai 50 x/menit. Bradikardi ringan 50-70 x/menit dapat terus berlangsung selama 1 minggu. Frekuensi jantung kembali ke kondisi sebelum hamil sekitar 3 bulan pascapartum. Tanda-tanda vital setelah melahirkan:
a) Temperatur: satu jam pertama setelah melahirkan suhu naik 38˚C sebagai efek dehidrasi selama persalinan. Setelah 24 jam wanita yang melahirkan harusnya tidak demam.
b) Denyut nadi: frekuensi nadi setelah melahirkan 40-70 x/ menit. Kemudian mulai menurun dengan frekuensi yang tidak diketahui. Pada minggu ke 8 sampai dengan minggu ke 10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil.
c) Pernafasan: pernafasan harus berada dalam rentang normal sebelum melahirkan.
g. Sistem integumen
Hiperpigmentasi di stimulasi oleh hormon melanotrofin dari hipofisis anterior, yang meningkat pada kehamilan. Putting susu, areola, ketiak, dan vulva akan menjadi gelap pada minggu ke-16 kehamilan. Melasma di wajah disebut juga kloasma atau topeng kehamilan merupakan bercak hiperpigmentasi kecoklatan di kulit pipi, hidung, dan dahi, terutama pada wanita hamil berkulit gelap.
Linea nigra merupakan garis terpigmentasi dari simfisis pubis sampai ke atas fundus di garis tengah. Pemanjangan linea nigra, di mulai pada bulan ketiga, berjalan seiring dengan pertambahan tinggi fundus.
Striae gravidarum atau stretch mark terlihat di bagian bawah abdomen yang muncul pada 50-90% wanita hamil pada pertengahan kedua kehamilan dapat disebabkan oleh adrenokortikosteroid.
Angioma atau dikenal dengan vascular spider berukuran kecil/tipis, berbentuk bintang atau bercabang, sedikit menonjol dan berdenyut di akhir arteriola biasanya ditemukan di leher, dada, wajah, dan lengan.
h. Sistem neurologis
Setelah melahirkan adaptasi neurologis disebabkan kehamilan kembali semula. Rasa baal dan rasa seperti tersetrum pada jari-jari tangan, yang sering dialami oleh sekitar 5% wanita hamil akibatnya terjadi retraksi pleksus brakialis menghilang. Pengaruh endokrin pada fibrokartilago selama kehamilan secara bertahap kembali semula selama masa post partum. Relaksasi relatif dan meningkatnya pergerakan persendian panggul kembali ke stabilitas sebelum hamil pada sekitar minggu ke-6 sampai ke-8 setelah melahirkan. Kondisi ini sering kali meredakan nyeri punggung khas pada kehamilan, meskipun sumber tegangan baru karena menggendong bayi baru lahir dapat memperburuk pemulihan simtomatik.
i. Sistem muskuloskeletal
Pada periode post partum di perlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil. Terjadi pengembalian tonus otot bergantung kepada kondisi tonus sebelum hamil, latihan fisik yang tepat, dan jumlah jaringan lemak. Pada keadaan tertentu, dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan seperti bayi besar atau hamil kembar, otot-otot dinding abdomen memisah, suatu keadaan yang di sebut dengan diastatis rektus abdominalis.
3. Adaptasi Psikologis Post Partum
Ada 3 penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang tua. Fase-fase penyesuain internal ini ditandai oleh perilaku taking in, taking hold, dan letting go (Rubin, 2011), yaitu:
a. Fase Taking In
Fase Takin In (dependent) 1 – 2 hari. Pada fase ini, biasanya sangat tergantung dalam segala hal, termasuk kebutuhan dasar. Oleh karena itu, ibu selalu berfokus pada diri sendiri, ibu mungkin tidak berinisiatif untuk bertemu dengan bayinya. Ibu akan bercerita banyak tentang proses kelahirannya.
b. Fase Taking Hold
Fase Taking Hold (dependent – independent) 3 – 8 minggu. Pada fase ini, ibu mulai mencoba menerima dirinya sendiri dan melakukan peran mandirinya sebagai seorang ibu. Ibu mulai memikirkan pemberian ASI melalui payudaranya, eliminasi, dan merawat bayinya. Ibu akan berusaha untuk meningkatkan keahliannya dalam merawat bayinya, tetapi hal ini kadang sulit bagi ibu yang tidak merasa nyaman dan belum mampu.
c. Fase Letting Go
Fase Letting Go (independent) yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya sudah meningkat pada fase ini. Ibu akan percaya diri dalam menjalani peran barunya.
4. Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada Post Partum
Menurut Ledewig, dkk (2009) pemenuhan kebutuhan pada post partum adalah :
a. Nutrisi dan cairan
Ibu nifas perlu diet dengan gizi baik dan lengkap. Tujuan :
1) Membantu memulihkan kondisi fisik
2) Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi 3) Mencegah konstipasi
4) Memulai proses pemberian ASI eksklusif Ibu menyusui harus :
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dna vitamin yang cukup
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
d) Pil zat besi diminum selama 40 hari post partum
e) Minum kapsul vitamin A (200.000 unti) agar bayi juga mendapatkannya melalui ASI.
b. Ambulasi
Ibu yang melahirkan mungkin enggan banyak bergerak karena merasa lebih letih dan sakit. Ambulasi dini penting untuk mencegah thrombosis vena. Pada persalinan normal ambulasi dapat dilakukan setelah 2 jam post partum. Pada pasien dengan section caesarea ambulasi dilakukan 24 – 36 jam post partum.
Keuntngan ambulasi :
1) Melancarkan pengeluaran lokia 2) Faal usus dan kandung kemih lebh baik
3) Memungkinkan untuk ibu belajar merawat bayinya seperti: memandikan, ganti popok dan lain – lain
5) Sebagai pasien dapat melakukan ambulasi segera setelah efek obat – obatan yang diberikan saat melahirkan telah hilang
c. Eliminasi miksi
Miksi spontan normal terjadi pada 8 jam post partum
1) Anjurkan pasien berkemih 6 – 8 jam post partum dan setiap 4 jam setelahnya. Kandung kemih yang penuh mengganggu mobilitas, involus uterus dan pengeluaran lokia. Distensi kandung kemih yang berlebihan dalam waktu lama dapat merusak dinsing kandung kemih dan mengakibatkan atoni uteri.
2) Selama kehamilan terjadi peningkatan cairan extra seluler 50%. Setelah melahirkan dieminasi sebagai urine.
3) Pada pasien dengan persalinan lama dan dehidrasi, terdapat acetone dalam urine, ada saat laktasi dimulai mungkin terdapat lactose dalam urine.
4) Bila setelah 8 jam pasien tidak dapat BAK atau jumlahnya belum mencapai 200 cc dapat dilakukan katerisasi atau intervensi lain. 5) Penyebab retensio urine post partum:
(1) Tekanan intra abdominal berkurang (2) Otot – otot perut masih lemah (3) Oedem uretra
(4) Dinding kandung kemih kurang sensitive d. Defekasi
1) Jika lebih dari 3 hari pasien belum juga BAB maka perlu diberikan pencahar
2) BAB tertunda 2 – 3 hari post pasrtum masih dikatakan fisiologis e. Kebersihan diri
Tujuan: mengurangi/mencegah infeksi
1) Meningkatkan perasaan nyaman dan kesejahteraan 2) Nasihat yang diberikan:
a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk
membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Juga agar membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau air besar dan mengganti pembalut minimal 2x sehari.
c) Sarankan mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
f. Istirahat
1) Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
2) Sarankan ibu untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan – lahan dan tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur
3) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal: a) Mengurangi jumlah ASI
b) Memperlambat proses involus uterus dan memperbanyak perdarahan
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri
g. Perawatan payudara
1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama putting susu 2) Menggunakan BH yang menyongkong payudara
3) Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI sekitar putting susu setiap kali menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
4) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok
5) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam
6) Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan: a) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan
b) Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting c) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga
putting susu menjadi lunak
d) Susukan bayi setiap 2 – 3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI, sisanya keluarkan dengan tangan.
5. Konsep Anemia pada Ibu Post Partum
a. Pengertian
Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan (Tarwono., dkk, 2007). Sedangkan menurut Pratami (2016) anemia dalam kehamilan didefenisikan sebagai suatu kondisi ketika ibu memiliki kadar hemoglobin kurang dari 11,0 g/dl pada trimester I dan III, atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5 g/dl pada trimester II.
Anemia nifas didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 10 gr/dl, ini merupakan masalah yang umum dalam bidang kebidanan meskipun wanita hamil dengan kadar besi yang terjamin konsentrasi hemoglobin biasanya berkisar 11-12 gr/dl sebelum hamil (Siviana, 2012).