• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen KONSERVASI TEKSTIL DI MUSEUM (Halaman 32-36)

Warisan budaya bangsa termasuk tekstil tradisional yang integral dengan sumber daya pengelolanya merupakan aset negara yang penting. Kekayaan tersebut telah menjadi sasaran pokok pengelolaan dan obyek utama yang melahirkan kegiatan penting. Kegiatan penting itu adalah pelestarian; baik melalui pendataan atau studi koleksi yang menghasilkan artefaktual dokumen sebagai obyek penelitian lanjutan, atau konservasi fisik aktuil yang mengupayakan kondisi fisik benda koleksi tetap lestari.

Referensi:

1. Brimblecombe, Peter and B. Ramer (1983): MUSEUM DISPLAY CASES AND THE EXCHANGE OF WATER VAPOURS, Studies in Conservation, London, IIC Vol.28 pp.179-188.

2. Brown, R. (1990): THE WEAVING, SPINNING AND DYEING, A.A. Knoft. 3. Buchanan, R. (1987): A WEAVER'S GARDEN, Interweave, Colorado. 4. de Graaf, Hofenk (1968): Lihat Landi (1985), pp. 68-94.

5. Guy, John (1998): WOVEN CARGOES, INDIAN TEXTILES IN THE EAST, Thames & Hudson, Singapore.

6. Holmgren, Robert J. and Anita E. Spertus (1989): EARLY INDONESIAN TEXTILES, MMA, N.Y.

7. IFI (International Fabricare Institute), Maryland District (1992), personal notes.

8. Indictor, N. (1987): THE USE OF METAL IN HISTORIC TEXTILES, N.Y., Personal Notes. 9. Karp, Cary (1983): CALCULATING ATMOSPHERIC HUMIDITY, Studies in Conservation,

London, IIC Vol.28 pp. 24-28.

10. Landi, Sheila (1985): TEXTILE CONSERVATOR'S MANUAL, Butterworths, London. 11. Leene, Jentina (1972): TEXTILE CONSERVATION, Butterworths, London.

12. Marsden, William (2008): SEJARAH SUMATERA, Komunitas Bambu, Jakarta. 13. Miller, Janet (1989): DEGRADATION IN WEIGHTED AND UNWEIGHTED HISTORIC

SILK, Washington DC, The American Institute for Conservation, Vol.2 No.2. 14. Oddy, Andrew (1992): ART OF CONSERVATOR, British Museum, London.

15. Padfield, T (1992): TROUBLE IN STORE, IIC Washington Congress, Washington DC. 16. Stone, P. (1981): ORIENTAL RUG REPAIR, Greenleaf Co.,Chicago.

17. Subagiyo, Puji Yosep (1994): THE CLASSIFICATION OF INDONESIAN TEXTILES BASED ON STRUCTURAL, MATERIALS, AND TECHNICAL ANALYSES, International Seminar, Museum Nasional, Jakarta.

18. Subagiyo, Puji Yosep (1995/96): KAIN SONGKET JAWA, Majalah Museografia, Ditmus-Depdikbud, Jakarta, pp. 1-14.

19. Subagiyo, Puji Yosep (1996): METAL THREAD EXAMINATION FOR DETERMINING THE DATE, ORIGIN AND DISTRIBUTION OF INDONESIAN SONGKET WEAVING, International Seminar, Jambi - Indonesia.

20. Subagiyo, Puji Yosep (1997/98): KONTROL KERUSAKAN BIOTIS, Perlakuan Kultural, Radiasi, Pemanasan, Pendinginan dan Fumigasi, Majalah Museografia, Ditmus-Depdikbud, Jakarta.

21. Subagiyo, Puji Yosep (1997/98): TEKSTIL TRADISIONAL: Pengenalan Bahan dan Teknik, Univ. of Tokyo - Toyota Foundation, Jakarta. (Laporan Penelitian)

22. Subagiyo, Puji Yosep (1999): MENGENAL BAHAN CELUP ALAMI MELALUI STUDI KOLEKSI TEKSTIL DI MUSEUM, Makalah Seminar Nasional "Bangkitnya Warna-warna Alam", Yogyakarta, Dewan Kerajinan Nasional.

23. Subagiyo, Puji Yosep (2000): NORTH COASTH JAVA BATIK AT 1994: Museum and Site Surveys, International Symposium, Institute of Oriental Culture - University of Tokyo, Tokyo – Jepang.

24. Subagiyo, Puji Yosep (2002): MENGENAL DAN MERAWAT LUKISAN, Simposium Nasional tentang Perkembangan Media dan Sejarah Seni Rupa, Galeri Nasional

Indonesia, Jakarta.

25. Suhardini dan Sulaiman Jusuf (1984): ANEKA RAGAM HIAS TENUN IKAT INDONESIA, Museum Nasional, Jakarta.

26. Suwati Kartiwa (1986): KAIN SONGKET INDONESIA, Djambatan, Jakarta. 27. Suwati Kartiwa (1987): TENUN IKAT, Djambatan, Jakarta.

KOSA KATA TEKSTIL

01. Batik (waxed-resist-cloth dyeing): teknik pembentukan pola hias dengan perintang warna lilin atau malam lebah

(wax-resist) pada kain jadi sebelum proses pencelupan ke dalam larutan warna. Aplikasi lilin sebagai perintang warna ini

biasanya dilakukan dengan canting atau stempel.

02. Brokat (brocade): teknik penyuntikan/ penyisipan benang berlatarkan pola konvensional atau geometris.

03. Colèt (free-hand-painting): teknik pemindahan cat (pigmen dan binder) yang biasa dilakukan dengan kwas atau sejenisnya. Pengecatan dengan kwas ini tentunya tidak dapat sekaligus menghasilkan pola hiasan berukuran besar. 04. Damas (damask): kain berpola hias bagian depan kebalikan dengan belakang, yang ditenun dengan menyilangkan

benang lungsi ke benang pakan dan tampilan polanya menyerupai kain satin (warp-faced satin weave) dengan dasar kain yang menonjolkan benang pakan (in the ground ofweft-faced). Kain ini bisa terbuat dari sutera, wol, linen, kapas, atau serat sintetik.

05. Fabrikasi: teknik penyilangan atau pengkaitan benang untuk membentuk kain atau hiasan.

06. Ikat (tied-resist threads dyeing): teknik pembentukan pola hias dengan perintang warna berupa tali dengan cara diikatkan pada benang sebelum proses pencelupan ke dalam larutan warna, setelah pola hiasan terbentuk pada benang lalu tali dilepas dan selanjutnya dilakukan proses tenun. Bila proses pembentukan pola hias pada benang pakan dan lungsi disebut ikat ganda (double ikat), jika pembentukan hanya pada benang pakan disebut ikat pakan (weft-ikat) dan yang hanya pada benang lungsi disebut ikat lungsi (warp-ikat).

07. Jumputan (tied-resist cloth dyeing): teknik pembentukan pola hias dengan perintang warna berupa kain yang diikat kuat-kuat dengan tali atau tali itu sendiri yang diikatkan pada kain jadi sebelum proses pencelupan ke dalam larutan warna. Kain Pelangi termasuk dalam kategori ini.

08. Kêlim: teknik tenunan menyerupai permadani tetapi dalam satu pola hias, dengan pola hias lainnya bisa terputus

(slit-tapestry weave) dan bersambung (interlocked-(slit-tapestry weave). Dari pengertian ini, kêlim meliputi yang ujung belokan

benang hiasnya bersambung dan kêlim yang ujung belokan benang hiasnya lepas/ terpisah. 09. Kolorasi: teknik pewarnaan kain atau benang (sebelum proses tenun).

10. Nir-Tenun (non-weaving): teknik penambahan, penyisipan atau penempelan benang atau bahan lain untuk membentuk (pola) hiasan. Penyilangan atau pengkaitan benang yang bukan pakan atau lungsi bisa termasuk nir-tenun (non-woven

fabric), sehingga kain sulaman dan turunannya, rènda, kèpang, anyaman, songkèt, sungkit, pilih, dan sejenisnya masuk

kategori ini.

11. Palampores (baca: palampos): kain katun bermotifkan seperti pohon hayat, palmet (keong), dll. yang dibuat dengan teknik sablon-blok (block-print) dari India yang banyak dipasarkan ke Eropa.

12. Pencelupan (dyeing): teknik pewarnaan dengan cara mencelupkan kain dalam larutan warna (dye liquor). Ciri utamanya adalah warna kain bagian depan sama dengan warna kain pada bagian belakang.

13. Pêrca (applique): teknik pembentukan desain/ hiasan dengan menempelkan potongan kain dan dengan cara menisikkan (stitching) pada permukaan kain.

14. Permadani (tapestry): teknik penyilangan benang pakan ke benang lungsi secara reguler, tetapi dalam hitungan 1 sentimeter persegi, jumlah benang pakannya jauh lebih banyak dari lungsinya (weft-faced plain weave).

15. Pigmentasi (pigmentation): teknik pewarnaan dengan cara mencat, mensablon atau cara lain menempelkan pigmen pada kain. Ciri utamanya adalah warna kain bagian depan tidak-sama dengan warna kain pada bagian belakang, karena warna pada tehnik pigmentasi hanya menempel pada bagian permukaannya saja. 16. Pilih: teknik penyisipan benang pakan tambahan diantara benang pakan reguler

dengan bantuan anak torak (chosen inserting the wefts between regular wefts,

that cross-concealling one or two warps).

17. Prada (gilt): teknik penempelan pigmen yang biasanya berwarna keemasan dengan perekat. Jika pradanya berupa bubuk halus disebut prada-yeh (prada-air), sedangkan yang berupa lembaran disebut prada pel-pel.

18. Rèp: teknik penyilangan benang pakan ke benang lungsi secara reguler, tetapi dalam hitungan 1 sentimeter persegi jumlah benang lungsinya jauh lebih banyak dari pakannya (warp-faced plain weave).

19. Satin (satin weave): tenun satin.

20. Silang kepar (twill): silang kepar/ anam kepang.

21. Silang Polos (plain weave / tabby): teknik penyilangan benang pakan ke benang lungsi secara reguler, bisa dengan notasi 1/1, 2/2, dst.

22. Sablon (printing): teknik pemindahan cat (pigmen dan binder) yang sekaligus memberikan hiasan, baik yang berpola besar atau kecil.

23. Songkèt: teknik penambahan benang pakan dari pinggir kain paling kiri ke kanan searah pakan untuk membentuk pola hias (supplementary weft from selvage to

selvage). Songkèt atau sotis dapat dibedakan dengan kain bermotif dengan tehnik

sulam ‘embroidery’ dan ‘brocade’. Karena pembentukan motif pada kain songkèt yang dilakukan bersamaan dengan proses tenunan kain dasar, tidak harus

Tenun Satin

menggunakan jarum, tetapi memerlukan beberapa alat pembentuk pola yang disebut ‘gun’ atau ‘cucukan’, dan mungkin berpola kearah benang pakan atau lungsi. Sedangkan sotis umumnya berpola ke arah benang pakan, dimana benang pakan tambahannya berupa benang berwarna (bukan logam).

24. Sulam (embroidery): kain sulaman atau kain bordiran biasanya berupa hiasan yang kecil-kecil, seperti pembuatan jahitan pada lubang kancing baju (button-hole-stitch) dan pada tehnik pembentukan hiasan pada kain yang beralas kain bantalan (quilt). Sehingga tehnik sulam jenis ini sering diidentikkan dengan tehnik ‘kerja-jarum’ (neddle-works). Kain bordiran menyerupai tehnik-kerja sulaman pada kain kruistik.

25. Sulam-bantal (quilt): teknik pembentukan desain/ hiasan dengan cara menisikkan (stitching) pada (potongan) kain yang diberi bantalan (kain) dsb.

26. Sulam-cucuk (couching): teknik pembentukan desain/ hiasan dengan menempelkan benang logam (metal thread), percik logam (sequins) atau percik kaca (mirrors) dan dengan cara menisikkan (stitching) pada permukaan kain. 27. Sungkit: teknik penambahan benang pakan terputus untuk membentuk pola hias (discontinuous supplementary weft). 28. Tenun (weaving): teknik penyilangan benang pakan dan lungsi untuk membentuk kain (woven-fabric). Silang polos

(plain weave / tabby), silang kepar, permadani (tapestry), kêlim, rèp dan damas termasuk kategori ini.

29. Tritik (stitched-resist cloth dyeing): teknik pembentukan pola hias dengan perintang warna berupa lipatan-lipatan kain yang diikat kuat-kuat dengan benang yang dimasukkan dengan jarum pada kain jadi sebelum proses pencelupan ke dalam larutan warna.

PUJI YOSEP SUBAGIYO d/a PRIMASTORIA STUDIO

Taman Alamanda Blok BB2 No. 55-59 Bekasi 17510, Indonesia

Phone : (021) 882 9241 Mobile: 0812 8360 495

Email: [email protected]

1

Pemegang Unesco Fellowship Award dari tahun 1989 sampai 1992 ini mendapatkan pendidikan sains konservasi di Tokyo National Research Institute for Cultural Properties (TNRICP), Jepang dari 1989-1990; pernah mengikuti kursus “spotting” di International Fabricare Institute (IFI) di Maryland - Amerika Serikat; serta mengikuti berbagai kursus analisis konservasi di Museum Conservation Institute (MCI) of the Smithsonian Institution di Washington D.C., Amerika Serikat (1991-1992). Selama periode magang di Smithsonian Institution, Subagiyo telah mengadakan kunjungan observasi di laboratorium-laboratorium museum dan lembaga penelitian di kota New York, Harrisburg, dan Washington D.C. Ia pernah ambil bagian dalam pengamatan kerusakan pakaian astronout di National Air and Space Museum (NASA) di Washington D.C. dan demo pencelupan warna di Carnegie Mellon College, Maryland.

Puji Yosep Subagiyo lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Ia adalah seorang konservator bersertifikasi internasional, dan sejak 1986 telah bekerja di Museum Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Subagiyo yang telah memiliki pendidikan lebih dari 8.000 jam dan 20 tahun berpengalaman di bidang konservasi, banyak melakukan penelitian aneka bahan - teknik pembuatan tekstil tradisional dan lukisan, penulisan, rancang-bangun database konservasi dan kurasi, mengikuti dan pembicara pada berbagai seminar internasional. Di Studio Primastoria, ia juga melayani jasa konsultasi dan konservasi tekstil, lukisan, logam, dan aneka benda etnografi.

Subagiyo has an educational background of conservation sciences of Tokyo National Research Institute of Cultural Properties (TNRICP, Japan, 1989/90). Furthermore, Subagiyo completed professional experience - for both skill development and knowledge enhancement in the field of textile conservation - at the Museum Conservation Institute (MCI) of the Smithsonian Institution (Washington D.C., 1991/ 92) and International Fabricare Institute (IFI, Maryland District, USA, 1992). He also has taken intensive courses on wood conservation, metal conservation, textile conservation, leather conservation, dye analysis, display materials and exhibitions, and other courses in his home country and abroad.

Through research, Subagiyo has studied the gilded cloth, mordanted cloth, and metal threaded at TNRICP of Japan. Then, Subagiyo accelerated the result at MCI of Washington D.C. and the National Museum of Jakarta. He studied the crocking tests for Early Synthetic Dyes, the tensile strength of ‘prada’ binder, the ingredient ‘jangkang-kepuh’ of prada, and tested the color changing of Indonesian Natural Dyes. He actively writes articles and participates in the activities relating to conservation of cultural material in national, regional or international forums. This holder of ‘Unesco Fellowship Awards’ from 1989 to 1992 has taken a great opportunity in his field of discipline in the United States of America. He visited the conservation laboratories at museums of New York City, Harrisburg and Washington D.C. (i.e. Conservation Centre of NYU, Metropolitan Museum of Arts, National Gallery, Textile Museum, etc.). He demonstrated the para-red dyeing (which is principally similar to ‘mengkudu’ dyeing) at Carnegie Mellon College of Maryland; and took part in the physical examination of color changing of (astronout) space-suits at Garber Facility, the National Air and Space Museum (NASA) at Washington D.C.

Puji Yosep Subagiyo was born in Purworejo, Central Java. Since 1986, Subagiyo has worked for the National Museum of Indonesia, Ministry of Education and Culture. He has more 8,000 hours attended education and more than 20 years conservatorial experience, in his private Primastoria conservation studio offers the conservation for textiles, paintings, metals, papers and most ethnographic objects. Subagiyo also develops the conservatorial and curatorial database for museums and galleries.

BIOGRAPHICAL SKETCH

Taman Alamanda Blok BB2 No. 55 – 59, Bekasi 17510 primastoria.net [email protected] (021) 882 9241, 0812 8360 495 Address Website Email Phone : : : :

Dalam dokumen KONSERVASI TEKSTIL DI MUSEUM (Halaman 32-36)

Dokumen terkait