• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab VI merupakan bab Penutup yang berisi simpulan, saran dan implikasi penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis

C. PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan berbagai macam penjelasan yang sudah dibahas dalam penelitian ini, kiranya dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : Kebijakan Penanggulangan aksi terorisme di Indonesia mendapat perhatian

yang sangat serius dari pemerintah (negara), Hal ini dikarenakan terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan dan bersifat extra ordinary crime, sehingga bukti keseriusan tersebut dapat dilihat dari keluarkannya Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang, yang kemudian sering disebut dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,. Pemerintah Indonesia ujga telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang didukung kepolisian melalui Dnsus 88 anti terror, ditambah kekuatan inteljen, bahkan keterlibatan TNI ( Tentara Nasional Indonesia) dengan pola Operasi Militer Selain Perang (OMSP);

Disis lain Majelis Ulama Indonesia juga menegaskan lewat fatwa MUI Nomer 15 tahun 2004 bahwa hukum terorisme adalah “haram”. Hal dikarenakan perbuatan pelaku terorisme melenceng dari nilai ajaran agama Islam yang rahmatan lil „alamin” , dan tentu saja melanggar nilai-nilai Hak Asasi Manusia yang nilainya adalah “kemanusiaan” itu sendiri.

Kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan aksi terorisme diantaranya: a).Pertama, lemahnya koordinasi antar kelembagaan yang berwenang dibidang pemberantasan terorisme; sehingga terjadi kerancuan “lembaga mana yang berwenang menetapkan korban serta mengeluarkan hak-haknya”. Karena didalam Undang-Undang nomor 5 tahun 2018 lembaga yang berhak menetapkan korban adalah penyidik, tapi sampai sekarang data masih simpang siur dimana setiap lembaga mengeluarkan data, sehingga perlu ada penetapan satu lembaga yang berhak menetapkan korban dan mengeluarkan hak-haknya. b).Kedua adalah tidak terdapat ketegasan bahwa Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sebagai leading sektor perlindungan korban sejak detik pertama peristiwa terjadi. Karena faktanya, kepolisian yang pegang “kendali”. c). Ketiga; kepolisian belum /tidak menetapkan radius wilayah terdampak ledakan bom dalam rangka agar pemenuhan hak korban tepat sasaran. Selama ini penentuan pemberian bantuan hanya didasarkan pada klaim fisik serta dokumen dari rumah sakit yang tidak cukup kuat. Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 haruslah sesuai dengan norma diatasnya yaitu alenia ke empat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia serta batang tubuh Pasal 28 D.

Rekonstruksi kebijakan penanggulangan aksi terorisme di Indonesia yang berbasis nilai-nilai hukum Islam dan hak asasi manusia adalah:

Dalam kebijakan penanggulangan aksi terorisme dari segi nilai harus lebih

mengedepankan asas perlindungan, pengayoman ( al maqosidu al syari‟ah) dan nilai-nilai hukum Islam lainya , diantaranya bahwa: “untuk mencapai tujuan tidak diperkenankan menggunakan berbagai cara “ ( al ghoayah la tubarir alwashilah),””mencegah kerusakan /kemadhorotan harus diutamakan dari mengambil kemanfaatan” ( dar‟ul mafasid muqodammun „ala jalbi al masholih), “ jangan membahyak dirimu dan jangan membahayakan orang lain” (laa dhororo walaa dhiroro) serta tidak melanggar hak asas manusia (humanis), sehingga peristiwa salah tangkap, ataupun salah tembak tidak terjadi.

Adapun rekonstruksi norma, Undang –Undang nomer 5 ttahun 2018 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yaitu :

Pada pasal 1 (2) : menghapus kata /kalimat “ dengan motif ideologi ,politik atau gangguan keamanan”, karena dikahwatirkan terjadi “a buse of power” dan pelanggaran hak asasi manusia;

Pasal 43A (2) : menambah kata/kalimat “ dengan melibatkan peran serta masyarkat”, sehingga ada proses imbal balik “take and give”

dan “balance” dengan menjadikan masyarakat subjek penanggulangan aksi terorisme;

Pasal 43E(3) : menambah kata/kalimat : “ dan mempunyai perwakilan di provinsi dan Kabupaten/Kota yang bersifat vertikal”.

Yakni bertujuan optimalisasi fungsi dan peran pemerintah dalam menekan dan menanggulangi aksi terorisme dimasyarakat;

A. Implikasi

Hasil analisis dan kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1). Fungsi dan peran pemerintah tidak hanya untuk menangkap atau menghukum pelaku terorisme, melainkan lebih luas lagi yakni harus dapat mencegah terjadinya aksi terorisme;

2). Pemerintah sebagai otoritas hukum penuh harus melayani masyarakat dengan program dan kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan umum;

3). Program sinergi deradikalisasi anatara kementerian dan lembaga terkait dangan akademisi dan ormas serta elemen masyarakat secara luas dengan misi pola pemberdayaan dan kemandirian ekonomi mantan teroris;

Saran

Pemerintah harus membuat pemberantasan terorisme lebih transparan dan inklusif (tidak hanya secara eksklusif menyertakan TNI/Polisi dan BNPT saja) melainkan juga harus melibatkan berbagai pihak termasuk melibatkan masyarakat. Cetak biru tata kelola kelembagaan yang lebih jelas, dengan sinkronisasi efektivitas peran, wewenang, dan tugas dari berbagai lembaga yang terlibat dengan membuka ruang bagi lembaga-lembaga non-pemerintah (ormas, lembaga pendidikan/ sosial masyarakat) untuk aktif terlibat dalam pemberantasan dan penangulungan terorisme.

Diperlukan (segera) menyusun kebijakan nasional yang mendukung keberadaan Undang-Undang No. 5 Tahun 2018, dengan harapan dapat

mendorong pemerintah daerah beserta aktor lokal lainnya melakukan inisiatif pencegahan terorisme berdasarkan pada karakteristik perkembangan persoalan terorisme disetiap wilayah di Indonesia dengan memastikan pelibatan para pemangku kepentingan ditingkat lokal seperti tokoh masyarakat, pemuka agama, akademisi, dan lainnya yang memahami seluk-beluk karakteristik sosial-politik lokal.

Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā Ā Ȁ ᜀĀ ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ P erlu adanya kurikulum pendidikan Tentang bahaya terorisme dan penanaman

nasionalisme sejak usia dini serta cipta lingkungan dan keluarga tentang bahaya terorisme serta pelurusan makna “jihad” secara benar (bagi yang beragama Islam);

Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā Ā Ȁ ᜀĀ ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ P erlu dibangun tempat rehabilitasi (pemulihan) narapidana teroris dengan

sitem pembinanaan dan pemberdayaan yang sesuai dangan nilai-nilai hukum Islam serta hak asasi manusia;

Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā Ā Ȁ ᜀĀ ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ Ā ᜀ R ehabilitasi mantan narapidana teroris harus secara komprehensif meliputi

seluruh aspek atau dimensi, dan tidak hanya terbatas pada rehabilitasi keagamaan - spiritual (deradikalisasi), psikologis, dan pendidikan, melainkan harus mencakup dimensi pendidikan, vokasional, keluarga dan sosial, rekreasional, dan kesenian serta modal.

lxii

SUMMARY

A. Introduction

Terrorism is a notion that believes that the use of methods of violence and fears is a legitimate way to achieve goals, and includes the category of extra ordinary crimes, which requires handling extra odinary measures.

Terror is usually carried out randomly (indiscriminately) so that it often sacrifices innocent people including women and children and is often carried out in an organized and transnational (transnational organized crime).

The State of Indonesia is a state based on law (Rechtsstaat) recognition and protection of human rights is an important thing that must be realized in legal certainty that upholds the values of justice and usefulness, all three of which by Readbruch, are referred to as the basic values of the law. In juridical normative, fair and arbitrary treatment is a human right that is recognized and protected based on the constitution or based on organic law.

Counter terrorism through the law with severe criminal sanctions will not be able to burn terrorism crimes. Instead it will lead to new, ongoing radicalism that is ready to carry out its actions in a different mode. This happens because of the conviction (the perpetrators) that the action is a "holy calling" and the implementation of the conception of "jihad" in Islam. Because in the Islamic view, spreading the message is a must, as well as maintaining symbols to the religion. That can't be done without the strength and progress that scares the enemy / enemy so that they don't attack. With this understanding, having the

power to "rock" opponents for the sake of the spread of the message of peace is an obligation. Conversely, acts of terror that cause horrors by using wrong means, damaging public facilities, threatening innocent human lives, disturbing the stability of the state and others are rejected in the Islamic view.

To create security and order as well as a sense of comfort in the life of the nation and state within the framework of the Unitary State of the Republic of Indonesia, efforts must be made in this regard: the National Counterterrorism Agency (BNPT), POLRI, and the TNI and all stakeholders in combating terrorism which of course must have the support of all elements of society, a national policy is needed to eradicate and prevent acts of terrorism in Indonesia based on the values of Islamic Law and Human Rights.

Dokumen terkait