• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP

Dalam dokumen LAPORAN KERJA PRAKTEK (REZA) (Halaman 18-80)

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran tentang pelaksanaan kerja praktek.

19

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Penjelasan Umum PLTA PB Soedirman

PLTA PB Soedirman terletak di hulu sungai Serayu dan termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, kurang lebih delapan kilometer sebelah barat Kota Banjarnegara. PLTA PB Soedirman adalah salah satu diantara PLTA yang ada di sungai Serayu yang dibangun guna menunjang akan kebutuhan lisrik di pulau Jawa dan Bali serta Jawa Tengah khususnya.

Pada tanggal 23 Maret 1989 telah diresmikan berfungsinya PB Soedirman oleh Presiden RI Soeharto. Dari ketiga unit pembangkit dapat beroperasi dengan kapasitas penuh sebesar 3 x 60 MW dan membangkitkan energi listrik rata-rata sebesar 580.000.000 kWh per tahun menurut perencanaan. Tenaga listrik yang dihasilkan tersebut disalurkan melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV. Ke arah barat melalui Gardu Induk Rawalo sepanjang 56 km dan ke arah timur melalui Gardu Induk Wonosobo sepanjang 30 km, yang kemudian menunjang sistem jaringan interkoneksi se-Jawa Bali melalui gardu induk 150 / 500 kV di Ungaran. PLTA PB Soedirman mampu start sendiri (Black Start) pada saat sistem kelistrikan se-Jawa Bali padam total.

2.2 Sejarah Perkembangan PLTA Soedirman

Indonesia merupakan Negara yang memiliki sungai-sungai yang potensial untuk dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini adalah salah satu

20

modal yang mendukung lancarnya program pembangunan. Sebagai negara yang sedang berkembang, tersedianya tenaga listrik yang memadai merupakan sumbangan yang besar bagi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Untuk itu pada tahun 1971, Indonesia menerima bantuan dari Australia untuk mengembangkan sumber-sumber air sebagai pembangkit tenaga listrik.

Dari hasil studi yang dihasilkan SNOWY MOUNTAINS ENGINEERING

COOPERATION (SMEC) tahun 1972 diusulkan Maung dan Mrica untuk PLTA.

Sebagai kelanjutannya maka pada tahun 1974 diadakan studi kelayakan pada aliran sungai Serayu di Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 1978-1980 disusun perencanaan detail desain oleh TECNOPROMEXPORT dari Uni Soviet. Tanggal 15 Mei 1982 dilakukan penandatanganan kontrak kerja PLN dengan SABCON

(Scansa Comentguteriet, Asea AB, Sweden Balfour Beaty Construction LTD.).

Sebagai konsultan perencana adalah Sweco AB dari Swedia dan ENGINEERING

and DEVELOPMENT CONSULTANT dari Inggris. Rancang ulang hasil

perencanaan dilakukan oleh Wiratman dan asisten konsultan pengawas adalah Sir William Halcrow and Parnerts dari Inggris.

Secara garis besar, pembangunan PLTA dibagi menjadi tiga tahap bidang pekerjaan, yaitu :

1. Bidang pembangunan prasarana seperti: jalan hantar, jaringan listrik dan air.

2. Bidang pekerjaan sipil seperti: pembangunan bendungan, bangunan pelimpah, terowongan pengelak dan gedung sentral.

3. Bidang pekerjaan listrik dan mekanis seperti: pemasangan turbin, generator, transformator dan instalasi serta perlengkapannya.

21

Secara kronologis peristiwa penting selama pembangunannya adalah sebagai berikut:

1974 : feasibility study

1978 – 1980 : detail design

1978 : tahap awal pekerjaan prasarana

15 Mei 1982 : penandatanganan kontrak kerja antara PLN

dengan SABCON

9 Agustus 1982 : peresmian dimulainya pekerjaan PLTA oleh

Menteri Pertambangan dan Energi Soebroto

Desember 1982 : masa konstruksi

Maret 1983 : penjadwalan kembali oleh pemerintah

30 Mei 1984 : peresmian dimulainya kembali proyek PLTA oleh

Menteri Pertambangan dan Energi Soebroto

2 Mei 1986 : pengalihan aliran sungai Serayu melalui

terowongan pengelak oleh Menteri Pertambangan dan Energi Soebroto

26 Februari 1987 : peletakan batu abadi oleh Presiden Soeharto

16 April 1988 : penutupan terowongan pengelak oleh Menteri Per-

tambangan dan Energi Ginandjar Kartasasmira

September 1988 : waduk mulai terisi penuh

21 November 1988 : mulai beroperasinya pembangkit Unit I sebe-

sar 60 MW

26 November 1988 : peresmian mulai beroperasinya unit pertama

22

20 Januari 1989 : mulai beroperasinya unit kedua sebesar 60

MW

23 Maret 1989 : peresmian mulai berfungsinya PLTA PB Soedir-

man oleh Presiden Soeharto

2.3 Struktur Organisasi Perusahaan

Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica merupakan salah satu dari 8 unit pembangkitan yang dimiliki oleh PT. Indonesia Power yang terletak di Jawa Tengah. UBP Mrica merupakan pembangkit listrik bertenaga air atau lebih dikenal dengan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA). UBP Mrica merupakan salah satu unit yang berada dibawah PT. Indonesia Power yang dibentuk untuk mengelola pembangkitan yang diantaranya adalah PLTA PB Soedirman.

23

Tugas pokok yang dibebankan pada UBP Mrica adalah :

1. Menyelenggarakan pembangkitan tenaga listrik berdasarkan

kebijaksanaan yang diambil oleh PT. Indonesia Power.

2. Mengoperasikan dan memelihara instalasi / peralatan beserta alat bantunya sesuai dengan prosedur

3. Menyelenggarakan tata usaha untuk membantu kelancaran administrasi perusahaan.

2.4 Manajemen HRD dan Diklat

Disamping pengusaan terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaannya, seorang pegawai hendaknya mempunyai sikap hubungan kebanggaan terhadap pekerjaan dan perusahaan, dengan hadirnya sikap ini di dalam diri setiap pegawai akan memupuk tumbuhnya sikap positif yang lain yang bermanfaat, baik bagi pegawai sendiri maupun perusahaan yang secara langsung akan mempengaruhi keberhasilan di dalam menjalankan fungsi-fungsinya menuju pencapaian tujuan.

Timbulnya perasaan bangga seorang pegawai terhadap pekerjaannya dipengaruhi oleh hal-hal berikut :

- Pengetahuan pegawai tersebut akan kondisi misi perusahaan - Peran serta pegawai tersebut terhadap pencapaian misi perusahaan

- Keikutsertaannya didalam program-program pelatihan sebagai usaha meningkatkan / keterampilan bagi pelaksanaan tugasnya

24

2.4.1 Misi dan Kondisi Perusahaan

Misi yang hendak dicapai perusahaan dan kondisi perusahaan sebagai landasan untuk merealisasi misi tersebut perlu diketahui setiap pegawai pada awal bekerja. Dengan bekal ini seorang pegawai akan memahami keberadaan dan kekuatan perusahaan didalam percaturan pembangunan nasional, yang secara langsung akan membangkitkan perasaan bangga terhadap perusahaan tempat ia bekerja maupun pekerjaan yang menjadi tugasnya.

2.4.2 Peran Serta dalam Pencapaian Misi Perusahaan

Untuk memberikan kebutuhan beban dan pelayanan terbaik pada konsumen, maka pusat-pusat pembangkit harus beroperasi secara optimal sehingga akan diperoleh keandalan sistem pembangkit, dalam mencapai hal itu maka perlu dilakukan pemeriksaan keadaan peralatan, hal ini menyangkut peran operator, karena pengecekan tersebut adalah merupakan tugas yang harus dilakukan secara rutin agar semua komponen peralatan berfungsi sesuai dengan standar yang telah diterapkan.

Dengan demikian, peran operator menjadi sangatlah penting dalam menjamin pengoperasian unit pembangkit pada tingkat efisiensi optimal, yang pada gilirannya akan menimbulkan kebanggaan akan pekerjaannya.

2.4.3 Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan

Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan adalah masalah yang sering dihadapi seorang operator dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari.

25

Kesulitan tersebut mungkin disebabkan operator tidak tahu persis maksimal yang sudah dilakukan, atau mungkin karena diterapkan teknologi baru dengan penggunaan peralatan canggih sehingga memerlukan penanganan yang berlainan pula.

Untuk mengatasi hal tersebut, suatu program pelatihan dalam usaha meningkatkan pengetahuan dan keteranpilan perlu diberikan pada operator. Program pelatihan tersebut dapat dilaksanakan di unit-unit pendidikan dan pelatihan (UDIKLAT) PLN maupun di unit kerja operator masing-masing dengan pemberian pengetahuan dan keterampilan dikhususkan pada apa yang diperlukan operator untuk melakukan tugasnya sehari-hari.

2.4.4 Pengaruh Terhadap Perusahaan

Beberapa pengaruh positif dari sikap terhadap pekerjaan dan perusahaan adalah pada segi :

1. Kualitas Kerja

Seseorang akan dapat bekerja baik apabila orang tersebut menyenangi dan mengerti akan tugas-tugas yang dikerjakan, dengan bekal penguasaan atas bidang pekerjaan yang menjadi tugasnya, maka segala upaya akan dilakukan oleh seorang pegawai untuk memperoleh kualitas hasil pekerjaan sesuai dengan yang diisyaratkan perusahaan.

2. Kesadaran Kerja

Dalam kesadaran kerja ini tercakup unsur-unsur : - Kesanggupan bekerja keras

26

Kerja keras berarti bekerja giat dengan disertai usaha maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

- Tanggung jawab yang besar pada pekerjaan

Dengan adanya tanggung jawab pada pekerjaan, tidak menjadi masalah bagi pegawai untuk bekerja cepat selesai sehingga fungsi perusahaan cepat selesai, keseluruhan tidak terganggu. - Patuh pada peraturan

Kepatuhan mengikuti petunjuk atau perintah atasan adalah kewajiban pegawai sebagai realisasi kesadaran kerjanya untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

2.5 Keselamatan Kerja

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan pada saat bekerja adalah keselamatan kerja, setiap perusahaan diwajibkan untuk menjaga dan memperhatikan adanya faktor keselamatan kerja tersebut. Karena tidak dikehendaki bila sampai terjadi kecelakaan dalam menjalankan tugas sampai mengakibatkan kematian seseorang. Pada umumnya efek yang terjadi dari kecelakaan sangat merugikan baik perusahaan maupun orang yang bersangkutan. Oleh karenanya tidak satu manusia yang menghendaki adanya kecelakaan. Terjadinya kecelakaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

a. Faktor Manusia

Biasanya disebabkan karena kurang terampil, tidak hati-hati, tidak mematuhi peraturan, tidak adanya keseimbangan antara pekerjaan dengan perusahaan, sepihak memberi upah dan dilain pihak hanya memikirkan

27

keuntungan saja. Oleh karena itu diantara pekerja dengan perusahaan harus memiliki rasa saling pengertian bahwa keduanya saling membutuhkan.

b. Faktor Peralatan

Semua yang dihasilkan perusahaan adalah menggunakan peralatan mesin. Oleh karena itu pengawasan dan pemeliharaan harus selalu diperhatikan oleh keduanya. Pengaturan peralatan pekerjaan ikut membantu kelancaran produktivitas.

c. Faktor Keturunan

Faktor keturunan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Faktor keturunan ini antara lain karena :

- Sifat gugup

- Sifat kurang sabar dan kurang tekun - Sifat tenang dalam menghadapi sesuatu - Sifat sembrono yang kadang timbul

Jadi arti dan tujuan keselamatan kerja itu antara lain untuk menjalin keutuhan, keadaan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani manusia serta hasil kerjanya yang ditujukan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia sendiri pada khususnya.

Keselamatan kerja mempunyai sasaran sebagai berikut : - Mencegah terjadinya kecelakaan

- Mencegah atau mengurangi jumlah kematian - Mencegah atau mengurangi cacat tetap

28

- Mengamankan peralatan dalam pemeliharaan - Meningkatkan produktivitas

- Menjamin kebersihan tempat kerja

- Meningkatkan keamanan lingkungan kerja

2.6 Alat Pelindung Diri

Sesuai dengan pedoman dan petunjuk keselamatan kerja No.22 (PLN) maka personal unit pembangkit haruslah memahami dan dapat menggunakan bermacam-macam peralatan pelindung. Alat-alat tersebut dimaksudkan untuk melindungi personil terhadap bahaya dan potensi-potensi bahaya-bahaya cacat/ luka diberbagai situasi di dalam suatu pembangkit.

1. Perlindungan mata

Pekerja pada unit pembangkit hendaknya menggunakan pelindung mata yang khusus dirancang untuk keselamatan kerja. Ada empat jenis pelindung mata. Kacamata pengaman, kacamata pelindung terhadap bahan-bahan kimia (chemical splash google), kacamata dan pelindung wajah.

2. Perlindungan kepala

Topi kerja (hard hats) akan memberikan perlindungan terhadap beberapa jenis kecelakaan. Hard hats dapat melindungi kepala si pekerja terhadap benda-benda jatuh serta lebih tepatnya terhadap benturan dengan suatu penghalang / perintang saat bekerja pada tempat-tempat sempit, juga melindungi terhadap sengatan listrik jika kepalanya menyentuh kawat listrik.

29 3. Perlindungan kaki

Pekerja pada unit pembangkit menggunakan sepatu bots dengan ujung yang terbuat dari baja untuk melindungi terhadap benda-benda jatuh, mencegah pekerja terjatuh pada tempat-tempat yang licin serta solnya tahan terhadap minyak.

4. Perlindungan telinga

Sumbat telinga (ear plug) dan head sets adalah dua cara yang umum, digunakan untuk mencegah kerusakan pada pendengaran. Sumbat telinga harus dipakai pada tempat-tempat yang bising.

5. Perlindungan pernapasan

Respirator adalah suatu peralatan yang dipakai untuk melindungi hidung dan mulut, untuk melindungi pekerja terhadap :

- Partikel-partikel debu, asbes serta komponen-komponen lain yang berterbangan

- Busa / buih serta gas-gas yang membahayakan - Kekurangan udara untuk bernafas

Ada dua jenis respirator : - Filtter mask

Filter mask dapat melindungi si pemakai terhadap debu,

partikel-partikel debu, serta komponen yang berterbangan - Self-contained breathing device

Pekerja harus menggunakan respirator tersebut dalam tempat-tempat limbahan bahan-bahan kimia yang cukup luas serta

30

tempat-tempat dimana terdapat bocoran gas yang

membahayakan. 6. Perlindungan tangan

Sarung tangan karet dapat melindungi si pemakai terhadap sengatan listrik. Sarung tangan listrik pada tegangan dan arus yang terbatas dapat melindunginya.

2.7 Usaha Pelestarian Waduk

Keadaan PLTA sangat dipengaruhi oleh kelestarian sumber air waduk. Langkah-langkah yang diambil untuk menjaga supaya daerah di sekitar waduk tetap terjaga dari kerusakan adalah :

- Penghijauan serta reboisasi di daerah sekitar waduk

- Mencegah penggarapan tanah yang mengarah pada terjadinya erosi

- Membersihkan sampah dan gulma air yang masuk ke perairan waduk secara rutin

- Memberikan penyuluhan bagi para warga supaya tidak memasuki daerah-daerah berbahaya di sekitar waduk, penebangan pohon, dan kegiatan lainnya

2.8 Pemantauan Hidrologi, Geoteknik, dan Sedimentasi

Sistem pengukuran Hidrologi jarak jauh (Hydrological Telemetring

System) dipasang di sebelah hulu sungai Serayu untuk memonitor curah hujan

31

mengetahui debit sungai dipasang beberapa stasiun di Bantarmeneng serta beberapa tempat di sekitar waduk. Sistem ini akan dikembangkan untuk mengetahui keadaan angin, temperature, penguapan air, dan lain-lain.

Pengamatan kondisi waduk dan bangunan sipil utama PLTA selalu dimonitor, seperti kondisi pengendapan (sedimentasi), perilaku tubuh DAM, perubahan bentuk permukaan tanah, dan bangunan sipil utama.

2.9 Dampak Lingkungan

Pengamatan suatu proyek besar, selain menimbulkan dampak-dampak yang menguntungkan seperti yang telah diperhitungkan pada waktu perencanaan, dapat pula menimbulkan dampak yang merugikan.

Dampak-dampak yang menguntungkan antara lain: - Menghasilkan tenaga listrik dan bebas polusi - Dapat menghemat bahan bakar minyak - Menunjang suksesnya listrik masuk desa

- Pemerataan pembangunan sampai ke pelosok desa - Konservasi air dan memperbaiki lingkungan hidup - Menambah daerah wisata dan perikanan

- Mengendalikan timbulnya bahaya banjir

- Menyediakan lapangan kerja baru pada waktu pembangunan - Membantu penyediaan air irigasi

- Mamacu perkembangan industri/ perekonomian

Dampak-dampak yang merugikan terutama disebabkan karena

32

- Perpindahan penduduk dari tempat tinggalnya - Hilangnya lahan pertanian

- Mempengaruhi kehidupan flora dan fauna

Untuk mengetahui dampak lingkungan yang akan terjadi dan sekaligus untuk mempersiapkan langkah-langkah pengamanan terhadap dampak yang merugikan, PLTA PB. SOEDIRMAN telah dilengkapi dengan berbagai studi masalah lingkungan yaitu :

7. Survei pendahuluan, studi kelayakan, studi analisa, dampak lingkungan, ini dilakukan pada tahap pembangunan

8. Studi penanggulangan dampak lingkungan, ini dilakukan pada tahap pembangunan

Pada tahap pengoperasian PLTA PB. SOEDIRMAN, pemantauan-pemantauan terhadap pengawasan lingkungan di lingkungan dilakukan secara terus menerus oleh Seksi Pengawasan Lingkungan Hidup dengan pedoman :

1. UU No. 4 / 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup 2. PP No. 29 / 1986 tentang analisa mengenai dampak lingkungan

Dalam penanggulangan masalah dampak lingkungan tersebut telah terjalin hubungan dengan berbagai instansi pemerintah yang terkait.

33

BAB III

SISTEM TENAGA LISTRIK

3.1 Dasar Teori

Tenaga listrik dihasilkan di pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Biasanya mereka, terletak jauh dari pusat-pusat beban terdiri dari beban rumah tangga, komersil, dan industri. Karenanya listrik didistribusikan melalui sistem transmisi dan distribusi ke pusat-pusat beban tersebut.

Gambar 3.1 Ilustrasi sistem tenaga listrik dari pembangkitan ke konsumen akhir.

Keseluruhan proses pembangkitan, transmisi dan distribusi ke pusat-pusat beban kita sebut sebagai Sistem Tenaga Listrik (STL). Secara umum dapat dijabarkan menjadi sistem pembangkitan, sistem transmisi dan sistem distribusi. Gambar 3.2 menunjukkan secara diagram STL di sistem interkoneksi jawa bali.

34

Besaran listrik dimasing-masing subsistem hanya sekedar ilustrasi, pada sistem sesungguhnya mungkin berbeda.

Gambar 3.2 Diagram sistem tenaga listrik

Diagram tersebut hanya digunakan untuk menunjukkan perubahan-perubahan besaran listrik di masing-masing subsistem.

3.1.1 Subsistem Pembangkitan

Ada beberapa sumber tenaga yang dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga. Batubara, minyak, air, panas bumi dan uranium adalah sebagian jenis sumber tenaga yang bisa digunakan untuk menghasilkan tenaga. Sumber tenaga menggerakkan turbin air, turbin gas, turbin uap dan disambungkan ke suatu generator AC. Generator AC diputar oleh turbin untuk mengkonversi daya mekanis ke energi listrik.

Tegangan listrik di subsistem pembangkitan berada dalam kisaran 11 s.d 25 kV dan frekuensi sebesar 50 Hz. Pada pembangkit Suralaya dengan

35

kapasitas daya 3.212 MW menggunakan tegangan pembangkitan sebesar 23 kV. Pembangkit Mrica, salah satu PLTA di Jawa Tengah menggunakan tegangan pembangkitan 13,8 kV dan pembangkit Kamojang yang merupakan salah satu PLTP di Indonesia menggunakan tegangan pembangkitan 11,8 kV.

Gambar 3.3 Ilustrasi PLTA

Generator AC bekerja sesuai dengan teori induksi elektromagnetis. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa ketika konduktor bergerak dalam suatu medan magnet maka tegangan induksi akan dihasilkan. Secara umum generator terdiri dari medan magnet, dinamo, cincin geser, sikat-sikat, dan beberapa tipe hambatan.

3.1.2 Subsistem Transmisi

Fungsi dari generator di subsistem pembangkitan hanya sebatas mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Agar lebih bermanfaat maka energi tersebut harus didistribusikan kepada pelanggan-pelanggan melalui

36

jalur transmisi. Hal ini memungkinkan daya yang dihasilkan pada suatu lokasi pembangkit dapat digunakan setiap saat pada lokasi lain yang berjarak beribu kilometer jauhnya. Pentransmisian energi listrik dalam jumlah yang sangat besar melalui jarak yang sangat jauh paling efisien dilakukan dengan cara meningkatkan tegangan dan mengurangi arus pada saat yang bersamaan. Hal ini perlu untuk memperkecil energi yang hilang menjadi panas di jalur transmisi, selain mengurangi biaya lain yang terkait dengan penurunan arus, seperti konstruksi tower dan biaya konduktor.

Gambar 3.4 Ilustrasi sistem transmisi

Untuk meningkatkan tegangan subsistem pembangkitan dengan tegangan menengah ke tegangan transmisi yang bertegangan tinggi digunakan transformator. Transformator dimaksud adalah transformator berjenis step up. Ada beberapa pembatas tertentu dalam menggunakan sistem transmisi tegangan tinggi. Semakin tinggi tegangan yang ditransmisikan maka semakin sulit dan mahal untuk mengisolasi dengan aman antar

37

kawat saluran, juga antara kawat saluran ke tanah. Karena alasan itu pada sistem tegangan tinggi umunmya dikurangi secara bertahap selama tegangan tersebut menuju ke daerah penggunaan akhir. Pada sistem interkoneksi Jawa Bali digunakan tegangan transmisi sebesar 150 kV dan 500 kV dan frekuensi 50 Hz. Sebagai gambaran PLTA Mrica yang menghasilkan tegangan pembangkitan sebesar 13,8 kV, tegangannya dinaikkan ke tegangan transmisi 150 kV. PLTU Suralaya dengan tegangan pembangkitan sebesar 23 kV, tegangannya dinaikkan ke tegangan transmisi sebesar 500 kV.

3.1.3 Subsistem Distribusi

Tenaga yang dihasilkan pembangkit dan telah ditransmisikan belum dapat secara langsung digunakan oleh konsumen. Pada sisi ini tegangan diturunkan dari tegangan transmisi 150 kV maupun 500 kV menjadi tegangan distribusi sebesar 20 kV. Proses penurunan tegangan menggunakan tranformator step down, proses ini dilakukan di gardu induk. Selanjutnya tegangan listrik diturunkan kembali dari 20 kV menjadi 380/220 volt yang akan digunakan oleh konsumen.

Pada beberapa konsumen industri mungkin saja tidak menggunakan tegangan 380/220 volt. Disini akan disediakan trasformator khusus untuk pelanggan industri. Hal ini karena beberapa mesin mereka menggunakan tegangan 6000 volt.

38

Gambar 3.5 Ilustrasi sistem distribusi

Tenaga listrik dibeli dari perusahaan pembangkit listrik, masuk ke rumah-rumah melalui sebuah meteran dan sambungkan ke suatu pusat beban. Pelayanan residensial dapat datang dari trafo tambahan baik yang terpasang pada pusat beban maupun yang ditanam dalam tanah.

Gambar 3.6 Ilustrasi saluran ke rumah

3.1.4 Pengamanan Sistem Daya

Grounding (Pentanahan) adalah salah satu aspek penting dalam sistem

39

sengatan listrik dan harta benda dari kerusakan.

Lightning Arester (Pengalih/ pengantar petir) berhubungan dengan

penangkal Surja/sentakan, efektif saat ada bahaya sambaran petir atau surja tegangan. Pengalihan petir bekerja dengan prisip celah loncatan bunga api, seperti busi path mobil. Satu sisi dari penangkal itu dihubungkan ke tanah, sisi yang lain dihubungkan ke kawat yang dilindungi.

Rele Overcurrent (rele arus lebih) digunakan untuk melindungi sistem dari arus beban lebih maupun arus hubung singkat. Arus beban lebih adalah arus yang melebihi arus operasi normal. Sedangkan arus hubung singkat adalah arus yang disebabkan terjadinya hubung singkat pada jalur penghantar, bisa hubung singkat dengan tanah maupun antar saluran. Beban lebih biasanya disebabkan oleh surja arus dalam waktu singkat (yang tidak berbahaya) misalnya ketika motor distart atau transformator diberi tenaga. Arus beban lebih atau transien seperti itu adalah kejadian yang umum. Selang waktu berlangsungnya arus tersebut sangat singkat, kenaikan suhu sangat kecil dan tidak ada efek yang merusakkan pada komponen rangkaian (perlu alat proaktif dan tidak bereaksi pada beban lebih).

Beban lebih yang terus-menerus dapat diakibatkan oleh motor rusak, peralatan dibebani lebih atau terlalu banyak beban pada satu rangkaian. Beban lebih terus-menerus seperti itu merusakkan dan harus dihentikan oleh alat pelindung sebelum merusakkan jaringan distribusi atau beban sistem. Meskipun arus itu relatif rendah magnitudonya dibanding dengan arus hubungan singkat, menghilangkan arus beban lebih dalam beberapa detik

40

umumnya akan mencegah kerusakan alat. Pelindung arus lebih adalah hal penting untuk operasi yang aman bagi semua sistem distribusi bertegangan sedang dan tegangan tinggi yang digunakan pada pabrik industri. Sekering adalah pelindung arus lebih yang dapat dipercaya.

Penghubung yang dapat meleleh atau penghubung yang dimasukkan dalam tabung dan dihubungkan dengan terminal kontak merupakan elemen pokok sekering sederhana. Tahanan listrik sambungan itu demikian rendah sehingga bertindak sebagai penghantar dengan mudah tetapi ketika terjadi arus yang dapat menghancurkan, sambungan akan meleleh dengan sangat cepat dan membuka rangkaian untuk melindungi penghantar dan komponen rangkaian yang lain serta beban. Meskipun mempunyai sifat istimewa seperti itu, sekering tidak dimungkinkan untuk digunakan sebagai alat pemutus

Dalam dokumen LAPORAN KERJA PRAKTEK (REZA) (Halaman 18-80)

Dokumen terkait