• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Formulasi Standar

Formula standar yang tercantum di Fornas : Komposisi : Tiap 500 ml mengandung : Glucosum 25 g

Aquq pro injection hingga 500 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal Catatan : - pH 3,5 – 6,5

- tidak boleh mengandung bakterisida

- Disterilkan dengan cara sterilisasi A segera setelah dibuat - Sediaan berkekuatan lain : 50 g; 100 g ; 125 g ; 250 g. Formula Standar yang tercantum di Martindale :

Larutan Dextrose 5 % diberikan secara intravena B. Formulasi Akhir yang akan dibuat

R/ Glukosa 5 % API ad 200 ml

Perhitungan Metode Kesetaraan NaCl : W1 = 5 / 100 x 200 ml = 10 g (glukosa)

Sediaan yang ingin dibuat = 200 ml + 10 % = 220 ml Penimbangan bahan (W2) = 220 / 200 x 10 g = 11 g Ekivalen glukosa = 0,16

V = W2 x E

= 11 x 0,16 = 1,76 g

NaCl fisiologis = 0,9 % / 100 x 220 ml = 1,98 Jadi NaCl yang ditambahkan = 1,98 – 1,76 = 0,22 g Perhitungan Metode White Vincent:

W1 = 5 / 100 x 200 ml = 10 g (glukosa)

Sediaan yang ingin dibuat = 200 ml + 10 % = 220 ml Penimbangan bahan (W2) = 220 / 200 x 10 g = 11 g Ekivalen glukosa = 0,16

V = W2 x E x 111,1 = 11 x 0,16 x 111,1

= 195,536 ml ( hipotonis karena < 220 ml, maka harus ditambahkan NaCl) Ekivalen NaCl = 1

Jadi NaCl yang ditambahkan = 220 ml – 195,536 ml = 0,220 g 1 x 111,1

Alat-alat yang digunakan :

Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi Beacker glass 1 Oven 170oC, 30 menit Erlenmeyer 2 Oven 170oC, 30 menit

Corong gelas dan kertas saring 2 Autoklaf, 30 menit Batang pengaduk 1 Oven 170oC, 30 menit

Kaca arloji 4 Oven 170oC, 30 menit

Gelas ukur 1 Autoklaf (115 - 116oC), 30 menit Pipet tetes tanpa karet 1 Autoklaf, 30 menit Karet pipet 1 Rebus, 30 menit

Pinset logam 1 Oven, 30 menit Botol infus 3 Oven 250oC, 30 menit

Cara Pembuatan ( sterilisasi akhir ) :

1. Membersihkan peralatan yang akan digunakan.

2. Membuat API dengan cara : Auadest di didihkan di dalam elenmeyer tertutup selama 30 menit terhitung sejak mulai mendidih.

3. Glukosa dan NaCl masing-masing ditimbang dengan menggunakan kaca arloji sesuai dengan perhitungan.

4. Bahan yang telah ditimbang, dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah dikalibrasi 220 ml. 5. API dituangkan untuk melarutkan zat dan membilas kaca arloji sampai tanda kalibrasi

tercapai.

6. Carbon aktif ditimbang 0,1% (220 mg), kemudian masukkan ke dalam larutan. Beaker glass ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk.

7. Hangatkan larutan pada suhu 50-70° C selama 15 menit sambil sesekali di aduk, lalu di cek pH.

8. Kertas saring ganda yang terlipat dibasahi terlebih dahulu dengan air bebas pirogen. 9. Pindahkan corong dan kertas saring ke elenmeyer steril bebas pirogen.

10. Larutan kemudian disaring hangat-hangat ke dalam elenmeyer. 11. Larutan zat dipindahkan ke gelas ukur sampai volume tepat 200 ml

12. Botol infus dibilas terlebih dahulu dengan sedikit sisa larutan ± 2 ml kemudian diisikan langsung ke dalam botol infus 200 ml.

13. Pasang tutup karet botol infus steril lalu ikat dengan simpul champagne.

14. Sterilkan botol infus yang berisi larutan dalam autoclaf suhu 115-116°C selama 30 menit. Kemudian diberi etiket yang sesuai.

C. Etiket

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, kami melakukan praktikum pembuatan sediaan steril berupa sediaan infus dengan bahan aktif berupa glukosa yang dibuat dengan sterilisasi akhir. Tujuan suatu sediaan dibuat steril, karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relative steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril. Dan infus merupakan sediaan yang perlu disterilkan dan harus bebas dari pirogen.

Sifat glukosa yang stabil pada pH 3,5 – 6,5 dan tahan terhadap pemanasan merupakan alasan di gunakannya metode sterilisasi akhir dalam pembuatan infus glukosa. Sehingga semua peralatan yang akan digunakan tidak harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Serta karena sediaan infus digunakan secara intravena, maka sediaan infus harus isotonis, isohidri dan harus bebas dari pirogen. Oleh karena itu, perlu ditambahkan NaCl 0,9% sebagai tonicity agent dan carbon aktif 0,1% untuk membebaskan sediaan dari pirogen.

Cara pembuatan infus ada 3 cara, yaitu :

1. Bahan aktif dilarutkan dengan Aqua pro injection (API) sampai volume yang dikehendaki (sampai tanda kalibrasi), lalu ditambahkan 0,1% carbon aktif kemudian dihangatkan 50-70°C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Lalu sediaan disaring dan di ad kan dengan air bebas pirogen.

2. Bahan aktif dilarutkan dengan air bebas pirogen sampai volume yang dikehendaki (sampai tanda batas).

3. Bahan aktif dilarutkan dengan air bebas pirogen sampai volume yang dikehendaki (sampai tanda batas). Kemudian sediaan ini dibebas pirogenkan kembali dengan cara menambahkan 0,1% carbon aktif kemudian dihangatkan 50-70°C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Lalu sediaan disaring dan di ad kan dengan air bebas pirogen.

Pada pembuatan infus glukosa ini, kami memilih menggunakan cara pembuatan infus yang kedua (tidak sesuai dengan cara pembuatan waktu responsi sebelumnya) yaitu dengan

dan lebih praktis. Sehingga sediaan tidak perlu lagi dilakukan pembebasan pirogen. Serta kami tidak melakukan pengukuran pH, dikarena tidak tersedianya pH indicator di lab (di dispensasi). Kemudian botol infus ditutup dengan menggunakan tutup karet botol infus lalu diikat dengan simpul champagne yang bertujuan agar tutup karet tidak lepas ketika dilakukan sterilisasi akhir dengan autoclaf 115-116°C selama 30 menit.

KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini, kami berhasil membuat sediaan steril berupa sediaan infus glukosa yang dibuat dengan sterilisasi akhir dan dengan menggunakan zat-zat tambahan, yang terdiri atas NaCl sebagai toncity agent dan menggunakan air bebas pirogen sebagai pelarut. Masing-masing bahan tambahan tersebut mempunyai fungsi yang dapat membuat sediaan infus menjadi isotonis dan bebas dari pirogen yang merupakan persyaratan sediaan infus, sehingga infus aman

digunakan secara intravena.

DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia Edisi ketiga. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Formularium Nasional Edisi Kedua. 1978. Departemen Kesehatan Repiblik Indonesia.

Wade, Ainley and Paul J.Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second edition. London : The Pharmaceutical Press

Direction of the Council of The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia Twenty eight Edition. London : The Pharmaceutical Press.

Search

selayang pandang blog ku

sebuah catatan perjalanan kuliahku yang bersumber dari dosen2ku yang kutuangkan ke blog ini...mungkin dapat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin membaca,melihat dan lain

sebagainya..buat semesta..

About Me

RAMA HADI PUTRA

♥♫♥♫♥♫♥♥Klaten♥♫♥♫♥♫♥♥, ♥♫♥♫♥♫♥♥Jawa Tengah♥♫♥♫♥♫♥♥, Indonesia maju terus perawat indonesia....

Lihat profil lengkapku

Labels

Ads not by this site

 ARTIKEL (3)

 BIOKIMIA (1)

 FARMAKOLOGI (4)

 KEPERAWATAN ANAK (13)

 KEPERAWATAN GAWAT DARURAT (6)

 KEPERAWATAN GERONTIK (1)

 KEPERAWATAN JIWA (1)

 KEPERAWATAN KELUARGA (1)

 KEPERAWATAN MATERNITAS (2)

 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (29)

 KOMUNIKASI KEPERAWATAN (1)

 KONSEP DASAR KEPERAWATAN (1)

 nama rumah sakit (2)

artikel keperawatan medikal bedah terbaru

Ads not by this site

unik dan menarik

Ads not by this site

*unik dan menarik*

* apa yang disukai pria dari wanita * puisi cinta abadi

* hal-hal yang membuat pria suka wanita * 10 kemajuan teknologi yang akan datang * temuan aneh dan menggemparkan dunia * situs- situs yang sebaiknya anda jauhi!!!! * Just for my preety little angel

* perempuan tertarik pada seorang lelaki??karena apa * tidak mendapatkan gaji pramugari protes

* kemunculan sebuah piramid raksasa melintas di udara...

kisah religi

jangan klik kalau enggak tertarik mengenai kisah religi islam *kisah religi* # Ketabahan Iman Zunairah Terhadap Allah

# Khalifah Umar Abdul Aziz Hidup Sederhana # Khalifah Gila?

# Ketabahan Iman Zunairah Terhadap Allah # Keramat Seorang Wanita

# Kelebihan Huzaifah Al-Yamani # Keledai Yang Berjasa

# Kecantikan Rasulullah s.a.w. sebagai Insan Teragung... # Keberanian Rasulullah s.a.w.

# Keadaan Manusia Di Padang Mahsyar # Janggut Nabi Harun Berwarna Dua # Isteri Yang Taat Kepada Suami # Iblis Ingin Bertaubat

# Hari Sabtunya Orang Yahudi # Hamba Yang Banyak Celanya # Hamba Yang Ajaib

# Hadiah Dari Neraka

# Gabernor Dan Wanita Jelata # Fadhilat Majlis Zikir

# Dialog Ramadhan Di Hadapan Allah # Dialog Iblis Dengan Rasulullah s.a.w.

# Dialog Allah Dan Iblis - Mengenai Tempat Tinggal

# Dialog Abu Hanifah Dengan Ilmuan Kafir Tentang Ketuhanan

Blog Archive

 ▼ 2010 (68) o ► Juni (3) o ► Mei (16) o ▼ April (10)  ▼ Apr 09 (3)

 Cara kerja Otoklaf dan LAF  FORMULA INFUS

 MACAM-MACAM CAIRAN INFUS BESERTA FUNGSINYA  ► Apr 07 (1)  ► Apr 02 (5)  ► Apr 01 (1) o ► Maret (1) o ► Februari (17) o ► Januari (21)  ► 2009 (3)

cari melalui kategori

ARTIKELBIOKIMIAFARMAKOLOGIKEPERAWATAN ANAKKEPERAWATAN GAWAT DARURATKEPERAWATAN GERONTIKKEPERAWATAN JIWAKEPERAWATAN

KELUARGAKEPERAWATAN MATERNITASKEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH KOMUNIKASI KEPERAWATANKONSEP DASAR KEPERAWATAN

terjemahkan disini

Translation

Gadgets powered by Google

selamat datang

KAMUS

translete this blog (choose any language)

by : BTF

link institusi keperawatan Indonesia

1. FAK.KEP.UI 2. PPNI JATENG 3. PPNI PUSAT 4. PSIK UGM 5. PSIK UNAIR 6. PSIK UNDIP

link rumah sakit di jawa

1. NAMA/ALAMAT RS SE-JABAR 2. NAMA/ALAMAT RS SE-JATENG 3. NAMA/ALAMAT RS SE-JATIM

link keperawatan Mancanegara

1. BMJ

2. ICN 3. NANDA

live traffic map, feed and page popularity

Recent Visitors

Popular Pages Today

1. ..Nursing For Universe..: MACAM-MACAM CAIRAN INFUS BESERTA FUNGSINYA 81.62%

2. ..Nursing For Universe..: ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MULTIPEL FRAKTUR3.37%

3. ..Nursing For Universe..: ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KEMOTERAPI2.66% 4. ..Nursing For Universe..: ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

PNEUMONIA 2.23%

5. ..Nursing For Universe..: Askep Klien PPOM (COPD) / PPOK 1.94%

6. ..Nursing For Universe..: ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERSALINAN PRETERM 1.94%

7. ..Nursing For Universe..: ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ANAK DENGAN FEBRIS DEMAM1.65%

8. ..Nursing For Universe..: WSD ( Water Seal Drainage )1.58%

9. ..Nursing For Universe..: PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN ULAR1.51% 10. ..Nursing For Universe..: FARMAKOLOGI OBAT 1.51%

link teman-teman

 T A B L O I D N E R S

MACAM-MACAM CAIRAN INFUS BESERTA FUNGSINYA

Jumat, April 09, 2010

INFUS

Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan

penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba. ( Lachman, hal 1254 ).

Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk

mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain.

Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.

Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk

meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

Persyaratan

1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia.

2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.

3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak menentukan adalah:

b) bebas pirogen

c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral d) isotonis

e) isohidris

f) bebas bahan melayang

Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan

Pembahasan:

Infus tidak perlu pengawetkarena volume sediaan besa. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis

INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT

Dalam percobaan ini akan dibuat sediaan infus intravena kalsium glukonat yang merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan adalah 200 mg/menit. Farmakologi :

Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan kesempurnaan fungsi susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel. Kalsium adalah aktivator yang penting pada beberapa reaksi enzimatis dan berperan dalam proses fisiologi yang mencakup transmisi rangsangan oleh saraf, kontraksi jantung, otot polos dan otot rangka, fungsi renal, pernafasan dan koagulasi darah. Kalsium juga berperan dalam reaksi pelepasan dan penyimpanan

neurotransmiter dan hormon, pengambilan dan pengikatan asam amino, absorbsi vitamin B12 dan sekresi asam lambung.

Farmakokinetik :

Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam pembuluh darah. Setelah diinjeksi, kalsium darah meningkat dengan cepat dan kembali turun dalam 30 menit sampai 2 jam, terdistribusi cepat dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine.

INFUS IV DEKSTRAN

menyeimbangkannya kembali. Jika kehilangannya lebih besar, harus disuplai cairan pengganti darah untuk mengisi plasma melalui jalan infus ke dalam tubuh. Hal tersebut dibutuhkan juga pada syok perdarahan, akibat luka (kebakaran, luka dalam) pada sakit perut atau muntah yang berkepanjangan.

Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga airnya terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti plasma adalah berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan dengan larutan NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal

INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI

Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang menyimpang, yaitu :

1. Asidosis

Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih. 2. Alkalosis

Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih

Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi, kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. (Formulasi Steril, Stefanus Lukas, hal. 62)

Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnnya air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotic cairan tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup (Dorlan ed. 26, hal. 498)

Pada pasien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektrolit akut, sehingga harus segera diberikan ion-ion Ca2+, Na+, K+, Ce- dan HCO3-, dan sebagai sumber kalori dimana pengganti cairan dan kalori dibutuhkan, karena ion-ion tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektrolit tubuh pada ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel baik plasma darah maupun cairan intrsel mengandung ion natrium dan klorida dalam jumlah yang besar, ion bilarbonat dalam jumlah yang agak besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion kalium, magnesium phospat, sulfat, dan asam organic.disamping itu plasma mengandung protein dalam jumlah yang besar, sedangkan cairan intrasel hanya mengandung protein dalm jumlah protein yang leih kecil.

Cairan intasel hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi ia mengandung ion kalium dan phospat dalam jumlah besar serta ion magnesium dan sulfat dalam jumlah cukup besar, semuanya hanya ada dalam konsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel.

Bahan-bahan yang digunakan (NaCl, KCl, NaHCO3, CaCl2) mudah larut dalam air, sehingga dapat digunakan air sebagai pembawanya. Air yang digunakan harus bebas pirogen. Pirogen merupakan produk metabolisme m.o (umumnya bakteri, kapang dan virus). Secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi bisa juga peptide.

Pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan

absorbsi menggunakan absorban pilihan. (Lachman, hal. 1295-1296). Ion-ion ini diberikan dalam bentuk injeksi iv karena diharapkan dapat segera memberikan efek.

INFUS IV GLUKOSA NaCl / GLUKOSA 10%

Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori. Dosis glukosa adalah 2,5-11,5 % (Martindale), pada umumnya digunakan 5 %. Dalam formula ini ditambahkan NaCl supaya diapat larutan yang isotonis, dimana glukosa disini bersifat hipotonis. Dalam pembuatan aqua p.i ditambahkan H2O2 yang dimaksudkan untuk menghilangkan pirogen, serta di dalam pembuatan formula ini ditambahkan norit untuk menghilangkan kelebihan H2O2.

INFUS IV MENGANDUNG Na, Ca, K

Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel. Natrium klorida (NaCl), natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya. Sering digunakan dalam infus dengan elektrolit lain.

Equvalent elektrolit (Steril Dosage Form, hal 250) : Na+ = 135 mEq

K+ = 5 mEq Ca+ = 5 mEq Mg+ = 2 mEq

1g NaCl ~ 17,1 mEq Na+ E1 = 1,00 1g KCl ~ 13,4 mEq K+ E1 = 0,76 1g CaCl ~ 13,6 mEq Ca+ E1 = 0,51 1g MgCl ~ 9,8 mEq Mg+ E1 = 0,45 INFUS IV NaCl

Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial ( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf.

Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual, muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan dan perut.

Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan garam fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain.

INFUS IV PENGGANTI CAIRAN TUBUH

Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan tubuh. Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :

1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium dan fosfat dalam jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah cukup besar.

2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam jumlah besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion Kalium, Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat,dan asam-asam organik (Guyton hal 309).

Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.

Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar

belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse pengganti cairan tubuh yaitu infuse Ringers.

Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh (Ansel hal 408).

INFUS IV PROTEIN UNTUK DBD

Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna. Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk persiapan bedah pada penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi dan kelainan saluran cerna berat. Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino; glukosa; lemak; elektrolit; dan vitamin. Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin diperlukan insulin.

Glukosa dengan ragam kekuatan 10 – 50 % harus di infus melalui kateter vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk pembuluh darah).

Jumlah volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang umumnya diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan terus menerus. Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat sesuai dengan kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit.

Untuk Infus, intravena jarum/kateter biasanya ditusukkan divena yang menonjol di lengan atau kaki dan diikat erat di tempat tersebut sehingga tidak akan bergeser dari tempat selama diinfus. Bahaya utama infus intravena ialah kemungkinan terbentuknya trombus akibat rangsang tusukan jarum pada dinding vena.

Trombus akan lebih mungkin terjadi bila larutan infus bersifat mengiritasi jaringan tubuh. Trombus adalah gumpalan darah yang terbentuk dalam pembuluh darah (atau jantung) yang umumnya disebabkan oleh melambatnya aliran atau perubahan darah atau pembuluh darah. Bila gumpalan darah itu beredar maka gumpalan tersebut menjadi embolus, dibawa oleh aliran darah sampai tersangkut di pembuluh darah, menghalangi dan mengakibatkan hambatan atau sumbatan yang disebut emboli. Suatu hambatan dapat sangat berbahaya tergantung pada tempat dan keparahan hambatan tersebut. Obat-obat yang diberikan lewat intravena biasanya harus berupa

Dokumen terkait