• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 7. KEARIFAN BUDAYA MELAYU MERAJUT KEBHINNEKAA

F. Warisan Budaya Melayu

Sebagaimana diketahui bahwa bahasa Indonesia - bahasa persatuan - yang kita pakai saat ini merupakan cikal bakal dari bahasa - Melayu. Sejak zaman kerajaan-kerajaan nusantara, bahasa Melayu sudah dipakai sebagai alat komunikasi dan pergaulan antar suku, itulah sebabnya bahasa Melayu disebut sebagai “Lingua franca”. Diterimanya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia mengindikasikan bahwa bahasa Melayu lebih unggul dari bahasa daerah /etnis lain.

Secara umum budaya Melayu sangat mengutamakan sopan santun dan kehalusan bahasa, berbicara lemah lembut dan pantun menjadi ciri khas utamanya. Dalam berbagai kegiatan disampaikan dalam kemasan pantun, termasuk didalamnya seni musik dan tari tradisonal memiliki makna dan pesan dituangkan dalam bentuk simbolik yang berisi nilai-nilai sosial.

Dalam bidang arsitektur, etnis Melayu banyak memihki peninggalan yang sudah berusia hampir ratusan tahun, sepert istana-istana raja, Masjid dengan arsitektur dan ornamen yang yabuhan Deli merupakan Mesjid kebanggaan masyarakat Melayu, pidirikan Mesjid ini pada masa lalu merupakan kelengkapan dari Kerajaan Melayu yang bercirikan Islam.

Dalam bidang konveksi atau pakaian, etnis Melayu memiliki tenunan yang khas seperti kain songket dan anyaman dengan berbagai motif. Hingga saat ini kain dan peci yang bermotif Melayu itu dengan mudah dapat kita jumpai baik di toko-toko bahkan di jual di hotel-hotel berbintang. Kain dengan motif Melayu ini, sering sekali mengundang kekaguman turis mancanegara. Selain itu, sistem kekerabatan di dalam komunitas Melayu juga menjadi bagian dari persatuan dan kesatuang bangsa.

Sistem kekerabatan timbul karena adanya keluarga yang terdiri dari angota-anggota keluarga. Garis keturunan pada masyarakat Melayu (di Sumatera Utara) didasarkan pada garis keturunan dari pihak laki-laki (patriinial). Sedangkan di dalam rumah tangga kedudukan pihak ibu dan ayah adalah sejajar. Perintah ayah dan ibu haruslah dihormati dan dipatuhi. Hal ini karena dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Dalam kehidupan sehari hari mereka berusaha untuk merefleksikan ajaran agama dalam berbagai aspek kehidupan.

Pada umumnya pasangan suami-isteri yang baru menikah masih ditinggal di rumah orang tua mereka. Sesuai dengan kondisi, mereka dapat tinggal di rumah orang tua sr laki-laki (suami) atau di rumah orang tua “isteri. Jika tidak memungkinkan, maka mereka dapat tinggal di rumah kaum kerabat dari pihak suami atau isteri.

Tidak ada ketentuan yang pasti berapa lama mereka tinggal di rumah orang tua atau mertua. Kadang-kadang setelah memiliki satu anak, mereka pindah atau berpisah tempat tinggal. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian yang disebutkan dia atas, ada pula keluarga yang hingga punya anak enam masih tinggal satu rumah dengan orang tua/mertua. Hal itu karena permintaan dari pihak orang tua atau mertua. 5

Masih rnenurut penelitian di atas, di kalangan masyarakat Melayu, bagi laki-laki yang mampu dalam bidang ekonomi dan dapat berlaku adil, dibenarkan melakukan poligami. Namun pola umum perkawinan adalah monogami. Menurut adat, perkawinan yang ideal atau yang diidam-idamkan adalah dengan impal (antara ego dengan anak gadis saudara laki-laki dari pihak ibunya).

Di dalam berinteraksi antar anggota keluarga etnis Melayu memiliki tata krama yang diatur di dalam adat istiadat dan berlaku secara turun temurun. Misalnya, dalam memberikan sapaan atau gelar kepada anggota keluarga adalah sebagai berikut: anak tertua (pertama) dipanggil wak ulong, anak kedua wak ngah, anak ketiga wak alang, keempat wak andak, dan anak kelima unde, keenam

5Agustrisno, dkk., Pembinaan Budaya Dalam Lingkungan Keluarga Daerah Sumatera Utara. Depdikbud Propinsi Sumatera Utara, Medan, 1994/1995, h. 10.

wak uteh atau anak terakhir wak ucu. Sementara nenek perempuan dipanggil andung dan nenek laki-laki dipanggil atok.

Masyarakat Melayu sebagai etnis yang pernah memiliki kerajaan, tentu tidak dapat menghindarkan adanya struktur sosial dalam dalam masyarakat. Pelapisan masyarakat didasarkan kepada gelar dan status sosial yang dimiliki seseorang. Lapisan atas adalah Raja atau Sultan. Isteri Sultan atau Raja disebut permaisuri dan anaknya disebut dengan Putra Mahkota atau Tengku Mahkota. Baik lakilaki atau perempuan putra mahkota disebut dengan Tengku dan ia kalau menikah harus dengan Tengku juga. Namun sekarang sudah biasa Tengku menikah dengan yang bukan Tengku, baik dengan sesama etnis Melayu maupun dengan etnis lainnya.

Jika terjadi perkawinan silang antara Tengku dengan rakyat biasa, maka gelar kepada mereka adalah Wan . Kemudian anak Wan diberi gelar O.K., yaitu orang kava. Selain itu, dikalangan masyarakat Melayu di kenal juga gelar Datok (Dato). Gelar ini, masih menurut sumber di atas adalah pemberian dari Raja atau Sultan kepada seseorang yang dipandang berjasa terhadap kerajaan. Lalu anak datok dipanggil dengan encik. Berbeda dengan di Malaysia, encik merupakan sebuah panggilan penghormatan.

Struktur sosial yang disebutkan di atas, juga berpengaruh pada warna pakaian adat yang mereka pakai. Pada acara-acara formal atau acara adat masih berlaku ketentuan sebagai berikut: Raja/

Sultan warna huning, Tengku, Wan dan O.K., pakaiannya adalah warna hitam, rakyat biasa warna hijau dan Ulama warna putih.8 C.2 Sistem Ekonomi

Masyarakat Melayu di Sumatera Utara pada zaman dahulu adalah tuan tanah. Tanah yang berada dalam kekuasaan Sultan sebahagian diberikan kepada rakyat untuk keperluan tempat tinggal dan berusaha. Pada zaman penjajahan Belanda, tanah-tanah milik orang Melayu disewakan kepada orang orang Cima dan orang Melayu tidak mau bekerja sebagai kuli penjajah, sehingga orang Melayu dicap oleh Belanda sebagai orang pemalas.

Setelah kemerdekaan, pemerintan Indonesa mua menggalakkan program transmigrasi, maka kepemilikan tanahpun sebahagian berobah kepada para transmigran dari pulau Jawa. Kemudian akibat dari urbanisasi dan migrasi terjadi perubahan status kepemilikan tanah dari etnis Melayu kepada etnis lainnya.

Etnis Melayu pada umumnya berdomisili di daerah-daera pesisir dan daerah pantai, dengan mata pencaharian sebaga nelayan, membuka tambak atau perikanan, dan sebahagian yang lain bekerja sebagai petani. Etnis Melayu yang berprofesi sebagai nelayan tidak mengalami kemajuan. Mereka masih menggunakan alat tangkapan ikan tradisional, sehingga kalah bersaing dengan Cina yang menggunakan pukat harimau. Para nelayan sebenarnya mempunyai etos kerja yang tinggi, mereka pagi-pagi sekali sudah melaut. Dalam mencari nafkah, para nelayan tradisional tersebut harus berhadapan dengan resiko besar meskipun mereka hanya memperoleh penghasilan yang

Sistem komunikasi pada etnis Melayu dewasa ini berbeda dengan dahulu. Pada masa dahulu, sumber informasi didommas kalangan istana kerajaan. Kemudian ketika kerajaan atau kesultanan tidak ada lagi, maka golongan bangsawan dipandang memiliki otoritas dalam menyampaikan informasi. Akan tetap, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan menjamurnya media massa dewasa ini, sistem komunikasi mengalami perubahan yang signifikan.

Di samping para ulama, pengetua atau pemangku adat, kalangan cendekiawan juga menjadi sumber rujukan dalam hal informasi dan kebenaran bagi masyarakat Melayu dewasa ini. Ini bermakna bahwa masyarakat Melayu memberikan apresiatif kepada ilmu dan ilmuwan. Menuntut ilmu janganlah segan, ilmu yang benar yang jangan bukan, yaitu ilmu yang kebajikan, isi Kitab ini sudah disebutkan”. “Segala perbuatan dengan berilmu, maka kebajikan boleh bertemu, jangan sebarang-barang diramu, akhirnya engkau jatuh tersemu”.

Sedangkan dalam lingkungan keluarga, nenek laki laki (atok), merupakan sumber rujukan utama sebelum segala sesuatu menjadi

keputusan dalam masalah kehidupan keluarga/rumah tangga. Atok dalam keluarga masyarakat Melayu sangat dihormati dan selalu mendapat tempat dan perhatian di hati anak-anak dan cucunya.

Atok selalu berperan sebagai pembimbing moral dan sumber nasehat spiritual. Seorang anak kadang-kadang lebih dekat kepada Atok dibandingkan ayahnya.

Di kalangan masyarakat Melayu Sumatera Utara, terdapat wadah atau organisasi, antara lain adalah Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI). Kemudian ada organisasi kepemudaan, yaitu Ikatan Pemuda Melayu Deli (IPMD). Selain itu ada pula Gerakan Angkatan Muda Melayu Indonesia (GAMMI), Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI). Organisasi MABMI - yang saat ini diketuai Datung Lilawangsa Syamsul Arifin, mempunyai tiga fungsi, yaitu pengayom masyarakat Melayu, mediator dengan pemerintah dan pengembang adat, budaya dan ekonomi masyarakat. Sedangkan IPMD, bergerak dalam bidang pendidikan, dan organisasi ini aktif membantu beasiswa anak Melayu yang berprestasi dalam bidang pendidikan. Sedangkan GAMMI, bergerak dalam bidang ekonomi, berupaya mengumpulkan dana dari masyarakat, mendirikan koperasi dan mernberdayaan ekonomi umat.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa etnis Melayu secara geografis mendiami kawasan Asia Tenggara, dengan menggunakan bahasa Melayu, beragama Islam dan beradat Melayu.

Maka memasuki era digital 2020, etnis melayu, khususnya yang berada di Sumatera Utara akan lebih survive dibandingkan dengan etnis lainya, sebab mereka dapat melakukan berbagai jaringan kerja (networking) yang saling menguntungkan, dengan dasar serumpun melayu di Asia Tenggara.

Etnis Melayu harus bangkit semangatnya dengan belajar dari masa lampau, yaitu ketika kerajaan/kesultanan memiliki Bandar-bandar, pelayaran dan navigasi yang tangguh, pedagang antar pulau dan pendakwah (da’i) internasional. Pada waktu itu etnis Melayu adalah menjadi etnis terhormat dibandingkan dengan etnis lain, Namun demikian generasi sekarang tidak boleh hanya pandai

bernostalgia, tetapi harus mengkaji faktor penentu keberhasilan.

Udah saatnya masyarakat dan etnis Melayu di Nusantara bangkit dan membangun kejayaan sebagaimana yang pernah diukir oleh para pendahul puak Melayu, menguasai di berbagai sekltor kehidupan, politik, pendidikan, kesehatan, hukum dan ekonomi.