• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam Bab ini diuraikan kesimpulan atas capaian kinerja organisasi dan langkah- langkah untuk peningkatan kinerja di masa datang

BAB II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

2.1. RENCANA STRATEGIS 2.1.1 Visi

Visi dan misi Kota Solok yang berasal dari Visi dan Misi Walikota dan Wakil Walikota Terpilih untuk periode 2016- 2021 adalah :

“TERWUJUDNYA MASYARAKAT KOTA SOLOK YANG BERIMAN, BERTAQWA DAN SEJAHTERA MENUJU KOTA PERDAGANGAN,

JASA SERTA PENDIDIKAN YANG MAJU DAN MODERN”

Untuk mendukung terwujudnya Visi ini, maka Visi Dinas Kesehatan adalah : “ Terwujudnya Kota Solok Sehat yang Mandiri, Berkualitas dan Berkeadilan “

2.1.2 Misi

Untuk mendukung terwujudnya visi ini, maka Misi Dinas Kesehatan adalah : Mewujudkan mutu layanan kesehatan masyarakat yang paripurna

2.1.3 Tujuan, Sasaran, Program Dan Kegiatan a. Perumusan Tujuan

Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kota

“Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang beriman, sehat, kreatif dan berdaya saing” dan untuk mencapai visi misi Dinas Kesehatan, dirumuskan dalam bentuk yang lebih terarah berupa tujuan dan sasaran yang strategis dalam mewujudkan misi yaitu “Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang paripurna”, maka tujuan Dinas Kesehatan Kota Solok yang

dicapai adalah “Meningkatkan layanan kesehatan yang berkualitas dengan Indikator tujuan Usia Harapan Hidup (UHH)

b. Perumusan Sasaran

Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan dan mengambarkan hal-hal yang ingin dicapai, diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan secara operasional. Berdasarkan hal tersebut maka ditetapkan sasaran Dinas Kesehatan Kota Solok yaitu:

1) Meningkatnya kesehatan keluarga, dengan indikator sasaran: Menurunkan AKI dan AKB

2) Menurunkan Angka Kesakitan, dengan indikator sasaran:

Menurunkan Angka Insiden Rate, Indeks Keluarga Sehat (IKS)

3) Meningkatnya Pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan indikator sasaran: Persentase fasilitas kesehatan yang sesuai standar kesehatan, UHC

4) Meningkatnya akuntabilitas keuangan dan kinerja dengan indikator sasaran: Nilai evaluasi LAKIP dinas kesehatan Kota Solok

Tabel 2.1

Sasaran, Program dan Kegiatan Dinas Kesehatan Kota Solok

N

2 Menurunkan

3

Prasarana

2.2. PERJANJIAN KINERJA

Dalam perjanjian kinerja diuraikan indikator kinerja beserta target yang harus dicapai pada Tahun 2019. Penetapan kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang mempresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan pertimbangan sumber daya yang dikelolanya. Tujuan khusus penetapan kinerja antara lain untuk: meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dam kinerja aparatur; sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan pemberi amanah; sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi;

menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur; dan sebagai dasar pemberian reward atau penghargaan dan sanksi. Beberapa indikator kinerja yang terdapat dalam penetapan kinerja dapat dibagi menjadi indikator kinerja utama dan penunjang.

Indikator kinerja yang menjadi prioritas yang dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM), Rencana Strategis (Renstra) dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu:

Tabel 2.2

Perjanjian Kinerja Dinas Kesehatan Kota Solok Tahun 2019

NO SASARAN INDIKATOR TARGET 2019

1 Meningkatkan Kesehatan

Keluarga AKI (Angka Kematian Ibu) 75 per 100.000 Kelahiran Hidup AKB (Angka Kematian Bayi) 7 per 1.000

Kelahiran Hidup

2 Menurunkan Angka

Kesakitan Insiden Rate 5,9%

Indeks Keluarga Sehat (IKS) 0,3

3 Pelayanan kesehatan berkualitas

Persentase Fasilitas Kesehatan

sesuai standar 60%

Capaian UHC 95%

4 Meningkatnya akuntabilitas

keuangan dan kinerja Nilai LAKIP B

Dalam rangka mengukur pencapaian indikator Dinas Kesehatan Kota Solok terdapat beberapan cara pengukuran:

1. Perhitungan untuk indikator yang memiliki polarisasi maximal

/ %

2. Penghitungan untuk Indikator yang memiliki polarisasi minimal, dimana indikator kinerja menunjukkan pencapaian indikator lebih kecil dari nilai target yang ditetapkan, dengan arti semakin kecil capaian semakain baik kinerja yang meliputi indikator:

- Angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup - Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup - Insiden Rate

! " 1 $ %1 & ' (! !/) *+ , -. 100%

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA 3.1 EVALUASI ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian terhadap kemajuan pencapaian tujuan/ indikator dengan berdasarkn indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara melakukan pengukuran pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja dengan membandingkan antara target kinerja dengan realisasinya.

Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk menilai kemajuan yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan dan indikator yang ditetapkan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja kegiatan. Pengukuran ini dilakukan dengan memanfaatkan data kinerja. Data kinerja diperoleh melalui sistem pengumpulan data kinerja dari 2 sumber yaitu : (1) data internal , yang berasal dari sistem informasi yang ada baik laporan kegiatan reguler yang ada seperti laporan bulanan, triwulanan, semesteran dan laporan kegiatan lainnya; (2) data eksternal digunakan sepanjang relevan dengan pencapaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Solok.

Tahun 2019 merupakan tahun ketiga dalam pelaksanaan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kota Solok Tahun 2017-2021.

Melalui pengukuran kinerja diperoleh gambaran pencapaian masing-masing indikator sehingga dapat ditindaklanjuti dalam perencanaan

kegiatan masa yang akan datang agar setiap kegiatan yang direncanakan dapat lebih berhasil guna dan berdaya guna. Capaian kinerja Dinas Kesehatan Kota Solok tahun 2019 akan diuraikan menurut sasaran strategis Dinas Kesehatan. Terdapat empat sasaran strategis Dinas Kesehatan Kota Solok yang akan dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun, dimana sasaran strategis tersebut adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan keluarga 2. Menurunkan angka kesakitan

3. Meningkatkan pelayanan kesehatan berkualitas 4. Meningkatnya akuntabilitas keuangan dan kinerja

Sasaran 1 : Meningkatkan Kesehatan Keluarga

Tabel 3.1

Capaian IKU pada Sasaran Strategis 1 Meningkatkan Kesehatan Keluarga

No Indikator Sasaran Target Realisasi % Realisasi

1 Menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu)

2 Menurunkan AKB (Angka Kematian Bayi)

Indikator Sasaran 1:

1. Menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu)

Trend realisasi AKI (Angka Kematian Ibu) menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun 2018 ke tahun 2019.AKI pada Tahun 2017 0 (tidak ada kematian ibu), begitu juga dengan Tahun 2018 AKI 0. Sementara pada Tahun 2019 terdapat kematian ibu (1) orang atau 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Capaian AKI (Angka Kematian Ibu) dapat dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

012345 6724894: 9;1 64<7:4 67542934:,>7<?439:4: @4: :9A4?

012345 3459< 59@1> @4342 B4681 @4: >7<9C@7 DE ?424 x 100.000 kelahiran hidup

Di kota Solok pada tahun 2019 terjadi kematian Ibu yang sebelumya di tahun 2017 dan tahun 2018 tidak ada kematian, Bila diperhatikan terhadap cakupan pelaksanaan program kesehatan Ibu pada tahun 2019 belum semua mencapai target, hal ini menunjukan bahwa masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, adapun penyebab kematian Ibu yaitu : Hipertyroid yang terjadi pada masa Nifas.

Kasus kematian Ibu juga dipengaruhi dan didorong oleh berbagai faktor yang mendasari timbulnya resiko maternal dan neonatal yaitu faktor-faktor penyakit yang diderita Ibu, masalah gizi dari WUS serta faktor 4T ( terlalu muda dan terlalu tua untuk hamil dan melahirkan, terlalu dekat jarak kehamilan/persalinan dan terlalu banyak hamil dan melahirkan) Kondisi tersebut diperberat lagi oleh adanya keterlambatan penanganan kasus emergency/komplikasi maternal dan neonatal akibat kondisi 3T ( terlambat mengambil keputusan, terlambat mengakses fasyankes yang tepat dan terlambat memperoleh pelayanan dari tenaga yang kompeten).

Salah satu upaya percepatan penurunan AKI dan AKB adalah melalui peningkatan cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF). Capaian Pertolongan persalinan di Fasilitas Pelayanan mengalami kenaikan.

Trend realisasi cakupan persalinan di fasilitas pelayanan Kesehatan menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun.

Tahun 2016 persalinan di faskes menunjukan angka sebesar 88,6%, tahun 2017 sebesar 92,9%, tahun 2018 sebesar 8 8 , 2 3 % dan pada Tahun 2019 sebesar 92,71%.

Dibalik pencapaian cakupan persalinan di fasilitas kesehatan pada tahun 2019 yang menunjukkan hasil realisasi kinerja dengan kriteria baik, terdapat sejumlah kegiatan atau upaya yang telah dilakukan sebagai pendukung keberhasilan tersebut, yaitu:

1. Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil.

Kelas Ibu Hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas fisik/ senam ibu hamil.

2. Puskesmas melakukan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

Orientasi P4K menitikberatkan pada kegiatan monitoring terhadap ibu hamil dan bersalin. Pemantauan dan pengawasan yang menjadi salah satu upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil dan bersalin yang dilakukan diseluruh Indonesia dalam ruang lingkup kerja Puskesmas setempat serta menyediakan akses dan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang sekaligus merupakan kegiatan yang membangun potensi masyarakat khususnya kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindakan dalam menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir.

3. Ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4 kali (K4).

Melalui kegiatan ini diharapkan ibu hamil dapat dideteksi secara dini adanya masalah atau gangguan atau kelainan dalam kehamilannya dan dilakukan penanganan secara cepat dan tepat. Pada saat ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan memberikan pelayanan antenatal secara lengkap (10 T) yang terdiri dari:

- Timbang badan dan ukur tinggi badan - Ukur tekanan darah

- Nilai status gizi (ukur LiLA) - Ukur tinggi fundus uteri

- Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin

- Skrining status imunisasi TT dan bila perlu pemberian imunisasi Td

- Pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan)

- Test lab sederhana (Golongan Darah, Hb, Glukoprotein Urin) dan skrining terhadap Hepatitis B, Sifilis, HIV, Malaria, TBC - Tata laksana kasus

- Temu wicara/ konseling termasuk P4K serta KB PP

4.

Salah satu Puskesmas di Kota Solok telah melakukan inovasi dalam rangka menurunkan AKI dan AKB yaitu Puskesmas Tanah Garam dengan Inovasi Kids and Mom Care

5. Dukungan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan

Mengacu pada kondisi ini

,

beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Penting untuk lebih meningkatkan kerja sama dengan lintas sektor terkait

2. Melakukan penguatan pelayanan kesehatan Ibu, dan kebijakan untuk dapat menurunkan kasus kematian ibu

3. Pemerintah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk menjamin bahwa setiap ibu hamil memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas

4. Melakukan intervensi lebih kehulu yaitu kepada kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI

2. Menurunkan AKB (Angka Kematian Bayi)

Adalah jumlah Kematian bayi suatu wilayah dan periode tertentu dibandingkan dengan jumlah lahir hidup dalam waktu dan periode yang sama x 1000 Kelahiran Hidup. Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator derajat kesehatan di suatu wilayah yang menunjukkan kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan, kapasitas pelayanan kesehatan, kualitas pendidikan dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan lingkungan, sosial dan budaya serta hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan.

Beberapa faktor berkontribusi pada kematian bayi seperti tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu, penyakit/kondisi ibu selama kehamilan, pertolongan persalinan, penanganan kasus gawat darurat maternal-neonatal, kondisi lingkungan, infrastruktur politik, pengobatan/penanganan kasus neonatal komplikasi, sanitasi dan akses air bersih, status imunisasi, pembiayaan dan langkah-langkah kesehatan publik.

AKB pada Tahun 2018 adalah 6 per 1000 Kelahiran Hidup dan pada tahun 2019 turun menjadi 4,9 per 1000 kelahiran hidup (Angka Kematian Bayi menurun dari Tahun sebelumnya).

Capaian AKB (Angka Kematian Bayi) dapat dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

012345 6724894: R4D9 @9 ;4B45 1?94 S T451: @32 ?1481 B934D45

012345 3459< 59@1> @4342 B4681 @4: >7<9C@7 DE ?424 x 1000 kelahiran hidup

Trend kasus kematian bayi setiap tahun bervariasi, secara umum mengalami naik turun Kematian bayi baru lahir disebabkan karena berbagai hal yang saling berkaitan antara sebab medis, faktor sosial, dan kegagalan berbagai sistem yang banyak dipengaruhi oleh budaya. Dalam banyak hal, kesehatan bayi baru lahir berkaitan erat dengan kesehatan ibu. Walaupun diagnosis kematian ibu dan

neonatal berbeda, namun penyebab yang mendasari kematian keduanya hampir sama, yaitu ketidakmampuan memperoleh akses perawatan ibu dan bayi serta status sosial ibu yang rendah.

Penyebab kematian bayi pada tahun 2019 yaitu : BBLR (1 ), Asfiksia (1), kelainan kongenital (1), sepsis + anemia (1), kelainan syaraf (1) , lain-lain (2)

Sasaran ini dijabarkan menjadi beberapa program:

1) Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Kegiatan:

a. Perawatan secara berkala bagi ibu hamil dari keluarga kurang mampu

b. Pertolongan persalinan bagi ibu hamil dari keluarga kurang mampu (DAK Non fisik)

Indikator:

- Persentase Ibu Hamil mendapat Pelayanan K1

Adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Indikator ini menunjukkan keterjangkauan pelayanan antenatal. Rendahnya K1 menunjukkan bahwa akses petugas kepada ibu masih perlu ditingkatkan.

Capaian K1 dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;1293 DE 27:@4>48 >734D4:4: US @9 V4?67?

012345 ?731<15 ?4?4<4: 9;1 54293 S 8451: x 100%

Dari sasaran ibu hamil Tahun 2019 sebanyak 1610 orang, yang mendapat pelayanan K1 dengan Tenaga Kesehatan (Kontak 1) adalah sebanyak 1648 orang (102,36%).

- Persentase Ibu Hamil Mendapat Pelayanan K4

Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemerisaan kehamilan dan pelayanan kesehatan pada trimester III, usia kehamilan >32 minggu, meliputi anamnese, pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan, pemeriksaan psikologis, pemeriksaan laboratorium bila ada indikasi/diperlukan, diagnosis akhir (kehamilan normal, terdapat penyakit, terjadi komplikasi, atau tergolong kehamilan risiko tinggi), sikap dan rencana tindakan (persiapan persalinan dan rujukan).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selaman masa kehamilan dengan distribusi kontak sebagai berikut:

1. Minimal 1 kali pada trimester I (K1), usia kehamilan 1-12minggu.

2. Minimal 1 kali pada trimester II (K2), usia kehamilan 13-24 minggu.

3. Minimal 2 kali pada trimester III, (K3-K4), usia kehamilan > 24 minggu.

Capaian K4 dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;1293 DE 27:@4>48 >734D4:4: UW

012345 ?731<15 ?4?4<4: 9;1 54293 S 8451: x 100%

Dari sasaran ibu hamil Tahun 2019 sebanyak 1610 orang, yang mendapat pelayanan K4 adalah sebanyak 1560 orang (96,89%). K4 belum mencapai target (100%) disebabkan masih ada ibu hamil yang belum waktunya mendapatkan pelayanan K4, Adanya kegagalan kehamilan seperti: abortus, KET, Mola

- Persentase Ibu Bersalin yg Ditolong Oleh tenaga kesehatan (PN)

Adalah Cakupan ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dan dilaksanakan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Capaian PN dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;1293 DE @4>48 >7<8C3C:E4: >7<?439:4: @9 V4?67?

012345 9;1 ;7<?439: @9 ?1481 B934D45 67<X4 >@ B68 DE ?424 x 100%

Dari sasaran ibu bersalin Tahun 2019 sebanyak 1537 orang, yang bersalin dengan Tenaga Kesehatan dan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah sebanyak 1425 orang (92,71%). Capaian ini belum 100% karena Masa mendapatkan pelayanan K4 belum waktunya, Adanya kegagalan kehamilan seperti: abortus, KET, Mola dan ada beberapa sasaran ibu hamil yang melahirkan di luar kota solok

- Persentase Ibu Nifas Yg Mendapatkan Pelayanan (KF)

Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.

Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sesuai standar sedikitnya 3 kali dengan rincian:

 Kunjungan Nifas ke- 1 (KF 1) pada 6 jam setelah persalinan s/d 3 hari

 Kunjungan Nifas ke- 2 (KF 2) pada hari ke-4 s/d hari ke 28 setelah persalinan

 Kunjungan Nifas ke- 3 (KF 3) pada hari ke 29 s/d hari ke 42 setelah persalinan

Capaian KF dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;1A4? DE 87345 272>7<C375 Y 6439 >73D :9A4? ?7?149 ?84:@4<

012345 ?731<15 9;1 :9A4? @9 ?1481 B934D45 67<X4 @32 61<1: B4681 DE ?424 x 100%

Dari sasaran ibu nifas Tahun 2019 sebanyak 1537 orang, yang sudah mendapatkan pelayanan nifas sebanyak 3 kali (KF 3)adalah sebanyak 1404 orang (91,34%).

- Persentase Ibu hamil,bersalin, Nifas yg mendapatkan Penanganan Komplikasi Kebidanan (PK)

Penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi kebidanan untuk mendapatkan penanganan defenitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan yang kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.

Diperkirakan sekitar 15- 20% ibu hamil akan mengalami komplikasi kebidanan.

Capaian Penanganan Komplikasi (PK) dapat dihitung dengan formulasi:

012345 6C2>3964?9 67;9@4:4: DE 27:@4>48 >7:4:E4:4: @7A7:989A

012345 9;1 @E 6C2>3964?9 67;9@4:4: @9 ?1481 B934D45 67<X4 x 100%

Dari semua jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan Tahun 2019 sebanyak 321 orang (20% dari sasaran ibu hamil), yang mendapatkan penanganan defenitif adalah sebanyak 190 orang (59,19%). Hal ini disebabkan karena pelaporan Ibu hamil dengan komplikasi di RS belum didapati secara keselurahan.

- Persentase Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu hamil

Capaian Puskesmas yang melaksanakan Kelas Ibu Hamil dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ZU[ DE 27346?4:464: 6734? 9;1 54293

012345 ?731<15 ZU[ x 100%

Dari semua Puskesmas di Kota Solok sudah melaksanakan kelas ibu hamil.

- Persentase Puskesmas yang melakukan orientasi Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

Capaian Puskesmas yang melaksanakan P4K dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ZU[ DE 27346?4:464: ZWU

012345 ?731<15 ZU[ x 100%

Dari semua puskesmas di Kota Solok sudah melaksanakan P4K - Persentase Pelayanan Neonatus Pertama (KN1)

Adalah Pelayanan kunjungan neonatal pada 6- 48 jam setelah lahir sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan/ masalah kesehatan pada neonatus.

Capaian KN1 dapat dihitung dengan formulasi:

012345 :7C:481? DE @4>48 >734D4:4: U\S

012345 ?731<15 ?4?4<4: ;4D9 x 100%

Dari semua sasaran bayi Tahun 2019 sebanyak 1465 orang), yang mendapatkan pelayanan KN1 adalah sebanyak 1424 orang (97,2%).

- Persentase Kesehatan Neonatus Lengkap (KN3)

Adalah Pelayanan kunjungan neonatal lengkap minimal 3 kali yaitu 1 kali pada usia 6- 48 jam, 1 kali pada 3- 7 hari, dan 1 kali pada 8- 28 hari sesuai standar di satu wilayah kerja.

Capaian KN3 dapat dihitung dengan formulasi:

012345 :7C:481? DE @4>48 >734D4:4: U\Y

012345 ?731<15 ?4?4<4: ;4D9 x 100%

Dari semua sasaran bayi Tahun 2019 sebanyak 1465 orang, yang mendapatkan pelayanan KN3 adalah sebanyak 1407 orang (96,04%).

- Persentase Pelayanan Komplikasi Neonatus

Adalah penanganan/ pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi neonatal dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Seperti neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermi, tetanus neonatorum, infeksi/ sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan, dan kelainan kongenital lainnya.

Capaian Persentase pelayanan komplikasi neonatus dapat dihitung dengan formulasi:

012345 :7C:4843 @E 6C2>3964?9 DE @984:E4:9 ?7?149 ?84:@4< C375 :467? 87<34895

S]% @4<9 X12345 ?4?4<4: ;4D9 >4@4 B4681 DE ?424 x 100%

Dari semua sasaran bayi dengan komplikasi Tahun 2019 sebanyak 227 orang, yang mendapatkan pelayanan komplikasi neonatus adalah sebanyak 59 orang (25,9%). Hal ini disebabkan karena pelaporan Neonatal dengan komplikasi di RS belum didapati secara keseluruhan.

- Persentase Pelayanan Kesehatan Bayi

Adalah Pelayanan kesehatan bayi minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari- 2 bulan, 1 kali pada umur 3- 5 bulan, 1 kali pada umur 6- 8 bulan dan 1 kali pada umur 9- 11 bulan.

Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (Hb0, BCG, DPT/ Hb1- DPT/ Hb3, Polio 1- 4, IPV, Campak), Pemantauan pertumbuhan, SDIDTK (Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang), Pemberian Vitamin A pada bayi umur 6- 11 bulan

Capaian Persentase pelayanan kesehatan bayi dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;4D9 DE 27:@4>48 >734D4:4: 67? ?7?149 ?84:@4<

X12345 ?4?4<4: ;4D9 >4@4 8451: D4:E ?424 x 100%

Dari semua sasaran bayi Tahun 2019 sebanyak 1595 orang, yang mendapatkan pelayanan kesehatan bayi sesuai standar adalah sebanyak 1282 orang (84,62%). Hal ini disebabkan karena Ada beberapa indikator pelayanan kesehatan bayi ada yg tidak mencapai target seperti pemantauan tumbuh kembang yg dilaksanakan diposyandu dan tidak tercapainya target Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada bayi.

- Persentase bayi yang dilakukan MTBM

Adalah pemeriksaan bayi baru lahir dengan menggunakan pendekatan MTBM dilakukan dengan menggunakan formulir pencatatan bayi muda usia 0- 2 bulan. Penggunaan bagan MTBM dan formulir MTBM dalam pelayanan bayi baru lahir memungkinkan menjaring adanya gangguan kesehatan secara dini. Terutama untuk deteksi dini tanda bahaya dan penyakit penyebab utama kematian pada bayi baru lahir.

Capaian Persentase bayi yang dilakukan MTBM dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;4D9 DE 27:@4>48 >734D4:4: [TR[

X12345 673459<4: 59@1> x 100%

Dari semua sasaran kelahiran hidup Tahun 2019 sebanyak 1424 orang, yang mendapatkan pelayanan MTBM adalah sebanyak 1394 orang (97,9%). Indikator ini belum mencapai 100% karena adanya sasaran yang melakukan persalinan diluar kota solok dan adanya kematian Bayi.

- Persentase balita yang dilakukan MTBS

Adalah Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan suatu panduan tata laksana terkait kondisi sakit yang dialami oleh balita yang terdiri dari:

 Penilaian, klasifikasi, dan tindakan pengobatan

 Panduan pengobatan untuk ibu terhadap penyakit yang bisa diatasi di rumah

 Konseling ibu

 Pelayanan tindak lanjut

Capaian Persentase balita yang dilakukan MTBS dapat dihitung dengan formulasi:

012345 ;43984 DE @9346164: [TR^

X12345 61:X1:E4: ;43984 ?4698 x 100%

Dari semua balita sakit Tahun 2019 sebanyak 9529 orang, yang mendapatkan pelayanan MTBS adalah sebanyak 9462 orang (99,3%).

Indikator ini belum mencapai 100% karena masih terbatasnya petugas terlatih untuk pelaksanaan MTBS di setiap puskesmas.

2) Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Kegiatan:

- Pelayanan terpadu kesehatan reproduksi esensial Indikator:

- Persentase Puskesmas yang menyelenggarakan kegiatan kesehatan remaja dengan capaian 100%

- Persentase Puskesmas Rawat Inap Mampu Laksana PKPR dengan capaian 100%

- Persentase Puskesmas yang Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Essensial (PKRE) terpadu dengan capaian 100%

- Persentase faskes yg memberikan Pelayanan KB sesuai standart dengan capaian 100%

- Persentase jumlah kelompok remaja peduli kesehatan yang dibentuk dengan capaian 100%

3) Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita a. Penyuluhan Kesehatan Anak Balita

Indikator:

Persentase pelayanan kesehatan anak balita

Pelayanan kesehatan balita sehat adalah pelayanan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan menggunakan Buku KIA dan skrining tumbuh kembang yang meliputi:

 Pelayanan Kesehatan balita usia 0- 11 bulan - Penimbangan minimal 8 kali setahun

- Pengukuran panjang/ tinggi badan minimal 2 kali/ tahun - Pemantauan perkembangan minimal 2 kali/ tahun

- Pemberian kapsul vitamin A pada usia 6- 11 bulan 1 kali setahun

- Pemberian imunisasi dasar lengkap

 Pelayanan kesehatan balita usia 12- 23 bulan

- Penimbangan minimal 8 kali setahun (minimal 4 kali dalam kurun waktu 6 bulan)

- Pengukuran panjang/ tinggi badan minimal 2 kali/ tahun - Pemantauan perkembangan minimal 2 kali/ tahun

- Pemberian kapsul vitamin A sebanyak 2 kali setahun - Pemberian imunisasi lanjutan

 Pelayanan kesehatan balita usia 24- 59 bulan

- Penimbangan minimal 8 kali setahun (minimal 4 kali dalam kurun waktu 6 bulan)

- Pengukuran panjang/ tinggi badan minimal 2 kali/ tahun - Pemantauan perkembangan minimal 2 kali/ tahun

- Pemberian kapsul vitamin A sebanyak 2 kali setahun

 Pemantauan perkembangan balita

 Pemberian kapsul vitamin A

 Pemberian imunisasi dasar lengkap

 Pemberian imunisasi lanjutan

 Pengukuran berat badan dan panjang/ tinggi badan

 Edukasi dan informasi

Capaian Persentase pelayanana kesehatan anak balita dapat dihitung dengan formulasi:

012345 61:X1:E4: 4:46 ;43984 37:E64>

X12345 ?4?4<4: 4:46 ;43984 S 8451: x 100%

Dari semua sasaran balita Tahun 2019 sebanyak 5676 orang, yang mendapatkan pelayanan kesehatan anak balita sesuai standar adalah sebanyak 4430 orang (78,05%). Indikator ini belum mencapai 100% karena Beberapa indikator pelayanan kesehatan anak balita ada yg tidak mencapai target seperti pemantauan

Dokumen terkait