• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini diisi dengan hasil kinerja Kemenparekraf/Baparekraf pada tahun 2020 dan memberi masukan atas rencana kerja Kemenparekraf/Baparekraf di tahun 2021

ii | P a g e

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

2.1 RENCANA STRATEGIS

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 113/P Tahun 2019 tentang Pembentukan Kementerian Negara dan Pengangkatan Menteri Negara Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024. Tugas dan fungsi Kemenparekraf diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 96 tahun 2019 tentang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sementara itu, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) dibentuk melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2019 Tentang Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Baparekraf merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Capaian sektor pariwisata nasional pada periode 2015-2019 mengalami pertumbuhan secara konsisten dan signifikan walaupun sempat terjadi penurunan pada tahun 2016. Capaian kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional terus meningkat dan mencapai target, sehingga pariwisata sebagai

ii | P a g e

leading sector tercatat menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang devisa setelah industri kelapa sawit. Adapun terkait capaian Ekonomi Kreatif tahun 2019, Sasaran Strategis Penyerapan Tenaga Kerja dan Nilai Ekspor Produk Kreatif telah mencapai target, namun untuk Pertumbuhan PDB Ekonomi Kreatif belum tercapai dari target yang ditetapkan.

Berdasarkan arahan Presiden Republik Indonesia, maka Kementerian/Lembaga hanya memiliki 1 (satu) Visi, yaitu Visi Presiden Republik Indonesia. Hal ini berarti bahwa Visi Kemenparekraf/Baparekraf harus selaras dengan Visi Presiden Republik Indonesia. Sehingga visi Kemenparekraf/ Baparekraf tahun 2020-2024 adalah:

Visi Kemenparekraf/Baparekraf ini mengandung 9 (sembilan) kata kunci utama, yaitu :

Dalam konteks pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif,

“PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF INDONESIA YANG MAJU, BERDAYA SAING, BERKELANJUTAN SERTA MENGEDEPANKAN KEARIFAN LOKAL DALAM MEWUJUDKAN INDONESIA MAJU YANG BERDAULAT, MANDIRI DAN BERKEPRIBADIAN BERLANDASKAN GOTONG ROYONG”

ii | P a g e

Kemenparekraf/Baparekraf berkontribusi secara langsung terhadap misi nomor 2 (dua), yaitu struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing. Selain itu, Kemenparekraf/Baparekraf juga berkontribusi tidak langsung terhadap misi Presiden RI nomor 1 dan 8. Pada misi nomor 1 yaitu Peningkatan kualitas manusia Indonesia melalui peningkatan SDM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mewujudkan SDM yang Unggul dan Berdaya Saing. Sedangkan misi nomor 8 (delapan), yaitu Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya melalui pelaksanaan Reformasi Birokrasi dengan mengoptimalkan pelaksanaan 8 (delapan) area perubahan Reformasi Birokrasi Kemenparekraf/

Baparekraf. Berdasarkan visi dan misi Presiden Republik Indonesia yang secara otomatis menjadi visi dan misi Kemenparekraf/ Baparekraf khususnya bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, maka ditentukan tujuan strategis (strategic goals) Kemenparekraf/Baparekraf. Tujuan Kemenparekraf/ Baparekraf tahun 2020-2024 adalah “Meningkatnya kontribusi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terhadap ketahanan ekonomi nasional”. Pencapaian tujuan ini diukur melalui 3 (tiga) indikator, yaitu: (1) Nilai devisa pariwisata; (2) Kontribusi PDB Pariwisata;

dan (3) Nilai ekspor produk ekonomi kreatif.

Sasaran strategis Kemenparekraf/Baparekraf merupakan uraian dari tujuan strategis yang sekaligus merupakan pemetaan dari strategi Kemenparekraf/Baparekraf dalam melaksanakan Misi nomor 2 (dua) untuk mewujudkan Visi Presiden tahun 2020-2024. Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 11 sasaran strategis yang dipetakan kedalam 4 (empat) perspektif Balance Score Card (BSC).

Pada perspektif stakeholders, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 1 (satu) sasaran strategis yaitu: “Meningkatnya kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap ketahanan ekonomi”. Pada perspektif customer, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 6 (enam) sasaran strategis yaitu: (1)

“Meningkatnya nilai tambah ekonomi kreatif nasional”; (2) “Meningkatnya kualitas dan jumlah wisatawan”; (3) “Meningkatnya daya saing destinasi dan industri pariwisata nasional”; (4) “Tersedianya produk pariwisata sesuai kebutuhan”; (5) “Bertumbuhnya investasi dan akses pembiayaan serta meningkatnya kemampuan industri sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional”; dan (6) “Terlindunginya kekayaan intelektual bidang pariwisata dan ekonomi kreatif”. Pada perspektif internal process, Kemenparekraf/Baparekraf

ii | P a g e

memiliki 3 (tiga) sasaran strategis yaitu: (1) “Terselenggaranya regulasi pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kajian”; (2) “Tersedianya data dan informasi hasil kajian sesuai kebutuhan pariwisata dan ekonomi kreatif”; dan (3)

“Meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM kepariwisataan dan ekonomi kreatif”.

Pada perspektif learn and growth, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 1 (satu) sasaran strategis yaitu “Terwujudnya reformasi birokrasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menuju birokrasi yang profesional”.

2.2 INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

Dalam mewujudkan arah kebijakan nasional yang tertuang dalam RPJMN, Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dituangkan dalam sasaran strategis sebagai berikut:

Gambar 2. 1 Indikator Kinerja Utama (IKU) Kemenparekraf / Baparekraf Tahun 2020

ii | P a g e

Sasaran Strategis tersebut dibentuk dalam indikator kinerja utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai berikut

Tabel 2. 1 Target dan Sasaran RPJMN Kemenparekraf / Baparekraf Tahun 2020-2024

ii | P a g e

ii | P a g e

2.3 TARGET KINERJA

Tahun 2020 diawali dengan bencana non-alam pandemi COVID-19 yang di seluruh dunia yang mengakibatkan lockdown di sebagian besar negaranegara.

UNWTO mencatat bahwa dari 217 (dua ratus tujuh belas) global destinations di seluruh dunia, semuanya melakukan travel restriction untuk wisatawan internasional untuk mengurangi tingkat penyebaran corona virus. Hal ini menyebabkan tingkat kunjungan wisatawan menurun signifikan dan industri

ii | P a g e

penerbangan mengalami penurunan drastis di seluruh dunia. Selain itu, pandemi COVID-19 juga menyebabkan krisis ekonomi yang mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat. Sesuai dengan kondisi eksternal tersebut, Kemenparekraf/Baparekraf menyesuaikan kembali target yang sudah ditetapkan dalam RPJMN.

Target kinerja Kemenparekraf/Baparekraf seperti yang telah digambarkan pada matriks sebelumnya dengan Sasaran Strategis (SS) dan Indikator Sasaran Strategis (IKSS) yang menjadi ukuran pencapaian setiap sasaran strategis Kemenparekraf/Baparekraf. Terdapat 11 (sebelas) Sasaran Strategis (SS) dan 19 (sembilan belas) Indikator Kinerja Sasaran Strategis yang menjadi target kinerja Kemenparekraf/Baparekraf.

2.4 PRIORITAS NASIONAL TAHUN 2020

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selalu menyelaraskan program kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan juga Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2020 yang bertema :

“Peningkatan Sumber Daya Manusia untuk Pertumbuhan Berkualitas”. Sektor Pariwisata dan EKonomi Kreatif, mendukung Program Prioritas Nasional (PN) ke-3, yaitu Peningkatan Nilai Tambah Sektor Riil, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. Prioritas Nasional dimaksud diperkuat dan difokuskan pada Program Prioritas (PP) antara lain:

PP.1 : Penguatan Kewirausahaan dan UMKM

PP.2 : Peningkatan nilai tambah, lapangan kerja dan Investasi di Sektor Rill dan Industrialisasi

PP.4 : Peningkatan nilai Ekspor Bernilai Tambah Tinggi dan Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

PP.5 : Penguatan Pilar Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi

ii | P a g e

2.5 SASARAN STAREGIS, INDIKATOR KINERJA UTAMA, DAN PRIORITAS NASIONAL TAHUN 2020

Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 11 (sebelas) Sasaran Strategis yang terdiri dari 19 (sembilan belas) indikator kinerja sasaran strategis (IKSS), yang dipetakan ke dalam 4 (empat) perspektif Balance Score Card (BSC). Perspektif Pertama yaitu stakeholder; perspektif kedua yaitu customer; perspektif ketiga internal process; dan perspektif keempat learning & growth. Berikut adalah 4 (empat) perspektif tersebut, yaitu:

1. Perspektif pertama yaitu stakeholder, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 1 (satu) Sasaran Strategis yaitu "Meningkatnya Kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap ketahanan ekonomi". Capaian Strategis ini diukur oleh 3 (tiga) indikator kinerja sasaran strategis.

2. Perspektif kedua yaitu customer, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 6 (enam) Sasaran Strategis yaitu "Meningkatnya nilai tambah ekonomi kreatif",

"meningkatnya kualitas dan jumlah wisatawan", "meningkatnya daya saing destinasi dan industri pariwisata nasional", "tersedianya produk pariwisata sesuai kebutuhan", " bertumbuhnya investasi dan akses pembiayaan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional", dan " terlindunginya kekayaan intelektual bidang pariwisata dan ekonomi kreatif . Capaian Strategis ini diukur oleh 10 (sepuluh) indikator kinerja sasaran strategis.

3. Perspektif ketiga yaitu internal process, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 3 (tiga) Sasaran Strategis yaitu "terselenggaranya regulasi pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kajian", " tersedianya data dan informasi hasil kajian sesuai kebutuhan pariwisata dan ekonomi kreatif", dan "meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM kepariwisataan dan ekonmi kreatif". Capaian Strategis ini diukur oleh 5 (lima) indikator kinerja sasaran strategis.

4. Perspektif empat yaitu learning & growth, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 1 (satu) Sasaran Strategis yaitu "terwujudnya reformasi birokrasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menuju birokrasi yang profesional". Capaian Strategis ini diukur oleh 1 (satu) indikator kinerja sasaran strategis.

ii | P a g e Tabel 2. 2 Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Kemenparekraf / Baparekraf Tahun 2020

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target

1 Meningkatnya

3 Nilai Ekspor Produk Ekonomi Kreatif

Miliar USD 16,9

2 Meningkatnya nilai tambah ekonomi kreatif nasional

4 Nilai Tambah Ekonomi Kreatif Rp Triliun 1157

3 Meningkatnya kualitas dan jumlah wisatawan

5 Jumlah Wisatawan Mancanegara (Wisman)

Juta Orang 2,8-4,0

6 Jumlah Spending Wisman USD

1166,67-1213,87 7 Jumlah Pergerakan Wisatawan

Nusantara (Wisnus)

8 Peringkat Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI)

Peringkat n.a.

5 Tersedianya produk pariwisata sesuai kebutuhan

9 Jumlah Produk Pariwisata Nasional

10 Rasio Usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang

Terstandarisasi dan Tersertifikasi

% 1

11 Jumlah Investasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

USD 2 milyar

12 Rasio Usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang Mendapat

13 Jumlah Produk/Jasa Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

14 Indeks Regulasi berbasis Kajian terkait Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Indeks 0,25

9 Tersedianya data dan informasi hasil kajian sesuai kebutuhan pariwisata dan ekonomi kreatif

15 Jumlah Hasil Kajian Parekraf yang Dimanfaatkan/Diproduksi

16 Jumlah Tenaga Kerja Pariwisata Juta 10 17 Jumlah Tenaga Kerja Ekonomi

Kreatif

Juta 17,25

18 Jumlah Lulusan Perguruan Tinggi Vokasi Pariwisata

19 Nilai RB Kemenparekraf (Baseline nilai 2019: 76,40)

Nilai 80,00

ii | P a g e

2.6 PERJANJIAN KINERJA DAN ANGGARAN TAHUN 2020

Perjanjian kinerja adalah lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Berdasarkan rencana kinerja Kemenparekraf/Baparekraf yang telah ditetapkan sebagai wujud komitmen pimpinan dalam pencapaian sasaran strategis maka dituangkan kedalam bentuk perjanjian kinerja dan anggaran yang ditandatangani oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai berikut:

Gambar 2.5 Perjanjian Kinerja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2020

Target kinerja tersebut dilaksanakan dengan anggaran sebagai berikut:

Tabel 2. 5 Anggaran Kemenparekraf / Baparekraf Tahun 2020

ii | P a g e

No Program Anggaran

1 Program Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif 1.912.758.324.000 2 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan

Tugas Teknis Lainnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

696.921.239.000

3 Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi 712.077.898.000 4 Pemulihan Ekonomi Nasional I: Pemulihan Sektor

Pariwisata (BA BUN)

362.683.144.000

Total 3.684.440.605.000

ii | P a g e

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 KONDISI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF PADA MASA PANDEMI COVID-19 pertama kali dilaporkan oleh China pada tanggal 31 Desember 2019, dimana pada awalnya kasus pertama ditemukan di Wuhan (Provinsi Hubei, China) kemudian terus menyebar hingga saat ini tidak terkecuali Indonesia.

Kasus pertama di Indonesia yang diumumkan secara resmi yaitu pada tanggal 2 Maret 2020 dimana terdapat 2 (dua) warga negara Indonesia yang positif COVID-19 akibat kontak langsung dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia. Di Indonesia sendiri angka kasus COVID-19 ini terus melonjak dari hari ke hari sampai dengan sekarang. Saat ini, dunia menghadapi situasi darurat pandemi kesehatan secara global yang tidak diketahui dengan dampak yang sangat berpengaruh terhadap pendapatan dan mata pencaharian masyarakat.

Salah satu yang mendapat pengaruh besar dari krisis adalah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dalam menghadapi keadaan tersebut, kita dapat belajar dari militer (Stiehm & Townsend, 2002), yang sebelumnya telah mengembangkan kerangka strategis baru yang dikenal sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). VUCA dirancang untuk membangun rasa keteraturan dan arah saat beroperasi di lingkungan dengan

ii | P a g e

perubahan cepat dan peristiwa yang tidak dapat diprediksi. Kerangka kerja VUCA dapat membantu untuk menyusun rencana dalam mengatasi rasa kecewa karena kegagalan dan tantangan dengan bermuara pada dua pertanyaan yaitu seberapa banyak mengetahui situasi saat ini dan bagaimana cara memprediksi hasil dari Tindakan yang dipilih (Bennett dan Lemoine, 2014).

Konsep VUCA dalam sektor Industri pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai cocok menggambarkan situasi untuk membangun kesadaran dan kesiapan berdasarkan:

1. Volatility, yaitu situasi yang sangat rentan, tidak menentu dengan perubahan yang cepat dan dinamis.

2. Uncertainty, yaitu tingkat perubahan yang cepat meyebabkan ketidakpastian.

3. Complexity, dimana berbagai isu yang saling tumpang tindih dan kompleks menimbulkan chaos/burnout.

4. Ambiguity, yaitu situasi ambigu Ketika realitas terlihat samar dan sulit diartikan.

Gambar 3. 1 Kerangka Kerja VUCA

Kondisi VUCA juga muncul sebagai dampak dari kondisi tidak terduga seperti bencana alam (disaster), pandemi (non-disaster), dan politik. Sejak akhir tahun 2019, seperti yang telah diketahui bahwa dunia sedang dihadapkan pada kondisi

ii | P a g e

Pandemi COVID-19. COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019 (WHO, 2020). Penyebaran COVID-19 secara global tentu membawa dampak buruk bagi perekonomian global termasuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kondisi pariwisata dunia saat ini mengalami tantangan yang besar sekali setelah pandemi COVID-19, dimana UNWTO (United Nation World Tourism Organization) memperkirakan penurunan yang sangat drastis dari kondisi pandemi ini, yaitu sekitar 30%-40%, dimana angka tersebut diperkirakan sekitar USD 450 Miliar (UNWTO, 2020). Hal ini dikarenakan banyak negara yang mengambil kebijakan untuk mengatasi penyebaran COVID-19 dengan cara melakukan karantina wilayah, penutupan akses masuk dan keluar suatu wilayah, larangan bepergian dan juga larangan dalam melakukan travel terhadap warganya. Dampak dari pandemi COVID-19 juga diperkirakan memberikan magnitude yang jauh lebih besar dibandingkan krisis-krisis yang dialami dunia selama 30 tahun terakhir, seperti pandemi SARS dan juga krisis ekonomi di tahun 2009.

Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sangat rentan terhadap perubahan terkait dengan pandemi, sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 3. 1 Dampak Pandemi COVID-19

Dampak dari Pandemi COVID-19 pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ditemukan melalui survey mendalam terhadap 143 (seratus empat puluh tiga)

ii | P a g e

pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Dari hasil survey tersebut ditemui dampak dari pandemi adalah sebagai berikut:

Sektor pariwisata:

Sektor Ekonomi Kreatif:

Kerugian ini disebabkan oleh pengetatan protokol kesehatan yang menyebabkan aturan dan kebijakan-kebijakan dalam menangani pandemi, sehinggu usaha parekraf tidak dapat berjalan optimal (pengurangan jam operasional, batasan penggunaan ruang, batasan pengunjung dan peningkatan biaya operasional dengan penggunaan protokol COVID-19). Dampak COVID-19 (risiko kesehatan) berpengaruh terhadap kerugian finansial (35,6%), efisiensi operasional (32,3%), dan gangguan pelayanan (32,1%). Sehingga jika dilihat dampak COVID-19 pada dunia parekraf memang menghantam telak pada jenis usaha pada seluruh subsektor dengan karakteristiknya masing-masing. Di tahun 2020, Kemenparekraf/Baparekraf berupaya mengurangi dampak tersebut melalui

ii | P a g e

program kerja yang dilaksanakan oleh seluruh eselon I / Deputi, sesuai dengan laporan yang kami susun di bawah ini.

3.2 CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Proyeksi UNWTO yang dituangkan dalam UNWTO’s Tourism 2020 Vision menunjukkan bahwa prospek perkembangan sektor pariwisata di masa depan sangat cerah dan menjanjikan karena pada tahun 2020 jumlah kunjungan wisatawan internasional diperkirakan akan mencapai lebih dari 1,56 milyar. Dari jumlah tersebut sebanyak 397 juta wisatawan (25%-nya) akan mengalir ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, maka Indonesia harus bersaing keras merebut pasar di dunia pariwisata internasional khususnya kawasan ASEAN, Australia dan Oceania. Namun pandemi COVID-19 yang muncul sejak akhir tahun 2019 memberikan pengaruh sangat besar terhadap sektor pariwisata.

Pandemi COVID-19 merupakan permasalahan global yang dihadapi oleh hampir seluruh negara – negara di dunia. Dampak dari virus corona yang muncul sejak akhir tahun 2019 lalu tidak hanya pada kesehatan saja, perekonomian berbagai negara pun turut terkena imbasnya. Sektor pariwisata mengalami penurunan yang luar biasa terutama turunnya angka kedatangan wisatawan mancanegara diseluruh dunia. Melemahnya sektor pariwisata akibat pandemi COVID-19 juga terjadi di Indonesia.

Pandemi COVID-19, tidak hanya berdampak pada sektor Pariwisata, namun berdampak pula pada sektor Ekonomi Kreatif selama tahun 2020. Hal ini dapat dirasakan dengan terjadinya penurunan tingkat hunian hotel, penurunan pendapatan Biro perjalanan dan jasa trensportasi, penurunan omzet makanan dan minuman, penurunan jumlah penonton bioskop, penurunan jumlah aktivitas pariwisata dan MICE, serta penurunan omzet pusat perbelanjaan. Sejumlah usaha pariwisata juga melakukan penutupan sementara dan permanen, pengurangan karyawan hingga PHK hingga kesulitan likuiditas (gagal bayar kredit investasi dan Modal Kerja). Diperkirakan 1,5 – 1,8 juta tenaga kerja langsung dan 3,85 juta tenaga kerja tidak langsung terkena dampaknya.

Berdasarkan hal tersebut di atas dan sasaran strategis pembangunan pariwisata dan ekonomi kretif 2020-2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi

ii | P a g e

Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menetapkan Indikator Kinerja Sasaran Stategis (IKSS) sebagai standar kinerja organisasi. IKSS tersebut digunakan sebagai ukuran keberhasilan/kegagalan dalam penyusunan, perencanaan, penganggaran kinerja, pengukuran kinerja dan evaluasi kinerja oleh masing-masing unit kerja di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Realisasi IKSS Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2020 juga dipengaruhi oleh pandemi COVID-19 dan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. 2 Sasaran Strategis dan Indikator KInerja Kemenparekraf / Baparekraf Tahun 2020 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran

Strategis (IKSS) Satuan 2020

Target Capaian %

1 Meningkatnya kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap

2 Meningkatnya nilai tambah ekonomi kreatif nasional

4 Nilai Tambah Ekonomi Kreatif

Rp Triliun 1157 1134,9* 98,089%

3 Meningkatnya kualitas dan jumlah wisatawan

Peringkat n.a. (dinilai dua tahunan, 2020 tidak

ada penilaian)

Na

5 Tersedianya produk pariwisata sesuai

19/100/100 17/109/65 89,47%/1 09%/65%

6 Bertumbuhnya investasi dan akses pembiayaan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional pariwisata dan ekonomi kreatif total usaha pariwisata dan ekonomi kreatif

% 1,80* 2,56% 142,22%

ii | P a g e Keterangan: *) Data sementara

Ditinjau dari capaian kinerja masing-masing sasaran untuk Tahun 2020, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah dapat melaksanakan tugas utama yang menjadi tanggung jawab organisasi. Berikut di bawah ini diuraikan capaian dari indikator kinerja sasaran strategis (berdasarkan urutan pada kolom 3 tersebut di atas) yang menjadi tolak ukur terlaksananya sasaran strategis (kolom 2) Kemenparekraf/Baparekraf yang telah ditetapkan.

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Sasaran

Strategis (IKSS) Satuan 2020

Target Capaian %

7 Terlindungnya kekayaan intelektual bidang pariwisata dan ekonomi kreatif

13 Jumlah produk/jasa bidang pariwisata dan ekonomi kreatif yang didaftarkan kekayaan regulasi pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kajian

14 Indeks Regulasi berbasis kajian terkait pariwisata dan ekonomi kreatif

Indeks 0,25 0.25 100%

9 Tersedianya data dan informasi hasil kajian sesuai kebutuhan pariwisata dan ekonomi kreatif

15 Jumlah hasil kajian

parekraf yang

dimanfaatkan/diproduksi

Dokumen 6 6 100%

10 Meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM perguruan tinggi vokasi pariwisata

Lulusan 1500 2632 175,47%

11 Terwujudnya Reformasi Birokrasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menuju birokrasi yang profesional

19 Nilai RB Kemenparekraf (Baseline nilai 2019 76,40)

Nilai 80,00 76,51 95,63%

ii | P a g e

Sasaran strategis meningkatnya kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap ketahanan ekonomi, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki 3 (tiga) indikator kinerja utama yang harus dicapai targetnya pada tahun 2020, yaitu:

1. Nilai Devisa Pariwisata 2. Kontribusi PDB Pariwisata

3. Nilai Ekspor Produk Ekonomi Kreatif,

Yang akan dijelaskan sebagaimana indikator kinerja utama sebagai berikut:

IKU 1

.

N

ILAI DEVISA PARIWISATA

Sektor pariwisata memiliki posisi strategis dalam berbagai kebijakan pembangunan, khususnya bagi negara Indonesia yang memiliki aset kepariwisataan, untuk diperkuat dan diberdayakan sebagai pilar ekonomi negara. Perekonomian nasional ke depan tidak lagi dapat mengandalkan sektor minyak dan gas sebagai andalan penyumbang devisa yang menopang perekonomian, karena cadangan minyak dan gas pada saatnya akan habis dan tidak dapat tergantikan lagi. Karena itu, sektor pariwisata menjadi sektor kunci yang diharapkan mampu menyandang fungsi penyumbang devisa terbesar di atas sektor – sektor lainnya. Pada tahun 2020 target devisa pariwisata dan ekonomi kreatif mengalami penurunan yang cukup signifikan dikarenakan adanya pandemi COVID-19, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (2015 - 2019). Hal ini dikarenakan sektor pariwisata merupakan industri yang paling terdampak dari adanya pandemi, namun demikian pariwisata memiliki peluang untuk bangkit dan tumbuh seiring dengan adanya kebijakan yang dibuat oleh instansi-instansi berwenang dalam pemulihan nasional. Dalam manual Indikator Kinerja Sasaran Strategis terkait Devisa sektor Pariwisata, formula yang dipergunakan adalah dengan mendapatkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah penerimaan devisa dari sektor pariwisata digunakan untuk mengukur kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa nasional.

SS.1 1

MENINGKATNYA KONTRIBUSI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF TERHADAP KETAHANAN EKONOMI

ii | P a g e Tabel 3. 3 Target dan Capaian Indikator Nilai Devisa Pariwisata

No

Indikator Kinerja Sasaran Strategis

(IKSS)

Satuan

2019 2020

Capaian Target Capaian Persentase

1 Nilai Devisa Pariwisata

Miliar

USD 28 3,3 – 4,9 3,31* 100,303%

Keterangan: *) Data Sementara

Berdasarkan tabel di atas, jumlah penerimaan devisa wisatawan mancanegara pada tahun 2020 mencapai 3,31 miliar USD, diperoleh dari Laporan Neraca Pembayaran Indonesia-Bank Indonesia, yang merupakan nilai ekspor perjalanan pariwisata (data sementara) tahun 2020 dengan capaian 100,303%

dari target 3,3 miliar USD.

Tabel 3.4 Neraca Pembayaran Indonesia Transaksi berjalan Jasa-Jasa

(Juta USD)

Sumber: Laporan Neraca Pembayaran Indonesia, Bank Indonesia

ii | P a g e

Guna memberikan gambaran lengkap perjalanan jumlah penerimaan devisa dari sektor pariwisata, berikut dilampirkan data tahun 2015 sampai dengan tahun 2020 yang tergambar dalam grafik di bawah ini:

Grafik 3. 1 Jumlah Penerimaan Devisa Dari Sektor Pariwisata Tahun 2015-2020

Berdasarkan tabel di atas, jumlah penerimaan devisa dari sektor pariwisata mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 mengalami pencapaian yang signifikan dari target yang telah ditentukan, sedangkan di tahun 2019 untuk target yang telah ditentukan belum tercapai dikarenakan adanya bencana alam berdampak pada sektor pariwisata. Namun apabila dilihat target tahun sebelumnya (tahun 2018) sebesar 223 miliar USD sedangkan untuk tahun 2019 sebesar 280 miliar USD sehingga dapat disimpulkan bahwa target pada tahun 2019 menunjukkan peningkatan target sebesar 11%. Dan pada tahun 2020 pencapaian melebihi target sebesar 11% dengan nilai capaian 250 miliar USD,

Berdasarkan tabel di atas, jumlah penerimaan devisa dari sektor pariwisata mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 mengalami pencapaian yang signifikan dari target yang telah ditentukan, sedangkan di tahun 2019 untuk target yang telah ditentukan belum tercapai dikarenakan adanya bencana alam berdampak pada sektor pariwisata. Namun apabila dilihat target tahun sebelumnya (tahun 2018) sebesar 223 miliar USD sedangkan untuk tahun 2019 sebesar 280 miliar USD sehingga dapat disimpulkan bahwa target pada tahun 2019 menunjukkan peningkatan target sebesar 11%. Dan pada tahun 2020 pencapaian melebihi target sebesar 11% dengan nilai capaian 250 miliar USD,

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Assalamualaikum Wr.Wb. (Halaman 17-130)

Dokumen terkait